
"Apa kau tidak ingin masuk kedalam?" Tanya Shinta
"Tidak! Revan pasti akan sangat marah jika aku menemui Syifa" ucapnya memasang wajah sedih.
Shinta memegang bahu Caca dan tersenyum "Revan sedang tidak ada, kau boleh menemui Syifa"
"Benarkah?" Caca tidak percaya dengan ucapan Shinta.
"ehem" mengangguk dan tersenyum "Ayo" Shinta menggenggam tangan Caca dan mengajaknya masuk kedalam
ceklek.
Shinta dan Caca masuk kedalam ruangan Syifa, Caca melihat Puterinya yang sedang tidur nyenyak.
"Anak mama, kau sudah besar sekarang" gumam Caca dalam hati
"Apa kau tak ingin memeluknya?" Tanya Shinta memecahkan lamunan Caca.
"Apa boleh?"
"Tentu saja, bagaimana pun kau ibu nya" jawab Shinta dengan polos.
"Terimakasih, kau emang baik" Caca tersenyum kepada Shinta.
__ADS_1
******
Syifa menggeliatkan tubuhnya merasa ada yang memeluknya. Ia mengucek kedua matanya
"Tante siapa" tanya nya bingung.
"Hallo sayang" sapa Caca.
"Kemana mama ku" bukannya membalas sapaan Caca, Syifa sibuk mencari keberadaan Shinta.
"Mama disini sayang" tersenyum dan mendekat kearah Syifa.
"Ma, kata Papa. Syifa gak boleh dekat sama Tante ini, dia jahat" ucapnya polos.
"Sayang tidak boleh begitu" ucap Shinta dengan lembut memberikan penjelasan.
"Sayang sebentar ya, mama mau kejar Tante itu dulu" mengelus pipi Syifa dan keluar ruangan untuk mencari Caca. Shinta mencari Caca keseluruh rumah sakit namun Caca tak ada.
"Kemana dia ya" matanya masih sibuk mencari keberadaan Caca. Dan di bangku taman rumah sakit, ada seorang wanita yang sedang menangis orang itu adalah Caca. Shinta berjalan mendekat kearah Caca.
"Hey" Shinta memegang bahu caca yang sedang menangis
"Anakku sangat benci padaku hiks, dia tak mau mendekat dengan ku, dia membenci ku" Caca menangis dengan tersedu sedu.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis, dia hanya belum terbiasa. Aku yakin lama kelamaan dia akan menerima kamu kembali kok" Shinta mencoba menenangkan Caca. Caca memeluk Shinta dengan keadaan yang sangat memprihatinkan
"Ini semua salahku, dia pantas membenciku" air matanya sudah banyak meleleh. Shinta mengusap rambut Caca memberikan ketenangan pada wanita itu
"Sudahlah jangan menangis" ucapnya. Caca menjauhkan kepalanya dari pelukkan Shinta.
"Aku akan pergi jauh dari kehidupannya" Caca menghapus air matanya.
"Mengapa kau ingin pergi lagi dari dia? apa kau tidak menyayangi nya?" kesal Shinta.
"Ini demi kebaikan dia" pandangan Caca sudah kosong. Shinta menggenggam tangan Caca seperti layaknya sahabat yang menenenangkan sahabatnya.
"Jangan pendam penderitaanmu sendiri, kau boleh bercerita padaku, aku yakin. Kau mempunyai alasan dulu meninggalkan dia"
"Ya, alasanku hanyalah harta, aku tak sanggup hidup susah dengan Revan dulu" ucapnya berbohong
"Namun aku tak percaya jika alasannya hanya itu" Caca melepaskan genggaman tangan Shinta, ia bangkit dan memandang Shinta dengan tatapan mata yang tajam.
"Kau tidak kenal aku, jangan sok tahu! aku tak sebaik yang kau kira bodoh!" teriak caca.
"Tapi hati kecilku mengatakan bahwa kau bukanlah wanita jahat" Shinta bangkit dan menatap mata Caca.
"Kau tidak tahu apa apa" ucap Caca dingin dan berjalan meninggalkan Shinta.
__ADS_1
"Karena aku seorang wanita juga!" teriak Shinta. Caca hanya menangis dan berlalu meninggalkan Shinta sendirian di taman
"Maaf kan aku, aku hanya tak ingin anakku dalam keadaan berbahaya jika aku memberitahukan semuanya." Batin Caca.