
Caca menangis namun Arvan mengatakan jika itu tidak ada gunanya "Untuk apa kamu menangis, Caca? Percuma juga kamu dan aku menangis. Aku memang telah gagal menjadi seorang ayah. Aku gagal Caca! Namun kamu, mengapa kamu menutup mata mu selama ini?"
"Apalagi yang bisa aku lakukan Van? Dulu, aku hanya fokus dengan keadaan dan kesehatan' kamu, aku memanjakannya karena aku tidak mau ia merasa kurang perhatian. Sebab itu dulu aku tidak mau membawa Khanza bersama kita! Walau Raisa bersama kita, namun aku tidak memberikan perawatan yang lengkap untuknya. Bahkan aku juga mengabaikannya karena aku fokus sama kesehatan kamu!"
"Itu bukan alasan! Sehingga kamu membenarkan semua kesalahannya! Oke demi kesehatan aku. Dan sekarang, aku udah sehat, kamu bisakan mendidik dia?"
Caca menangis "Maaf Van, aku enggak tega membuatnya merasa aku menyakitinya, lebih baik aku serahkan semuanya kepada kamu dan juga Syifa. Aku janji, aku enggak akan membelanya lagi tapi tolong jangan minta aku untuk tegas sama anak aku!"
Arvan pun mengangguk, menyetujui permintaan istrinya Caca "Baik lah, tapi aku minta jangan pernah lagi ikut campur jika aku atau Syifa yang akan mendidiknya,"
"Mami, Daddy. Kakak Syifa menyusun barang-barangnya," teriak Khanza yang mendatangi ke dua orang tuanya "Jangan biarin kakak pergi, atau Khanza juga akan pergi! Khanza enggak mau tinggal di sini, kalau kakak enggak di sini!"
"Khanza sayang, apa yang kamu katakan nak? Kakak Syifa enggak akan kemana-mana. Ayo kita lihat kakak kamu,"
*******
Di kamar dengan penuh amarah, Syifa menyusun semua pakaiannya ke dalam koper. Ia muak dengan semua ini lagipula apa yang sudah ia perbuat untuk Raisa dan keluarga mamanya tidak ada arti.
Syifa selalu di salahkan untuk semuanya, bahkan mamanya tidak pernah mengerti dan memahami perasaan Syifa.
Arvan dan Caca yang masuk ke dalam kamar Syifa. Mereka melihat wajah anaknya yang memerah kesal "Syifa, kenapa kamu menyusun barang-barang kamu?" Caca bertanya kepada putri sulungnya, namun Syifa tetap menyusun barang-barangnya. Ia berusaha untuk tetap tenang agar tidak menyakiti perasaan mami dan Daddy-nya di saat marah.
"Sayang, kamu marah sama Daddy?" Saat Arvan bertanya barulah Syifa menoleh ke arah Daddy-nya. Ia menggeleng "Tidak sama sekali, Daddy! Namun Syifa rasa semuanya sudah cukup! Maksudnya, mami juga menyalahkan Syifa tentang semua ini. Syifa akui, mungkin Syifa terlalu keras. Apapun kesalahan Raisa, Syifa memakluminya namun untuk yang satu ini tidak! Maafkan Syifa, Syifa bukannya menjadi sok suci, namun ini sangat keterlaluan. Ini sungguh keterlaluan, mami dan Daddy tahu jika wanita yang suka mabuk-mabukkan itu sangat tidak baik! Sudah lah Daddy, Syifa enggak mau lagi berbicara apapun, biarkan mami yang mendidik Raisa. Lagipula, hanya Raisa yang mami pikirkan perasaannya."
"Kakak, jangan pergi!" Khanza merengek, ia tidak tega melihat adiknya namun Syifa juga tidak bisa membawa Khanza kembali kerumahnya, itu akan membuat Alana kembali tidak nyaman. Jika Raisa kakak kandungnya saja tidak nyaman dengan kehadiran Khanza, apalagi Alana? Yang tidak memiliki ikatan darah apapun?
"Sayang, kamu harus tetap di sini ya sayang? Kakak hanya sementara kok,"
Syifa memberikan pengertian kepada adiknya namun Khanza tidak mau mengerti "Tidak kakak! Kakak mau kemana? Khanza enggak mau kakak pergi!"
"Syifa, maafin mami kalau ucapan mami sangat menyakitkan untuk kamu. Tapi tolong jangan pergi ya? Kasihan adik kamu Khanza, dan sungguh mami membutuhkan kamu untuk memberikan pengertian kepada Raisa. Mami sangat membutuhkan kamu, nak!"
Syifa tidak mendengarkan ucapan maminya, ia merasa maminya bukan seperti ibu yang ia kenal lagi..
Cintanya yang begitu buta kepada Raisa membuat Caca kehilangan jati dirinya "Mami sudah semakin jauh dari jati diri mami yang sebenarnya, Syifa enggak tahu apa yang terjadi sama mami tapi yang pastinya mami jauh berbeda. Dan prinsip juga cara hidup kita itu enggak sama mi, jadi daripada setiap hari kita terus bertengkar dan mempermasalahkan hal yang sama. Lebih baik Syifa pulang saja! Mami bisa kok mengurus Raisa!"
Syifa mencoba tersenyum walau ia penuh dengan amarah, ia tidak mau ucapannya membuat kedua orang tuanya sakit.
"Iya, kakak lebih baik pergi saja pulang saja! Kakak sudah mengganggu ketenangan aku! Lihat sekarang gara-gara kakak, aku harus kedinginan seperti ini," jawab Raisa dengan suara yang meng-gigil
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Raisa, semua orang terkejut dengan yang Caca lakukan begitu juga dengan Raisa "Apa yang mami lakukan? Mami menampar aku? Mami enggak sayang lagi sama aku?"
Raisa mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca "Sudah berulangkali mami katakan sama kamu untuk menjaga ucapan kamu! Kamu sudah salah malah semakin mencari masalah lagi! Dan kamu dengan Raisa! Mami lebih memilih kakak kamu yang tinggal di rumah daripada kamu yang hanya bisa membuat malu keluarga saja!" teriak Caca kepada Raisa, membuat wanita itu terkejut
"Ma-mami!"
"Iya, kamu dengan apa yang mami katakan? Lebih baik kamu yang pergi dari rumah ini daripada kakak kamu! Mami bahkan menyesal telah melahirkan anak seperti kamu! Selama ini mami selalu memberikan yang kamu mau, kamu menjadi manja sekarang. Kita kembali ke Indonesia itu karena enggak mau kamu terus mabuk-mabukan! Namun bukannya berubah, kamu melakukan hal yang sama di sini!"
__ADS_1
Mendengar ucapan maminya kini Syifa tahu jika Raisa sudah terbiasa dengan party dan mabuk-mabukan!
Syifa meringis, ia merasa sedih melihat adiknya yang begitu jauh berbeda. Apakah Raisa seperti itu karena salah didikan dari ibunya Caca?
"Kenapa Raisa? Kenapa kamu selalu membuat mami, Daddy sedih? Kamu mau lihat kita mati karena hancur hati kita melihat kelakuan kamu?"
"Mami, jangan katakan itu! Raisa sangat menyayangi mami! Raisa enggak sanggup hidup tanpa mami, hanya mami yang sayang sama aku. Tolong jangan katakan itu!"
Raisa memeluk Caca, Caca tak membalas pelukan anaknya "Mami, peluk aku! Aku butuh pelukan mami! Raisa menyayangi mami,"
Bukannya membalas pelukan anaknya, Caca malah melepaskan pelukan mereka "Sudah lah! Keputusan mami sudah bulat. Syifa sayang tolong jangan pergi! Mami tidak akan ikut campur lagi jika kamu mendidik dan menghukum adik mu Raisa. Bukan hanya Raisa, namun juga dengan Khanza. Bahkan jika mereka bersalah, kamu berhak memukul mereka!"
Syifa tidak menjawab, Arvan mendekati anak sambungnya. Syifa kaget saat Arvan ingin berlutut ia segera menahan tubuh Daddy-nya "Daddy, apa yang Daddy lakukan? Tolong jangan seperti ini Daddy!"
"Nak, Daddy mohon. Tolong jangan pergi, Daddy tidak tahu jika kamu pergi bagaimana nasib Daddy dan mami. Tolong, hanya kamu yang bisa mengurus keluarga ini, kamu tahu Daddy tidak sehat nak. Tolong bantu Daddy!" Ujar Arvan dengan nada yang lemah, Syifa langsung memeluk Daddy-nya dengan erat "Daddy, tolong jangan katakan itu! Jangan memohon seperti ini! Syifa sangat menyayangi Daddy! Syifa enggak bisa melihat Daddy lemah seperti ini. Tolong jangan lakukan itu lagi, Daddy!"
"Iya nak, namun Daddy mohon. Jangan pernah mengatakan ingin pergi lagi dari rumah ini, Daddy butuh kamu! Daddy, mami, dan juga adik kamu Khanza!"
"Iya kak, jangan pergi!" Khanza pun menangis, memohon kepada kakaknya untuk tidak pergi
Syifa pun mengangguk "Baiklah, aku tidak akan pergi. Ini semua demi Khanza dan Daddy!"
Terlihat Syifa yang masih marah dan kecewa dengan maminya.
"Enggak apa-apa kalau kamu marah sama mami, sayang. Mami terima karena ini kesalahan mami, yang terpenting kamu tidak marah lagi,"
Caca ingin membawa Raisa keluar dari kamar Syifa namun di cegah oleh Arvan
Caca dan Raisa pun berhenti "Di rumah ini aku adalah kepala keluarganya, namun kalian tahu jika kondisi ku sangat lemah. Aku tidak berdaya dan sering sakit-sakitan sekarang di usia ku yang sudah tidak muda lagi, dan aku akan memberikan hak itu kepada Syifa. Sebagai putri sulung rumah ini. Ia yang akan menggantikan posisi ku sebagai kepala keluarga, semua aturan dia yang akan buat dan tidak boleh ada yang membantah!"
Raisa tidak terima dengan keputusan Arvan begitu juga dengan Caca
"Daddy, tidak! Mengapa Daddy melakukan ini. Syifa enggak mau Daddy! Daddy tetap kepala keluarga ini! Jangan mengatakan itu Daddy!"
"Iya sayang, Daddy tetap menjadi kepala keluarga di rumah ini. Tapi kamu yang harus menjalankannya karena hanya kamu yang bisa berbuat adil dan tegas di rumah ini."
Caca terdiam, ia tahu jika suaminya sedang menyindir dirinya "Syifa, yang Daddy mu katakan memang benar. Mami tidak berhak karena mami tidak bisa tegas juga adil kepada kalian semua,"
Caca langsung pergi, Raisa protes "Daddy enggak bisa gitu dong! Rumah kak Syifa kan di rumah mama Shinta. Dan putri sulung Daddy itu aku! Bukan kak Syifa! Iya, kami hanya satu ibu saja. Daddy harus bisa adil!"
"Lalu kamu ingin Daddy menyerahkan tanggungjawab itu kepada kamu? Anak yang selalu saja membuat orang tua sedih?"
Raisa terdiam "Sebagai anak kandung Daddy, aku enggak setuju!"
"Tapi Khanza setuju! Khanza kan anak kandung Daddy dan Mami. Khanza juga berhak memberikan suara, iyakan Daddy?"
Arvan tersenyum lebar, ia pun setuju dengan anaknya
"Mami kamu setuju dengan keputusan Daddy, dan adik kamu juga. Sementara suara kamu hanya sendiri jadi suara kamu enggak perlu bisa di dengar!"
__ADS_1
"Tapi Daddy," belum sempat Syifa berbicara, Arvan sudah memotongnya
"Jangan tapi-tapi nak! Daddy percaya dengan kamu dan tolong jangan kecewakan kepercayaan Daddy ya?"
Kini tak ada lagi alasan Syifa untuk menolak ia hanya bisa mengangguk pasrah.
"Syifa akan melakukan yang terbaik Daddy,"
Arvan pun mengelus rambut anaknya, lalu ia mengajak Khanza untuk keluar. Sedangkan Raisa masih merasa tidak senang
"Kak, apa sih tujuan kakak? Kalau mau pulang ya sudah pulang! Kenapa banyak drama?"
Syifa tak menghiraukan ucapan adiknya, ia kembali menyusun pakaiannya ke lemari. Dengan langkah yang kesal, Raisa meninggalkan Syifa
Raisa mendekati mami dan Daddy-nya yang duduk bersama Khanza "Raisa enggak terima dengan keputusan Daddy! Mami katakan sesuatu dong! Mami ini Istrinya Daddy, seharusnya mami yang mengambil ahli untuk rumah ini, bukannya kak Syifa! Jangan karena dia juga anak kandung mami dengan pernikahan pertama mami. Mami setuju-setuju saja!"
Raisa mengatakan hal yang kasar, Caca menatap anaknya tak percaya "Selama ini mami membela kamu, namun kamu mengira aku ini pilih kasih? Kalau bukan karena perbuatan mu, ini semua tidak akan terjadi. Kakak mu enggak akan pergi dari rumah ini!"
"Kenapa salah aku? Yang memarahi kakak itu kan mami, mami kenapa salah-salahin aku sekarang? Kalau mami enggak menyalahkan kakak terus kakak enggak akan pergi!"
"Cukup Raisa! Begitu cara kamu berbicara dengan mami mu?" Arvan sudah tidak tahan lagi dengan sikap Raisa yang semakin hari semakin menjadi "Yang aku katakan itu benar Daddy! Mami yang keterlaluan, sama seperti Daddy! Kenapa Daddy merenggut hak aku menjadi Putri sulung Daddy? Kenapa Daddy?"
Khanza merasa gemas dengan kakaknya, namun ia selalu mengingat ajaran mama Shinta yang mengatakan tidak boleh ikut campur dengan masalah orang dewasa. Ia pun tersenyum dan memiliki cara agar kakaknya Raisa bisa diam
"Kak Syifa! Kak Syifa!" Khanza berteriak, mendengar nama Syifa saja sudah membuat Raisa takut. Ia tahu jika Syifa turun ia pasti akan menggunakan kekuasaannya, lebih baik Raisa masuk ke dalam kamar sebelum posisinya semakin terpojok.
Setelah kakaknya pergi, Khanza terkekeh "Sayang, kenapa kamu ketawa?" Arvan bertanya kepada putri bungsunya "Berisik banget kak Raisa Daddy, mama Shinta selalu mengajari Khanza kalau Khanza enggak boleh ikutan dalam masalah orang dewasa. Apalagi sampai berkata kasar di depan orang tua, namun Khanza juga enggak bisa melihat mami dan Daddy di bentak-bentak oleh kak Raisa. Jadi lebih baik Khanza memanggil kak Syifa, dan kak Syifa yang memberikan pelajaran kepada kak Raisa,"
"Khanza sayang, kamu sedikit-sedikit jangan mengadu kepada kak Syifa ya nak? Kasihan kakak Raisa, nanti kak Syifa bisa menghukumnya."
"Tapi Khanza lebih kasihan dengan mami dan Daddy, Khanza enggak tega melihat kak Raisa membentak dan berkata kasar kepada mami dan Daddy!"
"Kamu lihat, bahkan anak mu yang sekecil ini saja tahu sopan santun. Tidak seperti Raisa!" Ujar Arvan kepada Caca membuat wanita paru baya itu bungkam
******
Shinta, Revan dan si kembar sudah sampai di rumah. Shinta langsung membawa Alana kedalam kamar "Sayang, muka kamu masih sangat pucat nak? Kita panggil dokter ya?"
Alana menggeleng "Tidak usah ma, Alana enggak apa-apa kok. Alana hanya demam saja,"
Namun saat Alana mengatakan itu, ia kembali tidak sadarkan diri. Membuat Shinta panik "Lebih baik kita membawa Alana kerumah sakit saja!"
Revan mengangguk, Revan langsung menggendong tubuh anaknya masuk ke dalam mobil, Shinta dan Alan pun langsung masuk ke dalam mobil
Mereka membawa Alana ke rumah sakit agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Alana. Melihat kondisi Alana yang lemah seperti ini, membuat Shinta takut kehilangan anaknya kembali. Ia ingat betul bagaimana ia menggendong baby Al, dan membawanya ke rumah sakit namun anaknya tak tertolong lagi.
Sesampai di rumah sakit, Shinta memanggil perawat. Perawat langsung membawa Alana ke ruangan UGD terlebih dahulu.
Revan pun menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pihak rumah sakit.
__ADS_1
Dokter pun memeriksa keadaan Alana.