Ibu Sambung

Ibu Sambung
Merindukan


__ADS_3

"Ibu juga berharap, agar Raisa dan Syifa bisa membuat semua nya menjadi baik. Ibu ingin berkumpul dengan kalian semua, terutama dengan kaynara. Sudah lama sekali, ibu tidak tahu bagaimana kabar nya."


"Iya, Bu. Tata juga merindukan Kaynara, sulit sekali menghubungi nya, semoga dia baik-baik saja."


Shinta meminta Ibu, Ayah dan Suami nya untuk berkumpul saja di ruang keluarga, ia yang akan membersihkan bekas makan mereka.


Ibu Syafa ingin membantu, namun Shinta menolak. Ia ingin mengerjakan nya sendiri.


"Ibu sebaik nya duduk saja dengan Ayah dan Revan. Tata ingin mengabdi dan mengurus Ibu dan Ayah selagi tata di sini. Belum tentu, nanti tata bisa menginap di sini dengan waktu yang lama seperti ini."


"Jangan bicara seperti itu, nak. Ibu dan Ayah akan selalu senang jika kalian menginap di sini, kami semakin tua. Dan kebahagiaan kami, berkumpul dengan kalian semua."


Shinta pun terharu, ia sangat menyayangi ke dua orang tua nya apalagi sedari kecil. Shinta selalu di manja oleh ibu dan ayah nya.


Rasanya, ia tidak tega jika harus jauh dari ke dua orang tua namun bagaimana lagi. Kini, ia sudah berumah tangga. Ia harus ikut dengan suami nya.


Revan memahami apa yang sang isteri rasakan. Revan sudah pernah mengajak ke dua mertua nya untuk tinggal bersama mereka. Namun, Ibu Syafa dan ayah Gunawan menolak. Ia tidak mau, mencampuri urusan rumah tangga anak-anak nya.


"Ibu dan ayah ikut lah bersama kami." ajak Shinta kepada orang tua nya, namun mereka menolak.


"Tidak, sayang. Kami tidak bisa ikut dengan kalian, begitu banyak kenangan kita di rumah ini. Ya, walau pun rumah ini tidak sebesar rumah kalian. Tapi, ibu dan ayah nyaman kok di sini. Kami, ingin menghabiskan waktu tua kami di sini."


Shinta pun terdiam, ia tidak bisa memaksa ibu dan ayah nya. Shinta hanya bisa berharap, suatu saat nanti ke dua orang tua nya mau tinggal bersama mereka.


Shinta dan Syafa pun membereskan bekas makan mereka, ia lupa memberi makan ke dua pekerja nya.


"Ya ampun, tata lupa tadi pagi memberikan makanan kepada baby sister" ujar nya.


Syafa pun mengatakan, jika diri nya sudah memberikan makanan kepada ke dua baby sister yang menjaga anak-anak.


"Tadi Revan bilang kamu sakit, jadi ibu yang mengantar makanan kepada mereka. Sudah, sini biar ibu saja yang mengantar nya lagi kepada mereka."


"Jangan, Bu! Tata udah merepotkan ibu, biar tata saja yang mengantar makanan mereka. sekalian, tata ingin melihat baby Al."

__ADS_1


"Sayang, kalian juga belum membuat nama untuk baby Al."


Shinta melihat ke arah suami nya, pertengkaran dan masalah yang terjadi membuat mereka melupakan acara pemberian nama untuk anak nya.


"Bagaimana jika besok kita mengadakan nya?" tanya ibu Syafa. Revan pun setuju, Shinta mengikuti apa yang di rencanakan oleh ke dua orang tua nya saja. Diri nya tidak fokus, karena khawatir dengan keadaan Caca.


*******


Film pun di mulai, lampu biskop di matikan. Raisa dan Syifa segera memejamkan mata ke dua nya. Mereka sudah berencana, jika film nya main. Ke dua nya akan tidur saja, biar tidak merasakan ngantuk.


Caca memberikan dua popcorn untuk anak nya, Raisa dan Syifa menoleh satu sama lain.


"Bagaimana kita memakan ini? Kitakan ingin tidur, mana berani aku kak menonton film nya."


"Begini saja, kita memejamkan mata sambil memakan popcorn ini. Jika kita tidak memakan nya, mama dan Daddy akan curiga." bisik Syifa kepada Raisa.


"Sayang, kalian membisik kan hal apa?" tanya Caca kepada ke dua anak nya.


Syifa mengelak dan mengatakan jika ia berteriak akan mengganggu yang lain nya. Caca pun berfikir alasan anak nya itu sungguh masuk akal.


Caca pun memakan popcorn itu perlahan, untuk mengurangi rasa takut nya.


Begitu juga dengan Raisa dan Syifa. Yang berbeda hanya lah, ke dua anak itu memakan sambil memejam kan mata.


Suara yang begitu menganggetkan mereka, di tambah adegan yang menyeramkan membuat Caca tanpa sengaja memeluk suami nya.


Arvan pun membalas pelukan isteri nya, Caca mengumpat di dada sang suami.


Syifa yang mengintip, menoleh ke arah sang mama pun tersenyum senang. Ia berbisik kepada Raisa jika rencana mereka berhasil, Syifa meminta Raisa untuk membuka mata. Namun, Raisa tidak berani.


"Kakak saja yang melihat mami dan Daddy. Aku tidak berani membuka mata, nanti hantu nya datang."


Hutf! Dasar payah! Kesal Syifa.

__ADS_1


Tanpa sadar ia membuka mata nya, adegan seram itu pun datang membuat diri nya kaget dan berteriak.


Caca dan Arvan menoleh ke arah Syifa, Syifa pun menyengir malu.


"Seru sekali film nya ma. Syifa suka!" Syifa yang ketakutan pun berusaha untuk menutupi nya.


Raisa tertawa, mengejek kakak nya.


"Kan sudah Raisa katakan jika sebaiknya kita menutup mata saja dan biarkan mami dan Daddy bermesraan. Kakak sih, pakai acara mengintip segala. Lihat lah itu hantu hihi." ejek Raisa, Syifa pun berdecak kesal.


Ia kembali memakan popcorn itu sambil menutup mata, jika ia terus membuka mata diri nya bisa saja mengompol di celana karena ketakutan. Tentu, hal itu akan membuat Mama dan Daddy nya curiga.


Rencana mereka bisa gagal hanya kerena kecerobohan Syifa. Ia pun tak mau itu terjadi.


Caca dan Arvan saling menatap satu sama lain, ke dua nya hanyut dalam suasana itu. Bahkan, melupakan film yang ada di hadapan mereka. Suara teriakan dari penonton lain pun tak di dengar oleh ke dua nya.


Walau tak saling mengucapkan satu kalimat pun, kedua nya seakan berbicara dari hati ke hati melalui tatapan mata.


Ke dua nya saling merindukan sentuhan satu sama lain, tapi ego mereka membuat ke dua nya tetap jauh.


Arvan pun menatap mata isteri nya dengan dalam, tidak memperdulikan teriakan teriakan sekitar.


Suasana begitu sangat mencengkram, di tambah suara suara menegangkan dari film tersebut.


Arvan memeluk Caca dengan erat, Caca tidak menolak nya sama sekali. Bahkan, ia merindukan pelukan hangat dari suami nya.


Seperti nya, rencana anak mereka berhasil. Kini, Arvan tinggal meminta maaf saja.


"Maafkan aku, aku sudah sangat menyakiti mu. Aku sadar dengan apa yang aku lakukan. Maafkan aku, sayang." ujar Arvan, namun suara bising di dalam ruangan itu membuat Caca tidak mendengar ucapan suami nya.


Ia pun hanya memejamkan mata, dan merasakan kehangatan di dalam pelukan sang suami.


Caca merindukan suami nya, sentuhan dan perhatian dari suami nya.

__ADS_1


******


__ADS_2