
Shinta menatap punggung belakang Caca yang semakin menjauh dari pandangannya "Dasar aneh" gerutu Shinta. Tapi hati kecil nya menolak bahwa Caca bukan ibu yang baik untuk Syifa. "Kalau emang dia tak menyayangi Syifa untuk apa dia masih memantau Syifa dari jauh, entahlah kepalaku pusing memikirkannya" Shinta mengangkat bahunya sendiri, ia pun bergegas menemui Syifa didalam ruangannya.
******
Caca berjalan sambil menangis, ia menghapus air matanya "Aku harus kuat, ini sudah keputusan yang aku ambil 5 tahun yang lalu" mencoba tersenyum menghibur sisinya sendiri. Hp nya bergetar ia mengambil hp dari tasnya. Ada pesan masuk dari kekasihnya.
kau dimana -Arvan
Sebentar lagi aku akan sampai dirumah ~caca.
aku tunggu baby -Arvan.
Caca tak membalas lagi pesan dari Arvan ia menyimpan kembali hp nya didalam tas. Diseberang sana ia melihat sepasang suami isteri sedang bermain bahagia di taman bersama anak lelakinya. Caca tersenyum melihat pemandangan seperti itu.
"Andai saja, ah sudahlah" Caca membuyarkan segala lamunannya. "Mama sayang kamu nak" batinnya. Caca bergegas pergi untuk pulang kerumahnya.
__ADS_1
*********
"Mama, dimana papa" rengek gadis kecil tersebut
"Papa masih kerja sayang" Shinta menggendong tubuh mungil Syifa dan mencoba menenangkan Puterinya. Shinta mencium pucuk kepala syifa.
"Gini saja, bagaimana kalau kamu mama ajak kerumah mama dan bertemu dengan Ibu dan Ayah mama" mencoba memberikan tawaran. Syifa ternyum dan menganggukan kepalanya.
"Syifa mau ma" teriaknya senang. Shinta menggelengkan kepala, dia cukup pusing menghadapi Syifa yang sebentar nangis, dan sebentar bahagia. Namun tak mengurangi kasih sayangnya bahkan Shinta makin menyayangi Syifa yang selalu menggemaskan baginya.
"Ayo ma kita kerumah kakek dan nenek" Syifa menarik jemari tangan Shinta.
"Iya mama" menatap dengan mata polosnya
"Syifa sayang mama, jangan pergi dari Syifa ya ma" Syifa memeluk tubuh Shinta, Shinta terharu mendengar ucapan Puterinya "Kamu anak mama, mama gak akan ninggalin kamu sayang" mengelus dan menciumi pucuk kepala Syifa.
__ADS_1
Setelah berpamitan kepada orang tua Revan, Shinta mengajak Syifa untuk kerumahnya.
"ayo sayang, kita udah sampai" Shinta memegang jemari mungil Syifa, namun Syifa menahannya. Ia merasakan ketakutan tiba-tiba
"Kamu kenapa nak?hmm" Tanya Shinta dengan bingung, namun Syifa hanya diam saja. "Sayang, kamu kenapa" kali ini Shinta menggendong Syifa, Syifa mengalungkan tangannya di leher Shinta "Ma, apa kakek dan nenek didalam galak?" Shinta hanya tertawa mendengar pertanyaan dari syifa.
"Mereka tidak galak sayang" mencium pipi Syifa dan berjalan kedalam rumahnya sambil menggendong gadis mungil itu.
Tok tok tok
Syafa membuka pintu
"Hallo" sapa Syafa kepada Syifa. Syifa menyembunyikan wajahnya di leher Shinta. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Gapapa sayang, kamu jangan takut" Mengelus rambut Syifa.
"Sini sayang sama oma" Syafa memegang jemari Syifa dan mengambil ahli menggendong Syifa dari Shinta . "Anak cantik siapa namanya" Tersenyum hangat melihat Syifa yang ada di gendongannya. "Syifa" jawabnya polos. "Nama yang cantik seperti orangnya" mencium pipi Syifa dengan lembut.
__ADS_1
"Siapa yang datang sayang" tiba tiba suara Gunawan terdengar dari dalam, ia berjalan keluar melihat siapa yang datang.
"Tata, kau sudah pulang. Siapa dia nak" Tanya Gunawan melihat kearah Syifa" Syifa takut dan menyembunyikan wajahnya didalam gendongan Syafa. Syafa tertawa melihat Syifa. "Jangan takut sayang, ini kakek" ucap Syafa memperkenalkan suaminya.