
Alana tidak mengerti dengan ucapan papa nya. Tidak di rumah mereka, rumah Caca, bahkan di rumah nenek nya pun ada pengawal.
Sungguh sangat membosankan, Alana merasa tidak nyaman dengan semua ini. Di mana-mana selalu ada pengawal yang menjaga rumah.
"Sayang, ini demi keamanan kita semua jadi Alana jangan takut ya? Kan di rumah kita juga sudah biasa seperti ini. Dan, jika Alana berkunjung ke rumah mami juga seperti ini."
Alana pun hanya diam, ia ingin merasakan bebas tanpa harus di kawal seperti itu. Alana masih terlalu kecil, tidak memahami segala nya..
Raisa juga merasakan hal yang sama seperti Alana, dulu ia selalu bebas tanpa ada yang mengawasi. Tapi sekarang, begitu banyak pengawal.
Raisa pun tak mau banyak komentar, karena bagaimana pun ia tidak tumbuh di keluarga ini dari kecil seperti Alana, Syifa, dan juga yang lain nya.
Syifa pun mengajak adik-adik nya bermain sedangkan orang tua mereka menikmati teh sambil memantau mereka sedang bermain.
"Aku senang jika melihat mereka kompak seperti ini."
"Iya, semoga mereka akan selalu begitu sampai besar nanti." sambung Caca yang tersenyum memandangi anak-anak yang sedang bermain dan bercanda tawa.
Tak lama kemudian, ponsel Arvan berbunyi. Ia mengambil ponsel genggam nya itu melihat nama di layar ponsel milik nya. Arvan sekilas melihat ke arah Caca yang fokus dengan anak-anak
Ia pun menolak panggilan tersebut, namun ponsel nya terus saja berbunyi hingga perhatian Caca menuju pada nya.
Caca bertanya kepada Arvan siapa yang menghubungi nya dari tadi, mengapa dia tidak mengangkat nya.
"Sayang, ponsel mu terus saja berbunyi. Angkat lah, siapa tahu itu penting."
"Tidak terlalu penting, sayang. Ini hanya lah bagian marketing menawarkan ku membuat debit."
"Sebaik nya angkat saja, dia terus saja menghubungi mu. Katakan jika kau tidak ingin, atau jika kamu tidak enak. Biar aku yang mengangkat nya."
"Tidak perlu, sayang! Ini hanya lah orang yang tidak penting. Aku tidak mau mengganggu waktu kebersamaan kita."
Caca pun mengangguk, mengiyakan ucapan suami nya. Namun, ponsel Arvan terus saja berbunyi.
Caca mengambil ponsel suami nya, namun Arvan dengan cepat mengambil nya dari tangan Caca. Lalu, mengangkat telepon itu, memarahi orang yang ada di telepon.
"Jika aku tidak mengangkat, tanda nya aku sibuk! Kenapa kau tidak mengerti, sudah aku katakan aku tidak mau membuat kartu debit itu!"
Dengan cepat Arvan mematikan ponsel nya, Shinta dan Revan melihat gerakan aneh dari Arvan.
Mengapa Arvan kelihatan begitu sangat gugup? Jika itu hanya lah orang yang menawarkan membuat kartu debit.
Revan dan Shinta saling memandang, namun mereka tidak mau berkomentar.. Shinta berharap, jika Arvan mengatakan yang sejujur nya.
Caca yang mempercayai suami nya tak menaruh curiga sedikit pun.
Arvan memandangi wajah Caca, merasa sangat bersalah. Andai, dia bisa memutar waktu. Arvan tidak akan melakukan hal itu.
Ponsel Arvan kembali berbunyi, ia semakin keringat dingin. Caca yang tak sabar langsung mengambil ponsel suami nya dan mengangkat telepon itu.
Hallo? Maaf saya isteri nya pak Arvan, ada yang bisa di bantu? Arvan nya sedang tidak bisa bicara saat ini.
Sahut Caca dengan lembut, Arvan tak bisa berkutik. Ia hanya bisa pasrah jika diri nya ketahuan.
Tapi, ponsel itu langsung terputus, Arvan merasa sedikit lega. Ia pun bersikap biasa saja.
"Aneh, tadi dia sibuk menelpon terus saat di angkat malah nggak bicara." ujar Caca. Caca langsung memberikan ponsel nya kepada sang suami.
"Ini ponsel nya. Lain kali, jika ada yang menghubungi sebaik nya angkat lah dengan tenang. Kamu nggak boleh bicara kasar seperti itu, kasihan kan mereka juga bekerja. Jika tidak, mereka tidak akan mungkin menghubungi dan mengganggu kamu."
"Iya, sayang. Maafkan aku, aku hanya kesal saja."
"Sudah, jangan marah lagi ya? Kamu mau kaya Revan, yang pemarah?" canda Caca.
Shinta dan Revan pun hanya tertawa saja.
"Lihat lah, sayang! Mereka mengejekku!"
"Tapi, apa yang di katakan Caca itu sangat benar. Tidak apa, aku tetap mencintaimu."
"Dasar bucin." ledek Caca, Shinta pun tak keberatan dengan ucapan Caca.
"Tidak masalah bucin kepada suami sendiri, daripada nanti suami kita di rebut sama wanita lain."
Huk! Huk!
Arvan yang meneguk segelas teh nya langsung terbatuk.
Sontak membuat Revan, Caca dan juga Shinta memandangi Arvan secara bersamaan.
__ADS_1
"Sayang, kenapa?" tanya Caca kepada suami nya, Arvan pun menggeleng.
"Tidak, sayang."
"Mungkin Arvan tersedak karena ketahuan selingkuh lagi haha." ledek Shinta.
Tiba-tiba Arvan bangkit dan marah, ia membentak Shinta sontak membuat Shinta dan yang lain nya kaget.
"Hentikan! Jaga ucapan mu Shinta!"
"Kenapa kau membentak isteri ku? Dia kan biasa bercanda kepada mu."
"Iya, Sayang. Kenapa kau marah? Tata kan biasa bercanda seperti ini kepada mu, dia kan adik mu mengapa kau marah?"
Arvan pun terdiam, ia tak sadar mengapa bisa sekesal itu pada Shinta.
"Kenapa kau marah padaku? Kan kau tidak berselingkuh, Caca juga tidak akan mempercayai ucapan ku."
"Maaf kan aku," Arvan langsung masuk ke dalam rumah, menuju kamar.
Shinta, Caca dan Revan tak mengerti mengapa sikap Arvan tiba-tiba berubah seperti itu.
Tanpa sadar, Arvan meninggalkan ponsel nya di meja. Ada pesan masuk dari ponsel nya. Caca mengambil ponsel dari suami nya. Awal nya ia masih biasa saja, namun membaca pesan itu Shinta begitu terkejut.
Sayang, kau begitu naif! Kenapa setelah hubungan mu dengan isteri mu kau mencampakkan mu? Apakah kau tidak mengingat kebersamaan kita malam itu?
Caca bagaikan di samber petir membaca pesan tersebut, ia pun langsung terduduk lemas.
Shinta mendekati Caca dan bertanya apa yang terjadi. Caca menatap Shinta lalu tersenyum
"Tidak! Aku hanya sedikit lemas saja." ucap nya dengan nada yang bergemetar.
Tangan Caca juga keringat dingin, Shinta ingin membantu Caca masuk ke dalam rumah namun Caca menolak dengan lembut.
"Ti-tidak usah, aku bisa sendiri. Tolong, jaga anak-anak ya?"
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga mereka di sini bersama Revan."
Caca pun langsung masuk ke dalam rumah, namun ia tidak langsung ke kamar nya. Caca masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Di dalam kamar mandi, Caca menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka jika suami yang begitu ia percayai tega mengkhianati diri nya seperti ini.
Apa yang lebih hancur bagi seorang wanita selain pengkhianatan dari orang yang paling ia cinta?
Caca begitu dalam terdiam diri di dalam kamar mandi, ia menghapus air mata nya. Dan mencuci muka agar tidak ada yang tahu jika diri nya sedang menangis.
Caca membuka pintu kamar mandi, ia kaget melihat Ayah Gunawan yang berada di dapur.
"Ay-ayah?".
"Iya nak, ada apa? Kenapa Caca memakai kamar mandi sini?"
"Iya, yah. Tadi Caca begitu kebelet. Jadi nya memakai kamar mandi terdekat saja. Daripada nanti nya tidak tahan."
"Oh begitu."
"Caca ke kamar dulu ya, yah?" Ayah Gunawan pun mengangguk, Caca pergi meninggalkan ayah nya.
Ia menuju kamar, Caca mendekati suami nya dan memberikan ponsel itu kepada Arvan.
"Ini ponsel mu, maaf tadi aku lancang sudah membaca pesan mu dari kekasih mu itu."
Arvan melihat ke arah isteri nya yang memalingkan wajah dari nya.
"Sayang, ini nggak seperti yang kamu bayangi."
"Santai Aja, aku nggak marah kok." Caca mencoba tersenyum menahan tangis nya.
Arvan memegang tangan Caca, ia pun menjelaskan jika itu tidak sepenuh nya kesalahan dia.
Bahkan, malam itu Arvan tidak sadar. Arvan pun menceritakan segala nya.
Flashback
Saat Arvan merasa kecewa dengan Caca, ia memutuskan untuk menghabiskan waktu di bar dengan mabuk-mabukan.
Saat itu, ia bertemu dengan mantan kekasih nya yang bernama Xienna.
Arvan yang mabuk parah tidak tahu apa yang terjadi selanjut nya. Pagi nya, ia bangun sudah berada di dalam apartemen Xienna. Dia tidak mengingat kejadian itu sama sekali, Tapi Xienna mengaku jika diri nya sudah menyentuh Xienna dan menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Arvan tidak percaya, karena dia tidak mengingat segala nya. Yang dia tahu, dia hanya minum dengan teman-teman nya, dia juga tidak menghiraukan keberadaan Xienna malam itu. Arvan pun memilih pergi meninggalan Xienna sendirian.
Flashback end.
"Sungguh, sayang. Aku bersumpah, jika aku tidak berbohong. Semenjak saat itu, Xienna sering mengganggu ku. Aku tidak pernah menggubris pesan atau panggilan nya. Dia selalu menghantui ku, aku tidak mengatakan nya pada mu karena aku tidak mau kamu bersedih. Percaya pada ku."
Arvan menatap isteri nya, mengatakan hal yang sejujur nya.
Dia memang tidak mengingat kejadian malam itu, dia merasa jika Xienna sengaja menjebak nya. Namun, dia tidak mempunyai bukti.
"Tolong, percaya kepada ku. Hanya kau lah wanita yang aku cinta, sayang. Aku tidak pernah berniat mengkhianati mu. Bahkan, aku hanya sekali itu tanpa sengaja bertemu dengan nya. Percaya lah kepada ku."
Caca pun diam, dia tidak tahu apakah harus percaya dengan suami nya atau tidak.
Mengapa suami nya tidak jujur dari awal jika memang suami nya mengatakan hal yang sebenarnya.
Arvan berusaha membuat Caca percaya, karena memang dia tidak bersalah.
"Xienna menjebakku. Dia sengaja melakukan itu agar aku kembali kepada nya, Sayang. Tolong lah percaya kepada ku."
Caca menatap suami nya, ia melihat kejujuran di mata suami nya.
"Aku percaya pada mu, dan jika kau pun memang melakukan itu. Aku akan tetap memaafkan mu,"
"Tidak sayang! sungguh, aku bersumpah jika aku tidak melakukan itu, jika aku melakukan nya kenapa aku bisa tidak sadar? Aku tidak mengingat segala nya?"
Caca menatap suami nya. Apakah mungkin, suami nya tidak melakukan itu atau memang tidak sadar karena dalam pengaruh alkohol.
Entah lah, biarkan waktu yang menjawab itu semua.
Saat ini, Caca hanya ingin fokus dengan anak-anak nya, ia tidak mau membuat Raisa dan Syifa bersedih lagi dengan pertengkaran mereka. Apalagi, Syifa sudah banyak berkorban demi persatuan nya dengan suami.
Caca memeluk suami nya, saat ini dia hanya bisa ikhlas dan menerima semua nya dengan lapang dada
Arvan mengucapkan banyak terimakasih kepada sang isteri karena sudah mempercayai diri nya.
Arvan mengatakan hal yang sejujurnya tanpa menyembunyikan satu pun kejadian.
Dia memang bersalah, karena telah menyembunyikan masalah ini kepada Caca. Namun, ia tidak mau membuat isteri nya merasa sedih. Dan Arvan mengira jika Xienna memang tidak waras. Ia selalu begitu sedari dulu, memaksa kan diri agar bisa bersatu lagi dengan Arvan.
Padahal Xienna tahu, jika diri nya hanya mencintai Caca seorang. Bahkan, ia jauh lebih mencintai Caca daripada mencintai diri nya sendiri.
Tidak lama kemudian, ponsel Arvan berbunyi. Tidak salah lagi, itu dari Xienna. Caca menatap layar ponsel Arvan, Arvan meminta kepada Caca untuk mengangkat nya.
Caca awal nya menolak namun Arvan memaksa.
"Kau isteri ku, dan biarkan dia tahu. Jika aku sangat mencintai mu, dia tidak bisa membuat rumah tangga kita goyang sedikit pun. Sayang, aku mohon kuat lah demi rumah tangga kita."
Caca mengangguk. Ia pun menguatkan hati nya untuk melawan wanita yang ingin merusak rumah tangga nya.
Kau milikku, dan tidak akan ada yang bisa merusak rumah tangga kita. Sebagai seorang isteri aku akan menjadi kuat jika ada yang berani merusak rumah tangga kita.
Ujar Caca kepada suami nya, Arvan pun tersenyum karena Caca bisa menjadi kuat untuk menghadapi wanita gila seperti Xienna. Bukan karena Arvan tidak berani kepada Xienna. Namun, ia memang tidak ingin melawan seorang wanita.
Arvan ingin isteri nya menjadi tangguh seperti Shinta, yang akan mempertahankan rumah tangga nya sekuat mungkin. Tidak lemah dan hanya menyerah pada nasib.
Caca mengangkat telepon suami nya yang dari tadi terus saja berdering.
Panggilan Terhubung
Hallo? Dengan siapa? ~ Caca
Oh ternyata kau, aku yakin kau sudah membaca pesan ku. Perkenalkan aku
Aku sudah tahu, kau seorang pelakor!
Belum sempat wanita itu memberitahu nama nya, Caca sudah memotong pembicaraan nya.
*Kurang ajar! Jaga bicara mu! Suami mu yang sudah menyentuh ku, jelas-jelas suami mu yang tergila-gila pada ku. Kau mengatakan aku pelakor? Tidak tahu malu! ~ Xienna
Maaf, sudah jelas sedari tadi kau saja yang menghubungi dan mengganggu suami ku. Terlihat jelas di sini , siapa yang tergila-gila dengan siapa*.
Caca menjawab nya dengan tenang dan santai.
Aku ingin bicara dengan Arvan, berikan ponsel nya kepada dia! Dasar tidak tahu malu! ~Xienna
Caca pun mengalihkan panggilan biasa nya menjadi panggilan video call. Xienna mengangkat nya, Caca dengan sengaja memeluk suami nya dan memperlihat kan kemesraan nya dengan Arvan. Bahkan, Caca mengecup bibir Arvan dan di balas oleh Arvan.
Lalu Caca melepaskan ciuman panas nya dengan suami, Caca sengaja melakukan itu untuk menunjukan kepada wanita seperti Xienna jika diri nya hanya lah wanita murahan yang tidak ada artinya di mata Arvan.
__ADS_1