
"Iya, Sayang." Arvan memeluk Caca dan menangis bahagia. Ia mengecup seluruh wajah Caca.
"Terimakasih, Sayang."
"Untuk?"
"Terimakasih karena kamu sudah memberikan hadiah yang sangat istimewa untuk ku." Caca pun tersenyum dan semakin mengerat kan pelukkan nya. Kedua pasangan yang sedang sibuk berbahagia ini tidak melihat bahwa orang-orang yang ada di rumah sakit melihat ke arah mereka. Caca dan Shinta pun segera melepas kan pelukkan mereka dari suami nya masing-masing.
"Tapi,"
"Tapi kenapa?" tanya Caca, Revan dan Arvan yang serentak kepada Shinta.
"Umur baby Al dan Alana baru satu tahun, apa ini tidak terlalu cepat untuk mereka?" Shinta mengkhawatir kan anak kembar nya, belum lagi ada Syifa yang masih membutuh kan diri nya. Caca mendekat ke arah Shinta dan menggenggam jemari Shinta.
"Jangan khawatir ta! kita akan merawat dan membesar kan mereka bersama-sama. Aku akan menyayangi dan melindungi anak-anak mu seperti anak ku sendiri, dan sebalik nya juga. Kau pasti akan menyayangi anak ku seperti kau menyayangi dan melindungi Syifa dan anak-anak mu"
"Lagi pula ada suami-suami kita yang siaga untuk kita dan anak-anak kita," Caca tersenyum dan mencoba menghapus ke khawatiran Shinta.
"Iya, Sayang. Ada aku, kau jangan khawatir ya," sambung Revan.
__ADS_1
"Ada aku juga," Arvan tak mau kalah dengan Revan. Shinta pun merasa sangat beruntung memiliki suami, sahabat dan saudara seperti mereka.
"Ayo, kita ke kamar Kaynara dan memberi kabar bahagia ini. Aku yakin, Ayah dan Ibu sangat bahagia." ucap Shinta.
"Ayo,"
Mereka ber empat pun berjalan dan masuk ke dalam kamar inap Kaynara. Terlihat Syafa yang sedang menyuapi Kaynara dan memberikan perhatian kepada Kaynara. Shinta dan Caca saling memandang satu sama lain dan tersenyum bahagia. Mereka berharap dengan ada nya Syafa. Luka Kaynara akan kehilangan Ibu nya dapat terobati sedikit demi sedikit.
"Ehemmm," Shinta masuk dan meletakkan makanan yang tadi mereka beli ke meja.
"Kalian sudah balik? kenapa lama sekali?" tanya Gunawan.
"Ayah, Ibu. Kita punya kabar gembira untuk kalian,"
"Apa itu?"
"Iya, kabar gembira apa? aku sangat penasaran," sambung Kaynara.
"Aku dan Caca sedang mengandung bersamaan."
__ADS_1
"Wah, selamat ya kak,"
"Selamat, Sayang." Syafa meletakkan mangkuk bubur tersebut di meja dan mendekati Shinta juga Caca.
"Selamat, Sayang." Syafa mencium dan memeluk Shinta dan Caca secara bergantian.
"Ini kabar yang sangat bagus,"
"Syifa dan si kembar akan mempunyai adik. Bukan hanya satu tapi dua sekaligus,"
"Aku berharap anak kalian kembar lagi agar aku akan banyak mempunyai keponakan." ucap Kaynara dengan heboh nya. Ia melupakan rasa sakit nya
"Jika kau ingin melihat keponakan mu, berhenti lah untuk mencoba mengakhiri hidup mu."
"Iya, Tata benar. Kau harus tetap hidup Kay agar bisa bermain dengan mereka," Caca mengelus perut nya yang masih rata.
"Aku berjanji kak tidak akan melakukan hal bodoh lagi," Kaynara sangat bahagia, bukan hanya dia saja yang bahagia mendengar kabar ini. Namun, semua orang merasa sangat bahagia. Caca terdiam dan memikir kan sesuatu. Arvan memegang bahu Caca
"Kenapa? kau terlihat sangat murung?"
__ADS_1
"Tidak! aku hanya mengingat mama saja. Apa kah mama akan merasa bahagia seperti yang lain nya atau malah sebalik nya."
"Sudah lah, Sayang. Kau jangan memikir kan hal yang membuat mu sakit. Sebaik nya kita merayakan kehamilan mu dan Tata untuk mengucap kan rasa Syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan kita kepercayaan untuk merawat dan menjaga malaikat kecil ini," Arvan mengelus perut rata Caca.