
Shinta membuang nafas dengan lega, ia menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan melihat kearah luar jendela. Kepergian Rayhan emang begitu menyakitkan baginya, namun Shinta tersadar ia harus melanjutkan kehidupannya.
"Kamu gapapa?" Tanya Revan kepada sang isteri. Shinta menoleh kearah Revan dan tersenyum
"Cuman kangen Syifa" ucapnya. Revan pun tersenyum dan mengacak rambut isterinya.
"Baru pergi sebentar udah kangen aja"
"Ya gimana dong, aku kangen banget sama Syifa gak bisa jauh dari dia"
"Kalau sama papa nya gimana?" goda Revan.
"Hishh" Shinta memukul bahu Revan, Revan hanya tertawa saja. Diperjalanan mereka menghabiskan waktu dengan canda dan tawa, tak seperti biasanya yang selalu penuh dengan kebisuan.
"Kamu mau?" Shinta mengambil Snack dan menawarkan terlebih dahulu kepada Revan sebelum ia memakannya.
"Gimana mau makan sayang, kan aku lagi nyetir"
"Ya aku suapin dong, aaaa" Shinta menyuapi Snack kepada sang suami. Revan begitu bahagia rasanya, setelah beberapa hari melihat kesedihan di wajah sang isteri akhirnya Shinta bisa tertawa dan berbahagia kembali.
"Mau lagi dong" ucap Revan manja.
"Enggak ah, ntar aku kurang lagi"
"Kan bisa beli lagi, lagian juga Snack masih banyak Ta"
"Gak enak kalau makan yang lain, beli juga belum tentu ada yang begini, kamu aku suapin yang lain aja ya" Shinta mengambil Snack yang lain dan menyuapi suami nya yang fokus menyetir mobil. Setelah selesai mengemil, Shinta menghidupkan lagu ber-genre romance. Tak ada keheningan melainkan tingkah kekanak-kanakan Shinta. Terkadang ia menyanyi, bahkan berjoget sesukanya lalu tertawa lepas. Revan pun senyum-senyum sendiri melihat kelakuan isterinya.
"Apa masih jauh?" Tanya Shinta yang merasa begitu lelah dan kini matanya mengantuk.
"Kurang lebih sejam lagi sampe"
"Jauh banget sih" keluhnya. Entahlah, beberapa hari ini mood Shinta suka kali berubah-ubah. Baru tadi ia bahagia, kini ia menjadi bete Revan pun bingung menghadapi mood Shinta sekarang. Seperti dulu menghadapi Caca sewaktu hamil Puteri mereka, ingin sekali Revan menanyakan kepada Shinta dan periksa ke dokter kandungan namun takut isteri nya menjadi sedih jika itu semua tidak terjadi, dan Revan pun mengurungkan niatnya. Mungkin saja itu faktor menstruasi
"Kamu tidur aja, nanti aku bangunin kalau udah sampe" Revan mengusap kepala Shinta dengan lembut, Shinta pun mengangguk dan memejamkan matanya. Belum ada 5 menit Shinta memejamkan mata, ia membuka lagi matanya
__ADS_1
"Kenapa" Tanya Revan bingung
"Enggak bisa tidur" jawabnya manja.
"Jadi kamu mau apa sayang" Tanya Revan yang begitu frustasi menghadapi mood sang isteri, namun Revan begitu sabar mencoba memahami apa yang di mau oleh Shinta.
"Gak tau" Shinta menggelengkan kepalanya.
"Astaga" Gumam Revan dalam hati, ia membuang nafas dengan kasar dan menepikan mobil lalu mematikan mobilnya. Revan menoleh kearah Shinta
"Kenapa berhenti" Tanya Shinta
"Karena kamu begitu rewel" Revan mencium kedua pipi Shinta dengan gemas. Shinta pun mengembangkan senyumannya dengan sempurna, rasanya ia begitu bahagia melihat Revan memanjakannya.
"Sekarang kamu pejamkan mata dan tidur ya, kalau udah sampai aku bangunin" Revan mengecup kedua mata Shinta lalu mencium pucuk kepala Shinta dengan lembut. Shinta pun menurut dan dengan waktu seketika Shinta sudah tertidur dengan begitu pulas. Revan kembali melajukkan mobilnya.
*********
Sesampai di tujuan, Revan menghentikan mobilnya di sebuah villa. Ia pun membangunkan Shinta terlebih dahulu, Shinta mengucek mata dan membuka matanya dengan perlahan.
"Udah, ayo turun" Ajak Revan. Revan pun terlebih dahulu keluar dari mobil dan membuka kan pintu mobil untuk isterinya.
"Terimakasih" ucap Shinta dengan senyuman teduhnya. Revan pun membalas senyuman sang isteri dan mengambil barang barang mereka yang ada di bagasi mobil
"Sini aku bantuin"
"Enggak usah sayang, biar aku aja. Kamu masuk deluan aja" tolak Revan dengan lembut.
"Aku gak mau sendirian!" Jawab Shinta dengan galak.
"Astaga" Gumam Revan dalam hati, ingin rasanya ia memukul kepala nya sendiri dengan keras.
"Sulit sekali menghadapi wanita" Gumamnya kembali, tapi entah mengapa Revan tak bisa marah. Kalau dulu Revan masih suka bersikap tidak baik kepada Shinta, namun sekarang ia begitu lembut dan sabar menghadapi tingkah aneh isterinya itu. Dari dulu Shinta memang selalu bersikap aneh, namun akhir-akhir ini Shinta jauh lebih menyebalkan dan membuat kepala nya begitu mau meledak.
"Yaudah, kalau gitu kamu disamping aku aja, tapi biar aku yang bawa semua barang nya ya"
__ADS_1
"Ya iyalah, kamu yang bawa! masa aku sih yang bawa" jawabnya dengan ketus, Revan hanya menggelengkan kepala dan mengelus dadanya dengan sabar. Mereka pun masuk kedalam villa. Shinta terlebih dahulu membersihkan dirinya setelah itu lalu di susul oleh Revan. Shinta memindahkan pakaian yang ada di koper didalam lemari. Tiba-tiba Shinta teringat perkataan ibunya yang mengatakan tubuhnya sekarang lebih berisi, ia pun melihat tubuhnya didepan cermin yang besar
"Apa ia aku sekarang gemuk" Ia pun memandangi tubuhnya di depan cermin, Revan pun keluar dari kamar mandi dan melihat isterinya yang sedang sibuk didepan cermin, ia pun menghampiri sang isteri dan memeluknya dari belakang.
"Kenapa" tanyanya.
"Apa aku sekarang lebih gemuk?"
"Sedikit" jawab Revan dengan polosnya, tanpa ia tahu jawabannya itu bisa membuat dirinya dalam keadaan yang tak aman.
"Huaaaaa" Teriak Shinta yang membuat Revan begitu kaget
"Kamu kenapa hey" Tanya Revan yang begitu panik menikah isterinya melepaskan pelukkan itu dan merengek layaknya anak kecil yang sedang ngambek.
"Kamu jahat hiks, aku benci aku benci" Shinta naik keatas ranjang dan melempari Revan dengan bantal yang ada disekitarnya.
"Kenapa aku jahat sayang" Revan masih bingung melihat Shinta yang begitu susah di mengerti akhir-akhir ini
"Kamu bilang aku gendut hiks"
"Astaga" Revan pun mendekat kepada Shinta, namun Shinta tak mau dan semakin menjauhkan dirinya. Seharusnya Revan mengerti, bahwa perempuan paling sensitif jika di katakan gendut.
"Sayang, kan aku bilang sedikit. Itu tandanya kamu enggak gendut" Revan mencoba menenangkan sang isteri
"Itu sama aja tetap gendut hiks"
"Tapi kamu cantik kok" Jawab Revan asal
"Benarkah aku cantik?" Tanya Shinta dengan mata yang berbinar bahagia
"Iya sayang, kamu orang ketiga yang paling cantik di dunia ini setelah mama dan Syifa" Ah terserahlah pikir Revan, yang penting isterinya tidak mengamuk tidak jelas lagi.
"Huaa" Shinta berteriak kembali
"Kenapa teriak lagi sayang?" Kali ini kesabaran Revan mulai menipis, ia begitu pusing rasanya ingin sekali ia kembali kerumah dan meninggalkan isterinya yang begitu menyebalkan ini
__ADS_1
"Terharu karena kamu bilang cantik" jawab Shinta dengan manja, Shinta pun mendekat kearah suaminya dan memeluk Revan dengan begitu manja, Revan pun yang tadinya mulai kesal kini menjadi luluh dan membalas pelukan sang isteri