
"Namun, tanpa kamu mama bukan lah apa-apa, kamu yang menaikan derajat mama sebagai seorang ibu nak. Dan kamu sangat baik menjaga adik-adik mu, kamu menyayangi mereka melebihi kamu menyayangi dan menjaga diri kamu sendiri. Bahkan, karena ulah adik-adik mu yang nakal kamu selalu di marahi oleh papa."
Benar ucapan Shinta seringkali karena perbuatan nakal Alan dan Alana. Syifa selalu di marahi dan di hukum oleh Revan. Syifa mengatakan jika ia tidak pernah marah sedikit pun, sebagai seorang kakak dari lima adik sekaligus ia harus kuat mental.
"Ma, Syifa ini kakak nya Alan, Alana, Raisa, Khanza dan juga Baby Al. Sudah tanggung jawab Syifa menjaga mereka, dan di marahi sedikit oleh papa itu hal yang tidak terlalu serius." Syifa meyakinkan Shinta jika diri nya tak merasa keberatan dengan itu semua. Shinta memeluk anak nya, setiap hari Shinta selalu jatuh cinta dan bangga kepada sang anak.
Walau usia nya masih muda, namun ia begitu dewasa dalam menyikapi masalah apapun. Syifa juga tidak pernah mengeluh menghadapi ke dua adik nya yang nakal. Alan dan Alana yang selalu merepotkan Syifa.
"Mama, lihat lah Alana mempunyai mainan Balu." Alana menunjukan mainan baru nya kepada sang mama, Shinta bertanya dari mana ia mendapatkan mainan baru tersebut.
Alana mengatakan jika teman papa nya yang memberikan mainan tersebut kepada diri nya. Shinta pun mengangguk dan mengatakan kepada Alana dan Alan jika ada yang memberikan mereka hadiah atau apapun jangan lupa mengucapkan kata "Terimakasih"
Alan dan Alana mengerti "Iya mama, Alana sudah mengucapkan telima kasih."
__ADS_1
"Bagus, anak mama yang pintar." Shinta mengusap kepala si kembar Alan dan Alana
Shinta pun bermain dengan ketiga anak nya walau saat ini diri nya begitu pegal dan lelah namun ia tak mau kelewatan dalam perkembangan anak-anak nya.
"Ma, Syifa boleh mengatakan sesuatu?" tanya Syifa yang begitu gugup, Shinta menatap mata Puteri nya itu.
"Iya, sayang. Katakan lah!"
Melihat Syifa yang gugup, Shinta menenangkan anak nya "Sayang, jika ada sesuatu jangan gugup. Tenang, enjoy, tarik lalu buang nafas perlahan." Syifa mengikuti ucapan mama nya. Lalu ia meminta izin kepada sang ibu sambung.
"Be-begini ma, Se-sebenar nya."
"Jangan takut, sayang. Katakan ada apa?"
__ADS_1
"Min-minggu depan ada acara dari sekolah, dan kita akan menginap di sebuah villa."
"Lalu?" tanya Shinta kembali, Syifa ragu untuk melanjutkan ucapan nya, Shinta yang mengerti maksud anak nya pun langsung mengangguk.
"Mama paham, pasti kamu mau ikut ya? Dan meminta izin kepada mama dan papa?" tanya Shinta kembali kepada Syifa, dengan ragu Syifa mengangguk.
"Iy-iya, Ma." Syifa menundukkan pandangan nya, ia tahu Revan sangat keras pasti akan melarang diri nya. Ia juga tahu jika Shinta begitu posesif kepada diri nya, Shinta pasti akan melarang.
Syifa mengingat saat Shinta begitu keras menolak Syifa menghadiri pesta ulang tahun teman nya beberapa waktu yang lalu.
Shinta tersenyum, ia mengatakan jika diri nya membolehkan Syifa untuk ikut namun ia harus bicara dulu dengan papa nya.
"Mama akan mengizinkan nya namun mama juga harus bicara sama papa. Kamu juga harus minta izin ke papa ya nak?" ujar Shinta kepada puteri nya
__ADS_1