
"Jika kita tidak jadi berlibur tidak apa-apa kok. Ma, Pa." ucap Syifa yang tersenyum mencoba menutupi rasa sedih nya.
Melihat raut wajah syifa yang mencoba tersenyum menutupi kesedihan nya membuat Shinta merasa tidak tega. Namun, Ibu nya sangat benar. Baby Alan dan Alana belum cukup umur berlibur di perjalanan yang tidak sebentar.
"Kita bisa berlibur pergi ke taman dan melakukan piknik." Revan memberikan usul.
"Mau perjalanan dekat atau jauh sama saja! Alan dan Alana masih terlalu kecil untuk berlibur. Begini saja, kalian pergi lah berlibur biar Alan dan Alana bersama Ibu dan Ayah. Ibu dan Ayah merasa sangat kesepian di rumah semenjak kamu menikah, Ta." ujar Gunawan.
__ADS_1
"Yang di kata kan oleh Ayah mu itu benar, apa kalian tidak percaya sama Ibu dan Ayah?"
"Itu tidak benar Bu! Tata sangat percaya pada Ibu, Ayah, Mama Lili, Papa Gunawan, Kaynara, Caca, Arvan dalam mengurus si kembar atau pun mengurus Syifa. Namun, Tata sangat tidak bisa jauh dari anak-anak Tata."
"Sayang, Ibu ingin bicara berdua pada mu nak, ayo ikut ibu ke kamar mu!" Syafa pun memberikan Alana pada Revan. Ia berjalan terlebih dahulu menuju ke kamar Shinta yang di ikutin oleh Shinta.
Shinta duduk di tepi ranjang kamar nya, ia sangat merindukan kamar nya yang sudah menemani diri nya semenjak kecil.
__ADS_1
"Ibu selalu membersih kan kamar kamu dan memakai minyak telon di sini. Agar wangi mu tidak hilang dan jika Ayah dan Ibu merindukan mu. Kita akan tidur di kamar ini." mendengar ucapan sang Ibu. Shinta merasa sangat bersalah, semenjak ia menikah bahkan ia sangat jarang menghabiskan waktu bersama kedua orang tua nya seperti dulu.
"Tata juga selalu merindukan Ibu!" Shinta memeluk Ibu nya dengan erat, Syafa pun mengelus rambut panjang anak nya, ia melepas kan pelukkan itu
"Kami mengerti nak, sekarang kau sudah dewasa dan mempunyai kehidupan yang baru. Ibu minta pada mu bersikap lah adil pada anak-anak mu kelak! Sebentar lagi, akan ada lagi anak yang lahir di dunia ini dari rahim mu. Kau akan mengurus empat atau lima anak sekaligus. Kau akan sangat sibuk, Syifa juga sangat membutuh kan mu. Sebelum kau melahirkan berikan waktu mu pada diri nya, jangan buat dia merasa kesepian dan terasing kan. Sayang!" Shinta pun memikir kan ucapan Ibu nya.
"Saat ini Syifa sangat labil, kau sedang hamil begitu juga dengan Caca. Syifa akan merasa asing dan di lupakan oleh kalian, masih ada waktu nak. Kau tidak melihat raut wajah nya uang sedih tadi? Jangan buat dia sedih hanya karena masalah ini nak, Biar Ibu dan Ayah yang menjadi Alan dan Alana. Lagian Ibu dan Ayay sangat kesepian nak, biar si kembar menjadi teman kami."
__ADS_1
"Baik lah, Bu. Tata menitip kan Alan dan Alana pada Ibu dan Ayah. Maaf jika merepot kan Ibu."
"Tidak, Sayang! mereka itu cucu Ibu dan Ayah. Kami tidak merasa di repot kan oleh cucu-cucu kami. Apalagi mereka anak yang sangat pintar."