Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 38


__ADS_3

Setelah cukup lama berbincang kepada Jennika, Shinta pamit untuk pulang kerumah nya.


"Hati-hati ya" ucap Jennika


"Siyap komandan" meletakkan tangannya di ujung pelipis mata. Shinta menaiki taxi online yang sebelumnya ia pesan, taxi tersebut berhenti di sebuah rumah yang tak lain adalah rumah Shinta. Setelah membayar uang kepada driver Shinta keluar dari Taxi dan menuju kedalam rumahnya. Didalam rumah sudah ada Ayah dan Ibu Shinta sedang menonton televisi. Awalnya Shinta ragu untuk masuk, dia membuang nafasnya dengan relax dan langsung berjalan mendekat kearah ayah dan ibunya.


"Ayah, Ibu. Tata pulang" Hebohnya seperti biasa, Shinta berusaha mengontrol dirinya agar bersikap biasa saja padahal ia masih bingung bagaimana harus meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk menikah apalagi dengan duda beranak 1.


"Sayang" Syafa mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk sang Puteri seperti biasanya, Shinta masuk kedalam pelukkan sang ibu.


"Tata kangen ibu"


"Ibu juga kangen sekali sama kamu nak" mencium kening Puterinya. Gunawan hanya memandangi isteri dan juga anaknya, ia tersenyum melihat keharmonisan keluarganya. Apalagi akhir-akhir ini Shinta sudah jarang berkumpul bersama mereka.


"Yah, Bu. Ad....ada yang ma..mau Tata bi..bicarakan" ucapnya ragu.

__ADS_1


"Mau berbicara apa hmmm?" Tanya Syafa dengan lembut. Shinta mengepalkan kedua tangannya yang bergetar dengan hebat, ia tak tau harus memulai berbicara dari mana kepada ibu dan ayahnya.


"Tata" panggil Gunawan


"Aku ingiin...."


"Ingin apa nak? kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Syafa lagi.


"Aku ingin menikah" Spontan Shinta berkata seperti itu sambil memejamkan kedua matanya.


"Apa" kaget ibu dan ayahnya secara bersamaan


"Kau ingin menikah dengan siapa?" Tanya Gunawan dengan nada yang serius dan sedikit lebih tinggi.


"Jangan bilang kau ingin menikahi duda itu!" suara Gunawan semakin meninggi, Shinta semakin ketakutan melihat reaksi ayahnya, ia tak sanggup mengucapkan apapun. Bibir dan tangannya gemetar, Syafa Menggenggam tangan sang anak dan mencoba untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Sabarlah dulu, dengarkan penjelasan dari anak kita" Syafa melihat suaminya yang memasang wajah tak ramah.


"Jawab pertanyaan Ayah, Tata!" kali ini Gunawan mencoba menetralkan emosinya.


"Bu, Yah. iya kalian be...benar ak...aku ingin menikah dengan dia" ucap tata terbata-bata.


"Tidak! Ayah tidak setuju!" Shinta menoleh kearah ayahnya dengan airmata yang berlinang.


"Yah, Tata mohon hiksss. Tata sangat menyayangi Syifa" mencoba memberikan pengertian kepada sang ayah.


"Sayang, banyak lelaki lain kenapa harus dia" Kali ini Gunawan mencoba untuk memberikan penjelasan kepada tata.


"Karena aku mencintai Puteri nya yah, kehadirannya membuat tata merasa menjadi wanita yang sempurna. Dia memanggil tata dengan sebutan "Mama" dan Tata bisa merasakan di panggil dengan sebutan "Mama" dan tangannya yang mungil memeluk tubuh Tata yah" Air mata Shinta terus saja berlinang.


"Apa ayah dan ibu tau bagaimana dulu perasaan Tata disaat dokter Kyara mengatakan bahwa Tata tak bisa punya anak? Saat itu Tata merasa menjadi wanita yang tak berguna hiks" Syafa ikut menangis dan memeluk Puterinya yang menangis

__ADS_1


"Tapi dia bukan Tuhan nak! Itu hanya vonis dari dokter, kamu harus percaya dengan keajaiban Tuhan" Gunawan mendekat kearah anaknya dan ikut memeluk Puterinya yang sedang menangis.


"Tapi aku sangat menyayangi Syifa Bu, Yah. Aku tak sanggup jauh dan kehilangan dia, dia membutuhkan ku hikssss"


__ADS_2