
Arvan teringat dengan keputusan mereka dan memilih untuk diam. Raisa menatap ke luar jendela, hati nya masih gelisah.
Tidak terasa mereka sudah dua jam kejebak macet. Akhir nya, Caca dan Arvan telah sampai ke sekolah. Mereka mengajak Raisa untuk turun, sedang kan baby sister yang menjaga baby Khanza tetap di dalam mobil bersama baby Khanza. Caca menggandeng Raisa dengan perasaan tulus.
"Ta-tante, pasti Raisa akan di hukum." melihat hari yang mulai gelap. Arvan dan Caca pun menghadap kepada kepala sekolah terlebih dahulu karena kepala sekolah itu tinggal di asrama. Mereka memasuki ruangan kepala sekolah. Melihat Raisa awal nya kepala sekolah begitu marah. Namun, melihat kehadiran Arvan, membuat kepala sekolah itu berubah menjadi baik.
"Pak, maaf jika kami telat. Kami kejebak macet, jalanan begitu padat hingga tidak bisa bergerak sedikit pun. Saya harap anda mengerti dan tidak menghukum Raisa."
"Ba-baik, Tuan."
Tuan? Wah, keluarga Syifa memang begitu kaya. Bahkan, kepala sekolah pun begitu takluk kepada ayah tiri Syifa. Hebat sekali keluarga syifa ini ~ Raisa
"Terimakasih atas pengertiannya." ujar Arvan dengan singkat. Caca menyuruh Raisa untuk masuk ke dalam kamar nya, Raisa masih takut. Mungkin, kepala sekolah akan mengerti, namun guru penjaga asrama tidak akan tinggal diam. Arvan mengerti dengan ke khawatiran teman anak sambung nya itu. Arvan meminta kepala sekolah untuk menghubungi penjaga dan guru di asrama agar tidak ada yang memarahi atau menghukum nya. Kepala sekolah itu mengikuti ucapan Arvan, mengambil telepon sekolah dan menghubungi guru yang ada di asrama.
"Sayang, kepala sekolah sudah menghubungi guru di asrama yang menjaga kalian, Kamu bisa kembali dengan tenang tanpa ada rasa khawatir. Percaya sama Tante, mereka tidak akan menghukum kamu." Raisa pun mengangguk, menyalami Caca dan Arvan secara bergantian. Lalu, berpamitan untuk masuk ke dalam asrama. Setelah, memastikan Raisa telah pergi ke dalam asrama. Arvan meminta kepada kepala sekolah untuk memperlakukan Syifa dan Raisa dengan baik.
"Saya menitipkan Syifa dan teman nya Raisa di sini. Tolong, jaga mereka dan perlakukan mereka dengan layak nya seorang manusia. Saya, tidak ingin mendengar jika salah satu dari kalian menyakiti mereka tanpa alasan, jika mereka salah dan nakal kalian bisa menghukum nya, namun jangan menyakiti atau menghukum mereka tanpa alasan atau sengaja mencari kesalahan mereka. Saya sangat menghargai kalian di sini, sebab itu kalian tetap bertugas seperti biasa. Namun, jika salah satu di antara kalian yang menyakiti mereka atau anak-anak lain yang tidak bersalah. Saya tidak akan tinggal diam, apa bapak mengerti?" kepala sekolah itu mengangguk, dan mengatakan untuk tidak khawatir dengan keadaan Syifa dan teman nya itu yang bernama Raisa.
"Tuan tenang saja, mereka akan aman di sini. Jika, Tuan ingin Raisa setiap saat keluar juga tidak masalah. Saya tidak akan melarang. Lagi pula, keluarga Tuan pemilik sekolah ini sekarang, Tuan bisa berbuat apa saja yang Tuan inginkan."
"Tidak, saya tidak akan melakukan hal yang semena-mena pada kalian, saya serahkan segala nya kepada kalian. Saya hanya tidak ingin, kejadian anak saya Syifa kemarin terulang kembali kepada anak-anak yang lain. Hukum siapapun yang bersalah dan lindungi mereka yang benar dan tidak bersalah tanpa melihat latar belakang mereka. Hanya itu yang saya inginkan."
"Baik, Tuan. Kedepannya, saya akan membuat keputusan yang sangat adil tanpa membeda-bedakan latar keluarga mereka,"
"Bukan hanya bapak saja, tapi seluruh guru yang ada di sekolah ini. Jika, terulang kembali. Walau itu bukan terjadi kepada anak saya, saya tidak akan memaafkan kalian."
"Baik, Tuan."
"Jika, begitu saya dan isteri saya pamit dulu." kepala sekolah mengangguk, mengantar kan Arvan dan Caca ke pintu depan.
Caca dan Arvan masuk ke dalam mobil, Arvan melajukan mobil nya menuju rumah.
Sesampai di rumah, Caca menyuruh baby sister untuk menggantikan pakaian baby Khanza. Caca pun masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuh nya, begitu juga dengan Arvan. Setelah selesai membersihkan tubuh nya, Caca ingin turun ke bawah untuk memasak sesuatu yang akan di makan oleh suami nya.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan kepada mu." ujar Arvan. Caca pun mengurungkan niat nya sebentar, untuk duduk di samping sang suami di tepi tempat tidur
"Bicara apa?"
__ADS_1
"Entah mengapa, melihat teman Syifa. Aku seakan merasakan sesuatu. Rasanya, ingin selalu di dekat nya."
"Mungkin, karena kita pernah kehilangan anak di saat aku mengandung, dan anak itu juga anak yatim piatu. Jadi, kau mengingat anak kita yang telah tiada."
"Kau benar, Sayang. Andai dulu,"
"Sayang, sudah lah. Jangan bersedih lagi, semua akan baik-baik saja. Jika mengingat dahulu, aku lah yang paling kehilangan anakku. Tapi, mau sampai kapan kita akan terjebak dalam kesedihan? Sayang, saat ini kita sudah memiliki Khanza. Kita juga mempunyai Syifa, kita harus fokus dengan masa depan anak-anak kita." ujar Caca yang menyemangati sang suami. Arvan memeluk dan menangis di pelukan Caca. Hati Arvan begitu sangat sedih. Caca melamun, dan merasa sedih
Bagaimana aku bisa menjelaskan segala nya padamu. Maafin aku, Van. Jika kau mengetahui segala nya mungkin kau tidak akan pernah memaafkan ku ~Caca.
Caca pun meneteskan air mata nya. Ingin mengatakan segala nya, namun ia berdaya dan bingung harus menjelaskan nya dari mana. Arvan menjauhkan kepala nya dari pelukan sang isteri, dengan cepat Caca menghapus air mata nya dan tersenyum kepada Arvan.
"Aku harus pergi ke kantor, ada urusan mendadak."
"Jangan pulang terlalu malam, aku akan menunggu mu."
"Tidak, Sayang. Aku pulang larut malam, karena ada acara lepas bujang pernikahan teman ku. Aku tidak ingin kamu menunggu ku, lebih baik kamu makan dan tidur duluan." Caca mengangguk, Arvan mencium kening Caca lalu berlalu pergi.
Setelah mendengar suara mobil Arvan yang semakin menjauh dari rumah. Caca menangis sejadi-jadi nya. Ia menyesali perbuatannya dahulu. Karena kebodohannya, ia kehilangan anak pertama mereka.
"Bahkan walau aku ingin, aku tidak bisa mencari nya. A-aku begitu takut, jika kau tahu. Kau akan membenci diri ku. Aku tidak siap jika harus kehilangan suami dan anak kembali, dulu aku sudah pernah kehilangan Revan dan Syifa. Aku tidak ingin kehilangan mu dan Khanza, aku tidak sanggup." ujar Caca yang tak kuasa menahan tangis nya. Hati nya begitu sesak, kehadiran Raisa. Mengingat kan diri nya kepada anak yang telah ia lenyap kan. Karena, Caca dahulu begitu membenci Arvan dan tidak ingin memiliki keturunan dari Arvan.
Flashback
Pernikahan nya dan Arvan juga memasuki setahun, saat itu Arvan memiliki tugas di luar negeri selama beberapa bulan. Caca pun tidak perduli, di saat Arvan pergi ke luar negeri. Caca tidak menyadari jika diri nya sudah hamil memasuki empat bulan.
sebulan setelah kepergian Arvan, kepala nya begitu sangat sakit, dan sering mual. Perubahan bentuk tubuh nya juga naik secara drastis. Caca memutuskan untuk periksa ke dokter, benar saja kehamilannya sudah memasuki usia lima bulan, Caca begitu kaget, bingung harus melakukan apa. Dia menangis, Caca tidak ingin memiliki keturunan dari pria brengsek seperti Arvan. Apalagi, Arvan selalu bersikap kasar saat melakukan hubungan antara suami dan isteri.
Tidak! Aku tidak bisa, aku tidak menginginkan anak ini. Anakku, hanya anakku bersama lelaki yang aku cinta. Revan, aku tidak mau anak ini hiks ~Caca
Tidak ada kebahagiaan, selalu ada penderitaan dan tangisan yang Caca rasakan. Caca yang tak ingin Elsa, mama nya mengetahui kehamilan nya pun melakukan segara cara agar perut nya tetap terlihat rata. Bahkan, ia sampai menyiksa diri nya. Memakai alat yang membuat perut buncit nya tidak terlihat.
Berbulan-bulan Caca menyembunyikan itu, Caca tidak ingin jika Elsa tahu dan memberitahu Arvan. Itu akan semakin membuat diri nya susah lepas dari Arvan.
Pada tengah malam, perut Caca terasa sangat sakit. Ia berjalan perlahan ke rumah sakit dengan langkah yang berat. Perlahan demi perlahan, sampai di tujuan. Caca melahirkan seorang anak perempuan, setelah beberapa hari berada di rumah sakit. Caca membayar segala biaya dan membawa anak nya keluar dari rumah sakit. Anak itu begitu mirip dengan Arvan, membuat Caca menjadi tidak menyukai anak nya. Tanpa berfikir panjang, Caca meletakkan anak nya di depan pintu panti asuhan. Usia nya yang masih sangat muda membuat nya tidak bisa berfikir dengan jernih. Yang Caca tahu, hanya Revan dan Syifa segala nya untuk dia. Tidak ada yang lain
Caca bagaikan ibu penyelamat bagi satu anak yang lain, namun juga ibu yang begitu buruk untuk anak yang lainnya. Caca rela melakukan apapun demi Syifa, anak nya dari Revan. Sedangkan, ia begitu kejam membuang anak satu nya hasil pernikahan nya dengan Arvan.
__ADS_1
Lima tahun berlalu, Caca sempat mencari keberadaan anak nya. Ia menyadari segala kesalahannya dan ingin menebus. Namun, Caca tidak bisa menemukan anak itu. Sudah berbagai cara ia lakukan untuk mencari anak nya, namun tidak pernah ketemu hingga sekarang.
Flashback end.
Caca mengingat betapa jahat nya ia sebagai seorang ibu. Diri nya juga merasa tidak pantas menjadi ibu atau di sebut sebagai seorang Ibu.
"Di mana aku harus mencari mu, Sayang." ujar Caca yang terus menangis, rahasia ini hanya diri nya yang tahu. Bahkan, Elsa yang selalu menjaga dan mengawasi Caca pun tidak mengetahui rahasia sebesar ini. Caca juga tidak bisa membayangkan bagaimana jika Arvan mengetahui ini, bagaimana kecewa nya Arvan. Bagaimana rasa sakit Arvan mengetahui masa lalu ini.
"Nona, maaf. Jika saya lancang masuk ke sini. Saya tidak sengaja mendengar suara tangisan nona yang begitu kencang. Saya berfikir, Nona kenapa-kenapa." Caca menghapus air mata dan mencoba tersenyum kepada baby sister nya itu.
"Saya tidak apa, kamu bisa pergi dan beristirahat. Jangan khawatir. Jika ada sesuatu, saya akan memanggil kalian."
"Baik, Nona. Saya izin pergi dulu." Caca mengangguk, baby sister pun segera pergi meninggalkan majikan nya.
**********
Di asrama, Raisa memikirkan Caca dan Arvan. Raisa tersenyum sendiri, dan memikirkan kebaikan-kebaikan keluarga Syifa kepada nya.
Aku merasa sangat beruntung, memiliki teman sebaik Syifa. Bukan hanya diri nya saja, keluarga nya juga begitu sangat baik memperlakukan ku. Layak nya seorang keluarga, aku merasakan kasih sayang utuh dari satu keluarga berkat Syifa. Jika, aku tidak mengenal nya, mungkin hingga sekarang. Aku tidak tahu apa arti keluarga, aku berjanji padamu Syifa. Aku akan menyayangi dan menjaga mu seumur hidup ku dan sebisa ku. Aku sangat sayang dengan kau Syifa. Kau teman yang begitu baik padaku, kau orang pertama yang bersikap baik padaku selain anak panti dan asrama. Kau berasal dari keluarga yang tidak sembarangan, bukti nya. Kepala sekolah saja takut dan mematuhi ucapan Daddy mu. Tapi, kau tidak sombong pada ku, anak malang ini. ~ Raisa.
Raisa tersenyum kecut, di bandingkan dengan kehidupan nya. Syifa sangat sangat beruntung.
"Raisa, kau dari mana saja?" tegur Lala kepada Raisa, Lala teman sekamar Raisa, Lala lebih tua setahun dari Raisa namun ia adik kan kelas Raisa.
"Aku, tadi aku habis dari rumah teman, kak."
"Kau tahu, awal nya kepala asrama marah besar. Ia juga mau menghukum mu. Kepala sekolah juga begitu, entah kenapa. Tiba-tiba saja kepala sekolah memberitahu guru asrama untuk tidak memberikan mu hukuman. Hebat sekali, mereka bisa berubah fikiran dalam waktu yang tidak lama."
"Itu semua karena Daddy nya Syifa kak. Daddy nya seperti nya orang yang sangat kuat. Bukti nya, kepala sekolah sangat tunduk kepada Daddy nya teman ku itu."
"Benar kah? Wah jika begitu, kita bisa dong bebas menggunakan Daddy nya teman mu itu."
"Tidak bisa kak, aku tak enak hati. Lagipula, kita harus mengikuti aturan yang ada di asrama kak."
"Gak usah munafik deh, Raisa! Bukti nya tadi kamu pulang terlambat, bahkan terlambat dua jam. Apa itu nggak melanggar aturan? Dan kamu selamat dari hukuman juga karena orang tua teman mu itu kan? Kenapa kamu bisa dan aku enggak? Bilang aja, kamu nggak mau berbagi kebebasan kan? Kamu mau menyelamati diri kamu sendiri, iyakan?"
"Bukan begitu kak, tadi aku telat juga bukan karena sengaja. Tadi itu perjalanan begitu padat dan macet," Raisa memberitahu segala nya, apa yang terjadi di rumah Syifa. Dan bagaimana orang tua Syifa memperlakukan mereka dengan sangat baik.
__ADS_1
Lala merasa sangat takjub mendengar cerita Raisa, ia membayangkan bagaimana besar nya rumah teman nya Raisa itu. Lala memiliki rencana untuk mencari tahu siapa kakak kelas nya yang bernama Syifa. Ia akan mendekati Syifa, bermain puas di rumah nya. Dengan itu, Lala bisa bebas dengan peraturan yang ada di asrama ini. Jika kepala sekolah memarahi diri nya, ia akan meminta bantuan kepada Syifa dan juga kedua orang tua Syifa. Lala tersenyum licik, ia berpamitan kepada Raisa untuk tidur deluan. Raisa pun mengangguk tanpa merasa curiga kepada teman sekamar nya.