
"Van" Shinta mendongakkan wajahnya menatap sang suami
"Iya sayang" jawab Revan dengan manja, akhir-akhir ini walaupun sifat Shinta begitu kekanak-kanakan namun Revan juga jauh memperlukan Shinta lebih lembut dan sangat sabar
"Kangen" jawabnya manja dengan memejamkan matanya
"Inikan udah aku peluk, manja banget sih isteri aku ini" Ucap Revan dengan gemas
"Gak tau, rasanya pengen dekat kamu terus" Shinta memeluk suaminya semakin erat.
"Iya aku disini, gak akan jauh-jauh dari isteri aku" Revan membelai rambut Shinta dengan manja.
"Laper"
"Yaudah ayo kita makan" Revan melepaskan pelukkan itu dan beranjak dari tempat tidur
"Ayo sayang, kenapa masih diem aja. Katanya laper"
"Gendong" Shinta melebarkan kedua tangannya dengan begitu manja, Revan pun hanya menggeleng dan menggendong belakang sang isteri. Shinta pun tertawa geli namun ia begitu nyaman seperti ini. Mereka pun menuju ke ruang makan yang disediakan oleh penjaga villa.
"Silahkan Tuan, Nyonya" ucap kepala pelayan.
"Terimakasih pak" Jawab Shinta dan Revan secara bersamaan. Revan pun menurunkan isterinya terlebih dahulu dan duduk disebelah Shinta. Begitu banyak menu makanan yang dihidangkan oleh pelayan di villa.
"Wah harus sekali masakannya, pasti enak" Belum memakan makanan itu Shinta sudah memuji makanan tersebut, Shinta pun dengan semangat mengambil lauk yang ingin ia makan. Shinta memakannya dengan begitu lahap
__ADS_1
"Pelan-pelan makannya, nanti kamu tersedak sayang" Revan menegur isterinya agar tidak terlalu berlebihan. Entahlah, tidak biasanya Shinta makan seperti anak kecil begitu, namun Revan membiarkan nya saja. Ia teringat bagaimana dulu Caca hamil, begitu mirip. Bahkan kali ini Revan begitu kualahan menanganin sang isteri.
"Apa iya dia hamil?"
"Tapi Tata gak mual-mual seperti Caca dulu" Begitu banyak pertanyaan yang ada di kepala Revan. Namun ia masih tidak berani menanyakan hal itu kepada Shinta atau menyuruh isterinya untuk kedokter, Revan tak ingin isterinya salah paham dan merasa sedih. Melihat cara makan Shinta membuat Revan sudah kenyang duluan.
"Apa seenak itu makanannya?" Tanya Revan dengan wajah yang begitu penasaran.
"Sangat sangat enak van, kamu mau? sini aku suapin" Shinta pun menyuapi makanan kedalam mulut Revan, Revan merasa masakan itu rasanya biasa saja namun mengapa isteri nya begitu lahap. Sesudah makan mereka masuk kedalam kamar untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Kita jalan-jalannya besok saja, sekarang kamu tidur yaa" Ucap Revan dengan lembut, Shinta pun mengangguk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, sedangkan Revan ia mengecek pekerjaan terlebih dahulu dari laptopnya. Shinta mencoba memejamkan matanya namun ia tak bisa tidur.
"Van" panggilnya pelan, Revan pun menoleh kearah Shinta.
"Ada apa?" Tanya Revan. Shinta pun bangkit dan menatap mata Revan. Revan menutup laptopnya dan menaruh di meja sebelah ia saat ini berada lalu mendekat kearah Shinta.
"Enggak bisa tidur" jawabnya manja
"Sini biar aku peluk" Revan menarik tangan Shinta dengan lembut untuk berbaring dan membawa tubuh Shinta kedalam pelukannya, Shinta pun tersenyum bahagia. Enggak butuh waktu lama, Shinta terlelap di pelukan Revan. Revan mengusap-usap pipi isterinya menggunakan jemarinya.
"Tidur lah yang lelap" Ucapnya dan mengecup pucuk kepala Shinta, mereka pun terlelap bersama mimpinya.
*************
Sedangkan Syifa, dirumah ia bermain bersama sang nenek dan kakek. Hari ini kepulangan Tommy ayah dari Revan. Tommy begitu menyayangi cucunya, semenjak pernikahan Shinta Tommy berada di luar kota untuk mengurusi beberapa pekerjaannya sekaligus berobat.
__ADS_1
"Kakek lihat ini" Syifa menunjukan boneka baru yang dibelikan oleh Shinta
"Wah cantik sekali, seperti cucu kakek"
"Ini mama yang membelikan untuk Syifa kek"
"Benarkah? Cantik sekali"
"Apa mama Syifa baik?" Tanya Tommy kepada sang cucu, Tommy tau bahwa Shinta wanita yang baik, ia hanya ingin memastikan bahwa menantunya itu benar-benar menyayangi cucu semata wayangnya.
"Mama sangat baik kek, baik banget seperti malaikat. Mama itu mama terbaik sedunia" puji Syifa yang membanggakan ibu sambungnya didepan sang kakek. Tommy pun bernafas lega mendengar pernyataan dari cucunya.
"Kau tak perlu khawatir, menantu kita selain cantik hatinya juga seperti malaikat baik nya" sambung lili yang membawakan secangkir kopi untuk sang suami. Tommy pun tersenyum dan mengambil gelas yang ada ditangan sang isteri.
"Terimakasih sayang" Ucap Tommy kepada lili. Lili pun tersenyum
"Lalu bagaimana dengan Caca" Tanya Tommy lagi, begitu banyak kejadian yang ada dirumah ini yang telah dilewatkan olehnya.
"Ya begitulah, Ternyata Caca tak seburuk yang kita pikirkan selama ini. Dia begitu banyak berkorban untuk anak dan cucu kita" Lili menceritakan semuanya kepada sang suami, Tommy pun mengangguk mengerti.
"Aku mengerti bagaimana perasaan mereka, takdir telah mempermainkan kehidupan mereka" Gumam Tommy sambil meminum sedikit demi sedikit kopi buatan isterinya
"Entahlah Pa, Mama juga bingung harus bagaimana. Satu sisi Caca begitu banyak berkorban untuk keluarga kita, namun di sisi lain Shinta juga sudah menjadi isteri dari anak kita. Takdir seperti nya begitu senang bermain-main pada kehidupan mereka ber3, mama juga kasihan melihat Shinta yang begitu menyayangi Syifa seperti anaknya sendiri. Mama tahu saat ini Shinta pasti merasakan ketakutan yang begitu besar. Takut kehilangan Syifa yang sudah ia anggap anak kandungnya sendiri. Tapi Caca juga berhak untuk dekat oleh Puterinya, selama bertahun tahun ia di pisahkan oleh Puterinya padahal ia sudah berkorban begitu besar untuk anak dan cucu kita" ucap lili.
"Apakah Revan masih mencintai Caca?" Tanya Tommy kepada isterinya.
__ADS_1
"Entahlah Pa, jika benar Revan masih mencintai mantan isterinya itu pasti akan sangat menyakitkan bagi Shinta. Tidak adil rasanya bagi Shinta yang harus menjadi korban dari semua ini. Namun jika Revan sudah melupakan Caca dan mencintai Shinta bukankah itu tidak adil untuk seorang wanita yang sudah mengorbankan segala kehidupannya untuk suami dan anaknya malah tidak pernah mendapatkan kebahagiaan bahkan harus di pisahkan dan dibenci oleh anak kandungnya sendiri" Lili begitu khawatir melihat kedua wanita yang ia anggap seperti anak nya sendiri, lili wanita yang begitu lembut dan penyayang. Sejak pernikahan Revan dengan Caca atau pun Shinta, dan mereka masuk kedalam rumah nya ia sudah menganggap kedua wanita itu sebagai Puteri nya sendiri. Lili memperlakukan mereka dengan baik
"Sudah lah ma, kita doakan saja yang terbaik untuk kehidupan mereka. Tuhan maha baik, semua udah diatur oleh sang pencipta ma. Kita sebagai umatnya hanya bisa melaksanakannya dengan baik dan ikhlas. Percayakan bahwa semua nya akan indah pada waktunya" Tommy pun memeluk sang isteri dan mencoba memberikan ketenangan untuk isterinya.