
Shinta, Revan dan ke dua orang tua Queen bergegas pergi ke rumah Caca menaiki mobil Revan.
Queen yang masih merasa bersalah pun memeluk adik nya meminta maaf, ia tak tahu jika Krystal melakukan itu semua demi keselamatan orang tua mereka. Selama ini, Queen sudah berfikiran yang buruk pada adik nya.
"Sudah, Lah kakak! Aku nggak apa-apa. Sebelum kakak meminta maaf, adik mu ini udah memaaf kan segala nya."
"Sekali lagi, Maaf kan aku ya, Krys!"
"Aku senang sekarang, akhir nya kau mengetahui kebenaran yang ada. Krystal tak seburuk yang kau kira. Kalian sudah hidup bersama-sama selama bertahun-tahun. Sedari kecil kalian bersama, Mengapa kau tidak memahami juga sifat adik mu?" tanya Raffa pada Queen.
"Iya, Aku salah! Dan aku sungguh sangat menyesal. Aku terlalu menyayangi kedua orang tua kami."
"Apakah kau berfikir hanya kau saja yang menyayangi orang tua kalian? Krystal tidak?"
__ADS_1
"Ih, jangan begitu! Jangan berkata hal yang membuat Queen semakin sedih dan bersalah. Semua sudah selesai." ujar Krystal yang tersenyum kepada Kakak dan Calon suami nya.
"Aku juga berharap, agar Caca tidak salah paham dengan Revan. Semoga, salah paham itu pun cepat membaik." ujar Queen, Raffa dan Krystal pun berdoa hal yang serupa.
*******
Sesampai di halaman rumah Caca. Shinta, Revan, juga mama nya Queen turun dari mobil. Mereka melihat Caca yang membawa koper. Dengan cepat, Shinta mendekati Caca.
"Ca, Kamu mau kemana? Kenapa membawa koper?"
"Sayang, dengari Tante! Bukan Revan yang membunuh Ibu mu. Karena Tante ada di tempat kejadian." sebelum Caca melanjut kan ucapan nya, Mama Queen memotong pembicaraan Caca. Ia menceritakan segala nya pada Caca. Caca memejam kan kedua mata nya, hati nya semakin sakit. Caca mengira jika mama nya Elsa sudah berubah. Ternyata, itu hanya tipuan semata.
"Ca, kau sudah mengetahui segala nya. Tolong, jangan pergi! Jangan tinggal kan aku, Syifa dan juga Kaynara. Si kembar juga sangat menyayangi mu kan? Mengapa kau tega meninggal kan kami." ucap Shinta yang menangis. Ia tak ingin berpisah dari Caca.
__ADS_1
"Sayang, benar yang Shinta katakan. Revan tidak bersalah, mengapa kau menghukum orang baik seperti mereka, Jika tidak karena Revan. Mungkin saja, nyawa Tante tidak akan selamat."
"Tante, Tolong jangan bicara seperti itu! Jangan membuat Caca semakin merasa bersalah!"
"Sayang, kau sudah mengetahui segala nya. Apalagi alasan mu pergi?"
Caca menoleh ke arah Shinta dan mendekati nya. Caca memegang pipi Shinta, menghapus air mata sahabat sekaligus adik bagi nya.
"Kau adikku, sahabatku, ibu terbaik untuk anakku. Jangan menangis!"Caca menghapus air mata Shinta.
"Kau juga kakak, sahabat terbaik ku. Bahkan, kau ibu yang terbaik. Syifa sangat membutuh kan mu. Kami semua masih membutuh kan mu. jangan, membuat kami lemah tanpa kehadiran mu. Kami nggak sanggup jika harus jauh dari kalian. Tolong, tetap lah di sini!"
"Benar yang di kata kan oleh isteri ku, kau sudah tahu. Jika, bukan aku yang membunuh Ibu mu. Kenapa kau masih saja marah?"
__ADS_1
"Aku tidak marah, tapi saat ini aku sangat kehilangan mama ku. Tolong, aku butuh waktu untuk menenang kan diri ku. Ini hanya beberapa saat saja. Aku mohon, biar kan kami pergi. Aku minta maaf, jika aku sudah menyakiti kalian kemarin. Aku harap kalian menerima keputusan ku. Ini hanya sementara. Aku pamit."