
"Daddy, Syifa percaya dengan Daddy namun."
"Sudah nak, jangan khawatir. Kita akan melewati semua ini bersama, tapi kita juga enggak bisa mengabaikan si kembar Alan dan Alana. Mereka harus ceria dan tidak merasa kehilangan siapapun." ujar Arvan.
Syifa pun mengiyakan ucapan sang Daddy. Ia berharap, jika semua bisa cepat selesai.
******
Shinta masih termenung, Revan memesan kan makanan untuk nya.
"Sebaiknya makan dulu, kamu begitu terlihat stres memikirkan semua nya."
"Bagaimana bisa aku baik-baik saja, anak kita meninggal dengan tidak wajar, dan pembunuh nya masih berkeliaran bebas di rumah. Lalu, orang yang tidak berdosa harus menanggung semua nya."
Revan tau kecemasan yang di alami oleh Shinta, namun ia juga tidak mau terlihat lemah.
Makanan yang di pesan pun datang, Revan menyuapi istri nya.
Ia tidak mau jika Shinta sakit hanya memikirkan hal ini.
"Serahkan semua ini kepada ku, tolong jangan seperti ini..Makan lah." Shinta pun menerima suapan demi suapan yang di berikan oleh Revan.
Walau sebenarnya begitu sulit untuk nya menelan makanan itu.
Shinta mengatakan kepada suami nya untuk tidak membahas ini di dalam mobil dan juga di sekitar rumah.
Ia takut jika mobil itu juga di berikan alat penyadap.
Revan mengerti, ia tidak akan membahas apapun tentang masalah itu jika berada di mobil atau di sekitar rumah mereka.
"Aku sangat takut."
"Jangan takut, kami selalu ada bersama mu." ujar Revan.
Shinta mengangguk, mempercayakan semua nya kepada sang suami.
"Aku mempercayakan semua nya kepada mu." ucap nya.
Revan mengusap kepala Shinta dengan lembut, ia memandangi wajah istri nya yang terlihat sangat kusut.
Tidak bisa di pungkiri, ke dua nya masih larut dalam kesedihan. Namun, harus tetap kuat dan bangkit untuk menemukan pelaku sesungguh nya.
"Sudah, jangan menangis lagi!" ujar Revan.
Ke dua nya telah menghabisi makanan dan minuman yang sudah di pesan.
"Van, aku menemukan sesuatu di kamar anak baby Al."
"Apa?"
Shinta menunjukan satu anting yang tidak ada pasangan nya.
"Punya siapa ini?" tanya Revan. Shinta menggeleng, ia juga tidak tau..
"Tapi keluarga kita tidak mempunyai anting seperti itu, dan juga jennika. Aku sangat hafal betul dengan semua perhiasan nya. Dia tidak menyukai model anting seperti ini."
"Ini sebuah petunjuk, ada kemungkinan ini milik si pelaku." ujar Revan.
Shinta mengangguk setuju.
"Kamar anak-anak tidak bisa di masuki oleh sembarang orang, hanya pengasuh dan pelayan yang membersihkan kamar saja.."
"Dan aku juga tidak pernah melihat para pelayan memakai anting ini."
"Apa mungkin pengasuh nya salah satu di antara mereka?" tanya Revan lagi, Shinta pun mengatakan jika diri nya tidak tau pasti.
"Kita harus memeriksa mereka semua." ucap Revan.
Shinta menolak, ia tidak setuju.
"Jangan, itu sangat beresiko."
"Lalu?"
"Kita harus melakukan hal lain!" ucap Shinta, sesekali ia membuang nafas dengan gusar.
Mengapa semua serumit ini, persidangan jennika juga sebentar lagi.
Mereka hanya mempunyai waktu seminggu untuk mencari bukti jika jennika tidak bersalah.
"Aku juga akan menunjukan barang bukti ini kepada Arvan. Siapa tau, mereka bisa membantu kita." ucap Shinta.
Revan pun setuju dengan ucapan istri nya.
Sebisa mungkin, mereka akan mencari pelaku itu secepat nya.
Revan ingin menyimpan anting itu, namun Shinta tidak memberikan nya.
"Tidak, biar aku yang simpan. Aku tau kamu orang nya sangat ceroboh. Kita bisa kehilangan bukti ini."
Shinta kembali menggulung anting itu di kertas, lalu menyimpan di dompet yang terdapat kancing resleting.
"Yakin di situ aman?" Shinta mengangguk, karena tidak ada yang pernah membuka dompet nya.
Dan dompet itu selalu di sisi Shinta.
"Menurut ku, lebih baik simpan dompet itu di brankas kita. Jika kau terus membawa nya aku takut hilang."
__ADS_1
Shinta menurut dengan ucapan Revan. Ia mengatakan jika mereka sampai di rumah ia langsung menyimpan dompet tersebut di brankas pribadi nya.
"Ini sangat penting untuk kita."
Sebelum Shinta menyimpan anting itu kembali, Revan sudah mengambil gambar anting tersebut.
Ia tau jika model anting itu keluaran lama, itu anting punya orang tua atau turun menurun.
Revan mengajak istri nya kembali ke rumah, Shinta sangat merindukan anak-anak nya.
Ia meminta kepada Revan untuk singgah ke rumah Caca dan Arvan terlebih dahulu.
Revan pun melajukan mobil nya ke arah rumah Caca dan Arvan.
Sesampai di sana, Shinta turun dari mobil. Ia mengetuk pintu rumah Caca dengan sopan.
Revan memencet bel yang ada di depan, tak butuh waktu lama.
Pelayan Caca keluar membuka kan pintu. Caca pun menghampiri ke dua nya di luar..
"Tata, Revan. Ayo masuk!" Caca mempersilahkan ke dua nya untuk masuk.
Caca menggandeng tangan Shinta, terlihat anak-anak sedang bermain senang dengan Arvan.
"Mama." panggil Alana yang melihat kedatangan mama nya, si kembar pun berlari ke arah Shinta.
Shinta mendekati ke dua anak nya, ia pun berjongkok untuk sejajar dengan si kembar.
Ke tiga nya berpelukan dengan erat, Shinta mengatakan jika ia begitu merindukan anak-anak nya..
"Alan juga lindu sama mama!" ujar Alana yang mengeratkan pelukan mereka.
Syifa mendengar suara mama nya datang, ia pun langsung datang dan berlari ke arah Shinta.
Shinta melepaskan pelukan nya dari si kembar. Ia mendekati Syifa dan memeluk Syifa begitu erat.
"Mama sangat merindukan kamu nak, terimakasih karena kamu sudah memahami apa yang mama ajarkan selama ini."
Shinta menangis di pelukan anak nya, Syifa menguatkan ibu sambung nya itu untuk tetap bertahan melewati badai yang sedang menimpa keluarga mereka.
"Ma, kita harus kita melewati badai ini. Mama jangan lemah, jika mama lemah kita juga akan lemah. Jangan mau di kalahkan oleh badai ini ma, mungkin badai ini begitu besar dan menakutkan. Namun, jika kita bersama-sama menghadapi nya semua tidak akan berat."
Shinta mengangguk, ia akan bertahan demi anak-anak nya yang lain.
"Iya, nak. Kita akan melewati badai ini bersama-sama. Mama tidak akan lemah hanya karena badai seperti ini."
Syifa menjauhkan tubuh nya dari Shinta, menghapus air mata Shinta. Mengecup ke dua pipi Shinta secara bergantian.
"Mama Syifa memang mama hebat, jangan menangis lagi. Adik Al juga sudah tenang di sana."
"Anak ku, sayang."
Arvan meminta Caca untuk membawa anak-anak ke dalam kamar agar mereka bisa membahas masalah ini dengan tenang.
Caca pun membawa anak-anak ke kamar, Syifa dan Raisa juga tidak terlalu sulit untuk di atur.
Namun, membujuk si kembar Alan dan Alana butuh tenaga yang lebih sabar, terutama menghadapi Alana.
Shinta memberikan pengertian perlahan kepada anak nya. Akhir nya Alana pun mengerti dan mendengarkan ucapan Shinta.
Shinta tersenyum, mengecup ke dua pipi anak nya secara bergantian..Ia juga mengungkapkan rasa sayang nya yang begitu besar kepada anak-anak.
Shinta sudah kehilangan anak bungsu nya, Al. Dan dia tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Tak akan Shinta biarkan orang lain menyakiti anak-anak dan juga keluarga nya.
Syifa, Raisa membawa di kembar ke kamar. Awal nya Caca yang ingin mendampingi ke empat anak nya namun Syifa mengatakan jika ia bisa menjaga adik-adik nya.
"Raisa juga akan membantu kakak menjadi si kembar, Mi." ucap Raisa.. Kini, Caca tidak perlu merasa khawatir.
Saat memastikan anak-anak sudah naik ke atas, Caca mengajak Shinta dan juga Revan untuk duduk di ruang keluarga agar mereka bisa mengobrol lebih santai.
Namun, Shinta tidak mau. Menurut nya, pembicaraan ini begitu privasi.
Ia tidak mau pelayan atau pekerja rumah Caca mendengar kan nya..
Shinta jauh lebih waspada sekarang.
Caca mengajak ke dua nya untuk pergi ke ruang kerja Arvan, suami nya.
"Ruangan itu endap suara. Dan juga tidak ada cctv. Atau pun penyadap lain nya, sangat aman."
Shinta mengangguk, dia dan suami nya mengikuti Caca dan juga Arvan yang berjalan menaiki anak tangga menuju ruang kerja Arvan.
Setelah masuk ke dalam ruang kerja Arvan, ia membuka satu ruang rahasia. Yang tidak ada yang tau kecuali ia dan juga Caca.
Shinta dan Revan begitu kagum.
"Kami sengaja membuat ruangan ini untuk keperluan darurat. Tidak perlu khawatir, tidak ada yang tau. Hanya kita ber-empat. Di dalam kita juga memantau seluruh keadaan rumah dan juga luar."
Arvan menjelaskan ia membuat ruang rahasia jika sesuatu hari ada bahaya masuk ke dalam rumah mereka. Mereka bisa bersembunyi di sini.
Ruangan rahasia itu seperti rumah yang cukup lebar, di dalam nya terdapat stok makanan dan bahan baku lain nya.
Jangka waktu nya juga sangat lama, berjaga-jaga jika mereka harus bersembunyi dalam waktu yang cukup lama.
"Bangunan ini juga anti ledak. Jadi, sangat aman."
Shinta melihat aktivitas anak-anak dari cctv, ia juga melihat keadaan di ruang kerja Arvan.
__ADS_1
"Katamu tidak ada cctv di sana."
"Ada, dan hanya kita yang tau. Hanya untuk memastikan keamanan saja. Namun, pelayan juga begitu jarang masuk ke ruangan kerja Arvan."
"Ta, apa yang ingin kau katakan?"
Shinta menoleh ke arah suami nya Revan mengeluarkan ponsel milik nya.
Ia menunjukkan gambar yang ada di ponsel nya.
"Anting?" tanya Caca.
Shinta dan Revan mengangguk.
"Shinta menemukan nya di kamar baby Al."
"Saat aku ke kamar baby Al, tidak sengaja anting itu tersangkut di baju Ku. Karena aku merebahkan badan di tempat tidur Al. Saat aku bangkit, anting itu tersangkut,"
Shinta memberikan penjelasan bagaimana ia bisa mendapatkan anting itu.
Caca mengamati anting itu, ia merasa tidak asing dengan gambar anting yang tidak terlalu jelas.
"Anting ini keluaran lama, pasti ini punya orang tua atau mungkin anting ini adalah turun menurun." ujar Arvan..
"Kau benar, dan seperti nya anting ini tidak sembarangan orang yang memiliki nya." ucap Revan kembali.
Caca merasa tidak asing dengan anting tersebut, ia bertanya kepada Shinta apakah ia membawa anting itu.
Shinta mengangguk, ia mengeluarkan anting yang ada di dompet nya.
Caca memegang anting itu, air mata nya menetes.
Ia ingat dan tau betul anting itu milik siapa.
Shinta, Revan dan Arvan bertanya mengapa Caca menangis setelah melihat anting itu.
"Ca, kenapa kamu menangis? Apa kamu tau siapa pemilik anting itu?"
Caca terdiam, ia mengatakan kepada Arvan untuk mengantarkan nya ke rumah sang papa.
"Tolong, Antar aku ke rumah papa."
"Kenapa, sayang?" tanya Arvan yang bingung.
Shinta dan Revan juga merasa bingung, apa yang sebenarnya terjadi kepada Caca.
"Ca katakan sesuatu, apa kau mengetahui tentang anting ini?" Shinta menggoncang tubuh Caca. Namun Caca hanya diam.
"Kita harus ke rumah papa ku. Biar semua nya jelas."
Arvan, Revan, Caca dan juga Shinta ke luar dari ruang rahasia itu..
Mereka pun segera pergi menuju rumah papa Caca.
Namun sebelum itu, Caca menitipkan pesan kepada pelayan nya untuk menjaga anak-anak.
Caca juga memberitahu Syifa untuk tidak kemana-mana sebelum mereka kembali.
Shinta tidak tenang jika harus meninggalkan anak-anak.
"Lalu, bagaimana? Apakah kita membawa anak-anak?"
"Jangan! Ada boddy guard di sini..Kita tidak perlu khawatir dan yang penting anak-anak tidak keluar dari rumah."
"Tapi aku enggak mau ambil resiko."
Caca menangis, Arvan menenangkan istri nya. Terlihat tangan Caca lemas dan gemetar, Arvan pun mengatakan akan meletakkan anak-anak di dalam ruang rahasia.
"Menurut ku itu hal yang bagus."
Caca memanggil anak-anak. Ia membawa Syifa, Raisa, Alan, Alana dan baby Khanza ke dalam ruang rahasia.
Caca juga memberikan stok ASI nya kepada Syifa.
"Nak tolong jaga adik-adik mu. Dan apapun yang terjadi jangan ke luar dari sini, di belakang banyak stok makanan dan fasilitas yang kalian butuh kan. Apapun yang kalian lihat nanti jangan pernah membuka pintu ini ya, sayang. Dan siapapun yang membujuk untuk membuka nya kalian jangan buka! Oke? Mama dan papa bisa membuka pintu ini sendiri, kalian cukup berjaga-jaga di sini." Caca memberikan pesan kepada Syifa.
Arvan, Revan dan juga Shinta mengerti jika ini masalah yang besar.
Shinta kembali mengingatkan anak nya apa yang sudah di pesankan oleh Caca..
Syifa mengerti apa yang harus ia lakukan, ia mengatakan kepada orang tua nya untuk tidak khawatir.
Caca tidak membiarkan pengasuh atau pekerja lain nya masuk ke dalam ruangan kerja suami nya.
Saat ini, ia tidak bisa mempercayai siapa pun. Siapa saja bisa menjadi pengkhianat.
Setelah memastikan anak-anak aman, mereka pun segera pergi ke luar rumah.
Arvan tetap memberikan arahan kepada boddy guard nya untuk tetap waspada dan berjaga-jaga.
Shinta menghubungi ke dua mertua nya untuk segera keluar dari rumah itu.
Lily tidak mengerti apa yang terjadi. Namun, menantu nya meminta ia dan suami nya untuk pergi.
Caca meminta Lily untuk pergi ke rumah nya, mungkin lebih aman untuk Lily dan juga Tommy.
Caca pun memberikan kode akses untuk Lily dan Tommy masuk ke dalam ruang rahasia tersebut.
__ADS_1