Ibu Sambung

Ibu Sambung
Memakan Ice cream


__ADS_3

Shinta dan Syifa merasa senang, kini Alana bisa mengerti dan memahami maksud dari ucapan Shinta.


"Yaudah, sekarang saat nya kita masuk ke dalam. Papa pasti sudah menunggu di dalam, nanti papa akan marah kepada kita."


"Iya, Mama. Nanti, saat kakak itu datang. Alana akan belsikap baik dan meminta maaf kepada teman kakak."


Shinta begitu gemas dengan anak nya. Ia menciumi anak nya berulang-ulang membuat Alana tertawa geli.


"Mama sudah cukup. Hihi Alana sangat geli mama."


"Anak mama yang nakal ini." Shinta kembali menciumi anak nya dengan bertubi-tubi.


Alana tiba-tiba teringat dengan rencana nya kepada Alan. Ia menyuruh sang mama untuk menuruni tubuh nya ke bawah. Shinta pun menuruti permintaan sang anak dan menuruni Alana ke bawah. Setelah turun, Alana berlari masuk ke dalam rumah.


"Sayang, Jangan berlari. Nanti, kamu jatuh nak." ujar Shinta memberikan peringatan kepada anak nya. Namun, Alana tidak mendengar dan terus saja berlari.


Shinta dan Syifa hanya menggeleng kan kepala saja melihat tingkah Alana.


Alana melewati papa nya, ia terus berlari menaiki tangga. Revan juga memperingati sang anak agar tidak berlari ketika menaiki tangga. Namun, Alana tidak mendengar. Revan pun mengikuti anak nya menaiki tangga, ia tak ingin anak nya jatuh atau pun terluka.


Alana masuk ke dalam kamar nya, Revan juga masuk ke kamar. Memarahi Alana.


"Alana, Papa sudah bilang tadi kan? Jangan berlari, kenapa kau tidak mendengarkan papa dan terus saja berlari nak? Bagaimana jika Alana jatuh?" Revan duduk di samping anak nya.


"Kenapa kau belali, Alana? Bagaimana jika kau jatuh." Alan pun ikut cemas, ia juga tidak ingin saudara kembar nya terluka.


"Maafin, Alana papa. Alana sedang mengingat lencana Alana dengan Alan. Makanya, Alana menemui Alan."

__ADS_1


"Rencana apa, Nak? Jangan membuat kekacauan lagi, Sayang. Atau jangan menyusahkan mama, kasihan Mama jika nanti di marahin atau di salahkan lagi oleh kakek kalian karena tidak bisa mengurus kalian."


"Tidak, Papa! Alan dan Alana tidak akan membuat kakek malah. Atau membuat Mama di malahi."


Alana dan Alana dengan begitu antusias memberitahu rencana nya kepada Revan. Revan yang mendengar rencana anak nya pun begitu setuju. Dan, ia juga ingin ikut dalam rencana anak-anak nya. Mendengar ucapan Revan, si kembar Alan, Alana merasa begitu senang.


********


Di dalam perjalanan, Raisa menatap Caca dan Arvan dari kaca spion depan. Ia membayangkan jika diri nya memiliki keluarga yang lengkap dan utuh. Pasti, diri nya akan bahagia sekali.


"Sayang, apa kau mau ice cream?"


"Ap-apakah boleh Tante? Maksud Raisa, apakah nanti tidak merepotkan Om dan Tante?"


"Tidak, Sayang. Mengapa harus merasa repot? Membeli ice cream bukan lah hal yang sangat sulit. Raisa mau rasa apa nak?"


"Wah, selera kita sama ya? Sama-sama cokelat." ujar Caca lagi, Caca juga merasa begitu dekat dengan Raisa. Persamaan Raisa dan diri nya juga suami juga sama. Arvan alergi kacang, Raisa juga alergi kacang. Caca menyukai cokelat, Raisa juga menyukai cokelat. Seakan sebuah kebetulan.


"Tante juga sangat menyukai cokelat."


"I-iya Tante, tapi Raisa juga jarang kok makan yang manis, soal nya kan di panti tidak pernah jajan di luar. Ibu panti selalu memasak untuk kami, dan di asrama. Jika, ingin jajan itu menggunakan uang sendiri. Raisa tidak memiliki uang untuk jajan yang mahal-mahal. Di kantin, Raisa hanya jajan bakso dan es yang murah."


"Tapi, sayang. Makan bakso dan es setiap hari itu tidak bagus untuk kesehatan kamu."


"Hanya itu yang bisa Raisa beli Tante, tapi Raisa juga bersyukur. Bisa sekolah di tempat sebagus itu."


"Makanya, Sayang. Kamu harus belajar dengan baik, jadi lah anak yang sukses. Agar besar nanti, kamu bisa membantu anak-anak lain seperti mu."

__ADS_1


"Iya, Tante." Caca menyuruh suami nya untuk berhenti di toko ice cream ternama di kota itu. Itu juga toko ice cream yang sering Shinta datangi bersama anak nya, Syifa.


Caca mengajak Raisa untuk turun, Arvan dan baby sister yang menggendong baby Khanza juga di ajak oleh Caca. Mereka pun masuk untuk menikmati ice cream terenak di toko itu.


"Enak sekali, rasanya Tante." ujar Raisa yang menikmati ice cream itu dengan begitu nikmat.


Raisa memejamkan mata nya, menikmati setiap kenikmatan rasa ice cream yang ia makan, Caca tertawa dan menawarkan Raisa untuk menambah ice cream nya jika dia mau. Raisa awal nya tak enak hati untuk menambah ice cream namun Caca memaksa akhir nya Raisa pun mengangguk, mensetujui ucapan Caca.


Lagipula, Raisa memang sangat menyukai ice cream cokelat tersebut. Raisa kembali memakan ice itu dengan begitu lahap. Caca memandangi Raisa dan tersenyum dengan penuh bahagia.


"Dia lucu sekali ya? Jika melihat nya makan seperti itu, sama seperti mu, begitu bersemangat jika memakan ice cream." bisik Arvan kepada Caca, Caca tersenyum malu.


"Jangan begitu, aku malu."


"Kan memang benar, kau juga begitu menggemaskan kalau sedang menikmati ice cream." ledek Arvan kembali kepada Caca. Caca dan Arvan memandangi Raisa. Mereka seakan memiliki ketertarikan yang sama kepada anak tersebut. Setelah ice cream mereka habis, Caca dan Arvan mengantarkan Raisa kembali ke sekolah asrama.


Perjalanan menuju pulang begitu sangat macet. Raisa mulai gelisah, ia takut terlambat kembali ke asrama, diri nya juga bisa kenak hukuman. Caca mengerti dengan ke khawatiran yang di rasakan Raisa. Ia menenangkan teman dari anak nya itu.


"Jangan khawatir, Sayang. Jika, memang terlambat. Suami Tante akan bicara kepada kepala sekolah kalian. Kita juga tidak sengaja, dan mengira perjalanan akan sepadat ini tidak seperti biasanya."


"Iya, Tante." walau Caca mengatakan itu, tetap saja Raisa merasa gelisah dan takut. Sore itu, perjalanan begitu sangat padat, bahkan susah sekali untuk mobil berjalan walau sangat lambat.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Kepala sekolah akan sangat marah, dan aku akan di hukum atau beasiswa ku bisa di cabut. Ya, Tuhan. Tolong lah aku ~ Raisa.


"Bagaimana ini? Kenapa begitu padat sekali perjalanan. Raisa akan terlambat." ujar Caca yang menoleh kepada suami nya, Arvan kembali menenangkan isteri nya.


"Sayang, kau bagaimana? Tadi, kau sendiri yang menenangkan Raisa. Tapi, kau malah gelisah begitu. Tenang saja, aku akan bicara kepada kepala sekolah itu. Lagipula, sekolah itu." Caca melotot kepada Arvan, seakan mengkode untuk tidak keceplosan. Jika, Raisa tahu. Ia bisa kapan saja memberitahu Syifa. Dan, itu tidak akan baik untuk perkembangan anak-anak mereka

__ADS_1


__ADS_2