
Shinta pun tak punya pilihan, dengan perasaan sangat kesal, ia masuk ke dalam kamar. Revan pun mengikuti isteri nya masuk ke dalam kamar.
Revan memeluk sang isteri dari belakang.
"Apaan sih van." Revan membalikkan tubuh Shinta dan mengalungkan tangan Shinta di leher nya.
"Muka kamu jelek kalau cemberut." ledek Revan, Shinta semakin melongos.
"Kamu jahat! kamu jahat!" Shinta memukul bidang Revan dengan sangat manja. Kehamilan Shinta ini membuat ia seperti anak kecil. Lalu tersipu malu ketika Revan mendekat kan hidung mancung nya ke hidung Shinta. Revan memeluk pinggang Shinta dengan penuh kasih. Dan memadu isterinya untuk berdansa.
"Manis banget sih suami aku." batin Shinta dalam hati. Entah angin apa yang merasuki diri suami nya sehingga bisa bersikap semanis ini.
**Di depan teras rumah
Fana merah jambu, ku berdua
Momen-momen tak palsu
Air tuhan turun, aromamu
Tersalurkan aliran syaraf buntu
__ADS_1
Martin tua media pembuka
Berdansa sore hariku
Sejiwa alam dan duniamu
Hal bodoh jadi lucu
Obrolan tak perlu kala itu
Oh tersalurkan aliran syaraf buntu
Martin tua media pembuka
Berdansa sore hariku
Sejiwa alam dan duniamu
Rasanya tak cukup waktu
Terlalu cepat berlalu
__ADS_1
Soreku nyaman denganmu
Menarilah, menarilah
Menarilah denganku
Genggam tangan cokelatku
Berputar-putar denganku
Menarilah denganku
Menarilah, menarilah**
Shinta memejam kan kedua mata nya dan terus mengikuti irama yang Revan nyanyikan. Semua rasa kesal nya hilang seketika. Perasaan yang begitu bahagia karena sikap manis suami nya. Ketika Revan berhenti bernyanyi Shinta membuka mata nya perlahan. Namun, mereka tetap berdansa dengan perlahan
"Suara mu sangat buruk, tetapi bagaikan candu bagi ku." ucap Shinta yang begitu lembut.
"Semua juga tahu, bahwa suami mu ini sangat menarik. Dan siapapun akan terpesona melihat nya." jawab Revan dengan begitu santai nya. Shinta hanya bisa tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di bidang Revan. Mereka masih berdansa. Setelah cukup lelah, Revan berhenti dan menuntun Shinta untuk duduk di tepi ranjang. Shinta pun menurut, Revan mengambil segelas air putih dan memberikan nya pada Shinta. Tak butuh waktu lama bagi Shinta untuk menghabis kan nya. Berdansa membuat dirinya merasa sangat haus apalagi diri nya sedang mengandung. Lebih membuat nya cepat merasa lelah
"Terimakasih, Sayang." ucap Shinta dengan sangat manja. Shinta ingin meletakkan gelas tersebut. Namun Revan mencegah. Revan mengambil gelas dari tangan Shinta dan meletakkannya di meja.
__ADS_1
Shinta dan Revan berbincang membahas perkembangan dan bertumbuhan anak-anak mereka. Mereka membahas masa depan untuk anak-anak mereka. Revan selalu membujuk Shinta untuk memakai pengasuh namun jawaban Shinta tetap sama. Ia ingin menjaga dan membesarkan anak-anak nya sendiri, ia ingin menyaksikan langsung perkembangan anak-anak mereka. Revan pun mengalah, tak ingin memperkeruh keadaan yang akan membuat Shinta kembali kesal, ia mengajak Shinta untuk bercanda, tak ragu juga Revan menjahili isterinya, mereka tertawa bahagia layak nya anak remaja yang sedang kasmaran. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak meluangkan waktu berduaan. Revan menatap Shinta begitu dalam, Shinta maupun Revan terbawa oleh suasana dan Revan dengan perlahan membaring kan tubuh sang isteri.
Terjadi lah adegan suami dan isteri. Tapi di skip yaa, Kakak-kakak bisa membayang kan sendiri saja wkwk.