
"T-tapi ma,"
"Takut papa marah?" tanya Shinta kepada anak nya, Syifa pun mengangguk.
"Papa akan lebih marah kalau Syifa nggak pamit, pilih mana?"
Syifa memikirkan ucapan mama nya namun ia ragu apakah papa nya mau memberikan izin.
Bukan nya di beri izin, malah di omelin ~batin nya.
"Sayang, papa sangat menyayangi kamu, papa enggak akan marah. Percaya sama mama deh!" Shinta mencoba meyakinkan anak nya.
"Gimana kalau papa enggak setuju ma?" wajah Syifa murung, Shinta pun tak tega.
"Kalau kita enggak coba gimana bisa tahu? Syifa sendiri yang selalu bilang sama mama kalau kita enggak boleh menyerah sebelum berperang."
Shinta memegang pipi anak nya dengan penuh lembut, walau anak nya sudah mulai remaja ia masih menyayangi Syifa.
"Iy-iyadeh ma, nanti Syifa coba."
Terdengar suara langkah kaki yang mendekati mereka, Ibu dan Anak itu pun kompak melirik ternyata itu adalah Revan. Terlihat Syifa yang begitu gugup.
"Lagi pada bahas apa sih Ibu dan Anak ini. Serius banget," semenjak menikah dengan Shinta. Revan sih manusia es pun berubah menjadi orang yang suka bercanda, walau terkadang ia masih susah mengendalikan emosi nya.
Shinta meminta kepada Syifa untuk memberi tahu papa nya namun Syifa masih diam membeku.
"Ada apa kak?"
Syifa kaget ketika papa nya duduk tepat di samping dan memegang bahu nya.
"I-ini pa, m-minggu depan ada acara di sekolah dan kita akan menginap di villa."
percakapan mereka terhenti saat Alana mengajak papa nya bermain dengan manja. Revan pun tak bisa menolak ajakan dari anak nya, Syifa pun hanya bisa tersenyum kecut. Ia mengira jika papa nya tak setuju ia menginap dan ikut acara sekolah.
"Papa pasti enggak setuju ma, bukti nya papa engga ada jawaban."
"Engga ada jawaban kan belum tentu enggak, sayang. Mungkin, papa sedang berfikir dulu. Kita berdoa saja semoga papa mengizinkan nya ya?" dengan berat hati Syifa mengangguk, ia pun tak lagi berharap untuk mengikuti acara sekolah itu.
Syifa dan Shinta memandangi si kembar yang asyik bermain dengan Revan.
Tiba-tiba Syifa teringat kepada Raisa. Syifa ingin melakukan panggilan video kepada sang adik, ia pun meminta izin kepada Shinta untuk kembali ke kamar. Shinta mengiyakan ucapan anak nya segera Syifa kembali ke kamar untuk mengambil ponsel genggam milik nya.
Syifa mencari nama di layar ponsel nya ia pun langsung meng-klik tombol hijau. Panggilan berdering namun Raisa tidak mengangkat telpon dari nya.
"Kenapa Raisa tidak mengangkat panggilan dari ku? Tumben sekali, apa mungkin dia sedang tidur?" tanya Syifa di dalam hati nya.
Syifa pun kembali meletakkan ponsel nya di lemari, ia tahu jika papa nya melihat ia sering bermain ponsel. Ponsel nya bisa saja di sita.
Revan begitu ketat kepada Syifa, mungkin karena pertumbuhan Syifa yang semakin mulai beranjak remaja membuat nya takut dan lebih waspada.
Syifa pun tak pernah marah atau merasa keberatan karena ia merasa apa yang mama dan papa nya lakukan itu semua demi kebaikan nya.
*******
__ADS_1
Keesokan pagi nya, seperti biasa Syifa bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sebelum pergi ke sekolah, Shinta menyiapkan sarapan untuk anak dan suami nya.
"Sayang, berapa hari kalian berencana menginap?" tanya Revan di sela-sela waktu mereka sarapan. Kemarin, iya ingin mengatakan jika diri nya mengizinkan namun keburu Alana mengajak ia bermain.
"D-dua hari pa, "
"Raisa juga ikut?" tanya Revan kembali, Syifa menggelengkan kepala ia mengatakan jika diri nya tidak tahu
"Syifa tidak tahu pa."
Shinta dan Revan pun merasa heran, Revan kembali bertanya apakah mereka tidak ada komunikasi? Syifa pun menggeleng.
"Kemarin Syifa sudah mencoba menghubungi Raisa. Namun, sampai sekarang Raisa tidak mencoba menghubungi Syifa kembali."
"Mungkin Raisa sibuk belajar nak, dia kan rajin sama seperti kamu," ujar shinta yang mencoba memberikan pengertian kepada sang anak agar tidak salah paham kepada saudara nya.
"Tapi ma, walau ia sedang mandi pun jika Syifa menghubungi nya ia selalu dengan sigap mengangkat." Syifa kembali sedih dengan Raisa yang mengabaikan panggilan dan juga pesan nya.
"Coba nanti saat di sekolah, Syifa tanya. Mungkin memang Raisa tidak bermain ponsel." Syifa pun mengangguk, ia kembali mengecek ponsel genggam nya untuk melihat pesan yang ia kirim kan kemarin untuk Raisa. Raisa sudah membaca nya namun tidak kunjung membalas, Syifa terlihat semakin sedih.
Revan yang melihat wajah sedih anak nya pun menegur nya untuk tidak main ponsel saat berada di meja makan. Syifa kembali menyimpan ponsel nya. Mereka pun kembali melanjutkan serapan nya.
Setelah selesai sarapan, Revan dan Syifa berpamitan kepada Shinta untuk berangkat. Revan mengantar Syifa sekolah sebelum ia pergi ke kantor.
Tak lupa ke dua nya mencium si kembar dan juga Baby Al.
Shinta dan Revan menamai anak mereka begitu singkat, hanya "Al"
Karena banyak Masalah-masalah yang di hadapi keluarga nya membuat mereka tidak kepikiran memberikan nama dan menemukan nama yang cocok untuk anak nya. Mereka merasa hanya Al yang pantas untuk anak bungsu mereka.
Sesampai di halaman depan sekolah, Syifa mencium punggung tangan papa nya, Revan mengatakan kepada anak nya untuk rajin belajar.
"Yang rajin ya nak belajar nya."
"Iya, Papa." Syifa turun dari mobil setelah salam, ia pun menuju ke kelas. Terlihat Raisa yang begitu murung di kursi. Syifa mendekati Raisa ia pun bertanya apa yang membuat adik nya sangat sedih.
"Raisa, kenapa kamu?" tanya Syifa yang begitu perhatian kepada sang adik, tanpa mengatakan apa-apa. Raisa langsung memeluk kakak nya dan menangis di pelukan sang kakak. Sontak hal itu membuat Syifa merasa kaget dan bingung.
"Hey, kenapa nangis? Ada apa? Apakah mama dan Daddy bertengkar lagi?" Raisa melepaskan pelukan mereka. Terlihat mata nya yang begitu sembab.
"Daddy dan Mami enggak bertengkar."
"Lalu, kenapa kamu menangis? Ada masalah apa? Cerita sama aku. Siapa yang tega membuat adik manis ku sedih." Raisa kembali memeluk Syifa. Kali ini tangisan nya begitu sangat menyedihkan. Hati Syifa pun terluka mendengar tangisan dari sang adik. Begitu jelas tangisan nya begitu menyakitkan
Kini, Syifa tak bertanya lagi. Ia membalas pelukan dari sang adik dan mencoba memberikan kenyamanan kepada Raisa.
"Menangis lah, luapkan segala kesedihan mu agar kesedihan mu tidak terlalu berlarut adikku." Syifa membelai rambut Raisa dengan lembut.
setelah merasa lebih tenang Raisa kembali melepaskan pelukan mereka berdua. Kini, Raisa sudah mulai bisa bicara dengan perasaan yang lebih tenang.
"Kak, nanti Raisa boleh engga nginap di rumah kakak?"
kini, Syifa lebih bingung lagi bukan nya ia tak mau memberikan tumpangan kepada adik nya namun Syifa bingung apa sebenarnya yang terjadi. Ia pun mengangguk, tak ingin Raisa semakin sedih karena penolakan nya.
__ADS_1
"Boleh kok, Raisa bebas kok kapan aja mau ke rumah kakak. Itu kan rumah Raisa juga."
"Makasih ya kak?" kini Raisa sudah bisa tersenyum, Syifa menghapus air mata sang adik, ia berfikir akan menanyakan hal itu kepada Daddy atau Mama Caca saja.
"Raisa sedang enggak baik-baik aja. Mending aku tanyai langsung ke mama Caca atau ke Daddy. Tapi enggak sekarang deh, nanti Raisa tahu takut nya dia malah engga ke rumah dan pergi ke tempat lain. Kan bahaya ~batin nya
Bel berbunyi, pertanda kelas akan di mulai sebentar lagi. Tak lama semua murid masuk ke kelas dan guru pun menyusul.
Suasana di kelas Syifa memang seperti itu, teman-teman nya lebih memilih bermain di luar sambil menunggu Bel masuk. Saat jam istirahat juga hanya Syifa dan Raisa berdua di kelas. Kelas mendadak kosong bagaikan tak berpenghuni. Namun, saat Bel pertanda kelas akan di mulai. Mereka akan segera masuk ke dalam kelas.
Guru pun mulai menjelaskan pelajaran dengan sangat baik, setelah memastikan murid-murid nya mengerti guru akan memberikan tugas dengan waktu yang singkat kepada seluruh murid.
Seperti biasa, Syifa mengerjakan tugas dengan mudah dan cepat. Biasanya Raisa selalu menyusul Syifa namun kali ini Raisa juga belum siap saat semua teman-teman sudah mengumpulkan jawaban mereka.
Syifa tahu, jika masalah yang di hadapi adik nya sangat serius sampai menganggu belajar Raisa. Guru pun menegur Raisa dengan lembut, bertanya apa yang terjadi kepada diri nya.
Raisa tidak menjawab, ia hanya meminta maaf kepada guru lalu berlari ke luar kelas. Guru itu pun tak berani memarahi Raisa karena papa Raisa saat ini menjadi pemilik sekolah tersebut.
Syifa pun meminta maaf atas tindakan adik nya kepada guru lalu meminta izin untuk menyusul Raisa. Guru itu tak ada pilihan lain selain setuju, walau sebenarnya guru itu paling tidak suka dengan murid yang meninggal kan kelas saat mata pelajaran nya berlangsung.
Syifa mengejar Raisa yang berlari ke taman, ia ingin mendekat. Namun,, Syifa juga bingung jika tidak mengetahui masalah nya apa.
Syifa memutuskan untuk menelpon Daddy nya dan bertanya apa yang sebenar nya terjadi. Setelah berbicara dengan Arvan dan mengetahui masalah yang terjadi. Syifa pun kini mengerti, sebelum mematikan panggilan nya. Syifa meminta izin kepada sang Daddy agar Raisa beberapa hari menginap di rumah nya.
Syifa mengatakan agar Mama dan Daddy nya memberikan waktu beberapa hari dulu untuk Raisa pun tenang. Arvan pun setuju dengan ucapan anak sambung nya itu. Ke dua nya pun saling memutuskan panggilan.
Syifa membuang nafas nya dengan kasar, jika ia di posisi Raisa hati nya juga akan hancur.
Menurut Syifa, Mama Caca nya mungkin belum bisa menerima kenyataan atau belum bisa beradaptasi kepada Raisa. Bagaimana pun Raisa sudah lama berpisah dari mama nya, bahkan sama seperti diri nya yang tak pernah merasakan di urus dengan baik oleh ibu kandung nya saat kecil. Namun, hidup Syifa jauh lebih beruntung. Ia memiliki kakek, nenek, papa dan juga mama Shinta yang begitu menyayangi dan mencintai nya.
Mungkin Caca juga harus belajar bagaimana menjadi ibu yang baik, karena jika hanya sayang tidak cukup untuk membesarkan anak. Caca tidak mengerti bagaimana memahami anak-anak nya Caca sudah memiliki tiga anak.
Tidak semua wanita siap menjadi ibu walau ia bisa menjadi ibu.
Syifa mendekati Raisa, ia pun mengatakan kepada Raisa jika diri nya sudah mengetahui segala nya.
"Kakak ngerti apa yang Raisa alamin sekarang. Mungkin, berat dan sakit banget. Tapi, Raisa juga harus paham dengan keadaan mama. Walau mama udah punya kita tapi mama engga pernah tau gimana caranya ngerawat kita, gimana rasanya besarin kita, menjadi ibu seutuh nya. Mama baru belajar saat mama mempunyai Khanza. Mama baru ngerasai benar-benar jadi ibu. Ngerasain gimana capek nya mengurus anak yang rewel, gantiin popok anak, memberikan Asi kepada anak, gimana nikmat nya kurang tidur hanya karena anak. Mama baru ngerasain saat mama punya Khanza." ujar Syifa yang berharap adik nya mengerti.
"Mama gitu bukan karena enggak sayang kita, mama sayang banget sama kita. Makanya rela pisah sama kita supaya kita itu bahagia engga tertekan kalau tinggal sama mama. Raisa, mungkin kakak enggak ngerti apa yang kamu alamin dari dulu. Tapi, kita juga enggak ngerti apa yang mama rasain dulu. Mama udah banyak menderita karena nenek kita yang sangat jahat,"
Tak ada pilihan, Syifa pun berencana untuk menceritakan segalanya kepada Raisa yang ia tahu. Agar adik nya tahu betapa menderita nya mama mereka dulu. Bahkan betapa kejam nya daddy dulu kepada mama mereka. Syifa mengatakan itu bukan untuk menjelekkan Daddy nya namun agar Raisa tak salah paham lagi kepada Caca.
"Mungkin mama Shinta hanya menceritakan setengah kebenaran nya kepada kamu. Tapi, kamu juga harus tahu setengah kebenaran nya lagi. Tapi, kakak akan menceritakan segala nya saat di rumah ya. Sekarang, kita masuk ke kelas. Masalah keluarga ga baik di gabung dengan pelajaran kita, kasian guru juga udah capek-capek menjelaskan kita malah keluar dari kelas."
Syifa mengajak Raisa untuk masuk ke kelas, Raisa pun menuruti ucapan kakak nya.
Sebelum masuk ke kelas, Syifa mengetuk pintu terlebih dahulu. Terlihat wajah tidak suka dari guru mereka, namun karena status orang tua mereka membuat guru tak berani menghukum mereka.
Syifa yang mengerti dengan ketidak berdayaan guru pun tak langsung duduk di bangku, ia menarik tangan Raisa yang ingin duduk. Syifa berdiri di depan papan tulis, menaikan satu kaki nya lalu tangan nya memegang kuping.
"Raisa, ikutin!" ujar Syifa kepada adik nya, Raisa pun menuruti ucapan kakak nya. Dan memperagakan gaya Syifa.
Guru itu seketika panik dan takut bagaimana jika diri nya di pecat karena ini. Guru itu pun meminta Raisa dan Syifa kembali ke bangku.
__ADS_1
"Ibu enggak usah panik, kita salah. Kita pantas di hukum. Bukan karena Daddy kita yang punya sekolah ini kita bisa seenak nya dengan aturan yang ada. Ibu jangan khawatir, bukan ibu yang menghukum kami namun kami yang sedang menghukum diri kami sendiri." ujar Syifa begitu bijak nya.