
Revan memeluk putri sulung nya, ia meminta kepada anak nya agar menjaga adik-adik yang lain.
Syifa pun mengatakan kepada papa nya jika tidak perlu khawatir, ia akan menjaga si kembar.
"Papa jangan khawatir, lagi pula ada Mami dan juga Daddy, mereka akan menjaga dan melindungi kami."
Revan meminta tolong kepada Caca juga Arvan untuk menjaga anak-anak nya.
Ia pun berlalu pergi meninggalkan mereka
Revan melajukan mobil nya dengan cepat, ia khawatir dengan istri nya di rumah. Mengapa Shinta tidak memberitahu nya dari awal.
Pantas saja sikap istri nya itu berbeda.
Sesampai di rumah, Revan langsung menghentikan mobil nya di depan halaman.
Revan segera masuk dengan terburu-buru. Namun ia mengingat pesan Caca dan yang lain nya agar bersikap biasa saja seolah tidak ada kejadian.
Ia pun berlari menaiki anak tangga satu per satu.
Revan membuka pintu kamar nya, terlihat Shinta sedang duduk diam di tepi ranjang.
Revan mendekati istri nya, memegang salah satu tangan Shinta dan bermain kode sos di telapak tangan Revan.
"Tangan mu terlihat sangat lembut."
Shinta menatap mata istri nya. Shinta pun mengangguk, menandakan memang ada bahaya di rumah mereka.
"Memang tangan ku sangat lembut, karena kau tidak pernah membiarkan ku bekerja."
Mereka berbicara seperti tidak ada kejadian.
Shinta pun bernafas dengan lega, ternyata anak nya Syifa memahami kode yang sudah ia berikan.
Ponsel Shinta berbunyi ada pesan masuk dari Caca.
Revan pun mengangguk, memberikan isyarat jika Shinta tidak perlu merasa takut.
Syifa sudah memberitahu kami tentang kode yang kau isyarat nya. Tolong, beritahu kami melalui pesan bahaya apa yang terjadi agar kami bisa membantu. Jangan tegang tata, bersikap lah biasa saja seolah rekan kerja mu yang memberikan pesan ~Caca
Awal nya Shinta merasa ragu, namun ia harus terlihat tertawa.
"Siapa yang memberikan pesan kepada mu?" ucap Revan seakan tidak tau, sebenarnya ia tau jika yang memberikan pesan kepada istri nya itu adalah Caca.
"Ini grup para dokter gigi, mereka memberikan lelucon untuk ku." bohong Shinta.
__ADS_1
Ia pun segera mengetik dan membalas pesan Caca.
Aku tidak tau siapa dalang dari ini semua, tapi aku yakin bukan jennika pelaku nya. Karena sebelum kejadian itu, jennika tidak ada di rumah. Dan setelah jennika ada di rumah, kamar nya selalu aku kunci dari luar. Bagaimana bisa jennika bisa melakukan itu sedangkan kamar nya aku kunci dari luar? Aku juga menemukan beberapa cctv penyadap dan penyadap suara. Pelaku nya masih ada di rumah, tolong jangan biarkan anak-anak kembali ke rumah sampai aku menemukan pelaku nya. Itu sangat berbahaya untuk keselamatan anak-anak. ~Shinta
Shinta mengirimkan pesan itu kepada Caca. Ia berharap agar caca bisa memberitahu pesan nya kepada Revan.
Shinta pun kembali mengirim kan pesan kembali kepada Caca.
Tolong percaya lah kepada ku, bukan jennika pelaku nya. Namun, aku harus menemukan bukti jika memang bukan jennika pelaku nya. ~Shinta
Setelah mengirimkan pesan ini, Shinta langsung menghapus nya. Ia tidak mau mengambil resiko lagi.
Revan pun mendapatkan pesan dari Caca yang meneruskan pesan Shinta tadi.
Revan menatap istri nya, Shinta mengangguk memberikan kode.
Revan mencoba memahami dan apa yang di katakan oleh istri nya memang masuk akal
Ia mengerang geram, ingin sekali Revan menemukan pelaku yang sebenarnya itu.
Shinta takut jika suami nya kehilangan kendali, namun ternyata tidak. Revan masih bersikap biasa saja.
Hati nya pun lega.
Caca sudah meneruskan pesan Shinta kepada Revan.
Ia pun meminta kepada suaminya untuk membantu keluarga Shinta memecahkan masalah yang Ada.
"Aku akan membantu mereka, pasti..Tapi, kita juga tidak bisa gegabah. Kita juga harus melindungi keselamatan anak-anak di sini. Aku takut, ini sebuah jebakan..Dan yang di incar oleh pelaku nya sebenarnya adalah anak-anak..Kita enggak boleh lengah menjaga mereka."
Caca mengangguk, ia akan menjaga anak-anak. Caca juga ingin agar mereka tidak menggunakan baby sister lagi.
Karena semenjak kejadian baby Al, Caca tidak percaya dengan orang asing.
Arvan mengatakan kepada istrinya untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun. Namun, mereka juga harus tetap waspada.
"Daddy, bagiamana? Apakah sudah ada solusi?" tanya Syifa yang menghampiri Arvan.
"Sayang, papa sudah sampai di rumah. Kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik aja. Mama shinta juga mengatakan untuk kalian tetap di sini sampai semua masalah selesai."
Syifa pun bersedih, mengapa keluarga nya jadi seperti ini..
Dulu, mereka begini karena ada nenek nya Elsa yang jahat. Namun, nenek nya sekarang telah tiada.
Siapa manusia yang masih tega mengganggu ketenangan nya.
__ADS_1
******
Di sisi lain, Syafa dan Gunawan sudah sampai di pemakaman cucu mereka.
Hati nya begitu hancur, merasa menjadi nenek yang tidak berguna.
Ia menangis memeluk makam sang cucu.
"Maafkan nenek, sayang..Seharusnya nenek ada di masa-masa sulit kamu."
Gunawan memegang bahu Syafa, walau ia merasa kecewa namun ia juga tidak bisa melihat istri nya menangis begitu.
"Tenangkan diri kamu, Bu."
"Mas, ini semua kesalahan saya. Saya gagal menjadi nenek dan juga ibu untuk Shinta dan anak-anak nya."
"Jangan mengatakan hal itu, semua sudah berlalu. Yang terpenting saat ini, Kita mendoakan untuk ketenangan baby Al."
Syafa menangis di pelukan suami nya, tepat di hadapan makam sang cucu ia menyesali sikap nya itu.
"Mengapa bisa saya mengabaikan anak dan cucu saya, mas? Saya begitu merasa bersalah, dan lihat lah anak kita. Ia begitu marah kepada saya."
Gunawan memeluk isteri nya, ia juga tidak bisa terus menerus menyalahkan sang istri. Gunawan tau jika istri nya itu tidak sengaja
"Dia hanya kecewa sesaat, sudah lah. Nanti di saat hati nya sudah tenang dan membaik, semua nya akan baik-baik aja."
Syafa pun mengangguk, Gunawan mengajak istri nya untuk kembali ke rumah.
Syafa pun menuruti ucapan suami nya, ia tidak mau membantah lagi.
Gunawan pun menuntun istri nya yang begitu lemah, tiada henti nya Syafa meminta maaf.
"Sudah, sudah."
Mereka pun kembali ke rumah, Rayhan yang melihat Syafa pulang langsung menghampiri dan memeluk Syafa.
"Ma-mama jangan nan-nangis."
Syafa memeluk Rayhan dengan lembut, apakah salah jika ia menyayangi dan menganggap Rayhan seperti anak nya?
Syafa hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak nya, dan menurut nya Rayhan masih membutuhkan banyak perhatian dan juga kasih sayang.
Gunawan langsung masuk ke kamar, ia tidak pernah membenci anak angkat mereka itu.
Bahkan, Gunawan juga menyayangi anak angkat nya. Namun, Gunawan hanya ingin istri nya bersikap bijak dan adil kepada anak-anak mereka agar tidak ada yang merasa cemburu.
__ADS_1