Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 36


__ADS_3

Revan keluar dari ruangan anaknya, Ia berjalan dengan tertatih memegang perutnya yang terasa sangat sakit. Revan menjauhin ruangan dimana Puterinya berada. Ia tahu, ini efek dari kemarin ia meminum banyak minuman beralkohol. Mengambil ponsel genggam yang ada di saku celana nya. Revan menekan nomer seseorang dan segera menelponnya.


"Hallo bro" Suara seseorang yang ada diseberang sana. Dan orang itu ternyata adalah David


"To...tolong gu...gue" Ucap Revan terbata, ia tak tahan menahan rasa sakit yang saat ini dirasakannya.


"Lo kenapa Van" ucap David panik


"Ginjal g...gue bee...bermasalah la...lagi" Revan sudah tak tahan dengan rasa sakitnya


"Lo dimana sekarang? gua segera kesana"


"gue di...dirumah sakit dimana Syifa di rawa..." belum sempat Revan menyelesaikan ucapannya, tiba tiba ia terjatuh


"Hallo.....hallooo" teriak David di seberang sana. David langsung segera mengambil kunci mobilnya dan segera kerumah sakit yang dimaksud oleh Revan. David sangat mengkhawatirkan kondisi sahabatnya.


"Dasar bodoh! Andai aku kemarin bersih keras menahan dia agar tak banyak minum, mungkin kondisinya tak akan begini" David memaki dirinya sendiri, ia meng klekson mobilnya dengan kuat. David semakin geram karena kemacetan yang terjadi di kotanya itu, ia memukul setir dan membuka sitbell yang ia kenakan dan segera keluar dari mobilnya. David berlari sangat kencang agar cepat sampai kerumah sakit dan menemui sahabatnya yang sedang tidak baik-baik aja. David sangat mengkhawatirkan kondisi Revan saat ini, keringat bercucuran di dahi nya namun David tak meng hiraukan.


"Dimana dia" David berlari mencari sahabatnya di dalam rumah sakit, ia mengelilingi satu rumah sakit itu, David mengambil ponselnya dan menelpon Revan.


"Hallo" Suara wanita di seberang sana.


"Ha...halo" suara David sudah ngos ngos an akibat lari lumayan jauh.


"Maaf dengan siapa? Saya ingin memberitahu bahwa bapak yang mempunyai Seluler genggam ini sedang di periksa dokter akibat pinsan di depan rumah sakit" Suara wanita di seberang sana memberikan penjelasan, seperti nya itu perawat batin David.


"Dimana sahabat saya sekarang dok?" Tanya David dengan nada yang tak beraturan.


"Pasien berada di ruangan X dilantai 4" David segera mengakhiri panggilannya dan segera menuju ruangan yang perawat tadi sebut. David sampai di ruangan dimana Revan di berikan penanganan, didalam sudah ada perawat dan juga dokter.


"Keluarga pasien?" Tanya sang perawat yang mendekat ke arah David, saat ini David sedang mengatur pernafasannya.

__ADS_1


"Sa...saya keluarganya* Ucap David.


"Mari Tuan, Dokter ingin berbicara kepada anda" David bergegas menemui dokter, perasaannya saat ini sedang kacau. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.


"Gimana keadaan sahabat saya dok"


"Terjadi pembengkakan yang membuat satu ginjal pasien tak berfungsi lagi, pasien harus segera melakukan tindakan cangkuk ginjal atau itu akan sangat membahayakan nyawa pasien"


"Lakukan apapun yang terbaik untuk sahabat saya dok! saya akan membayar berapapun harganya"


"Ini bukan masalah harga Tuan, tapi mencari seseorang untuk mendonorkan ginjal itu bukanlah mudah. Dan membutuhkan jangka waktu yang tidak sebentar"


"Saya mohon dok lakukan apapun yang terbaik demi sahabat saya" David memohon kepada sang dokter.


"Baiklah, saya akan menghubungi beberapa rekan dokter saya. Sementara mencari donor ginjal yang cocok untuk pasien, pasien harus di rawat di rumah sakit dulu karena kondisinya yang sangat lemah"


"Baik dok lakukan yang terbaik untuk sahabat saya"


"Andai aku tak membiarkan mu untuk banyak minum, mungkin kau takkan seperti ini sekarang" David menyalahkan dirinya sendiri. David merasa sedih melihat kondisi sahabatnya yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit, ia menatap sahabatnya yang memucat.


"lu kuat bro, gua salut sama lu" David menghapus air matanya yang tak sengaja terjatuh. Revan dan David sudah seperti saudara kandung, mereka sangat dekat dan David satu satunya orang yang menjadi saksi bagaimana penderitaan Revan. Harus menahan sakit karena penyakit yang dia Alamin, harus melewati masa kehancuran karena di khianati oleh wanita yang ia cintai, merawat anaknya sendiri tanpa sosok seorang ibu apalagi baru baru ini Puterinya baru saja melewati masa-masa kritis. David mencari suara telepon yang berbunyi dan ternyata itu dari Hp Revan, ia melihat nama di layar itu "Wanita aneh" David mengerutkan keningnya dengan sangat bingung.


"Wanita aneh, siapa dia?" Batin David. Ia segera mengangkat panggilan itu.


"Hallo kau dimana? anakmu mencarimu dari tadi" Suara seseorang dari sana yang begitu nyaring membuat kuping David sakit. David menjauhkan ponsel Revan dari kupingnya.


"Berisik sekali wanita ini, pantas saja di katakan wanita aneh" Gumam David dalam hati


"Halloo!!!! Apa kau tuli heyyyyyy aku sedang berbicara padamu" Teriak Shinta lagi.


"Maaf, aku tak tahu siapa kau. Aku temennya Revan saat ini dia sangat sibuk karena harus mengerjakan pekerjaannya selama beberapa hari kedepan mungkin ia takkan pulang kerumah. Aku mohon, kau tolong jaga Syifa dulu ya" David memberikan penjelasan kepada Shinta.

__ADS_1


"Tapi, aku harus segera ke klinik. Pasienku juga membutuhkan ku saat ini dan aku tak tenang meninggalkan Syifa sendirian disini" Akhirnya ia bersuara dengan pelan juga.


"Baiklah, kau tunggu disitu aku akan segera kesana" David mematikan teleponnya dan segera beranjak ke luar ingin menemui Syifa.


*********


Di seberang ruangan sana Shinta masih mendumel geram melihat tingkah David yang tak sopan mematikan teleponnya dengan sepihak begitu saja.


"Dasar menyebalkan! Mau Revan ataupun temennya itu tidak punya sopan santun huuuuuhhhh" Gerutu Shinta.


Drtttt......drtttttt


"kamu dimana ta?" -Jenikka


"Iya, sebentar lagi aku sampai sana ya Jen" -Tata. Shinta memasukkan telepon genggamnya kedalam tas, ia menunggu kehadiran David yang tak kunjung datang.


"Lama sekali dia sih" melihat jam yang ada ditangannya, tak lama kemudian. David muncul dan mendekat kearah Shinta.


"Aku David yang tadi di telepon"


"oh, aku Tata." Ucap Shinta cuek.


"Dimana Revan?" Tanya Shinta dengan keponya.


"Seperti yang kubilang tadi, dia sedang ada urusan diluar"


"Baiklah, aku harus segera pergi. Tolong kau jagain Syifa dulu sampai aku kembali ya" pinta Shinta.


"Tanpa kau pinta, aku akan menjaga gadis ini. Lagian dia anak dari sahabatku. " Ucap David dengan angkuh. Shinta mengepalkan tangannya dan segera keluar dari rumah sakit, ia memesan taxi online.


*drttttt....drtttttt

__ADS_1


"Kau sudah dimana? kita akan ada rapat dengan beberapa Professor hari ini" - Jenikka. Setelah ia membaca pesan dari Jennika. Taxi online yang tadi ia pesan sudah datang, Shinta segera masuk ke dalam taxi.


__ADS_2