Ibu Sambung

Ibu Sambung
Hidup Bahagia


__ADS_3

Syifa hanya menggeleng tak percaya, adiknya jauh berbeda dari yang sepuluh tahun ia kenal lalu.


Saat Khanza pun menaiki anak tangga dan hanya ada Syifa, Caca dan juga Arvan. Syifa pun ingin berbicara kepada kedua orang tuanya "Syifa mau bicara dengan mami dan Daddy!"


Arvan mengangguk, mengajak anaknya untuk duduk di ruang keluarga. Sedangkan Syifa meminta pelayan untuk membantu adiknya Khanza membersihkan diri. Syifa tahu jika adiknya yang mandiri bisa melakukan itu, hanya saja Khanza baru ke rumah Caca dan mungkin akan kesulitan melakukan sesuatu. Jika ini di rumahnya, Khanza pasti sudah terbiasa mandi sendiri


"Nak, kamu mau bicara apa?" Arvan duduk di samping istrinya. Syifa pun menghampiri "Tentang Raisa, Raisa yang dahulu aku kenal enggak seperti itu. Ada apa ini? Maksud ku, Raisa sangat mandiri dahulu apalagi ia tinggal di panti asuhan. Dan sekarang, ia bersikap seperti dirinya tidak pernah merasakan pahitnya hidup di sana. Mami, lihat lah! Sikapnya sangat buruk sekarang!"


"Lalu, kamu mau menyalahkan mami untuk ini semua?" Tanpa berbasa-basi Caca bertanya kepada anaknya bahkan kelembutan Caca sudah hilang.


"Tidak! Syifa tidak menyalahkan mami, namun melihat kalian sekarang. Mengingat kan aku dengan kesombongan dan keangkuhan nenek Elsa!" Caca terdiam dengan ucapan anaknya.


"Mi, apakah uang segalanya? Dan uang bisa membuat orang lain bersikap kurang ajar?"


"Nak, mami enggak paham dengan maksud kamu!"


"Seperti kata pepatah, buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya! Begitu lah sekarang Raisa, ia menunjukkan sisi gelap dari nenek Elsa. Dan jika ini kepanjangan, ia bisa menyakiti siapa saja demi ambisi nya, mami jangan melupakan tentang kesalahan Raisa yang sengaja menjauhkan kalian dari kami. Kenapa? Karena ia merasa tersaingi dan ia bisa melakukan hal yang seperti itu!"

__ADS_1


"Tapi mami percaya dengannya, dia tidak akan melakukan hal yang akan membuat mami sedih!"


"Oh iya? Tapi buktinya dia sudah melakukan itu, saat kami berusaha ingin bicara kepada kalian di Penang. Apakah Raisa memberinya? Tidak! Bahkan ia tidak memikirkan kami, oke dia tidak memikirkan aku sebagai kakaknya enggak apa-apa! Tapi saat itu dia punya adik bayi yang masih sangat kecil, yang masih butuh dukungan dan perhatian! Bukan dirinya!"


"Mami enggak paham sama yang kamu katakan, kamu tahu kan apa alasan Raisa melakukan itu?"


"Iya, karena fokus dengan kesehatan Daddy, tapi nyatanya? Mami sudah salah mengambil keputusan mami, seharusnya dahulu yang mami bawa adalah Khanza. Bukan Raisa! Lihat sekarang, semuanya kacau! Apa mami tahu? Karena mengingat dan menjaga amanah dan anugerah yang sudah mami titipkan kepada mama Shinta. Alana merasa terabaikan, ia sedih bahkan selalu ada keributan di rumah. Dan sekarang, saat kalian kembali, di rumah ini juga selalu ada keributan. Dan itu siapa yang buat? Raisa! Seharusnya mami sadar, kalau Raisa melakukan itu bukan demi kesehatan Daddy. Namun demi mewujudkan semua egoisnya!"


"Sayang, kenapa kamu mengatakan hal itu?"


Syifa pun bangkit bergegas ke kamar, melihat adiknya. Di tangga, ia berpas-pasan dengan Raisa, Syifa pun mengabaikan adiknya dan naik ke atas "Kak tunggu!"


Raisa memanggil Syifa, Syifa pun berhenti namun tak menoleh "Aku rindu kakak ku yang dulu!" Raisa mengatakan itu dengan air mata berlinang, membasahi pipinya


Syifa membalikan badannya "Sama! Kakak juga merindukan adik kakak yang dahulu! Raisa yang lemah lembut, Raisa yang hatinya baik dan Raisa yang tidak egois dan tidak manja!" Syifa mendekati Raisa dengan sorotan mata yang serius.


"Kak, aku masih sama seperti yang dulu!" Syifa tersenyum, ia pun menggelengkan kepalanya "Tidak! Kamu berbeda, kakak kehilangan adik kakak yang dulu!"

__ADS_1


"Kak, aku melakukan ini agar mami dan Daddy fokus sayang ke aku, apa aku salah?"


"Salah! Itu salah Raisa! Semua orang menyayangi kamu, namun kamu egois. Tidak mau membagi perhatian dan kasih sayang ke dua orang tua kita! Kamu hanya ingin sendirian, kamu enggak perlu memikirkan kakak! Karena kakak sudah besar, yang kamu pikirkan adalah Khanza! Adik kita yang masih sangat kecil, ia pun masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari mami dan Daddy. Tapi apa yang kamu lakukan? Dengan wajah polos kamu, namun hati kamu berhati iblis! Penuh dengan iri dan kemarahan! Dan kamu tahu? Kamu begini seperti nenek Elsa! Dan jangan mengira kakak akan tinggal diam! Jika kamu berani menyakiti keluarga kita, kamu berharapan dengan kakak!"


"Kak, kau enggak mau kita bermusuhan seperti ini!" Raisa terisak namun Syifa tahu itu adalah air mata kepalsuan, Raisa tidak tulus dan hanya ingin mencari simpati semua orang


"Kakak tidak memusuhi kamu! Kakak hanya melakukan apa yang menurut kakak benar, jika kamu sampai menyakiti hati keluarga. Kakak yang akan menjadi lawan kamu! Jangan mengira kakak tidak tahu segalanya dan rencana kamu! Kakak tahu segalanya, dan kakak enggak akan tinggal diam Raisa!"


"Kak, tapi aku hanya ingin bahagia tinggal di Penang dengan mami dan Daddy. Itu saja! Aku sayang sama kakak, aku sayang sama Khanza. Dan aku tahu, kalian sudah bahagia di sini tanpa kami, Begitu juga aku! Kakak tahu bukan, kakak selalu berlimpah kasih sayang dari mama Shinta. Sedangkan aku? Aku di buang di panti asuhan, aku sendirian tidak punya siapa-siapa. Bahkan, masa kecil ku pernah di jadikan pengemis oleh kedua orang tua angkat ku. Dan saat aku bertemu dengan kedua orang tua kandung ku, kasih sayangnya di bagi oleh Khanza saat itu. Saat Khanza masih sangat bayi, Khanza dapat merasakan ASI mami! Sedangkan aku?"


"Lalu bagaimana dengan aku Raisa? Kau tidak memikirkan aku juga?"


"Tapi, kakak tinggal dengan om Arvan. Papa kandung kakak, hidup kakak juga enak apalagi ada mama Shinta jauh berbeda dengan aku kak! Dan saat kami di Penang. Mami memberikan kasih sayangnya kepada aku! Tanpa terbagi, aku di manja. Dan aku terbiasa dengan itu kak! Tolonglah kakak mengerti, hiks!"


Syifa membelai rambut adiknya dengan lembut "Andai yang mengatakan ini adalah Alana. Kakak dapat memahami bagaimana penderitaannya, bagaimana kesedihannya. Ia rela kasih sayang mamanya di bagi untuk orang lain, tapi kau? Khanza adalah adik mu, mengapa kamu begitu egois ingin memiliki mami dan Daddy sendirian. Sedangkan mereka juga milik Khanza, Khanza memiliki hak penuh atas mami dan Daddy, Raisa! Coba lah mengerti, dan jangan egois seperti ini. Jika kamu bisa memahami semuanya, kakak yakin hidup mu akan tenang. Dan keluarga kita akan hidup bahagia!"


Syifa mengecup kening adiknya dengan penuh kasih dan sayang! Ia sangat menyayangi Raisa, namun ia tidak akan membiarkan Raisa melakukan hal yang akan menyakiti atau merugikan orang lain, terutama keluarga!

__ADS_1


__ADS_2