
Revan mencoba untuk tenang, Shinta pun menenangkan Syifa.
"Semua ini harus selesai, aku lelah begini Mulu" gumam Shinta dalam hati.
"Setelah pulang dari makan ice cream, aku harus menyelesaikan semua ini" gumam Revan dalam hati, sebenarnya Shinta dan Revan saling takut kehilangan namun begitu gengsi untuk mengungkapkan. Sesampai di kede ice cream suasana begitu hening, hanya Syifa yang menikmati ice cream dengan begitu gembira. Bahkan ice cream milik Shinta dan Revan yang menghabisi Syifa dengan penuh semangat.
Setelah selesai memakan ice cream, Revan mengajak isteri dan anaknya untuk pulang kerumah. Sesampai dirumah Shinta lebih dulu mengantarkan Syifa ke kamar untuk beristirahat sedangkan Revan masuk kekamar mereka terlebih dahulu
***********
Didalam kamar, Revan menunggu Shinta untuk menyelesaikan semuanya. Ia tak sanggup terus terusan membohongi dirinya sendiri, dan Revan tak ingin harus kehilangan Shinta seperti dulu ia kehilangan Caca. Shinta masuk kedalam kamar dan terlebih dahulu membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Shinta hanya memakai handuk kimono sambil mengeringkan rambut panjangnya menggunakan handuk kecil.
"Sini aku bantu mengeringkan rambutmu" Shinta pun mendekat kearah Revan, duduk dan membelakangi revan. Revan mengambil ahli handuk tersebut dan membantu Shinta mengeringkan rambutnya.
"Mengapa rambutmu panjang sekali"
"Ya karena tidak pendek makanya panjang!" Masih saja ada perdebatan kecil diantara mereka, Revan menyampingkan semua rambut Shinta dan menciumi tengkuk leher Shinta membuat wanita itu merinding geli. Shinta hanya diam dan memejamkan matanya, belakangan hari ini Shinta dan Revan selalu saja bertengkar dan tak bisa mereka pungkiri mereka saling merindukan sentuhan sentuhan itu. Walau mereka tidak pernah mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain tetapi mereka saling takut kehilangan dan merasa cemburu jika salah satunya dekat dengan orang lain apalagi masalalu diantara mereka. Revan memeluk Shinta dari belakang dan menyentuh bagian tubuh Shinta yang ingin ia sentuh.
*Dan terjadilah ritual yang biasa suami dan isteri lakukan.
Shinta tertidur diperlukan Revan, Revan mencium pucuk kepala Shinta dengan lembut dan sesekali ia mengulum bibir titip Shinta.
"Apa kau mencintai ku?" Tanya Shinta dengan begitu polosnya, Revan hanya terkekeh mendengar pertanyaan Shinta, Shinta yang melihat reaksi suaminya malah menjadi sedih
__ADS_1
"Apa yang kau harapkan, dasar bodoh! pernikahan kalian hanya karena Syifa tidak lebih" Shinta memaki dirinya sendiri. Ia merasa begitu sedih
"Seharusnya aku tidak terlalu berharap begini" gumamnya kembali dalam hati, Revan mendongakkan dagu shinta dan mengulum bibir Shinta dengan lembut
"Lebih dari yang kau pikir" Revan membisikan ditelinga Shinta.
"Maksudmu"
"Dasar bodoh! Apa kau pikir aku akan menyentuh mu jika aku tidak mencintaimu?"
"Seharusnya kau bisa rasakan" Revan memegang tangan Shinta dan meletakkan tangan wanita itu di dadanya. Shinta pun mengembangkan senyumannya dan kembali memeluk Revan. Ia begitu senang mendengar pernyataan Revan. Ada ketenangan didalam dirinya.
"Van" Shinta mendongakkan wajahnya dan melihat wajah suaminya yang tampan itu
"Apa kau masih mencintai Caca?" Pertanyaan itu membuat Revan membuka matanya dan melihat Shinta dengan tatapan yang begitu serius.
"Kenapa?" Tanya Revan dengan nada yang tidak suka.
"Aku hanya bertanya, kau tinggal menjawab saja!" Shinta memajukan mulutnya.
"Mengapa kau bertanya seperti itu? Atau jangan-jangan kau yang masih mencintai mantan kekasihmu itu?" Revan kembali melontarkan pertanyaan itu kepada Shinta. Shinta pun terduduk dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal sampai ke leher jenjangnya. Revan pun ikut duduk dan menatap mata Shinta. kali ini suasana kembali tegang. Shinta membuang nafasnya dengan kasar dan menatap mata Revan dengan dalam
"Van, aku pernah berhubungan baik dengan Rayhan bahkan dengan waktu yang tidak sebentar. 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar van, begitu banyak momen yang sudah kami laluin, apalagi ia meninggalkan ku karena sakit parah" Airmata Shinta sudah menetes ia mengatur nafasnya dengan perlahan. Begitu sesak rasanya mengingat kembali kemasa masa itu, apalagi sekarang kondisi Rayhan sekarat berbaring dirumah sakit. Revan hanya mengepalkan tangannya menahan rasa sakit yang Shinta katakan.
__ADS_1
"Benar, aku masih menyayangi Rayhan. Tapi asal kamu tau van, setelah menikah denganmu aku sudah membunuh semua rasa cinta ku kepada Rayhan, dia hanya masalalu ku sementara kau dan Syifa adalah masa depan dan kebahagiaanku" Shinta memegang tangan Revan
"Aku tak sanggup jika harus kehilangan kamu dan Syifa. Kalian kehidupanku sekarang, dan aku begitu takut kehadiran ibu kandung Syifa akan membuat kamu beralih lagi padanya dan meninggalkan aku"
"Aku tau kamu masih cinta sama Caca Van, kamu gak bisa lupain dia" Shinta menghapus air matanya, walau dadanya serasa sesak, namun Shinta harus mengeluarkan semua kegundahan hatinya.
"Aku cemburu melihat kamu ketawa dengan dia, aku cemburu melihat Syifa dekat sama dia"
"Aku tau, aku egois Van. Tapi aku gak bisa bohongi hati aku, aku begitu takut dan aku gak siap kalau harus kehilangan kamu dan Syifa" Revan memeluk Shinta dan mengecup pucuk kepala Shinta.
"Aku juga cinta sama kamu ta! Aku juga gak sanggup ngelihat kamu lebih perduli sama Rayhan ketimbang sama aku, kamu selalu galak sama aku tapi terlihat begitu lembut kalau sama Rayhan"
"Aku sayang banget sama kamu Ta, jangan hancurkan hati aku dengan ngelihat kedekatan kamu sama Rayhan"
"Jujur Ta, aku udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama Caca, aku cuman menghargai Caca sebagai ibu yang udah melahirkan anak aku dan pengorbanan dia selama ini buat aku dan juga Syifa"
"Aku ngerasa gak tega ngelihat Caca menderita sendirian selama bertahun tahun demi aku dan Syifa, sedangkan aku malah benci dia ngejahuin dia dari Puteri kandungnya, aku merasa jahat banget Ta" Revan semakin mengeratkan pelukannya
"Tapi bukan berarti aku mau balik lagi sama dia ta, seperti yang kamu bilang. Dia itu hanya masalalu aku dan kamu adalah masa depan aku. Tolong percaya sama aku! Aku sayang banget sama kamu dan aku gak mungkin ninggalin kamu" Revan mencoba menjelaskan semuanya kepada Shinta.
"Dan kamu juga harus ngertiin Ta, Bagaimana pun Caca adalah ibu kandung dari Syifa. Kita gak mungkin misahin mereka, aku tau kamu sakit ngelihat kedekatan mereka tapi kita juga harus biarin Syifa lebih mengenal siapa ibu kandungnya. Caca bukan orang jahat yang akan ngerebut Syifa dari kamu, dari aku dan dari kita semua, dia hanya ingin lebih dekat dengan anaknya. Selama ini dia udah menderita karena jauh dari Syifa dan aku gak mau jadi egois lagi" Shinta pun mengerti dengan penjelasan dari suaminya.
"Aku gak tahu apa yang bakalan terjadi kedepannya ya, tapi aku mau kita sama-sama menghadapi semua ini dan terus saling menguatkan bukan saling meninggalkan, aku gak sanggup kehilangan kamu" Pinta Revan.
__ADS_1
"Aku juga gak sanggup kehilangan kamu dan Syifa. Maaf kalau aku egois Van" Revan pun mengangguk dan membalas pelukkan Shinta.