Ibu Sambung

Ibu Sambung
Seakan Dunia Milik Berdua


__ADS_3

Syafa yang begitu kesepian hanya tinggal berdua dengan suami nya pun merasa senang dengan kehadiran Rayhan.


Walau Rayhan belum terbiasa dengan mereka, Shinta memandangi wajah Rayhan.


Sangat mirip dengan mantan kekasih nya dulu, Revan melihat ke arah sang isteri dia yakin jika isteri nya mengingat tentang mantan kekasih nya itu.


Takdir membawa Shinta Kembali mengingat masa-masa kelam nya. Ia juga begitu merasa iba dengan Ray junior.


Dia masih terlalu kecil, namun ke dua orang tua nya tidak bersama diri nya.


"Ray, mulai sekarang kamu panggil saya Ibu ya? Ibu yang akan menjadi mama kamu. Ibu dan Ayah akan menjadi orang tua untukmu." ujar ibu Syafa.


Rayhan junior hanya terdiam, ia memandangi wajah seluruh keluarga satu persatu. Namun, Ray merasa takut jika harus di dekat pria.


"Ampun, sakit!" histeris nya ketakutan. Syafa, dan ke dua Puteri nya pun bingung melihat Ray yang tiba-tiba histeris.


"Nak,.tidak ada yang menyakiti mu. Jangan takut,"


"Jangan, ampun. Jangan pukul aku dengan kayu panas, itu sakit."


Hati mereka meringis mendengar nya, ibu Syafa pun membuka perlahan baju Rayhan.


Terlihat banyak sekali goresan luka bakar, semua nya terkejut melihat itu.


"Nak, siapa yang melakukan hal ini kepada mu?"


Rayhan hanya diam, menangis ketakutan. Ia memeluk Syafa dengan erat.


Syafa menenangkan Ray. Shinta, Caca, Arvan, Revan dan juga ayah Gunawan tidak mengerti apa yang terjadi dengan Ray.


"Apa mungkin ibu nya telah menyiksa diri nya?" tanya Caca. Namun, Shinta tak percaya jika cinta tega melakukan itu.


Cinta sangat menyayangi dan mencintai Rayhan. Tidak mungkin dia tega menyakiti anak mereka.


hati Shinta menolak itu semua namun kebenaran nya tubuh Ray penuh dengan luka bakar.


Dan beberapa bekas cambukan.


Caca menangis melihat keadaan Ray. Walau ia tidak mengenal Ray namun hati ibu mana yang tidak sakit melihat seorang anak kecil di siksa seperti itu.


Ayah Gunawan mengambil semangkuk air es dan handuk kecil, untuk mengompres luka-luka yang ada di badan Ray.


Ray menangis kesakitan, ibu Syafa perlahan-lahan mengompresnya dengan hati-hati. Ibu Syafa juga menenangkan Ray agar tetap tenang.


"Bu, kita harus membawa nya ke dokter. Kasihan dia, dan melihat keadaan nya seperti nya Ray juga mental nya terganggu." ujar Shinta yang menatap Rayhan junior.


"Kenapa ibu nya tega melakukan ini, jika bukan dia yang membuat hal seperti ini. Kenapa dia membiarkan anak nya seperti ini. Bahkan ia tidak mengambil langkah yang tegas melindungi anak nya. Apa dia tidak menyayangi anak nya sendiri." kesal Revan. Ia tidak percaya jika ada seorang ibu yang begitu egois.


Walau bagaimana pun keadaan anak nya, anak tetap lah anak. Sebagai orang tua kita harus menyayangi dan melindungi mereka. Walau dia tidak sempurna dan memiliki kekurangan sekalipun.


Tempat untuk perlindungan justru menjadi tempat bagaikan neraka bagi Ray.


Setiap hari nya, ia selalu di aniaya oleh ayah tiri nya. Cinta berusaha untuk melindungi anak nya, namun suami nya akan melakukan hal yang sama pada nya jika cinta melindungi Rayhan


*****


"Kamu udah buang anak sial itu?" tanya seseorang yang mengadang cinta.


Pria itu adalah suami nya cinta. Cinta menatap mata Suami nya dengan kesal. "Udah puas kamu sekarang? Aku sudah membuangnya di jalanan." cinta terpaksa harus berbohong.


"Sangat puas Karena dia anak pembawa sial." suami cinta mengatakan itu karena semenjak kehadiran nya. Keuangan nya menjadi menurun drastis. Usaha nya juga tidak ada pembeli satu pun.


Perusahaan rugi besar, suami cinta menyalahakan Rayhan atas apa yang terjadi.


Demi memuaskan keinginan nya dan melupakan kemarahan nya..Ia pun menyakitin dan menganiaya Ray dengan tanpa ampun.. Sampai Ray tak sadarkan diri, cinta selalu melindungi Ray namun tenaga suami nya jauh lebih kuat. "Aku senang dia sudah pergi, Kita akan memulai kehidupan kita dengan anak-anak kita."


cinta diam, dan memikirkan tentang anak nya Rayhan.


Cinta membawa ray tadi pagi ke rumah Shinta karena ia tidak tahan melihat Ray yang terus di siksa tanpa ampun. Ray juga berhak mendapatkan kehidupan yang layak.


Cinta mengingat tentang Shinta. Ia tahu jika Shinta orang yang sangat baik, dia mengetahui jika Shinta tidak memiliki anak dan menikah dengan duda anak satu.

__ADS_1


Cinta pun memutus kan untuk mencari alamat Shinta, lebih baik anak nya itu pergi dari rumah daripada ia harus melihat anaknya selalu saja di perlakukan layak nya binatang bukan sebagai manusia oleh suami nya.


"Di mana pun dia yang penting dia tidak menggangu mu, jangan mencari keributan lagi!" cinta memberikan peringatan kepada suami nya.


Setiap ibu memang hebat, ia rela melakukan saja demi anak-anak nya bahkan rela berpisah dengan anak yang di cintai Demi kebahagiaan anak itu


Cinta berlalu pergi meninggalkan suami nya yang bernama Alvin.


Alvin sangat membenci anak dari perselingkuhan cinta dengan sahabat nya Rayhan.


Selama ini, Alvin selalu mengerti cinta jika ia ingin menemani Ray di sisa akhir hidup. Namun, dengan tega mereka mengkhianati Alvi.


Semenjak saat itu, Alvin bagaikan iblis untuk cinta dan anak nya Ray.


Ia ingin mereka merasakan apa yang Alvin rasakan.


Alvin masuk ke dalam kamar anak-anak nya, ia melihat anak-anak nya yang sedang bermain


Alvin mendekati anak-anak nya dan mengajak ke dua anak nya bermain. Walau Alvin begitu kejam dengan cinta namun ia menyayangi dan menjadi ayah yang baik untuk ke dua anak nya.


**********


Shinta permisi untuk melihat anak-anak nya yang sedang bermain di kamar. Ia juga ingin melihat keadaan Syifa apakah sudah membaik atau belum.


Syifa sudah jauh lebih baik dari sebelum nya, ia juga bermain kepada adik-adik nya di kamar.


Shinta bertanya kepada Syifa apa yang ia lakukan. Mengapa Syifa tidak pergi untuk istirahat saja. "Sayang, kenapa kamu malah bermain, mama kan sudah meminta kamu untuk tidur dan istirahat yang total."


"Ma, Syifa tidak apa-apa. Syifa merasa sangat jenuh sekali jika terus berada di dalam kamar. Boleh ya ma Syifa mengajak adik-adik untuk bermain?" pinta Syifa dengan wajah yang begitu menggemaskan membuat Shinta tak kuasa menolak permintaan anak nya.


"Baiklah, tapi ingat. Jangan terlalu capek ya?"


"Iya, mama ku sayang." ujar Syifa sambil tertawa, ikatan ke dua nya begitu sangat kuat.


Bukan hanya dari salah satu pihak saja yang menyayangi terlalu dalam, ke dua nya saling mencintai satu sama lain.


Shinta pun meninggalkan anak-anak yang sedang bermain.


Ia begitu bingung menyikapi masalah yang ada.


Shinta ingin menemui cinta namun ia tidak tahu alamat tinggal cinta dia juga tidak memiliki kontak cinta.


"Bagaimana aku bisa bertemu dengan nya? Melihat kondisi Rayhan aku yakin jika diri nya tidak tahu di mana alamat ibu nya berada."


Shinta pun mencari kontak teman-teman lama nya yang kenal dengan cinta.


Karena teman lama Shinta juga teman-teman nya dari almarhum Rayhan. Mungkin saja mereka mengenal cinta dan tahu kontak atau akun sosial cinta.


Namun, tidak ada yang mengetahui tentang identitas cinta. Di mana ia tinggal dan sosmed nya apa, memang beberapa kali Rayhan sering mengajak cinta untuk sekedar bergabung namun hanya sebatas di tongkrongan saja.


Shinta merasa sangat frustasi mengapa cinta meninggalkan anak nya dengan keluarga Shinta.


Dan Shinta pun tidak mengerti dengan pemikiran ke dua orang tua nya yang mau mengadopsi Ray tanpa memikirkan atau membicarakannya dahulu.


Padahal ini bisa mereka bicara kan terlebih dahulu namun ibu nya tidak melakukan itu.


Ibu nya mengambil keputusan sepihak saja. Shinta bercak dengan kesal.


Revan menghampiri isteri nya, tangan nya melingkar ke perut sang isteri. Ia mengecup kening dan rambut shinta dengan lembut.


Revan tahu jika kehadiran Rayhan pasti mengganggu pikiran nya, ia tak mau isteri nya itu terlalu stres dengan semua ini.


"Jangan pikirkan hal lain, ingat saja kepada anak-anak kita." Shinta mengangguk, ia meneteskan air mata nya. Shinta tidak menyangka jika cinta begitu kejam memperlakukan anak nya sendiri.


"Aku begitu sakit melihat keadaan Ray."


"Iya, sebagai orang tua aku juga merasakan sakit melihat apa yang telah menimpa diri Ray. Tapi sekarang kita tidak perlu khawatir lagi. Ibu yang menjaga Ray mulai sekarang. Ia akan sembuh dengan perlahan, dan itu membutuhkan dukungan dari kita semua. Kita harus bersabar dan mendukung ibu dan ayah. Juga selalu memberikan support untuk Ray agar ia bisa berjuang melawan sakit nya ini."


Shinta mengangguk, Revan meminta kepada Shinta untuk tidak melihat latar belakang keluarga Ray. Anggap saja Ray anak yang di adopsi dari panti asuhan dan mereka tidak tahu siapa keluarga Ray."


Shinta memikirkan ucapan suaminya, mungkin itu jalan yang terbaik untuk semua nya. Agar Rayhan junior bisa memulai kehidupan baru nya dan melupakan semua masa lalu yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


"Lupakan masa lalu, kita mulai lembaran baru bersama Ray junior. Saat ini kita lah keluarga nya, kau kakak nya. Jadi, kita harus bersikap layak nya sebagai seorang kakak."


Shinta mengangguk, Revan semakin mengeratkan pelukan nya.


"Aku mencintai mu." ujar Revan yang tiba-tiba bersikap romantis kepada Shinta. Hal itu membuat Shinta tersipu malu. Ia membalikkan badan nya untuk berhadapan dengan suami nya. Shinta mencium bibir sang suami "Aku juga mencintai mu." ciuman itu berubah menjadi lumayan.


Ehem! Ehem!


Shinta melepaskan ciuman nya dengan sang suami ia kaget mendengar suara Arvan yang seakan meledek mereka


Ternyata Arvan dan Caca sedang menonton pertunjukan yang fulgar.


"Begitu lah kalau sedang jatuh cinta, dunia berasa milik berdua." ledek Arvan Kembali, Caca menahan senyuman nya.


Sedang kan Shinta merasa sangat malu. Ia kehilangan muka nya saat ini.


Revan tidak perduli dengan ledekan Arvan, karena mereka kan suami isteri.


Arvan dan Caca juga tidak mempermasalahkan nya mereka hanya sedang ingin mengganggu kemesraan Shinta dan Revan saja.


"Kalian juga bisa seperti kami." Revan kembali menarik Shinta ke dalam dekapan nya. Ia melanjutkan ciuman panas mereka berdua.


Shinta yang tak mempersiapkan diri pun seakan sulit untuk bernafas.


Arvan dan Caca pun pergi meninggalkan ke dua orang yang sedang bercumbu itu.


"Lihat lah kelakuan mereka berdua, kita ada di hadapan mereka namun mereka tidak memperdulikan keberadaan kita."


Ucap Arvan yang menggeleng kan kepala nya meledek pasangan itu.


"Mereka sudah lama menikah namun kelakuan ke dua nya seperti pengantin baru saja." Caca pun menegur suami nya. Tumben sekali suami nya itu begitu julid.


"Kamu mau juga?" tanya Caca secara terang-terangan.


"Tentu saja mau." jawab Arvan dengan cepat, ia begitu iri melihat keromantisan dari Shinta dan Revan.


Bukan nya Arvan ingin membanding-bandingkan Caca dengan Shinta namun ia ingin merasakan perhatian dari isteri nya kembali, semenjak pertengkaran terakhir ia dengan Caca mereka tidak pernah lagi bermesraan seperti itu.


Caca tertawa kecil melihat tingkah suami nya. Ia langsung mengecup pipi Arvan..


"Jangan cemberut seperti itu, sayang." Caca memeluk Arvan dengan manja.


tentu saja membuat arvan tersenyum senang. Ia merasakan kecupan dari isteri nya. Caca ingin berlalu pergi meninggalkan Arvan namun Arvan menggenggam tangan Caca agar isteri nya tidak pergi.


Arvan membawa Caca ke dalam pelukan nya, tanpa berfikir panjang ia langsung ******* bibir isteri nya. Arvan yakin, Caca tidak akan mau memulai duluan seperti yang Shinta lakukan kepada Revan.


Lebih baik Arvan saja yang berinisiatif duluan, mereka tidak memperdulikan keadaan sekitar lagi seakan dunia milik berdua.


Caca kesulitan bernafas. Ia meminta suami nya untuk melepaskan ciuman itu namun Arvan tak mendengarkan ucapan isteri nya.


Caca bermaksud untuk mengajak Arvan melanjutkan nya di dalam kamar, namun Arvan tak sudah tak tahan lagi menahan nya selama berhari-hari pun terus ******* bibir Caca dengan lembut.


"Mami, Daddy." panggil Raisa yang langsung menutup mata nya. Begitu juga dengan Syifa, sontak membuat Arvan dan Caca terkejut kedua nya pun saling melepaskan ******* satu sama lain.


"Sa-sayang, kalian di sini?"


"Iya, kan ini depan pintu kamar kami."


Astaga!


Gumam Arvan dan Caca secara bersamaan mereka lupa jika sekarang mereka berada di depan kamar anak-anak.


Sebelumnya ke dua nya berencana untuk melihat keadaaan anak-anak namun entah hal apa yang membuat ke dua nya lupa.


Caca dan Arvan begitu sangat malu, tadi Arvan meledek Shinta dan Revan. Namun sekarang, mereka sangat malu di hadapan anak-anak.


Caca pun menyengir malu, ia sudah tidak tahu mau di kemana kan muka nya. Begitu juga dengan Arvan, jika ini di depan Shinta dan Revan..Ke dua nya tidak terlalu perduli.


Hahaha!


Arvan, Caca, Syifa dan Raisa menoleh ke arah Shinta dan Revan yang tertawa begitu kekeh.

__ADS_1


"Lihat lah sayang tadi mereka membuat ku merasa malu dan mengatakan jika kita tidak tahu tempat ternyata mereka jauh lebih lucu dari kita." gumam Shinta kepada suami nya.


"Berasa Dunia milik berdua." ledek Revan yang mengembalikan kata-kata Arvan sebelum nya


__ADS_2