
"Entah lah, tapi aku tidak yakin jika baby sister yang melakukan itu. Sama saja mereka membunuh dirinya sendiri. Apalagi, kita tau bagaimana Revan."
"Lalu, bagaimana selanjut nya? Aku yakin itu ulah orang dalam, dan jika orang itu masih berkeliaran bebas di rumah Shinta dan Revan maka anak-anak dalam bahaya." Caca mengkhawatirkan anak nya Syifa dan juga si kembar Alan dan Alana.
"Aku akan mencari tau siapa pelaku nya. Sebab itu aku membawa anak-anak pulang bersama kita. Aku juga akan mengirim orang suruhan ku untuk menjaga Shinta dan Revan di sana. Takut nya, mereka menyerang Shinta dan Revan saat tidak ada siapapun di sana."
Caca membuang nafas nya perlahan, bagaikan mimpi untuk nya. Ia mengingat saat dulu ia dan Shinta hamil bersama, ke dua melalui dan melakukan tingkah konyol berdua.
Bahkan, usia anak mereka juga hanya terpaut beberapa bulan saja.
Caca menangis, ia juga pernah memberikan ASI untuk baby Al.
"Sayang, syurga tempat mu nak." Caca berdoa semoga Al di tempat kan di sisi terbaik Tuhan.
Caca sangat kehilangan Al, walau bukan dia yang mengandung dan melahirkan Al.
"Andai mami di sana nak, mami akan menjaga mu dengan baik."
Caca mengingat ucapan suami nya tentang kematian Al. Dia pun berlari menghampiri anak nya Khanza.
Caca langsung merebut Khanza dari gendongan pengasuh nya. Ia mengatakan dengan ketus jika ke depan nya Caca yang akan menjaga Khanza.
"Sayang, kenapa kamu berlari?" tanya Arvan yang mengikuti Caca. Caca mengatakan jika diri nya akan menjaga Khanza. Ia tidak membutuhkan pengasuh lagi.
Sontak membuat pengasuh itu bersedih. Meneteskan air mata nya
"Ayo ikut aku!" Arvan mengajak istri nya menjauh dari pengasuh, ia tau jika Caca khawatir apalagi musibah yang menyebabkan kematian baby Al itu di sengaja. Namun, Caca tidak bisa menganggap semua orang itu sama.
"Sayang, mengapa kamu mengatakan itu kepada pengasuh kita? Kasian dia, dia pasti akan sedih dengan ucapan kamu. Kamu mungkin enggak sengaja ngomong seperti itu, tapi dia juga manusia sayang."
"Aku hanya takut, dan aku akan menjaga baby Khanza sendiri mulai sekarang..Tidak ada yang boleh memberikan Khanza susu atau makanan kecuali aku dan kamu!"
Arvan memeluk istri nya, mungkin Caca sudah mengalami ini terlebih dahulu. Caca seperti ini karena ia takut jika hal itu juga terjadi dengan Khanza.
*******
Revan memandangi wajah istri nya yang sedang berbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Sudah dua kali dalam sehari Shinta tidak sadarkan diri.
Bukan hanya Shinta yang merasa kehilangan, Revan juga kehilangan anak bungsu nya.
"Sayang, mau sampai kapan kau seperti ini." Revan meneteskan air mata nya, dunia nya hancur melihat kematian anak nya juga kesehatan Shinta.
"Nak, kuatkan diri mu! Kamu kepala keluarga, berikan kekuatan kepada keluarga mu. Jangan melemah seperti ini nak."
Gunawan menepuk bahu menantu nya, Revan mengatakan jika diri nya hancur melihat keadaan Shinta. Shinta kekuatan nya selama ini, yang selalu menyemangati nya. Namun, ketika sang istri melemah seperti ini siapa lagi kekuatan Revan?
"Pa, Revan enggak mau kehilangan istri Revan." ujar nya dengan nada yang berat.
Lelaki bisa sangat lemah jika melihat orang yang ia cinta tak berdaya di rumah sakit.
"Ini semua ujian untuk keluarga kita nak, kita harus bisa melewati nya. Jangan melemah, kamu mengatakan jika selama ini Shinta kekuatan mu, dia yang selalu menyemangati kamu di saat kamu lemah. Saat ini dia juga membutuh kan dukungan suami nya, jika kamu ikut lemah. Siapa yang akan menjadi kekuatan untuk nya?"
Revan terdiam, ia membenarkan ucapan ayah mertua nya itu.
"Nak, walau ayah di sini. Tapi ayah tau, kekuatan anak ayah sekarang adalah kamu. Dunia dan cinta nya hanya kamu, dia butuh kamu nak. Dukung anak ayah, semangati dia untuk bisa melewati masa-masa sulit ini."
Revan berjanji kepada ayah mertua nya jika ia akan menjaga Shinta, ia akan mendukung dan menemani Shinta di saat apapun.
Ia akan melewati nya bersama-sama dengan istri nya.
"Revan akan melewati badai ini bersama-sama dengan Shinta, tapi Revan butuh dukungan Pap. Butuh kekuatan."
"Ayah akan selalu mendukung mu, nak."
Shinta masih tidak sadarkan diri.
Revan!
Revan melihat suara itu berasal, wanita cantik berjalan mendekati nya. Itu adalah Queen dan juga keluarga nya.
Queen memeluk Revan, memberikan kekuatan untuk nya. Yang di ikuti oleh adik nya Queen, Krystal.
"Kakak dan kak Shinta yang kuat ya. Kita begitu kaget mendengar kabar ini, kami berada di luar kota dan langsung pulang ke sini. Maaf jika kami terlambat."
Revan melepaskan pelukan Krystal.
__ADS_1
Mama Krystal pun memeluk Revan. Memberikan kekuatan untuk nya.
"Makasih ya ma, udah datang."
"Yang kuat ya nak!"
Revan memang sudah dekat dengan keluarga Queen.
"Tadi kita kerumah. Dan pelayan kamu mengatakan jika kalian dari makam dan Shinta tidak sadarkan diri, pelayan juga memberitahu jika kamu membawa nya ke rumah sakit. Sebab itu, kita ke sini."
"Bagaimana kabar kak Shinta, kak?" tanya Krystal yang menatap Shinta tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit.
"Kepergian anak kami membuat nya sangat terpukul, sampai sekarang ia tidak sadarkan diri."
Krystal menangis, ia mengatakan jika Revan dan keluarga nya adalah orang baik.
"Kalian orang baik, mengapa Tuhan memberikan cobaan yang sebesar ini untuk kalian?"
Queen mengatakan kepada adik nya jika ini sudah ketentuan dari Tuhan. Kita sebagai umat manusia hanya bisa ikhlas menerima semua nya.
"Kita sayang baby itu. Tapi Tuhan lebih menyayangi nya lagi." ujar mama Queen dan Krystal.
Perlahan Shinta membuka mata nya, ia melihat sekeliling ruangan. Ia tau jika ini bukan rumah nya, Shinta melihat Queen dan keluarga yang datang.
Queen dan yang lainnya tersenyum kepada Shinta walau tidak bisa di bohongi mata mereka berkaca-kaca.
Shinta bangkit untuk duduk, ia langsung memeluk Queen dan menangis.
"Anak aku Al udah enggak ada lagi."
Queen mengelus rambut Shinta dengan lembut, ia tak kuasa mendengar isakan tangis Shinta.
"Kuatkan diri mu Shinta, ingat suami dan anak-anak mu yang lain masih membutuhkan mu. Keluarga mu membutuh kan mu jangan melemah seperti ini."
Shinta semakin terisak di pelukan Queen, ia belum bisa menerima semua nya.
"Semua terjadi begitu cepat, bahkan tanpa ada aba-aba atau pertanda. Aku mengira anak ku baik-baik saja dan terlelap dalam tidur nya namun ternyata hiks."
Hancur hati Shinta, begitu juga orang-orang yang ada di ruangan, suasana duka itu tidak mudah hilang terutama untuk Shinta dan keluarga nya.
Krystal mendekati Shinta, ia mengambil tangan Shinta. Shinta melepaskan pelukan nya dari Queen.
Krystal mungkin saat ini sedang mengandung, Shinta terdiam.
"Kak jangan sedih, anak aku ingin melihat Tante nya tersenyum." ujar Krystal. Memang ibu hamil jika mengidam tidak tau tempat dan waktu.
Namun, ngidam Krystal juga ada baik nya. Kini, Shinta bisa tersenyum walau mungkin hanya terpaksa.
"Sehat-sehat ya nak di dalam perut mama kamu." ujar Shinta kepada janin yang ada di perut Krystal, ia membelai perut Krystal perlahan. Mengingatkan nya dengan kandungan nya dulu saat mengandung baby Al.
"Krys, jaga anak kamu baik-baik ya. Jangan lalai seperti aku! Kalau bisa jaga anak mu sendiri enggak perlu pakai pengasuh. Malas seperti ku, yang akhir nya aku kehilangan anakku." Shinta kembali menangis.
Awwwwwsss!
Krystal kesakitan, memegangi perut nya.
"Kak jangan nangis, anak aku enggak suka. Dia mau nya kamu tersenyum." bukan nya Krystal berbohong agar Shinta tidak sedih lagi namun ini keinginan anak nya
Shinta pun menghapus air mata nya, ia tidak mau mengecewakan anak yang ada di dalam perut Krystal.
Revan harus banyak-banyak berterimakasih kepada Krystal. Karena diri nya kini Shinta bisa tertawa.
"Van, ayo kita pulang." Shinta mengajak suami nya untuk pulang kerumah, ia tidak mau berada di rumah sakit apalagi harus di infus.
Revan mengatakan jika Shinta tidak bisa pulang dahulu, tensi nya begitu rendah.
"Nak, tadi dokter mengatakan Tensi mu rendah, jadi harus di opname semalaman saja paling tidak. Tolong menurut lah kepada ayah." ucap gunawan, jika sudah perintah ayah nya Shinta pun tidak bisa menolak.
"Namun bagaimana dengan anak-anak?"
"Mereka ikut Caca dan Arvan kerumah nya. Enggak perlu khawatir." ucap Revan..Shinta pun mengangguk mengerti, Krystal menghibur Shinta dan beberapa kali Shinta berhasil tertawa. Seketika kesedihan nya mulai lupa. Walau seringkali juga ia menangis mengingat anak nya Al.
"Aku bersyukur kau membawa anak menyebalkan ini kesini. Jika tidak, mungkin istri ku akan murung terus." bisik Revan kepada Queen. Queen tersenyum, ia dan Revan tau jika Krystal anak nya sangat lucu dan menggemaskan.
"Aku juga senang karena Shinta tidak larut dengan kesedihan nya."
__ADS_1
Perawat datang memberikan makanan untuk Shinta, Shinta tidak ingin makan.
"Aku tidak lapar." ucap Shinta.
Kak aku mau itu!
Krystal menunjuk makanan Shinta kepada Shinta dengan manja, Shinta mengatakan jika Krystal ingin. ia bisa memakan nya, lagi pula Shinta kehilangan selera untuk makan.
Mama Krystal memarahi nya. Begitu juga Queen yang tak habis pikir dengan tindakan adik nya itu. Walau sudah mau menjadi ibu sebentar lagi namun tingkah nya masih sangat menyebalkan.
Krystal masa bodoh dengan ocehan-ocehan kakak dan mama nya. Ia memakan nya dengan lahap, lalu di pertengahan Krystal berhenti makan.
Ia menatap Shinta.
Kak, anak aku ingin menyuapi mu makan!
Ujar nya dengan mata yang berbinar, Shinta menolak awal nya.
"Tidak krys, aku tidak lapar. Untuk mu saja."
Kak ini bukan kemauan aku, tapi anak aku. Keponakan kakak, kakak mau anak aku ngiler karena keinginan nya tidak di penuhi?
Shinta menggelengkan kepala nya, Krystal tertawa senang. Ia pun menyuapi Shinta perlahan, Shinta pun yang tak enak hati membuka mulut nya. Sebenarnya sulit sekali untuk Shinta menelan makanan itu. Namun, ia tidak mau membuat anak yang ada di perut Krystal merasa sedih.
Yang ada di ruangan pun tersenyum bahagia melihat tingkah konyol Krystal namun dengan hal itu Shinta mau makan walau hanya sedikit.
Revan banyak berterimakasih kepada Krystal. Tak terasa Shinta pun menghabiskan makanan yang di suapi oleh Krystal.
Yey habis! Gitu dong kak anak aku jadi seneng. Enggak perlu ngiler deh karena aunty nya yang baik mengikuti semua keinginan nya.
Shinta tersenyum, ia senang bisa membuat Krystal senang.
Kini, Krystal mengambil segelas air minum dan obat yang ada di meja.
Sekarang, anak aku mau lihat aunty nya minum obat.
Tanpa menunggu jawaban dari Shinta, Krystal langsung memasukkan obat ke dalam mulut Shinta. Setelah itu memberikan segelas air untuk Shinta minum.
Entah memang Krystal benar mengidam atau ia sengaja melakukan itu dan membawa nama anak nya yang ada di perut nya agar Shinta mau makan dan minum obat.
Krystal kembali meletakkan kembali gelas kosong yang ia ambil dari tangan Shinta ke atas meja.
"Krys." panggil Shinta dengan suara nya yang begitu lemah, Krystal menoleh ke arah Shinta.
Iya kak?
"Boleh enggak kamu malam ini temani aku?"
Aku mau kak, tapi. Gimana yaa?
"Kenapa krys? Kamu enggak bisa? Kalau enggak bisa enggak apa-apa kok."
Shinta tidak mau memaksa, walau saat ini ia butuh orang seperti Krystal di samping nya.
Bukan gitu kak, tapi aku suka ngemil. Kak Revan harus sediakan makanan yang banyak untuk aku.
Queen melengos malas mendengar ucapan adik nya, bisa-bisa nya Krystal memikirkan makanan di saat seperti ini. Namun, Revan tidak keberatan. Ia mengatakan akan membeli makanan yang banyak untuk persediaan Krystal di rumah sakit.
Krystal pun senang, suasana yang awal nya hening dan penuh duka. Kini, mulai berubah menjadi keceriaan.
Revan berharap agar istri nya bisa terus seperti ini.
Ia pun mengatakan akan pergi ke supermarket untuk membeli banyak makanan untuk stok Krystal yang mau menemani istri nya.
"Ma, lihat itu anak kesayangan mama dan papa. Buat malu aja!" adu Queen kepada mama nya.
"Krystal, Sayang. Kamu jangan seperti itu nak, kamu ingat kita ke sini bukan untuk liburan."
"Enggak apa-apa ma, jangan di marahi krystal nya. Biasa ibu hamil, dulu Shinta juga begitu saat hamil." ucap Revan yang membela Krystal. Karena ia tau mood ibu hamil itu sangat kocak dan sulit untuk di pahami.
Mendengar ucapan suami nya Shinta kembali bersedih. Memang benar, kehamilan baby Al dulu selalu membuat Revan merasa repot.
Apalagi Shinta dan Caca pada saat itu berbarengan mengandung. Mereka merepotkan Revan dan Arvan.
Bahkan, sampai menjadikan kedua nya sebagai badut. Shinta kembali meneteskan air mata nya jika mengingat kenangan itu.
__ADS_1
Krystal Kembali memarahi Shinta.
Ish kak! Kan udah aku bilang kalau mau nangis nanti aja saat aku enggak di sini. Anak aku enggak suka, kakak lihat ini. Perut ku bergerak, tanda nya anak aku lagi protes liat aunty nya menangis