Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2 - Menangis


__ADS_3

Shinta sudah boleh pulang ke rumah, Revan dan Syifa pun menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Shinta tersenyum memandangi suami dan anaknya. Terutama Revan yang terlihat sangat telaten dalam mengurus keluarga kecil mereka.


Perawat membawa bayi Shinta ke dalam ruangan, dengan lembut Shinta mengambil anak nya dari tangan perawat. Shinta mencium lembut Pipi bayi nya. Bahkan, mereka belum memberikan nama anaknya.


Setelah mengurus keperluan dan administrasi rumah sakit, Revan membawa isteri beserta anak-anaknya pulang ke rumah.


Sesampai di rumah, Shinta dan anaknya yang baru lahir di sambut dengan penuh gembira oleh keluarga mereka. Begitu juga dengan si kembar Alan dan Alana begitu antusias nya dengan kehadiran sang adik.


"Dia tampan sekali, tidak sepelti mu!" ledek Alana kepada Alan, Revan memberikan kode kepada Alana untuk tidak mengganggu saudara kembar nya. Alana pun mengerti, dan menggembangkan senyuman manja nya agar sang papa tidak marah.


"Siapa nama adik Alan, Pa?" tanya Alan kepada papa nya. Revan melihat ke arah isteri nya, Shinta pun memberitahu pada Alan jika belum memberikan nama kepada adik kecil mereka. Alan terlihat sangat kecewa.


"Beli saja dia nama tampan, Ma." celoteh Alana dengan asal, mendengar ucapan Alana yang lain pun tertawa.

__ADS_1


"Sayang, Itu bukan lah nama."


"Tapi kan adik Alana memang tampan. Tidak sepelti Alan yang jelek, tetapi gaya nya begitu angkuh dan sok tampan." Alan mengerut kan dahi nya, menatap Alana dengan tajam.


"Sudah, Sebaiknya kita membawa mama dan adik ke kamar untuk istirahat. Kesayangan papa jangan ganggu lagi saudara mu. Kalian sudah memiliki adik, berilah contoh yang baik untuk adik kalian ya, nak? Kalian mengerti kan ucapan papa?"


"Mengelti, Pa!" ucap Alan dan Alana secara bersamaan.


"Anak-anak papa memang pintar." Revan mencium anak nya dengan bergantian. Syifa tersenyum melihat tingkah konyol kedua adiknya.


"Aku ikut!"


"Tidak!"

__ADS_1


"Kenapa? Aku kan juga mau main dengan kak-kak ku!"


"Kau pengacau, nanti kau akan mengacau kan pelmainan kami."


"Papa, Lihat lah Alan! Dia sangat tidak baik pada Alana, padahal Alana hanya ingin ikut belmain. Tapi, tega sekali Alan bilang Alana pengacau huaaa."


Alana melakukan lagi drama nya, dengan pura-pura menangis. Alan hanya membuang nafas nya dengan kasar dan berlalu meninggal kan semua orang. Syifa hanya bisa menggeleng kan kepala dan menepuk jidat nya.


"Kakak, Alana mau ikut."


"Baik lah, Tapi adik kakak yang cantik ini harus janji. Nggak boleh ganggu atau mencari masalah dengan Alan. Bagaimana?"


"Mama, Lihat lah kakak begitu sangat membela Alan padahal yang salah Alan. Alana nggak mau main sama kakak! Kakak nggak sayang Alana, Kakak cuman sayang sama Alan!" rengek Alana yang merasa kakak nya hanya memikirkan dan menyayangi saudara kembar nya Alan. Kali ini, Alana menangis dengan tulus. Syifa yang mengira adiknya melakukan drama lagi pun memilih meninggal kan Alana dan menyusul Alan. Shinta yang melihat Alana menangis pun mendekati anak nya, menghapus air mata dan mengecup kening Alana dengan lembut. Shinta juga menjelaskan pada anaknya dengan sabar jika kakaknya tak pernah membeda-bedakan antara Alan dan juga Alana.

__ADS_1


"Sudah, Sayang nya mama. Anak mama, jangan menangis nak. Kakak Syifa juga menyayangi Alana. Kakak hanya tidak ingin melihat kalian sebagai saudara kembar selalu bertengkar." Shinta memeluk anaknya yang menangis terisak.


__ADS_2