
Di taman rumah sakit, Shinta masih menangis mengingat kata-kata Revan yang begitu menyakitkan baginya, ia sangat kesal mengapa Revan begitu kasar dengan Syifa.
"Memberitahu baik-baik kan bisa hiksss"
"Mengapa harus membentak Syifa seperti itu"Shinta menghapus air matanya dengan kedua tangan layaknya anak kecil yang menangis akibat dimarahi ayahnya, seketika ia mengingat Syifa yang ada diruang, Shinta langsung bangkit dari tempat duduk dan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dimana Syifa di rawat, ia melihat gadis kecil itu tertidur dengan pulas. Shinta berjalan mendekat kearah Syifa ia berniat ingin mencium kening Syifa, namun pada saat tangannya memegang badan Syifa suhu tubuhnya sangat panas. Shinta sangat panik, ia menekan tombol untuk memanggil perawat dan dokter. Shinta sangat panik, ia keluar dari ruangan karena tak sabar melihat perawat dan dokter belum ada yang muncul satupun.
Disaat Shinta ingin membuka pintu, perawat dan dokter sudah muncul. Mereka segera menyuruh Shinta keluar dan memeriksa Syifa. Shinta sangat cemas, ia mengambil seluler genggam miliknya dan mencoba menghubungi Revan untuk memberitahu kondisi anaknya, namun Revan tak mengangkat telpon dari Shinta.
"Angkat ih" kesalnya, ia mencoba menelpon Revan berulang kali. Namun, hasilnya tetap saja sama. Revan tak mengangkat telpon dari Shinta. Shinta mondar mandir di luar pintu ruangan VVIP dimana Syifa di rawat, ia menggigit kuku jarinya rasanya ia sangat khawatir dengan Syifa yang tiba tiba demam tinggi apalagi Syifa baru saja sadar dari koma nya.
"Dia demam pasti karena dimarahi oleh lelaki gila itu, dasar lelaki menyebalkan!" Shinta menggerutu dengan sangat sebal!
"Dasar ayah tak bertanggungjawab! Meninggalkan anaknya seperti ini huh!!" lagi lagi Shinta menyumpah serapah Revan. Rasanya, ia sangat kesal dengan pria itu.
"Dimana dia sih!"
"Apa dia sedang bersenang-senang dengan wanita lain?"
"Atau dia lagi banyak kerjaan?"
"Apa jangan-jangan ia kenapa-kenapa lagi?"
"Eh tunggu mengapa aku mengkhawatirkan dia begini sih ah"
"Tapi kan aku begini karena ingin ia tau keadaannya anaknya, bukan apapun. Iya! hanya ingin memberitahu saja keadaan Syifa" Shinta mondar mandi di luar ruangan dan mengoceh dengan tidak jelas. Tak lama kemudian, dokter dan perawat keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Syifa cemas.
__ADS_1
"Panasnya sangat tinggi, ia dari tadi memanggil ayahnya"
"Ayahnya sedang ada urusan dok, mungkin sebentar lagi datang".
"Baiklah, saya pamit dulu. Ingat nyonya, jangan membuat pasien bersedih. Dia baru saja sadar dari masa kritisnya, saya takut ini akan mempengaruhi kesehatannya kembali" Penjelasan dokter dan segera berlalu pergi. Shinta memasukkin ruangan dan mendekati tubuh Syifa yang sedang tertidur dan terus saja memanggil ayahnya. Shinta mencium dan memeluk Syifa dengan penuh kasih sayang.
"Gadis yang manis" Shinta terus saja mengacak rambut syifa dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kemana sih dia" Geramnya.
Keesokan paginya, keadaan Syifa makin melemah, panas nya tak kunjung turun. Ia terus saja memanggil manggil ayahnya. Sedangkan Revan dari kemarin tak kunjung balik ke rumah sakit, nomernya juga tidak bisa di hubungi. Shinta semakin panik, ia menggigit ujung jarinya sekujur tubuhnya gemetar. Ia sangat takut hal yang buruk terjadi pada Syifa. Ia memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan Syifa, Shinta meneteskan air matanya dan mulutnya tak henti-hentinya untuk berdoa. Dari kejauhan Revan berlari ke arah Shinta.
"Di...dimana Syifa" tanyanya dengan nada ngos-ngosan.
"Kau dari mana saja, apa kau tau anakmu dari kemarin demam tinggi dan terus memanggil mu!" Kesal Shinta. Revan mengacak wajahnya dengan kasar, ia sangat menyesal telah membentak dan meninggalkan Syifa dirumah sakit. Revan masuk kedalam ruangan dan menemui Puterinya, ia memeluk Syifa dengan sangat erat.
"Pa, Syifa ingin mama hiks" Revan mengangkat wajahnya dan menatap wajah anaknya, ternyata Syifa hanya mengigau.
"Sekuat ini kau ingin merasakan kasih sayang seorang ibu nak" Ucap Revan lalu ia melihat kearah Shinta. Shinta seakan tau apa maksud dari tatapan Revan.
"Aku bersedia menjadi ibunya dan menikah denganmu demi kebahagiaan Syifa. Namun" Shinta menghentikan ucapannya.
"Apa?" Tanya Revan. Saat ini dia tak perduli dengan cinta, yang terpenting saat ini hanyalah kesembuhan dan kebahagiaan anaknya. Sedikit egois emang namun ia tak bisa berbuat apapun demi keselamatan Puterinya. Lagipula ia sangat yakin Shinta menyayangi anaknya dengan tulus, masalah hatinya itu urusan belakangan.
"Aku harus meminta izin kepada orang tuaku terlebih dahulu" Ucapnya.
"Kalau masalah itu, aku yang akan meminta izin kepada keluargamu. Tapi, kau jangan terlalu berharap lebih padaku! karena aku takkan pernah mencintaimu. Dan pernikahan kita nanti hanyalah demi Syifa tidak lebih" Revan memberikan ketegasan kepada Shinta, ia tak ingin Shinta nantinya terluka akan sikap Revan.
__ADS_1
"Hey! apa kau pikir aku mencintaimu? cih! Kepedean banget lo jadi orang" Disaat seperti ini mereka masih saja berdebat. Revan menggelengkan kepalanya dengan malas
"Apa kau senang melihat penderitaan papa menikahi nenek lampir ini nak?"
"Tapi tak apa, papa akan lakukan apapun demi kebahagiaanmu" ucap Revan dalam hati, ia mencium kening anaknya. Syifa membuka matanya perlahan
"sayang" panggil Revan dengan lembut
"Maafkan papa ya nak, papa sudah memarahi mu semalam" mencium tangan anaknya berkali-kali.
"ohya sayang ada kabar gembira untukmu"
"Ap...apa pah" Tanya Syifa dengan lemas.
"Kau sembuh lah dahulu nak, dan papa akan memberitahukan padamu" mencium kening anaknya lagi.
"Sekarang, kamu beristirahat lah. Papa harus pergi dahulu untuk menyelesaikan urusan papa yang belum selesai" Syifa hanya mengangguk, Revan mengacak rambut Puterinya dengan gemas, lalu mencium kening dan pipi anaknya.
"Aku pergi dulu, tolong jaga anakku sebentar" Pamitnya kepada Shinta, dan Shinta menganggukan kepalanya, Revan berjalan keluar pintu sedangkan Shinta berjalan mendekati tubuh Syifa.
"Hallo cantik"
"Kau istirahat dulu yaaa" mengelus kedua mata Syifa dengan lembut, Shinta menyanyikan lagu Nina Bobo untuk Syifa dan Syifa melanjutkan tidurnya kembali, Shinta memandangi wajah Syifa dengan seksama
"Andai aku bisa punya anak hehe" Shinta menangis tanpa suara. Ia mengelus rambut Syifa dengan sangat lembut.
"Aku tak tahu bagaimana kedepannya nanti hubunganku dengan papamu, namun apapun yang terjadi aku berjanji akan menyayangi dan menjagamu dengan segenap hati seperti anak kandungku sendiri" Shinta mencium tangan Syifa berulang ulang
__ADS_1