
Alana yang selesai sarapan pun, mengganggu saudara kembar nya. Alana di beritahu oleh kakak nya jika semalam Alan menangis dan tak bisa tidur karena memikirkan diri nya.
"Alannnnn." panggil Alana dengan begitu manja nya, mendekati saudara kembar nya yang sedang santai menyendiri.
"HM." jawab Alan dengan singkat, Alana mengerucutkan bibir nya, Alan selalu saja begitu bersikap dingin padanya. Namun, mengingat ucapan sang kakak membuat Alana mengangkat satu alis dan tersenyum. Alana memeluk Alan, sontak membuat Alan terkejut.
"Lepasin, Alana!"
"Nggak mau!"
"Lepasin, Alana!" kesal Alan lagi, namun Alana yang keras kepala tidak mau mendengar kan ucapan Alan. Alan membuang nafas nya dengan pasrah dan membiarkan saudara kembar nya itu tetap memeluk nya.
"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Alan.
"Nggak kok."
"Lalu? Kenapa kau ganggu Alan? Alan mau menikmati kesendilian Alana!"
"Bialin! Kan Alana mau memeluk saudala kemb-bal Alana sendili!"
"Huft!" Alan pun mulai menerima perlakuan Alana.
"Alan."
"HM?"
Alana melepaskan pelukan mereka dan memukul kepala saudara kembar nya itu.
"Alan bisa nggak sih kalau Alana panggil jawab nya Saya Alana, Iya Alana, bukan HM HM HM!"
Alan yang jengah pun mengikuti permintaan Alana. "Iya, Alana. Ada apa?"
__ADS_1
"Nah gitu dong." senyuman lebar yang mengembang di wajah manis Alana.
"Alana mau bicaala apa? Dali tadi memanggil, tapi nggak ngomong. Pusing tau!" jawab Alan yang merasa kesal.
"Udah Alan jangan galak-galak! Alana cuman mau bilang, telimakasih saudala kembal ku yang ganteng." Alana mencubit pipi Alan dengan gemas, Alan menaikkan satu alis nya.
"Untuk apa?"
"Kalena Alan udah sayang sama Alana, Alana pikil kalau Alan nggak pelduli sama Alana, telnyata Alana salah. Kakak udah celitain semua nya Alan. Alana sayang Alan" Alana mengecup pipi Alan dengan manja.
"Oh itu? Iya sama-sama! Sekalang, kamu pelgi! Aku lagi mau cendili."
"Huft Alan memang menyebalkan!" Alana menatap sinis saudara kembar nya lalu beranjak pergi meninggalkan Alan yang sendirian di kamar. Alan menatap punggung saudara kembar nya itu dari belakang yang semakin jauh. Terlihat senyuman di wajah Alan, ia sendiri pun merasa gemas melihat tingkah Alana.
"Bagaimana bisa aku tidak peduli, kau kan adik ku, saudala kembal ku. Dasal Alana aneh!" gumam Alan yang menggelengkan kepala nya.
*********
"Mama ikut juga?"
"Iya, sayang. Masa hari pertama Syifa masuk sekolah setelah libur panjang Mama nggak ikut."
"Si kembar bagaimana ma? Nanti mereka akan mencari mama."
"Mama udah bilang sama nenek dan kakek. Sekalian mama dan papa akan singgah ke yayasan untuk mencari pengasuh." Syifa pun mengangguk, Revan segera melajukan mobil milik nya.
Sesampai di sekolah Syifa, Shinta turun untuk mengantar anak nya ke kelas.
"Nggak usah ma, sampai di sini aja."
Shinta tersenyum, ia mengerti anak nya yang mulai tumbuh dewasa pun malu jika di antar sampai kelas.
__ADS_1
"Kakak malu ntar di ledekin teman-teman ya?" goda Shinta, Syifa menyipitkan mata nya dan menyengir.
"Mama tau aja, kan Syifa udah mulai besar ma. Teman-teman nanti akan tertawa, meledek Syifa dengan sebutan anak manja.
"Yaudah deh, kamu belajar yang giat ya nak? Jangan nakal oke? Nanti jika udah pulang, kamu telepon papa ya biar papa jemput. Ingat, jangan kemana-mana ya nak? Kalau papa belum jemput, kamu tunggu di pos satpam. Jika ada orang asing."
"Jangan mau di dekati kan ma? Syifa udah tau mama ku sayang. Udah ribuan kali mama selalu ingatin Syifa begini." potong Syifa.
"Ma, Syifa tau mama sayang banget sama Syifa. Syifa juga sayang banget, banget, banget sama mama. Syifa selalu ingat apa yang mama ucapin, apa yang mama perintah kan dan apa yang mama larang. Syifa juga tahu apa yang mama sukai dan apa yang nggak mama sukai. Syifa nggak akan membuat Mama khawatir atau pun kecewa-i mama. Mama jadi tenang aja ya? Mama percaya kan sama Syifa?"
"Nak, sejauh mama mempercayai diri mama, mama lebih mempercayai kamu. Tapi, nak. Banyak orang jahat di luar sana. Mama takut, kamu kenapa-kenapa. Rasanya mama ingin sekali selalu bisa menjaga kamu dan adik-adik mu selama dua puluh empat jam penuh."
"Sudah, nanti anakmu bisa telat jika kau seperti ini terus." sambung Revan yang merasa isteri nya terlalu berlebihan dalam mengurus anak.
"Ayo masuk ke kelas nak, jangan hiraukan ucapan Mama mu ini. Jika kau terus mendengarkan ucapannya. Yang ada sampai Syifa pulang sekolah Mama mu belum juga selesai bicara." Syifa tertawa mendengar ucapan papa nya. Syifa pun berpamitan kepada kepada mama dan papa nya. Berlalu pergi meninggalkan ke dua orang tua nya.
"Mau sampai kapan kau berdiri melihat anakmu? Kasihan anak mu yang satu nya lagi, menangis karena kepanasan dan anak yang lain nya menangis karena mencari keberadaan mama nya." Shinta pun masuk ke dalam mobil. Ia merasa jengkel dengan ucapan suami nya.
"Apa kau berfikir aku sengaja menjemur baby Al?"
"Tidak! Kan aku tidak bilang begitu."
"Tadi katamu! Aku ini tidak tuli!"
Revan yang enggan berdebat dengan sang isteri mu memilih diam dan melajukan mobil nya saja. Baginya berdebat dengan sang isteri tidak akan ada guna nya. Yang ada, semakin mengulur waktu hingga diri nya telat ke kantor. Hari ini, Revan ada meeting dengan klien penting. Dia tak mau kehilangan kesempatan bekerjasama dengan klien nya itu hanya karena berdebat dengan sang isteri.
"Lihat lah, papa mu dek! Setelah puas menghina mama, dia malah tidak perduli dengan kita. Memang nya dia pikir, mama mu ini radio rusak?" dumel Shinta di dalam mobil, wajah nya terlihat begitu sangat kesal.
"Kita bertengkar nya nanti saja. Aku akan ada meeting dengan klien yang sangat penting untuk kerjasama yang akan mempengaruhi kehidupan kita. Jika, aku berdebat dengan mu sekarang. Aku akan kehilangan kesempatan, dan kehidupan kita akan seperti ini aja."
"Memang nya kenapa dengan kehidupan kita yang sekarang? Kita lebih dari cukup kok. Jangan beralasan saja!"
__ADS_1
"Ta, tolong lah sedikit lebih dewasa dan melihat kondisi keadaan. Memang, kehidupan kita sekarang jauh lebih dari cukup. Tapi, jika berubah menjadi lebih baik dari sebelum nya apa itu salah?" sentak Revan yang merasa kesal melihat kelakuan sang isteri