
Shinta yang tak suka dengan ucapan Caca langsung memukul Caca dengan keras
"Aw." Caca pun meringis kesakitan. Ia bertanya kepada Shinta mengapa memukul diri nya. Shinta mengatakan jika ia tidak menyukai ucapan Caca.
"Makanya jika bicara itu di pikirkan dahulu, jangan asal bicara saja! Jika kau ibu yang buruk, lalu aku apa? Tidak ada Ibu yang buruk di dunia ini. Semua ibu itu hebat, jadi jangan mengatakan hal itu lagi lah!"
Terlihat wajah tak suka dari Shinta, ia merasa kesal dengan Caca karena selalu menganggap diri nya sendiri ibu yang buruk. Padahal, Caca adalah ibu yang terbaik.
Demi kebahagiaan anak nya, dia rela meninggalkan Syifa. Bagaimana bisa Caca mengatakan ia ibu yang buruk. Caca pun membujuk dan meminta maaf kepada Shinta.
"Maaf kan aku, aku berjanji tidak akan mengatakan itu. Tolong, jangan marah ya? Suami ku baru saja memaafkan ku, masa kau yang gantian ingin marah padaku."
Ucapan Caca yang begitu lembut membuat Shinta pun luluh, Caca langsung memeluk Shinta dengan erat dan penuh kasih sayang.
"Sudah, lepaskan! Aku bisa tidak bernafas jika kau memeluk ku seperti itu!"
"Biarin." ujar Caca yang tak perduli dengan keluhan Shinta.
Ibu Syafa yang melihat itu pun merasa senang melihat pemandangan yang ada di depan. Ia berharap, jika cucu-cucu nya akan akur seperti ke dua anak nya itu.
Walau Caca bukan anak kandung ibu Syafa, namun ia menyayangi Caca seperti anak nya sendiri.
.********
"Alana." panggil Syifa dengan lembut, melihat Alana yang menangis di pelukan sang papa. Syifa pun segera menghampiri adik nya. Begitu juga dengan Alana, yang mendengar suara kakak nya langsung turun dari pangkuan papa nya.
Berlari ke arah sang kakak, memeluk dengan erat.
"Kakak, kakak kemana saja. Alana lindu hiks."
"Sayang ku, jangan menangis. Kan kakak sudah ada di sini."
Syifa membalas pelukan adik nya, Alana yang melirik ke arah Raisa pun melototkan mata nya ke arah Raisa.
Raisa hanya tersenyum saja walau Alana memasang wajah judes nya. Syifa dan Alana saling melepaskan pelukan mereka satu sama lain..
Syifa menoleh, dan menghampiri papa nya. Segera Syifa memeluk Revan dengan erat. Walau ia pergi tidak lama, namun Syifa merindukan seluruh keluarga nya.
"Kamu udah balik nak? Kalian berdua aja?"
"Tidak, paman. Mami dan Daddy ada di bawah."
"Nak, jangan panggil aku Paman. Panggil aku papa, karena anak-anakku juga memanggil Daddy mu dengan sebutan Daddy."
"Baik, Papa." ujar Raisa yang sedikit malu, Syifa melepaskan pelukan nya dari sang papa. Menoleh ke arah Raisa, ia pun menyuruh Raisa untuk mendekat
Raisa melangkah kan kaki nya perlahan, mendekat ke arah Syifa dan Revan.
Revan pun menyambut Raisa dengan lembut, Syifa menarik Raisa untuk masuk ke dalam pelukan papa nya.
Alana hanya berdiri dengan diam, Revan memanggil Puteri kecil nya. Alana tertawa, ia pun berlari dan memeluk papa nya.
__ADS_1
Kini, Revan memeluk ke tiga Puteri nya. Ia dan Shinta tidak pernah membedakan antara anak mereka dengan anak Caca..
Raisa tersenyum, ia begitu senang karena sudah di terima dengan baik oleh keluarga kakak nya Syifa. Awal nya Raisa merasa sedikit takut. Namun, ya benar saja tidak semua nya bisa menerima diri nya.
Entah mengapa, Alana tidak menyukai Raisa. Mungkin Alana berfikir jika Raisa telah merebut kakak nya Syifa.
Mereka pun saling melepaskan pelukan satu sama lain. Syifa meminta papa nya untuk berkumpul di luar bersama yang lain nya. Sedangkan ia dan adik-adik nya akan bermain di kamar saja.
Syifa tidak ingin mengganggu pembicaraan orang dewasa
Tentu saja, Revansegera ke luar kamar. Syifa meminta kepada baby sister yang menjaga baby Khanza untuk bergabung dengan baby sister yang merawat baby Al dan si kembar Alan dan Alana di kamar satu lagi.
Sedangkan, ia dan Raisa akan bermain bersama di kembar Alan dan Alana. Salah satu baby sister ingin menjaga mereka. Namun, Syifa menolak. Ia mengatakan jika diri nya bisa menjaga adik-adik nya dengan baik.
"Tidak usah, bi. Lagipula, di sini ada Raisa. Ia bisa membantu Syifa menjaga Alan dan Alana."
"Baik lah Syifa, tolong jangan nakal ya? Jika perlu sesuatu bilang saja sama bibi. Oke?"
"Siap, bibi."
"Kak, sungguh. Baby sistel nya celewet sekali." ucap Alana yang tidak suka jika di atur seperti itu.
"Alana, sayang. Kamu nggak boleh bicara seperti itu ya?" Syifa pun memberikan penjelasan yang lembut kepada sang adik.
Terkadang, Alana sangat menyebalkan sama seperti Shinta, ibu nya. Manja, kekanak-kanakan, menyebalkan, namun juga memiliki hati yang sangat baik. Tidak pendendam, dan saat di situasi tertentu pasti bisa bersikap dengan bijak. Garang, Blak-blakan namun jika di bentak akan nangis. Sangat percis dengan Shinta.
Caca dan Shinta, membawakan teh dan beberapa makanan ringan untuk yang lain nya yang sedang berkumpul, terlihat semua nya sudah lengkap kecuali anak-anak.
"Ibu sangat senang, anak-anak ibu berkumpul seperti ini. Dan, ibu sangat senang karena cucu ibu yang lainnya sudah di temukan. Ibu tahu, ini pasti tidak akan mudah untuk kalian lalui, tapi ibu berharap di masa yang akan datang. Jika kalian memiliki masalah lagi, kalian bisa menyikapi nya dengan baik."
Mata Caca berkaca-kaca, ia begitu beruntung telah mengenal keluarga Shinta. Dia merasa tidak kehilangan seorang ibu. Syafa memeluk Caca, dan meminta Caca jika ingin menangis jangan ragu. Tumpahkan segala beban yang ada di pikiran dan hati nya. Agar akan menjadi lega.
Caca pun meneteskan air mata nya.
"Sudah lama kita tidak ketemu, Ibu tahu. Apa yang kamu lalui itu sangat berat, apalagi kamu baru kehilangan mama kandung mu. Tapi, sayang. Kamu harus ingat, kamu memiliki Syifa, Raisa dan juga Khanza. Dan ada kami semua di sini yang selalu mendukung mu, kamu boleh bersedih, menangis sepuas yang kamu mau nak. Tapi, jangan pernah kehilangan harapan, jangan putus asa. Yakin lah, semua akan membaik. Itu hanya masalah waktu, karena kita tidak bisa seterus nya bahagia. Begitu juga dengan sebaliknya. Tidak seterus nya kita bersedih. Jadi, jangan pernah kehilangan harapan."
"Iya, Bu. Ke depan nya, Caca akan lebih kuat. Maafin Caca ya Bu, jika Caca menyembunyikan segala nya dari ibu. Bukan karena Caca tidak menganggap ibu, tapi Caca nggak mau jadi beban pikiran untuk ibu dan ayah."
"Caca, kamu bukan beban nak buat kita. Kalian bukan beban kami, kamu dan Tata itu sama di mata kami." sambung ayah Gunawan.
Caca semakin terharu, ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas semua kebaikan yang telah di berikan oleh keluarga Shinta.
Syafa dan Caca saling melepaskan pelukan mereka satu sama lain, ibu Syafa membenarkan rambut Caca yang berantakan. Juga menghapus air mata Caca.
"Jika kamu sudah merasa lega, jangan menangis lagi ya? Yang berlalu biarkan berlalu."
Caca mengangguk, ia mengatakan jika diri nya tidak akan merasa rapuh dan kehilangan harapan lagi. Dia akan terus maju, untuk anak-anak dan juga orang-orang terdekat yang sudah menyayangi nya dengan tulus.
Syafa pun akan menyimpan dan suatu saat akan menagih janji yang di katakan oleh Caca.
Syafa juga memberikan nasihat kepada Arvan untuk tidak menyikapi masalah dengan emosi.
__ADS_1
"Untuk menantu-menantu ibu, terutama Arvan. Walau ada masalah apapun di rumah tangga kalian, tolong bicarakan dengan tenang ya nak? Jangan menggunakan emosi apalagi sampai main tangan. Ibu sudah mengetahui segala nya, walau ibu tahu kamu tidak sepenuh nya salah nak. Kamu boleh kecewa, marah, sakit hati, sedih. Tapi, bermain tangan itu bukan lah solusi. Itu akan menjadi masalah yang akan bertambah untuk hubungan kalian. Ini juga termaksud untuk Revan. Ibu lihat, menantu-menantu ibu ini sangat tempramental dua-dua nya."
Arvan dan Revan pun terdiam, menunduk. Mereka menyadari sifat buruk mereka yang begitu tempramental.
Arvan dan Revan pun dengan kompak meminta maaf kepada ibu mertua nya.
"Tidak, nak. Jangan meminta maaf. Jangan meminta maaf kepada ibu, tapi kepada isteri kalian. Dan ibu berharap, kalian bisa merubah sikap kalian ya nak?"
"Iy-Iya, Bu." ujar Arvan. Revan juga mengerti dengan perkataan ibu mertua nya.
"Nak Revan, nak Arvan.. sejati nya seorang pria adalah pria yang tidak menyakiti wanita yang orang yang lemah. Ayah, sudah puluhan tahun bersama Ibu kalian. Tapi, kalian boleh tanya kepada ibu kalian, jangan kan memukul ibu kalian. Memarahi nya saja ibu tidak pernah, ibu juga sering melakukan kesalahan dulu. Dan sifat itu, jauh lebih menyebalkan dari Shinta. Namun, seiring nya usia dan pemahaman-pemahaman yang ayah berikan dengan sabar. Ibu kalian bisa berubah, bahkan menjadi wanita yang sangat lembut."
"Tapi, Tata nggak pernah melihat ibu bersikap seperti tata."
"Karena setelah ada nya kamu, ibu merubah dan membuang sifat buruk nya. Ia menjadi isteri dan ibu yang sangat lemah lembut. Terkadang, masih sering melakukan kesalahan namun tidak seperti dulu."
"Tata baru tahu, jika ibu menyebalkan haha." ledek Shinta kepada ibu nya, ia tidak menyangka. Ibu yang dia anggap begitu kalem, lemah lembut dan begitu sopan pernah memiliki sifat yang sangat menyebalkan.
Ibu Syafa pun tersenyum malu, bahkan Caca juga tidak menduga nya.
"Caca anak yang sangat baik, ia juga sangat dewasa pemikiran nya. Tapi, nak. Semua orang itu memiliki khilaf dan melakukan kesalahan, tidak ada orang yang sempurna." tambah ibu Syafa lagi.
Mendengar Caca di perlakukan sangat tidak manusiawi oleh Arvan tentu saja membuat hati Syafa dan Gunawan sangat hancur. Walau mereka hanya lah orang tua angkat Caca saja.
Syafa dan Gunawan tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
Sekali lagi, Arvan meminta maaf kepada ke dua mertua nya.
"Ma, Pa. Maaf kan Arvan, Arvan berjanji tidak akan melakukan dosa itu lagi. Arvan akan menjaga, menyayangi dan memperlakukan anak kalian dengan sangat baik. Arvan tidak akan melukai dan menyakiti isteri Arvan lagi. Arvan sadar, apa yang Arvan lakukan memang lah buruk dan tidak dapat di maafkan.Arvan sangat menyesal."
"Sudah lah, anakku! Jangan seperti itu. Yang berlalu biar lah berlalu, tidak ada guna nya di sesali. Yang terpenting itu kalian jadikan pelajaran..Dan Raisa juga sudah ada bersama kalian. Tebus lah kesalahan kalian, beri dan lakukan apa yang tidak bisa kalian lakukan dulu."
"Iya, Yah." ujar Caca. Ia mengatakan jika diri nya akan menjadi anak, isteri dan ibu yang baik untuk Ibu, Ayah, Suami dan anak-anak nya..
"Ibu tenang saja, Caca tidak akan melakukan kesalahan lagi."
"Iya, ibu mempercayai itu..Tapi, bagaimana dengan anak ibu yang satu ini. Apakah akan segera berubah, atau tetap menyebalkan dan merepotkan suami mu terus."
H A H A H A
Suara tawa yang begitu kencang dari semua orang, membuat Shinta tersenyum malu. Ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Kenapa aku yang jadi nya di ledek?
Gumam Shinta di dalam hati, ia melirik ke arah suami nya yang ikut tertawa dan meledek diri nya.
"Iya, Mama. Katakan kepada anak mama ini untuk merubah sifat nya yang begitu menyebalkan, Revan begitu kesulitan menghadapi nya."
Shinta melotot kan mata nya ke arah suami nya. Ibu Syafa menegur anak nya itu, Shinta pun menyengir malu.
"Baru juga ibu katakan, udah di buat."
__ADS_1
"Tata memang keras kepala Ma." ucap Revan lagi, yang meminta pembelaan kepada mama mertua nya.