
Hari hari telah mereka lalui dengan penuh suka cita, Shinta begitu bahagia dengan perlakuan Revan yang beberapa hari ini begitu manis kepadanya, tidak ada lagi Revan yang cuek dan dingin namun tetap saja Revan masih suka menyebalkan. Ia masih suka membuat isterinya itu kesal dan cemberut
Liburan telah tiba, Revan dan Shinta sudah sepakat untuk berlibur ke kota X yang begitu indah akan alamnya. Namun, Shinta juga begitu gemas meninggalkan Syifa bersama mama mertuanya.
"Apa tidak apa-apa jika kita meninggalkan Syifa?" Tanya nya pada sang suami, Shinta masih menyusun pakaian yang ingin mereka bawa untuk berlibur.
"Tidak apa, kau jangan khawatir" Revan mendekat kearah isterinya dan membantu Shinta menyiapkan keperluan yang mereka butuhkan nanti disaat liburan.
"Kau jangan khawatir! Syifa bersama dengan neneknya, tidak mungkin ia kenapa-kenapa" Revan mencoba memberikan penjelasan kepada sang isteri
"Apa kau tak mempercayai mama lili?"
"Bukan begitu, aku yakin mama lili yang paling terbaik menjaga dan menyayangi Syifa namun aku hanya takut rindu saja padanya" Shinta menoleh kearah sang suami, ia memasang wajah sedihnya. Revan mendekat kepada sang isteri dan memegang bahunya.
"Kau tenang saja, jika rindu kita bisa video call bersama nya atau di waktu lain kita akan berlibur ber tiga" Shinta pun mengangguk. Setelah bersiap berkemas, Shinta dan Revan keluar kamar untuk pamit kepada kedua orang tua Revan dan juga Puteri mereka.
"Kalian hati-hati ya" ucap Mama lili
"Iya ma" Setelah menyalami kedua mertuanya, Shinta melirik kearah sang Puteri ia langsung memeluk dan menciumi Syifa.
"Mama pasti akan merindukan mu" Shinta mengusap rambut Syifa.
"Mama jangan sedih, kita bisa berlibur lain waktu kan" Syifa melepaskan pelukan dan memberikan senyuman termanisnya.
"Kita bisa video call mama" Entahlah, walaupun Syifa masih berusia 5 tahun namun sikap nya begitu dewasa dan membuat ketenangan bagi siapapun.
"Mama sayang kamu"
"Syifa juga sayang mama" mereka pun kembali berpelukan, Shinta memeluk Puterinya dengan begitu erat, seakan tak rela meninggalkan sang Puteri.
"Sama papa gak sayang ni?" Tanya Revan mencoba meledek Puterinya.
"Enggak" balasnya singkat tanpa melepaskan pelukkan dari sang mama.
"Syifa sayang mama saja" ucapnya polos. Revan hanya mengelus rambut Syifa dan menciumnya.
__ADS_1
"Papa berjanji, pulang akan membawakan banyak mainan untuk Syifa ya" Revan mencoba mengambil Puterinya dan memeluk Syifa.
"Syifa mau adek" jawabnya polos, keinginan Syifa justru membuat Shinta sedih. Ada cairan kristal bening yang ada di matanya seakan ingin tumpah, ia mencoba menahan agar airmatanya tak terjatuh, Revan menoleh ke arah sang isteri. Ia melihat perubahan raut diwajah isterinya namun ia tak bisa mengalahkan Puterinya karena Syifa belum mengerti apa apa, ia hanya menginginkan seorang adik. Shinta pun masuk kedalam kamar, Revan langsung menyusul sang isteri.
"Maafkan ucapan Syifa ya" Revan mendekat dan langsung memeluk Shinta dari belakang.
"Hay, tidak apa-apa. Santai saja! aku gak tersinggung kok" jawab Shinta yang mencoba menutupi kesedihannya.
"Jangan menutupi kesedihanmu" Revan seakan mengerti perasaan shinta yang saat ini ia sembunyikan.
"Aku tidak apa-apa, santai saja"
"Namun kenapa kau langsung masuk kedalam kamar?" Tanya Revan
"Ada barang yang tertinggal jadi aku harus mengambilnyaa".
"Barang apa?" Revan mencoba mencari barang yang dimaksud oleh isterinya. Shinta pun mengambil salah satu barang apapun yang ada disekitarnya
"Apa ini penting untuk dibawa berlibur?"
"Ayo kita berangkat" ajak Revan, Shinta pun mengangguk, setelah berpamitan kepada semuanya Revan dan Shinta pergi diantar supir ke bandara. Didalam pesawat Shinta hanya terdiam, kata-kata Syifa begitu mengganggu pikirannya. Bukan ia marah kepada Syifa, namun Shinta begitu sedih karena tak bisa memberikan adik yang diinginkan oleh Puterinya.
"Kau kenapa lagi" Revan menggenggam tangan Shinta dengan erat. Shinta tak mengatakan apapun ia hanya tersenyum dan tidur dibahu suaminya.
"Aku hanya mengantuk saja"
"Yasudah tidurlah" Revan membelai rambut Shinta dengan lembut
**************
***************
Sampai di kota tujuan, ada seorang pria paru baya yang menjemput mereka, mereka pun ikut menaiki mobil yang sudah di sediakan. Revan sudah menyiapkan semuanya dengan baik
"Wah indah sekali" Shinta begitu takjub melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Apa kau suka?" Revan membuka kaca mata hitam yang ia pakai lalu menoleh kearah sang isteri
"Sangat suka" teriaknya, Shinta sudah seperti anak kecil yang di ajak berlibur.
"Kalau Syifa ikut pasti lebih asik deh" Tiba-tiba Shinta teringat akan Puterinya
"Sudahla, lain kali kita akan membawa Syifa kesini"
"Benarkah?" Tanya Shinta dengan penuh semangat, Revan pun mengangguk
"Yeyyyyy" Shinta memeluk sang suami dengan penuh bahagia.
"Aku bahagia bisa memiliki suami seperti mu" Ucap Shinta tanpa sadar
"Siapa yang tidak bahagia jika bersamaku" sombongnya dengan bangga, Shinta memukul bahu suaminya itu, dia tak habis pikir mengapa suaminya begitu percaya diri sekali. Namun tak bisa di pungkiri bahwa Shinta juga bahagia menikah bersama Revan walau banyak lika-liku yang ia hadapi, apalagi dengan sikap yang dingin dan kasar. Tapi seiringnya waktu, Revan bisa merubah sikap buruknya terhadap Shinta, Revan menjadi pria yang lembut dan menyayangi Shinta walau terkadang sifatnya masih begitu menyebalkan.
"Apa kau ingin seharian memelukku seperti ini" ledek Revan.
"Sudah diam lah! aku hanya ingin memelukmu sebentar" Entah mengapa Shinta begitu ingin memeluk suaminya di kerumunan banyak orang seperti ini. 30 menit pun berlalu akhirnya Shinta melepaskan pelukkan itu. Mereka berjalan mengelilingi pantai yang mereka datangi sekarang.
"Wah, ganteng sekali" Ucap seorang wanita berbicara kepada temannya, wanita itu menatapi Revan dengan penuh kagum. Bahkan wanita itu tidak malu menyamperi Shinta dan juga Revan
"Hai, cathrin" ucap wanita yang ingin menjabat tangan dengan Revan, namun Revan tak menghiraukannya.
"Apa kau mau bertukaran no ponsel bersama ku?" Seolah tak ingin menyerah, wanita itu terus saja menggoda Revan.
"Hallo nyonya cantik, apa kau tidak melihat! lelaki yang sedang anda goda ini suami saya!" Shinta pun begitu geram melihat kelakuan wanita yang bersikap genit kepada lelaki lain, apalagi lelaki yang sudah menikah. Ia pun geram melihat Revan yang tak memberi penolakan walaupun tak meladeni ucapan wanita itu.
"Lantas mengapa jika kau isterinya, aku hanya ingin berkenalan sama suami mu" balas wanita itu dengan ketus, Shinta mengepalkan kedua tangannya, jika tidak di genggam oleh Revan mungkin saat ini wanita yang ada di hadapannya sudah habis iya cakar.
******
*Hallo kak, ini aku up satu episode dulu ya. Karena emang lagi sibuk banget. Ini aku sempat-sempatin untuk up.
Minggu depan aku up crazy sampai tamatnya ya kak, jadi semua pada ga nanggung bacanya wkwk. Mohon pengertiannya, jangan tanya kapan up kapan up.
__ADS_1
jangan lupa berikan like dan Coment positif ya kakak-kakak. Sangrainily sayang kalian, peluk jauh dari sangrainily💕*