
Gunawan bingung untuk mengambil keputusan, dia sangat dilema. Sebagai seorang Ayah, ia menginginkan untuk kebaikan dan kebahagiaan sang Puteri. Namun, apa harus ia merelakan Puteri semata wayangnya menikah dengan duda anak 1. Ia memeluk Puterinya yang masih memohon dan menangis meminta restu. Dan Syafa tak berani berkata apapun, ia menghormati segala keputusan sang suami.
"Sudah jangan menangis" mengelus rambut sang Puteri dengan penuh kasih sayang.
"Tata mohon Yah" ucapnya kembali.
"Nanti akan Ayah pikirkan, sekarang kau mandi dan beristirahat lah" Gunawan melepaskan pelukan sang Puteri dan bergegas pergi menuju kamarnya. Syafa yang melihat kepergian sang suami bingung mau mengatakan apapun lagi. Sejujurnya Syafa tak ingin anaknya menikah dengan pria yang sudah pernah menikah dan punya anak, namun dia tahu betul bagaimana sifat Puterinya.
"Sayang, Ibu menyusul Ayah dulu ya. Kau beristirahat lah" ucap Syafa. Syafa ingin bangkit dari kursinya namun terhenti karena Shinta menahan tangan sang ibu.
"Bu, Tata mohon mengertilah. Tata sangat menyayanginya Bu" mencium tangan sang ibu. Syafa mengelus pipi anaknya dengan lembut, dan tersenyum
"Nanti ibu coba bujuk ayahmu yaa" Shinta mengangguk dan tersenyum lebar.
"Tata sayang ibu" memeluk Syafa dengan manja
"Ibu juga sayang sama kamu" membalas pelukan Shinta
"Yaudah ibu menyusul ayah dulu ke kamar ya"
"Iya Bu" ucapnya. Syafa beranjak dari tempat duduk dan menyusul suaminya. Sedangkan Shinta, ia mengambil handuk dan membersihkan diri ke kamar mandi.
***********
__ADS_1
Didalam kamar, Syafa mendekati sang suami ia memeluk sang suami dari belakang, Gunawan menoleh ke arah Syafa dan menatap matanya.
"Aku lagi gak kepengen bahas apapun" ucap Gunawan. Syafa yang menghargai keputusan sang suami hanya bisa bisa mengangguk dan tertidur di pelukan suaminya
******
Shinta sudah selesai mandi, ia membaringkan tubuhnya ke kasur dan menatap langit-langit.
"Apa keputusan aku salah ya" batinnya. Ia juga sadar bahwa ia tak mencintai Revan sama sekali, namun ia sangat menyayangi Syifa. Entahlah, dari awal pertemuan mereka Shinta langsung jatuh hati kepada Syifa. Ia membolak balikkan tubuhnya kesana kemari. Menatap layar hp nya yang masih wallpaper photo dirinya dengan Rayhan
"Aku tahu kau sudah menjadi suami orang lain, namun aku belum sanggup mengganti wallpaper ini" air mata Shinta jatuh dengan sendirinya, setiap kali ia mengingat Rayhan airmatanya jatuh tak terbendung lagi.
"Maafkan aku yang mencintai suami orang lain Tuhan, tapi aku belum bisa melupakannya" Shinta menggenggam hp nya kedalam pelukannya
*flashback
"Tata, lihat itu" menunjuk kelangit
"Ray, indah sekali bintang-bintangnya" menatap langit.
"Tapi ada yang lebih indah dari bintang itu"
"Apa?" Tanya Shinta polos
__ADS_1
"Kamu" mencolek hidung Shinta yang mancung.
"Apaan sih Ray" tersenyum malu
"Liat pipi kamu memerah" ledek Rayhan
"Ihhhhh" Shinta ingin memukul Rayhan, namun Rayhan mengelak dan berlari. Mereka kejar-kejaran seperti kucing dan tikus saja haha.
"Aku capek" keluh Shinta yang tak berhasil menangkap Rayhan
"Sini aku gendong" Rayhan mendekat kepada Shinta, dan memberikan tubuhnya untuk menggendong Shinta.
"Kena kamu" teriaknya kesenangan, Shinta mengacak rambut Rayhan
"Curang banget kamu" mengelus pipi Shinta dengan lembut.
"Ray, lihat anak kecil itu" menunjuk ke anak kecil yang sedang bermain dengan ayah dan ibunya.
"Suatu saat kita kan menikah, dan mempunyai banyak anak yang imut dan menggemaskan" ucap Rayhan
"Apaan sih Ray, kita masih kuliah tau" jawab Shinta malu
"Menikah sambil kuliah juga seru tau ta" menggoda Shinta, dan pipinya semakin memerah.
__ADS_1
"Photo yuk, buat nanti kita ceritakan kepada anak kita bahwa dulu mama dan papanya suka main di taman, dan selalu membicarakan Mereka" ucap rayhan dan mereka mengambil pose pose yang sangat menggemaskan