
"Tapi, tetap saja. Mama tidak menerima ini semua! Kalian dengan begitu keterlaluan memainkan emosi mama dan kakak kalian!" kesal Shinta. Revan mendekati dan merangkul isteri nya.
"Mama mengerti dengan sifat Alana, tapi kamu Alan?" Alan terdiam dan merasa bersalah, Alana membela saudara kembar nya. Begitu juga dengan Revan yang membela kedua anaknya.
Revan menjelaskan bahwa ini adalah ide dari Alana dan dirinya. Awal nya Alan menolak untuk mengikuti rencana diri nya dan Alana. Tapi, Alana menyakinkan Alan jika ini hanya lah sebuah kejutan yang akan membuat kakak mereka senang.
Shinta dan Syifa tak akan percaya jika hanya Alana saja yang melakukan sebuah drama, jika Alan ikut dalam rencana mereka. Alana yakin jika mama dan kakak nya tidak akan merasa curiga dan rencana itu akan berhasil. Alana menyuruh Revan untuk membujuk saudara kembar nya. Dan pada akhir nya membuat Alan pun setuju.
"Tapi yang ulang tahun kan kakak, kenapa kalian juga menyembunyikan ini dari mama?"
"Kalena mama sangat menyayangi kakak, jika mama lelihat kakak nangis mama nggak akan tega dan akan memberitahu kakak yang sebenal nya." ujar Alana. Alasan Alana begitu sangat masuk akal.
"Sudah lah, Sayang. Ini adalah hari yang sangat bahagia, kenapa kau masih sangat kesal? Lebih baik kalian berdua segera bersiap-siap. Lihat lah keadaan kalian."
__ADS_1
Shinta dan Syifa pun memandang satu sama lain, lalu melihat diri mereka masih dalam keadaan rambut yang acak-acakan, mata sembab, dan muka baru bangun tidur. Kedua nya tertawa, meledeki diri masing-masing.
"Sana mama siap-siap dengan kakak. Bial kita potong kue." pinta Alana kepada mama nya dengan tidak sabar. Shinta dan Syifa pun pergi dari halaman rumah untuk ke kamar mereka masing-masing.
*********
Kedua orang tua Shinta dan Revan kumpul bersama, bercanda gurau. Shinta dan bayi nya pun sudah bersiap, mendekati seluruh keluarga yang sedang mengumpul. Begitu juga dengan Syifa. Namun, wajah nya masih saja murung.
"Andai mama Caca dan Daddy ada di sini. Mama juga Pasti sudah lahiran." batin Syifa dalam hati.
Seketika Syifa seperti mendengar suara mama nya.
"Aku pasti sedang mengkhayal!"
__ADS_1
"Kamu nggak meng-khayal. Mama, Daddy, Dan adik kecil mu ada di sini." Syifa menoleh ke arah suara itu berasal. Terlihat Mama Caca nya yang sedang menggendong bayi pun mendekati diri nya. Senyuman indah terpancar lebar dari wajah manis Syifa.
"Mama." Syifa berlari mendekati Ibu kandung nya. Caca memberikan bayi nya kepada Arvan. Tanpa basa basi lagi, Syifa segera memeluk sang ibu. Meluapkan segala kerinduan yang ada.
"Mama dan Daddy datang? Syifa sangat rindu dengan mama dan Daddy. Jangan pergi lagi." Syifa memeluk Caca dengan begitu erat, Caca pun membalas pelukkan sang anak.
"Mama juga sangat merindukan kamu, Sayang."
"Ini lah kejutan terbesar kami untuk mu, Sayang." ujar Revan. Syifa melepas kan peluk kan nya dari Caca. Menoleh kepada sang papa, mengucap kan terimakasih yang sangat banyak. Bagi nya, kehadiran sang mama sangat menakjubkan. Hadiah terindah yang ia dapat kan.
"Terimakasih mama sudah mau datang di hari istimewa bagi Syifa, Syifa begitu sangat sayang dengan mama." Setelah Caca mengambil bayi nya kembali dari tangan suami nya, Syifa pun bergantian memeluk Arvan.
"Anak Daddy sudah semakin gadis sekarang."
__ADS_1
"Syifa kangen sama Daddy. Makasih Daddy udah bawa mama dan adik ke sini."
"Iya sayang, Bagaimana pun kamu adalah anak Daddy dan Mama Caca. Kami sangat menyayangi mu, bagaimana mungkin kami tidak menghadiri acara yang begitu sangat istimewa bagi kesayangan kami."