Ibu Sambung

Ibu Sambung
Menyayangi Ayah


__ADS_3

Shinta mengajak Raisa dan Syifa untuk keluar menemui Caca.


"Ayo kita temui Mami Caca, pasti mami sudah lama menunggu kalian."


Raisa dan Syifa pun menuruti ucapan Mama mereka.


Si kembar Alan dan Alana sudah bersama Arvan dan Caca di luar.


Caca pun meminta kepada anak-anak nya untuk terlebih dahulu masuk ke dalam mobil, ia juga membawa satu baby sister yang akan membantu nya memantau Syifa, Raisa, dan si kembar.


"Tadi sebelum pergi aku juga memompa ASI ku, tolong jaga Baby Khanza ya jika ada sesuatu hubungi aku, jaga ibu juga. Sungguh, aku sangat tidak tenang meninggalkan ibu di saat ibu sakit seperti ini." ujar Caca


Shinta pun meyakinkan Caca jika Ibu mereka akan baik-baik saja.


"Kau jangan khawatir, aku ada di sini. Aku akan menjaga ibu dan juga baby Khanza. Apa kau meragukan ku?" tanya Shinta yang memasang wajah cemberut, Caca langsung menggeleng ia mengatakan jika diri nya tidak meragukan Shinta.


Ia tahu, jika Shinta pasti akan melakukan tugas nya dengan baik, tapi dia sangat tidak enak. Jika harus bersenang-senang di luar, sedangkan Shinta harus menjaga ibu dan juga anak nya.


"Sudah pergi sana. Have fun!"


Caca pun mengangguk, ia segera menuju mobil dan masuk ke dalam.


Sebelum nya, Shinta sudah mengingat kan kepada si kembar untuk tidak membuat Caca repot dengan sikap nakal mereka.


Si kembar pun menuruti ucapan Mama mereka, Shinta sangat percaya dengan ucapan Alan. Karena Alan tidak akan mengingkari ucapan nya, namun tidak dengan Alana. Alana akan melupakan segala janji nya jika dia merasa senang dengan satu hal tersebut.


Alana akan melakukan apa yang ia inginkan tanpa memikirkan orang lain.


Rata-rata memang begitu lah sifat anak-anak, akan menurut jika di nasehati. Namun, terkadang juga bisa mengingkari nya.


Mobil Arvan menjauh dari halaman rumah, Revan mengajak isteri nya untuk masuk ke dalam. Shinta terlebih dahulu masuk ke kamar ibu nya untuk melihat keadaan sang ibu


Ibu Syafa sedang memakan buah yang di potong dan dikupas oleh ayah Gunawan. Ayah gunawan begitu telaten mengurus isteri nya itu.


"Ayah." panggil Syifa yang berjalan mendekati ayah nya ia meminta kepada sang ayah untuk pergi makan terlebih dahulu.


"Ayah sudah menjaga ibu dengan baik, ayah harus makan. Tata ambil kan ya?"


Ayah Gunawan menggeleng, ia mengatakan jika diri nya tidak lapar.


"Ayah harus makan, nanti ayah bisa sakit."


"Iya, nak. Ayah akan makan, tapi nanti ya? Saat ini ayah sedang tidak lapar, kalian makan saja terlebih dahulu."


"Ibu, tolong bicara kepada ayah. Ayah tidak mau mendengarkan ucapan tata."


"Ayah, apa yang di katakan oleh anak kita itu benar. Ayah harus makan!"


"Ayah tidak lapar Bu, Ayah akan makan jika ayah merasa lapar. Saat ini, ibu saja yang makan."


Syafa menatap mata suami nya, ia pun berhenti memakan buah. Gunawan bertanya mengapa isteri nya tidak mau makan lagi.


Ibu Syafa mengatakan jika diri nya tidak akan makan sebelum suami nya mau makan.


"Itu ayah liat, Ibu jadi nggak mau makan karena ayah nggak makan. Ayah harus makan, agar ibu mau makan yah."


Ayah Gunawan pun mengalah, Shinta ingin mengambil kan nasi untuk ayah nya namun Gunawan menolak.


"Tidak, nak. Kamu jaga lah ibu mu di sini. Ayah akan makan sendiri."


"Tidak! Ayah bisa saja berbohong dan tidak makan nanti. Biarkan tata yang mengambil makanan untuk ayah dan ayah harus makan di depan ibu. Iyakan Bu?"


Ibu Syafa pun tersenyum dan mengangguk, ia tahu anak nya itu begitu keras kepala. Jika menginginkan sesuatu pasti harus terpenuhi.


Shinta tidak akan puas sebelum melihat dengan mata kepala nya sendiri ayah nya makan.


"Sana ambil kan makan untuk ayah mu, jika perlu suapi ayah mu." ujar ibu Syafa. Dengan senang hati Shinta mengambil kan makanan untuk ayah nya.


"Tidak, Bu. Mengapa ibu mengatakan hal itu kepada tata pasti dia akan menyuapi ayah."


"Kan tidak apa, Kamu sudah menjaga ku dengan sangat baik, mas. Biarkan anak kita yang merawat mu. Mas juga pasti sangat lelah sudah mengurus ku seharian ini."


"Tidak, saya tidak lelah. Kamu isteri yang sangat aku cinta. Kesembuhan mu adalah hal yang utama,"


Ke dua pasangan ini tidak memikirkan menantu nya yang menahan tawa melihat kemesraan di antara mereka berdua.


Walau mereka sudah menjadi kakek dan nenek, namun mereka tidak pernah kehilangan jiwa romantis nya.

__ADS_1


Revan begitu takjub dengan ayah mertua nya karena mampu mencintai ibu mertua nya berkali-kali. Ia berharap, agar diri nya berkali-kali jatuh cinta kepada Shinta.


Shinta pun kembali membawa kan sepiring dan segelas makanan. Shinta duduk tepat di samping ayah nya, benar saja. Shinta ingin menyuapi ayah nya.


Awal nya ayah Gunawan menolak, namun Shinta terus memaksa.


"Ayah. Ayah tahu kan jika tata tidak suka ada penolakan. Sekarang, ayah buka mulut dan makan ya yah?"


Shinta mendekat kan sendok yang berisi makanan di dekat mulut ayah nya, Gunawan pun membuka mulut dan menerima suapan dari anak nya.


Ayah Gunawan dan Ibu Syafa merasa terharu, karena anak mereka tetap mencintai mereka seperti dulu.


"Kata orang, anak perempuan akan berubah saat sudah menikah dan memiliki keluarga kecil nya sendiri. Tapi, anak kami yang satu ini..Dia tetap seperti dulu, selalu menyayangi dan memanjakan orang tua nya. Kami bangga memiliki anak seperti mu." ujar ayah Gunawan, Shinta menangis. Ia pun meletakkan piring ia pegang di samping nya.


Shinta langsung memeluk ayah nya dengan erat.


"Ayah jangan mengatakan hal seperti itu. Sampai kapan pun Tata tetap lah Puteri kecil kalian..Tata akan menyayangi kalian sampai akhir hayat tata. Tata sungguh mencintai Ibu dan Ayah."


"Kami juga mencintai kamu, nak."


Revan merasa terharu melihat kedekatan isteri dan mertua nya.


"Ayah adalah cinta pertama Ayah tata. Hidup nya tata, Rasa sayang dan cinta tata kepada ayah dan Ibu tidak akan pernah berubah sedikit pun."


"Begitu juga dengan Ayah dan Ibu nak. Kami sangat menyayangi mu, Kami berharap agar kamu memperlakukan anak-anakmu dengan baik. Seperti kami menyayangi mu, jangan pernah kasar dengan mereka."


"Iya, Ayah."


Shinta tahu, jika ke dua orang tua nya tidak pernah kasar pada nya. Hanya sekali, ayah nya kasar padanya sampai menampar nya. Itu juga karena awal nya ayah nya tidak merestui pernikahan nya dengan Revan.


********


Caca begitu senang membawa anak-anak makan ice cream. Di dalam mobil, Alan dan Alana begitu girang. Mereka sudah menganggap Caca dan Arvan seperti orang tua mereka. Jadi Alana atau pun Alan tidak pernah merasa takut dan selalu bersikap apa ada nya. Apalagi, Caca dan Arvan begitu menyayangi mereka.


"Mami, apakah masih jauh?"


"Tidak, sayang. Sebentar lagi kita akan segera sampai kalian bisa makan ice cream sepuasnya."


"Tidak mami! Mama tidak akan suka jika kami makan ice cleam telalu banyak." ujar Alan, namun Alana mengatakan mama mereka tidak marah jika tidak ada yang memberitahu.


"Mama tidak akan tahu jika tidak ada yang membelitahu."


"Tidak mama, Alana tidak belbohong. Jika tidak bicala kan tidak pelu belbohong."


"Kau ini!" kesal Alan kepada saudara kembar nya.


Alana pun tak memperdulikan ucapan Alan, ia pun membuang pandangannya ke sembarang arah.


Arvan pun menghentikan mobil nya di depan parkiran cafe tersebut.


Caca mengajak anak-anak untuk turun, Ia pun menggenggam tangan Alan dan Alana.


"Sayang, kalian jangan terlalu lasak ya?"


"Iya, mami."


Mereka masuk ke dalam toko ice cream langganan keluarga mereka biasa makan.


Alana begitu sangat senang, Caca memesan ice cream kesukaan mereka semua.


Tiba-tiba wanita sexy yang begitu cantik berjalan mendekati mereka di meja makan.


Hal itu membuat Syifa, Raisa, dan si kembar bertanya-tanya siapa wanita itu.


Begitu juga dengan Caca, namun Arvan wajah nya berubah menjadi memerah. Caca melihat wajah suami nya.


"Sedang apa kau di sini?"


Caca menenangkan suami nya, untuk tidak memakai nada tinggi di hadapan anak-anak.


Caca meminta kepada baby sister untuk melihat anak-anak.


"Sayang, kalian di sini dulu ya sama mbak nya. Mama dan papa ada urusan sebentar."


Caca mengajak suami nya ke luar untuk menyelesaikan masalah di luar. Arvan pun mengikuti ucapan Caca, ia menarik wanita itu ke luar cafe.


Wanita cantik itu ternyata adalah Xienna.

__ADS_1


Tanpa merasa malu atau bersalah, Xienna memperkenal kan diri nya kepada Caca


"Hallo, kamu pasti Caca bukan?"


Caca mengingat wajah nya, benar dia adalah wanita yang tadi ia telepon melalui video call.


Entah apa mau wanita ini, mengapa ia mengikuti keluarga nya sampai sini..


Caca tidak takut kepada nya, ia hanya takut jika anak-anak mendengar pertengkaran mereka. Raisa dan Syifa pasti tidak akan menerima dengan pengkhianatan yang di lakukan oleh Daddy mereka.


"Dasar wanita gila, mengapa kau mengganggu keluarga ku. Apa mau mu?"


"Aku mau diri mu. Apa kau berfikir jika aku akan menerima ini semua dan diam saja? Tidak!"


"Sudah aku katakan, jika aku tidak mencintai mu. Kenapa kau selalu mengganggu ku?"


"Aku tidak akan mengganggu mu jika kau tidak menghindar dari ku. Kau fikir aku ini apa? Setelah puas kau menikmati diri ku, kau mencampakkan ku?"


"Sudah aku katakan jika aku tidak pernah menyentuh mu, jika aku menyentuh mu pasti aku sadar. Ini aku tidak mengingat apapun."


"Karena kau berada di dalam pengaruh alkohol!"


Caca mendekati Xienna dengan tatapan yang sangat tajam.


"Jika kau tahu suami ku dalam pengaruh alkohol kenapa kau mau? Berarti kau yang kegatelan dengan suami ku! Dan sekarang, kau menganggu keluarga ku, apa yang kau mau?"


"Aku mau suami mu!"


"Kau tidak waras!"


"Iya, aku memang tidak waras! Dan itu semua karena mu. Dan kau, tadi sangat menantang ku bukan? Kau begitu bangga mempertunjukkan kemesraan kalian tadi bukan? Sekarang, tunjukkan di depan semua orang!" tantang Xienna kepada Caca.


Caca pun yang kesal merasa tertantang, ia tidak mau membuat keributan di sini. Namun Xienna membuat Caca kehilangan kesabaran.


Jika ini hanya tentang dia dan suami nya, Caca akan diam. Tapi, Xienna berani menampak kan diri nya di depan anak-anak nya.


Caca pun berani memeluk dan mencium suami nya di depan umum, Xienna yang melihat nya pun semakin kepanasan.


Xienna berlalu pergi meninggalkan Arvan dan Caca.


Caca yang melihat kepergian Xienna pun langsung melepaskan pelukan dan ciuman nya pada Arvan.


Tanpa mengatakan satu kata pun, Caca pergi meninggalkan Arvan. Arvan mengejar isteri nya.


"Aku tidak ingin membahas ini di depan anak-anak." hanya itu yang Caca ucap kan pada suami nya tanpa menoleh ke arah Arvan.


Arvan pun merasa kesal dengan Xienna. Ia bisa saja menyuruh orang suruuhan nya untuk memberikan pelajaran pada Xienna jika saja Xienna bukan lah seorang wanita.


Namun, Arvan tidak ingin melakukan itu. Dia sudah berjanji kepada Caca untuk membuang sifat Kejam nya.


"Tidak, selama dia tidak menyakiti anak dan isteri ku, aku tidak akan melakukan apapun pada nya, bagaimana pun dia juga seorang wanita. Jika malam itu, aku tidak menegur nya mungkin saja ini semua tidak akan terjadi."


Arvan pun masuk menyusul isteri nya. Terlihat wajah Caca begitu sangat murung.


"Daddy, siapa Tante itu?" tanya Raisa kepada Arvan, Arvan yang kebingungan harus menjawab apa.


"Tidak sayang, itu hanya teman lama mami dan Daddy. Tapi, itu bukan lah masalah besar."


"Jika bukan masalah yang besar kenapa Daddy tadi begitu marah?"


"Tidak, sayang. Daddy tidak marah. Mungkin Daddy kesal karena acara kita menjadi terganggu."


"Kan Tante itu tidak melakukan kesalahan, lain kali Daddy tidak boleh marah seperti itu. Tadi Daddy juga membentak mama Shinta." ujar Raisa. Membuat Caca dan Arvan saling pandang.


"Maaf kan Daddy, nak. Daddy tidak akan marah-marah lagi."


Arvan berjanji kepada anak nya, Caca pun mengalihkan pembicaraan nya.


"Duh, ice cream ini begitu lezat. Rasanya mami ingin menghabiskan semua nya."


"Iya, Mami. Sangat lezat, Alana juga suka."


Ujar Alana yang fokus dengan ice cream di hadapan nya, Caca juga mengatakan jika dulu mereka sering ke toko ice cream ini dan makan bersama..


"Saat mama tata hamil kalian, kita sering ke sini. Mama tata sangat menyukai ice cream, bahkan mama tata akan seperti anak kecil jika memakan ice cream yang dia suka. Iyakan kak Syifa?" tanya Caca kepada Puteri sulung nya, Syifa pun membenarkan ucapan Mama nya.


Syifa tersenyum, ia mengingat kenangan nya dulu masih kecil bersama mama Shinta.

__ADS_1


Dulu, papa Revan tidak menyukai makan ice cream di tempat ini tapi Syifa dan mama nya selalu memaksa papa nya agar mau memakan ice cream.


__ADS_2