
Shinta yang melihat Alana tertidur pun mengecup kening Alana. Ia ingin beranjak dari tempat tidur, namun Alana menggenggam tangan Shinta dengan erat seakan tidak ingin mama nya pergi dari sisi nya. Shinta pun terdiam, dan memilih tidur menemani sang anak.
Shinta terbangun, ia melihat Alana yang semakin pulas dengan tidur nya, Shinta melihat jam di dinding, ini waktu nya Alan, Syifa dan baby nya meminum susu. Shinta perlahan turun dari tempat tidur.
Setelah berhasil keluar dari kamar, Shinta pergi ke dapur membuat kan susu untuk anak-anak nya. Lalu, ia pergi ke kamar anak-anak untuk menyuruh mereka minum susu sebelum tidur siang. Ini juga waktu nya Alana minum susu, tapi diri nya tak tega harus membangun kan Alana yang begitu terlelap. Shinta berfikir untuk memberikan Alana minum susu setelah anaknya Bangun. Di kamar, terlihat pengasuh begitu repot menggendong baby dan juga mengawasi Alan bermain, sedang kan Syifa sedang belajar.
Shinta mendekat, memberikan susu kepada Alan dan Syifa.
"Ma-maaf kan saya, Non. Saya lupa membuat kan susu untuk Tuan Alan dan juga Nona Syifa."
"Tidak apa, santai saja. Kamu juga repot mengurus anak anak, terimakasih ya sudah membantu ku."
"Ini udah tugas saya nona."
"Oh iya, jangan panggil Alan dan Syifa dengan sebutan tuan dan nona. Panggil nama mereka saja, anggap saja mereka sebagai adik mu ya?"
__ADS_1
"Baik nona."
Shinta menyuruh Alan dan Syifa untuk minum susu, setelah memastikan jika kedua anaknya menghabis kan susu mereka, Shinta meminta baby nya kepada pengasuh untuk di berikan ASI. Shinta juga meminta perlengkapan untuk memompa ASI nya. Stok di kulkas juga sudah habis
Setelah kenyang baby nya meminum ASI, Shinta pun ingin membawa baby nya ke dalam kamar untuk di tiduri, ia menyuruh Alan dan Syifa tidur agar pengasuh bisa istirahat.
"Pergi lah ke kamar mu dan istirahat lah!"
"Tapi non, mereka belum tidur."
"Terimakasih, Nona. Nona sangat baik." pengasuh pun merasa terharu dengan kebaikan majikannya. Pengasuh itu lalu pergi meninggalkan Shinta dan anak-anak. Shinta menyuruh Alan dan Syifa untuk naik ke kasur segera tidur siang.
Kedua anaknya sangat menurut, Syifa dan Alan langsung naik ke tempat tidur dan tidak membutuh kan waktu yang lama untuk kedua nya terlelap. Shinta keluar dari kamar mereka untuk mengecek Alana, Alana masih terlelap dalam tidur nya. Dia pun masuk ke kamar untuk menemui suami nya. Begitu lah Shinta, setelah melihat dan memastikan anak-anak nya baru ia menemui dan memperhatikan sang suami. Shinta masuk dan mendekat ke arah kasur, meletakkan bayi nya tepat di samping Revan.
"Aku menyuruh pengasuh untuk tidur siang. Biar baby Al di sini." Revan pun tak merasa keberatan. Bahkan diri nya sangat senang tidur di samping sang anak. Sesekali Revan Usil menganggu baby Al. Shinta pun memarahi nya. Tiga puluh menit berlalu, Shinta beranjak dari tempat tidur untuk melihat Alana di kamar. Alana belum minum susu, pasti dirinya akan terbangun dan menangis. Benar saja dugaannya, sesampai di kamar Alana. Terlihat Alana yang menangis, matanya masih mengantuk. Untung saja, sebelum masuk ke dalam kamar sang anak, Shinta terlebih dulu membuat kan susu untuk Alana.
__ADS_1
Shinta menyuruh Alana untuk duduk meminum susu nya, setelah selesai minum. Alana kembali tidur dengan nyenyak. Shinta pun berlalu meninggalkan Alana yang sudah kembali tidur untuk ke kamar Syifa mengecek Syifa dan Alan. Kedua nya masih terlelap dalam tidur. Setelah memastikan anak-anak nya baik-baik aja. Shinta masuk ke kamar nya untuk istirahat.
Baru sebentar Shinta ingin terlelap, baby nya pun merengek, ternyata haus. Shinta kembali memberikan ASI kepada baby Al. Baby Al yang merasa kenyang pun kembali tidur.
Revan pun menganggu sang isteri dan mengatakan jika diri nya juga mau susu seperti baby Al. Shinta melotot kepada suami nya. Revan pun hanya tertawa, mengelus rambut Shinta dengan lembut, menyuruh isteri nya untuk istirahat tidur siang.
"Tidur lah, atau aku akan membuat siang ini begitu panjang." goda Revan kembali, Shinta pun memejamkan mata dan tak membutuh kan waktu lama untuk terlelap dalam tidur nya. Revan memandangi wajah isteri dan baby nya. Rasanya sangat bahagia, melihat wajah wajah keluarga yang sangat ia cinta. Tak bosan-bosan, Revan memandangi Shinta. Wajah yang begitu penuh keteduhan.
Revan membayangkan masa-masa dahulu saat diri nya dan sang isteri masih duduk di bangku SMA. Kedua nya seperti kucing dan anjing jika bertemu, selalu ada pertengkaran-pertengkaran di antara kedua nya. Ia juga mengingat awal pernikahan mereka, sifat diri nya yang begitu dingin dan tak perduli dengan sang istri. Namun, seiring berjalan nya waktu. Dengan ketulusan dan kesabaran Shinta. Batu es itu pun meleleh, ia begitu mencintai isteri nya. Terkadang, bersikap konyol di hadapan sang isteri. Juga begitu bucin dan cemburuan. Apalagi, Shinta yang menerima diri nya dan juga Syifa. Walau sudah memiliki tiga anak dari nya, Shinta tak pernah membeda-bedakan kasih sayang anak-anak nya dengan Syifa. Bahkan, Syifa tidak pernah merasa jika diri nya adalah anak tiri.
Revan begitu sangat bersyukur memiliki istri seperti Shinta walau sedikit tidak waras dan sangat menyebalkan. Jika, bukan Shinta isteri nya. Mungkin, Syifa masih saja merasa kesepian dan kehilangan sosok seorang ibu.
Shinta membuka mata nya perlahan, karena merasa seseorang mengamati diri nya. Namun, Revan memejam kan mata nya. Tidak ingin sang isteri tahu, jika dirinya memandangi Shinta. Jika tidak, Shinta akan meledek diri nya dan mengatakan jika dia tak bisa berpaling dari Shinta. Walau itu memang benar, namun Revan sangat malu jika sang isteri mengetahui itu.
Shinta melihat suami yang tidur, perlahan bangkit mencium pipi Revan. Lalu kembali terlelap tidur, tanpa ia ketahui ada senyuman indah yang terlukis di wajah sang suami. Revan senyum-senyum sendiri melihat kelakuan sang istri barusan. Yang mengecup diri nya, walau sudah memiliki empat anak, Reban seakan anak remaja yang baru merasakan jatuh cinta, hati nya berbunga bunga. Ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin, namun ia takut jika baby Al terbangun karena terganggu dengan suara nya.
__ADS_1