
Di perjalanan Rangga menyengir sendirian. Ia merasa sangat terharu dan bahagia.
Drt......Drttt.....
Rangga menoleh ke arah ponsel nya yang bergetar, ia pun mengabai kan panggilan dari seseorang dan fokus untuk mengendarai kendaraannya.
Drt.....Drt...Drtt.....
Ponsel itu kembali bergetar. Dengan rasa kesal Rangga menghenti kan perjalanan dan mematikan ponsel miliknya. Entah apa yang Rangga fikir kan. Ia melajukan kendaraan nya dengan kencang
*****
"Cie yang mau nikah nih." Ledek Shinta.
__ADS_1
"Apa sih kak. Gak lucu tau." ucap Kaynara dengan malu
"Sudah kalian ini menggangu adik kalian aja." tegur Syafa.
"Lihat bu. Pipi kay memerah seperti udang rebus." ledek Shinta kembali. Caca pun ikut tertawa
"Kak aku malu tau nggak?." sebal Kay. Kaynara pun merasa sangat gugup dan begitu malu karena di ledekin oleh Shinta dan Caca.
"Iya nih bu, marahi saja mereka."
"Kamu juga, Sayang. Masuk lah ke kamar mu dan beristirahat lah." pinta Syafa kepada Kaynara dengan memegang pipi Kaynara lembut.
"Baik lah bu." sahut mereka bertiga dengan bersamaan. Shinta, Caca dan Kaynara pun masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Syafa dan Gunawan sudah menyediakan kamar untuk mereka jika anak dan menantu pergi menginap di rumah mereka. Syafa dan Gunawan bukan hanya memiliki satu Puteri saja. Namun, mereka sekarang sudah memiliki tiga puteri. Gunawan dan Syafa menyayangi Caca dan Kaynara seperti mereka menyayangi Shinta.
__ADS_1
******
Shinta masuk ke dalam kamar nya dan melihat Revan yang sedang bermain dengan Syifa dan juga si kembar. Ia tersenyum dan mengelus perut nya yang mulai sedikit buncit sambil berjalan mendekati anak dan suami nya.
"Sebentar lagi keluarga kecil ku bertambah dan pasti akan sangat menyenang kan." Batin Shinta. Ia membayangkan betapa repot dan bahagia nya ia mengurus empat atau lima anak sekaligus jika ini ia melahirkan bayi kembar lagi. Betapa ramai rumah nya kelak. Belum lagi, anak yang di kandung oleh Caca dan Kaynara. Shinta terkekeh sendiri membayang kan nya. Mendengar suara cengigisan sang isteri. Revan pun menoleh dan merasa bingung. Sadar akan tatapan bingung suami nya. Shinta langsung mendekat dan duduk di sebelah Revan.
"Aku sedang membayangkan jika nanti anak ku, Caca, dan juga Kay sudah lahir. Betapa akan bertambah ramai nya rumah Ibu. Seperti taman kanak-kanak. Pasti begitu sangat repot namun sangat bahagia rasanya. Di kelilingi oleh malaikat-malaikat kecil seperti mereka." Rasanya Shinta todak sabar untuk segera melahir kan.
"Kau benar, Sayang. Bagaimana jika Taman belakang Ibu kita jadikan taman kanak-kanak saja. Jadi mereka bisa bermain sepuasnya seperti di taman kanak-kanak biasa nya. Kita pun bisa bersantai dan melihat anak-anak kita bermain dengan perasaan riang dan bahagia." sambung Revan
"Itu ide yang bagus, Sayang. Apa Syifa setuju nak?" Shinta menatap Syifa. Setiap keputusan atau tindakan Shinta selalu menanyakan pendapat Puteri sambung nya. Apakah Syifa suka dan nyaman atau tidak. Karena Shinta tidak ingin mengambil keputusan yang membuat Syifa merasa sedih atay tidak nyaman. Bagi nya kenyamanan dan kebahagiaan Syifa dan anak-anak nya itu adalah hal yang utama.
"Sayang?" tanya Shinta kembali. Ia masih menunggu jawaban dari Syifa dengan sabar.
__ADS_1