Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 79


__ADS_3

Seminggu sudah kepergian Rayhan, rasa sakit akan kepergian Rayhan perlahan mulai memudar. Revan dan Syifa selalu ada untuk Shinta dan menjadi kekuatan bagi nya, Shinta mencoba untuk ikhlas akan kepergian mantan kekasih sekaligus sahabat untuknya mesti berat namun Shinta harus tetap melanjutkan hidupnya. Masih ada Anak dan suami yang membutuhkan dirinya. Pagi ini, Revan berencana berlibur ke puncak bersama Shinta. Awalnya Shinta menolak, namun Revan memaksa dirinya. Revan sengaja mengajak sang isteri untuk berlibur agar Shinta tak terlalu berlarut dalam kesedihan


"Kamu dah siap?" Tanya Revan memeluk Shinta dari belakang


"Udah, semua udah aku siapin"


"Yaudah ayo kita berangkat" Revan membawa koper yang udah disiapin oleh sang isteri


"Apa kita harus pergi tanpa Syifa lagi?" Entahlah, shinta begitu berat jauh dari Syifa.


"Hanya beberapa hari aja sayang, Syifa kan ada mama lili yang Jagain" Shinta membuang nafas dengan perlahan dan mengangguk.


"Okedeh, ayo. Tapi sebelum berangkat kita kerumah ibu dulu ya. Kangen sekalian mau pamit" Pinta Shinta dengan lembut kepada sang suami


"Iya sayang, gemesh banget sih isteri aku" Goda Revan kepada Shinta. Mereka pun keluar kamar menemui mama lili dan Syifa terlebih dahulu


"Ma" Ucap Shinta yang mendekat kepada sang mertua.


"Mau berangkat sekarang?"


"Iya ma" jawab Shinta dan Revan secara bersamaan.


"Kapan papa akan pulang ma?" Tanya Revan


"Sepertinya besok sayang, kalian hati hati ya di perjalanan"


"Kami pergi dulu ya ma" Shinta dan Revan pamit kepada mama lili.


"Sayang, mama sama papa pergi dulu ya. Jangan nakal sama nenek" Shinta mencium kedua pipi Puterinya.


"Iya mama" Syifa memeluk sang ibu, seperti Shinta. Syifa pun tak ingin jauh dari sang mama, namun Revan memberikan pengertian kepada sang anak. Syifa juga tak tega melihat kondisi Shinta yang sekarang begitu lemah dan mudah sakit.


"Mama jaga kesehatan ya" Ucap Syifa, Shinta pun mengangguk.


"Yaudah ma, kita berangkat sekarang ya" Revan dan Shinta berlalu keluar dari rumah menuju mobil. Revan memasukan koper kedalam bagasi mobil. Setelah itu mereka masuk dan melajukan mobil menuju kerumah mama Syafa terlebih dahulu. Sesampai di rumah Syafa mereka pun turun dari mobil.


"Ibu" Shinta mengetuk pintu rumah sang ibu, tak lama kemudian Syafa keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


"Sayang, anak ibu" Syafa langsung memeluk sang Puteri, sikap keibuan Syafa selalu membuat Shinta begitu manja walau umurnya sudah dewasa


"Kangen Bu" rengek Shinta. Syafa pun melepaskan pelukan itu


"Ayo kita masuk dahulu" Syafa mengajak anak dan menantunya masuk.


"Duduklah, biar ibu buatin minum"


"Tidak usah Bu, Tata cuman kangen sama ibu" Rengek Shinta yang membuat Syafa hanya menggelengkan kepala.


"Ohiya dimana cucu ibu?" Tanya Syafa yang mencari keberadaan cucunya


"Syifa dirumah ma, gak ikut" jawab Revan.


"Kenapa gak ikut?"


"Revan dan tata mau berlibur ke puncak ma, jadi Syifa dirumah sama mama lili" ucap Revan memberikan penjelasan. Syafa pun mengangguk mengerti.


"Ayah mana Bu?"


"Ayah lagi keluar sebentar sama pamanmu tadi datang"


"Ohiya nak, kenapa wajahmu pucat begitu. Tubuhmu juga semakin gemuk " Tanya Syafa yang memperhatikan perubahan sang anak.


"Gak kok Bu, Tata gak gemuk perasaan ibu saja" Elak Shinta yang terima dikatakan gendut. Ia memegang pipinya, ia pun menyadari perubahan bentuk tubuh nya


"Aku harus diet, mungkin yang ibu katakan benar" Gumam Shinta dalam hati. Revan pun hanya tertawa.


"Bu, Tata kangen banget sama ibu sama ayah"


"kami juga kangen banget sama anak kesayangan kami" Syafa pun kembali memeluk sang buah hati.


"Anak ibu udah dewasa sekali sekarang ya" Syafa mengelus kedua pipi Shinta dan mencium nya


Sudah 2 jam mereka berbincang-bincang, Shinta dan Revan pamit kepada syafa.


"Hati-hati sayang" Syafa melambaikan tangannya ketika Revan ingin melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Semoga selalu bahagia kalian, dan Tuhan berikan keajaiban untukmu sayang" gumam Syafa dalam hati yang melihat mobil Revan semakin tak terlihat di jangkauan matanya. Syafa pun tersenyum dan masuk kedalam rumah, Syafa memandangi photo Shinta kecil yang ada di ruang tamu, Syafa teringat masa kecil Shinta yang begitu manja dan cerdas.


*flashback


"Ibuuuuuu" Teriak anak kecil yang berlari kearah sang ibunda, orang itu adalah Shinta kecil.


"Sayang" syafa merentangkan kedua tangannya dan memeluk Shinta kecil.


"Ibu, tadi Tata lihat ada temen yang nangis" Adu nya


"Mana sayang?"


"Disitu, ayo ibu kita kesana" ucapnya dengan gemas dan menarik jemari syafa, Syafa pun mengikuti sang anak


"Mana sayang?" .


"Tadi disitu ibu" rengeknya.


"Sekarang sudah tidak ada sayang, mungkin teman tata udah pulang" Syafa pun menggendong tubuh Shinta kecil, ia mencium kedua pipi Puterinya.


"Ibu, tata gak mau jauh dari ibu" peluknya dengan erat.


"Nanti kalau tata besar, tata akan menikah dan meninggalkan ibu nak" ucap Syafa. Namun Shinta menggeleng.


"Tidak mau ibu, tidak mau. Tata gak mau menikah" Shinta kecil pun menangis dipelukkan sang ibu. Syafa hanya tertawa melihat tingkah putrinya.


"Ibu, wanita terbaik di dunia" Shinta kecil menciumi wajah ibunya berulang ulang. Mereka pun kembali pulang kerumah.


"Ibu, ibu" Hebohnya lagi, Syafa pun menoleh ke sang anak.


"Iya nak" Jawab Syafa dengan lembut.


"Tata sayang ibu, sayang yang banyak banget"


"Ibu juga sayang sama tata, yang banyak" gemas Syafa


*Flashback end.

__ADS_1


Sekarang Puteri kecilnya sudah dewasa dan mempunyai kehidupan yang baru, bagi Syafa kebahagiaan sang Puteri diatas segalanya. Sedewasa apapun anak bagi orang tua ia hanyalah bayi kecil nya, kebahagiaan dan kebanggaannya. Kebahagiaan sang buah hati diatas segalanya, begitu juga jika sang buah hati bersedih ibulah yang paling hancur melihat kepurukan sang anak. Syafa masih ingat betul bagaimana dulu hancurnya sang anak karena gagal akan pernikahannya, Syafa tak pernah membenci lelaki yang sudah menyakiti putrinya. Ya, syafa sosok wanita yang begitu lemah lembut, ia tak pernah membenci atau menyalahkan orang lain atas apapun yang terjadi. Ia percaya bahwa semua akan indah pada waktunya, dan saat ini ia melihat kebahagiaan kembali hadir di wajah Puterinya, ia wajah kebahagiaan yang selalu menyejukkan hati nya sebelum peristiwa itu terjadi. Di mana masa-masa terpuruk sang Puteri, Syafa merasa dunia nya juga begitu hancur. Syafa selalu melihat Puterinya yang selalu berpura-pura bahagia. Walau Shinta tidak pernah menunjukkan rasa sakit dan sedihnya namun sebagai seorang ibu Syafa selalu merasakan dan mengerti. Namun hari ini, ia menemukan kembali sosok asli Puterinya yang selalu bahagia tanpa adanya keterpaksaan, Syafa memeluk bingkai photo Puterinya.


__ADS_2