
"Kau meminta ku tidur di sebelah mu hanya untuk menganggu tidur ku saja?"
Alana terkekeh saat saudara kembarnya merasa geram. "Tidak Alan! Aku tidak mengatakan itu,"
Alan memejamkan matanya dengan lelap namun Alana yang jahil menusuk-nusuk pipi saudara kembarnya menggunakan jemarinya yang begitu halus
"Kak lihat lah adik mu ini, dia meminta ku tidur di sebelahnya namun ia menjadi pengacau. Tolong katakan padanya untuk tidak menggangu tidur Alan!"
Alan mengadu kepada kakaknya Syifa, Syifa hanya bisa menggeleng! Bukan Alan dan Alana namanya jika tidak selalu membuat keributan.
Alana yang usil dan Alan yang gampang emosi, itu adalah watak dari kedua adiknya. Namun Syifa senang, walau mereka bertengkar namun keduanya saling menyayangi satu sama lain.
Revan dan Shinta masuk saat melihat kedua anaknya yang bertengkar. Sudah lama Shinta tidak melihat momen ini, biasanya Alana dan Alan selalu bertengkar hebat dan serius. Bukan bertengkar manja seperti ini.
Alan beranjak dari tidurnya, ia pun menatap kedua orang tuanya secara berganti n "Mama, papa! Lihat lah kelakuan Alana! Dia membuat Alan tidak bisa tidur!"
__ADS_1
"Tidak mama, tidak papa! Alana bahkan meminta Alan untuk tidur di samping Alana. Iya kan kak?" Alana meminta bantuan kepada kakaknya. Syifa pun memejamkan matanya "Tidak tahu! Kakak tidak melihatnya," Syifa menutup matanya dengan kedua tangan
Revan dan Shinta menggeleng melihat tingkah laku ketiga anaknya "Sudah jangan bertengkar. Syifa, dan Alan pulang lah bersama papa. Kalian harus istirahat, besok juga harus sekolah Alan, dan kakak Syifa harus kuliah. Biar mama yang di sini menjaga Alana,"
Tidak ma! Kami di sini saja menjaga Alana! ~jawab Syifa dan Alan serentak
"Atau kakak saja yang pulang, biar Alan yang menjaga Alana,"
"Tidak papa! Biar Alan saja yang pulang dengan papa. Kakak di sini menjaga Alana. Mama juga pulang lah! Mama pasti lelah sekarang!"
"Alan enggak mau pulang kakak, Alan mau di sini menjaga Alana!"
"Baik lah, kalian di sini. Tapi mama memikirkan bagaimana tidur kalian?"
"Sudah lah, jangan khawatir. Ini ruangan VVIP dan kamar ini cukup lebar. Aku akan meminta tempat tidur tambahan untuk kita,"
__ADS_1
Shinta mengangguk, Revan mengatakan ia akan pulang untuk mengambil keperluannya yang lain seperti selimut dan bantal. Bantal rumah sakit memang ada, tapi lebih nyaman menggunakan bantal dari rumah sendiri.
Shinta pun mengangguk "Mama ikut lah dengan papa, biar kakak di sini menjaga adik-adik. Mama juga harus membersihkan diri dan makan,"
"Iya mama harus pulang dulu sama papa. Alana enggak mau mama sakit, mama harus kuat demi kita!"
Alana tersenyum menatap mamanya, Shinta tidak bisa menolak permintaan dari anaknya "Baik lah sayang! Mama akan pulang terlebih dahulu. Jika kamu yang meminta, mama tidak bisa menolaknya!"
"Sayang kalau ada apa-apa tolong hubungi mama dan papa ya nak. Mama titip kedua adik kamu dan kalian jangan bertengkar ya sayang? "
"Iya mama!" Jawab ketiga anaknya dengan serentak. Revan dan Shinta pun keluar dari ruangan sebelum pergi Revan sudah memesan tambahan tempat tidur untuk mereka.
"Kamu tahu? Aku bahagia sekali melihat anak-anak kita yang kembali seperti dahulu. Walau sering bertengkar namun saling menjaga satu sama lain,"
"Iya, aku juga betutu. Dan aku berharap akan selalu begitu, karena kebahagiaan anak-anakku adalah kebahagiaan ku. Shinta! Dan selama ini kita sudah banyak menghadapi masalah, bukan! Jangan salah paham. Aku tidak membawa Khanza dalam hal ini, namun kamu lihat, kepergian baby Al, kepergian ibu dan ayah, kematian Jennika yang bunuh diri di rumah kita,"
__ADS_1
"Sudah lah, mereka sudah tenang di sana. Aku berharap agar mereka berkumpul di tempat terbaik,"
"Aaminnn!"