
"Sebaik nya masalah ini, Syifa jangan sampai tahu. Biar, dia juga bisa berbuat seenak nya di sekolah. Syifa memang anak yang baik, sebab itu aku nggak mau kalau karakter Syifa berubah menjadi sombong hanya karena sekolah nya itu punya keluarga nya." ujar Arvan. Shinta, Caca, dan Revan pun setuju. Ke dua orang tua ini, berdiskusi untuk masa depan anak-anak mereka. Dengan kompak nya, mereka memikirkan tumbuh kembang anak-anak, tanpa membedakan anak kandung atau anak tiri.
*******
Di taman, Syifa terlihat begitu sangat kesal. Matanya memerah, ia menahan tangis dan sakit. Sebagian siswa memandang nya dengan tatapan sinis namun tidak berani mengganggu nya lagi.
Syifa melihat ke arah teman nya, dan meneriaki teman-teman nya dengan begitu kesal.
"Kenapa? Apa aku mempunyai salah sama kalian? Kenapa kalian memandang ku seakan melihat penjahat? Apa kesalahan ku!" teriak Syifa yang sudah tidak mampu menahan amarah nya lagi. Sekolah itu bagaikan sesak untuk nya.
Raisa datang, menghampiri Syifa dan memenangkan nya.
"Tenang, Syif. Kenapa kamu berteriak seperti itu? Lihat lah, hampir satu sekolah melihat mu begitu." ujar Raisa yang memberikan Syifa minuman. Syifa meminum minuman pemberian Raisa. Kini, hati nya mulai tenang. Ia juga meminta maaf, kepada teman yang tadi ia bentak.
"Ma-aaf, aku juga tidak mengerti mengapa diri ku sekesal ini." ujar Syifa menoleh ke arah Raisa. Raisa memeluk Syifa, menenangkan teman sebangku nya itu.
"Sudah, tidak apa-apa. Masalah yang kau hadapin tadi, itu mungkin yang membuat mu begitu pusing. Aku mengerti, apa yang kau hadapin dari kemarin di sekolah bukan lah hal yang mudah. Aku juga sama seperti mu, tapi aku juga tidak punya hak untuk marah. Aku hanya lah anak adopsi di sekolah ini, jadi aku tidak mempunyai hak apapun untuk berbicara." ujar Raisa yang merasa sedih, Syifa menatap tatapan sendu teman nya itu. Syifa memeluk Raisa. Setidak nya, diri nya masih mempunyai keluarga yang utuh yang selalu membela nya, sedang kan Raisa. Hanya anak yatim piatu yang di besar kan di panti asuhan.
"Kau begitu beruntung, setidak nya. Keluarga mu, selalu ada untukmu. Tidak seperti aku, yang tidak tahu di mana kedua orang tua ku berada." ujar Raisa dengan sedih.
"Jangan sedih, aku akan selalu ada untuk mu, Raisa. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untuk mu. Mulai sekarang, Kita bukan hanya lah teman sebangku. Kita adalah saudara." ujar Syifa yang tersenyum pada Raisa. Raisa memeluk Syifa dengan erat, ia meneteskan air mata nya.
"Terimakasih, Syif. Aku menyayangi mu."
"Aku juga menyayangi mu, Sa. Jangan bersedih lagi ya? Nanti aku akan mengajak mu bermain di rumah Ku, dan aku akan mengenal kan mu pada seluruh keluarga ku. Mereka orang yang sangat baik." ucap Syifa, Raisa pun melepaskan pelukan mereka, tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Benar kah?" tanya nya kepada Syifa dengan mata berbinar.
"Benar, aku janji." ujar Syifa.
"Sa, aku boleh bertanya?" tanya Syifa kembali, Raisa menoleh ke arah nya.
"Bertanya lah, aku tidak melarang mu."
"Usia mu dua tahun lebih muda dari ku, namun kenapa kau bisa duduk di bangku SMP? Seharusnya kau masih SD bukan?" tanya Syifa yang penasaran.
"Iya, seharusnya aku masih SD. Di panti, kami tidak mempunyai orang tua. Hanya ada ibu panti, ibu panti memasukkan ku sekolah dasar saat umur ku berusia lima tahun. Seharusnya di umur tujuh tahun."
"Iya, aku juga masuk SD saat umur ku tujuh tahun." ucap Syifa.
"Ibu panti bilang, dulu aku anak yang begitu pintar. Jadi, ibu panti memutuskan untuk aku sekolah SD. Awalnya, aku sekolah TK. Tapi, aku tidak mau dan langsung ingin sekolah dasar."
"Dan untung nya, sekolah ini berbaik hati meng-apdosi ku. Menjadikan ku anak didik. Jadi, aku tidak perlu membayar uang sekolah dan uang yang lainnya. Mereka juga memenuhi segala kebutuhan ku." ujar Raisa kembali yang memberikan penjelasan.
Kini, Syifa mengerti. Kedua nya, saling menceritakan kehidupan mereka satu sama lain.
"Jadi, kau mempunyai dua ibu dan dua ayah? Enak sekali ya, pasti sangat menyenangkan."
"Iya, begitu. Dulu, mama ku juga meninggalkan ku saat aku berumur satu bulan. Tapi, mama ku tidak jahat! Dia meninggalkan ku demi kebaikan ku dan papa ku. Mama ku telah berkorban banyak demi kami."
"Lalu, kedua orang tua mu sama-sama menikah lagi?" tanya Raisa kembali yang begitu penasaran.
__ADS_1
"Mama ku menikah karena keadaan, di paksa oleh Oma ku. Sedangkan, Papa ku menikah lagi saat aku berumur lima tahun. Itu juga karena pilihan mu."
"Berarti, kau begitu dekat dengan Ibu sambung mu?"
"Begitu lah, aku sangat dekat dan menyayangi Mama Shinta."
"Namanya mama Shinta?"
Tak terasa obrolan panjang itu di hentikan oleh lonceng berbunyi, menandakan seluruh murid harus masuk ke kelas mengikuti jam pelajaran selanjut nya. Syifa dan Raisa memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran selanjut nya. Syifa dan Raisa kembali fokus dengan pelajaran hingga lonceng pulang berbunyi.
"Ayo, Kita bermain ke rumah ku." ajak Syifa, Raisa begitu ingin. Namun, peraturan di sekolah untuk anak adopsi sangat lah ketat. Ia pun mengurungkan niat nya.
"Bukan aku tidak ingin, tetapi asrama begitu ketat dengan peraturan nya. Kami tidak akan bebas keluar."
"Aku akan menyuruh papa ku untuk meminta izin pada pihak sekolah, bagaimana?"
"Apakah itu tidak merepotkan?"
"Tidak, sebentar ya. Aku hubungi papa ku dulu." Syifa mengambil ponsel dan menghubungi Revan, papa nya.
Revan pun mengiyakan ucapan anak nya dan menelpon pihak sekolah. Pihak sekolah memberikan izin dan harus kembali ke asrama paling lama jam lima sore. Revan memberitahu anak nya. Syifa begitu senang
"Papa ku sudah meminta izin, pihak sekolah mengizinkan nya. Ayo!" ajak Syifa dengan penuh semangat, untuk pertama kali nya. Syifa memiliki teman yang begitu dekat dengan nya. Syifa dan Raisa memang sudah berteman, namun tidak terlalu dekat seperti hari ini. Syifa mengajak Raisa menaiki mobil pribadi khusus untuk antar jemput diri nya ke sekolah.
"Kau begitu sangat beruntung, di berikan fasilitas yang sangat mewah. Uang jajan mu juga pasti banyak, kenapa kau tidak pernah mau jajan di sekolah?"
__ADS_1
"Kan aku sudah bilang, mama ku selalu membawakan bekal untukku. Makan ku juga tidak terlalu banyak, jika aku jajan. Bekal yang mama ku siap kan pasti tidak termakan, mama ku pasti sangat sedih. Aku tidak ingin melukai hati mama ku."