
"Ibu memberitahu ku bahwa Caca dan Arvan sedang mengalami musibah. Rumah, mobil dan seluruh aset milik nya sudah ia pertaruhkan di perusahaan itu. Semua nya sudah habis dan Arvan tidak memiliki apapun lagi. Kemungkinan pagi ini, pihak Bank akan menyita rumah dan mobil mereka. Ibu dan Ayah sudah menyarankan mereka untuk tinggal bersama mereka. Namun, Caca tidak mau. Aku sudah menghubungi mereka namun tidak bisa, aku sangat khawatir sayang. Caca dan Kaynara saat ini sedang mengandung. Akan kemana mereka?" ucap Shinta yang begitu sangat panik.
Revan yang mendengar ucapan isteri nya merasa kaget, bagaimana pun Caca adalah Ibu dari anak nya. Hubungan mereka juga sangat baik dan dekat layak nya saudara. Apalagi Shinta yang sudah menganggap Caca seperti kakak bagi nya. Ia tau bagaimana khawatir nya sang isteri.
"Apa tidak sebaik nya kita balik saja?" ucap Shinta
"Tidak! itu akan membuat Syifa sangat sedih. Aku mohon padamu, jangan memberitahu apapun pada Syifa dulu. Biar kan ia ini menjadi rahasia kita, biar kan Syifa merasa kan liburan ini. Aku akan menyuruh orang ku untuk mencari dan menolong mereka." Ucap Revan. Shinta pun setuju dengan suami nya.
"Mama." Shinta kaget mendengar suara putri nya.
"Apa kah syifa mendengar semuanya?" batin Shinta.
"Iy-iya, Sayang?" ucap Shinta gugup
__ADS_1
"Mengapa mama lama sekali?" Syifa menghampiri Shinta dan Revan. Shinta menoleh ke arah Revan seakan menanyakan apa yang harus ia katakan pada Syifa.
"Sayang, katanya kamu ingin bermain di pantai. Ayo kita ke pantai." ajak Revan.
"Iya, Papa. Tetapi Syifa sangat merindukan mama Caca dan Daddy. Syifa ingin berbicara kepada Mama dan Daddy."
"Mungkin Mama dan Daddy masih tidur, Sayang. Nanti saja kita hubungin mereka ya. Ayo sekarang kita pergi dan menikmati liburan pantai."
"Tidak papa! sebelum kita liburan, Syifa ingin berbicara pada Mama dan Daddy!" Syifa sedikit menaikkan nada bicara nya.
"Mereka berdua sama-sama keras kepala." Batin Shinta.
Jika bukan ia yang mengambil langkah, siapalagi? Shinta pun mencoba mengubungi Caca dan Arvan. Namun, tidak ada yang bisa di hubungi.
__ADS_1
"Mama coba sekali lagi ya, Sayang." Syifa pun mengangguk. Dan hasil nya juga sama, Caca atau pun Arvan tidak ada yang bisa di hubungi. Sebenar nya Shinta merasa sangat khawatir, namun ia menutupi itu semua dari Syifa. Shinta tak ingin Syifa merasa sedih.
"Tidak bisa, Sayang. Mungkin papa mu benar, Mama Caca dan Daddy masih tidur. Nanti setelah kita pulang dari pantai mama akan mencoba menghubungi Mama Caca dan Daddy kamu ya"
terlihat wajah Syifa sangat murung, Shinta yang melihat kemurungan di wajah Syifa pun memegang pipi Syifa dan mendongakan wajah putri nya agar menatap mata nya.
"Kenapa sedih, Sayang?"
"Tidak tahu ma, Syifa hanya teringat dengan mama dan Daddy."
Ikatan Ibu dan Anak tidak bisa di bohongin, walau pun Syifa tidak tumbuh dalam asuhan Caca. Namun, Caca adalah ibu yang melahir kan Syifa. Ikatan batin mereka sangat kuat.
"Ma, Pa."
__ADS_1
"Iya, Sayang?" jawab Shinta dengan lembut.
"Syifa tidak ingin bermain di pantai. Syifa ingin beristirahat saja." ucap Syifa dengan lemas