Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 63


__ADS_3

Revan menarik tangan isterinya untuk menjauh dari wanita itu


"Mengapa kau menjadi liar lagi?" ucap Revan kesal.


"Mengapa emangnya? Apa kau senang di goda?" Shinta melototkan matanya kepada sang suami, Revan yang melihat kekonyolan Shinta hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Umur sudah mau 27 tahun tapi tingkah seperti anak ABG saja" gumamnya dalam hati. Shinta mengepalkan kedua tangannya, ia masih begitu kesal dengan wanita yang terang-terangan menggoda suaminya didepan dirinya sendiri.


"Cie cemburu" ledek Revan.


"Jelaslah aku cemburu! sudah lah aku ingin kembali ke kamar saja" Shinta pun pergi meninggalkan Revan di tepi pantai, Revan mengikuti sang isteri


"Tunggu" Revan menarik tangan Shinta dan membawanya kedalam pelukkan, mengecup bibir tipis Shinta. Shinta yang awalnya kesal pun menjadi diam membisu. Tak biasa biasanya Revan bersikap romantis di depan umum, mereka pun saling tatap tanpa berbicara sepatah kata pun. Revan melingkarkan kedua tangannya di perut Shinta


"Jangan marah, aku tak tergoda padanya" membisikkan di telinga Shinta.


"Namun kau diam saja di goda begitu" Shinta memajukan mulutnya kedepan


"Kan dia yang menggoda bukan aku" Balas Revan dengan kekehan, entah mengapa dia menyukai sikap Shinta yang kekanak-kanakan ketika cemburu.


"Ayo kita makan, aku lapar" ajak Revan yang melepaskan pelukkan itu dan menggengam tangan Shinta dengan lembut. Mereka pun berjalan ke ruang makan yang sudah di sediakan oleh penjaga villa yang mereka tempati untuk beberapa hari kedepan. Shinta dan Revan duduk berhadapan muka


"Suap" pinta shinta dengan manja


"Apa kau tidak bisa makan sendiri?" Revan mengerutkan dahinya, menatap sang isteri yang tiba tiba berlaku manja kepadanya.


"Kalau tidak mau ya sudah, aku bisa makan sendiri" ucap Shinta dengan kesal, ia pun memasukkan makanan kedalam mulutnya dengan menggerutu tidak jelas.


"Sini aku suapin" Revan mengambil ahli sendok yang ada ditangan shinta dan menyuapi Shinta dengan sabar.


"Kau ini seperti anak kecil saja" Revan menggelengkan kepalanya. Setelah selesai makan Shinta dan Revan masuk kedalam kamar dan membersihkan tubuh mereka secara bergantian.


"Bagaimana kabar Syifa ya" Shinta duduk ditepi tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Revan pun duduk di sebelah Shinta dan mengambil ahli handuk kecil yang ada di tangan Shinta untuk membantu mengeringkan rambut panjang isterinya tersebut.

__ADS_1


******


"Nenek, Syifa kangen mama papa hiks" rengek Syifa kepada lili


"Sayang, mama dan papa sedang beristirahat. Besok kita telpon ya" bujuk lili namun Syifa terus saja merengek Karena merindukan kedua orang tuanya.


"Telpon papa nek hiks" lili kebingungan menghadapi cucunya yang dari tadi menangis merindukan kedua orang tuanya, akhirnya ia pun mengalah mengambil ponsel genggam dan menelpon seseorang yang ada di seberang sana


~Hallo ma, gimana kabar? tanya seorang wanita yang ada diseberang sana.


~Sayang, ini Syifa nangis, rindu kalian katanya


Mana dia ma? Lili pun memberikan telponnya kepada sang cucu.


~Mama, kapan pulang hiks. Syifa kangen mama


~Iya sayang, mama dan papa akan segera pulang. Syifa jangan nakal ya sama nenek, kasian nenek ya nak.


~Iya ma


~Iya ma


Akhirnya Shinta pun mengakhiri panggilannya, ia pun begitu murung begitu mendengar tangisan sang Puteri di balik telepon. Revan mendekat kearah Shinta yang sedang melamun di tepi ranjang.


"Kenapa?" Revan memeluk Shinta dengan hangat dan penuh kasih sayang, Shinta yang kaget pun tersadar dari lamunannya.


"Apa kita balik ke saja ya? kasihan Syifa" ucapnya sedih


"Kenapa? kan ada mama yang menjaganya? Apa kau tidak percaya dengan ibuku?"


"Bukan begitu, namun aku tak biasa jauh dari nya. Aku merindukannya"


"Sudah lah, hanya beberapa hari lagi kita disini. Sekarang ayo tidur! ini sudah malam" ajak Revan yang melepaskan pelukkan itu dan menggenggam tangan Shinta untuk beranjak ke tempat tidur. Shinta pun menurut. Revan menyelimuti tubuh Shinta ketika ia ingin memejamkan matanya, Shinta memanggil dirinya.

__ADS_1


"Kenapa? Keingat Syifa lagi?" tanya Revan dengan bingung, Shinta pun menggelengkan kepalanya


"Lalu?" Revan semakin bingung dengan sifat Shinta yang beberapa hari ini begitu manja dengannya bahkan melebihi anak kecil.


"Peyukk" ucapnya manja. Revan hanya menggelengkan kepala dan mendekat untuk memeluk Shinta. Mereka pun terlelap dalam tidurnya.


Keesokan harinya, Shinta sudah begitu segar karena tak sabar untuk bermain di pantai, membuat istana dari pasir. Membayangkan nya saja sudah membuat mood nya begitu bagus.


"Ayo kita kepantai" ajak Shinta kepada Revan


"Ayo" ketika mereka ingin keluar kamar tiba-tiba ponsel milik Revan berbunyi.


"Sebentar, aku angkat teleponnya dulu" Shinta pun mengangguk, Revan menjauh dan mengangkat telponnya. 20 menit berlalu akhirnya Revan mengakhiri panggilan itu. Namun wajahnya sudah tak segembira tadi, kini ia memasang wajah yang begitu dingin bahkan ketika Shinta mengajaknya bicara Revan seolah enggan menjawab dan menjauhi wanita yang sekarang sudah menjadi isterinya. Shinta yang begitu kebingungan dengan sikap Revan yang tiba-tiba berubah pun mendekat.


"Kau kenapa?" Shinta mencoba memegang tangan Revan namun lelaki itu malah menepis dan menjauh. Shinta begitu kaget melihat sikap Revan yang kembali seperti dulu.


"Apa kau ada masalah?" Shinta tak ingin terbawa suasana dan ikut emosi juga, dia mencoba tenang dan mengalah namun Revan tak menjawab pertanyaannya, Shinta semakin bingung dengan sikap Revan. Perasaan sebelum ia menerima telepon tadi sikapnya masih baik dan romantis namun kenapa berubah jadi dingin seperti ini.


"Van" panggil Shinta dengan nada lembut


"Hari ini kau balik lah deluan, aku ada urusan" Hanya itu yang keluar dari mulut Revan, nada nya begitu dingin


"Bersiap siaplah, nanti akan ada yang menjemputmu" Revan pun berlalu pergi dari kamar, Shinta yang masih tak mengerti dengan situasi ini pun hanya bisa diam saja. Ia menghempaskan nafas dengan kasar dan berkemas menyusun barang yang akan di bawa pulang.


"Kalau begitu, ngapai berlibur coba!" Umpatnya dengan kesal


"Dasar lelaki bodoh, gila! emang dia saja yang bisa berbuat semena mena huuhhhh" Shinta begitu kesal dengan sikap sang suami yang begitu semena mena padanya, terkadang baik, terkadang menyebalkan.


"Kalau ada masalah di dalam pekerjaannya kenapa aku yang kena coba? salahku apa hiks" Shinta menghapus air matanya yang mengenang di pipi, sakit sekali rasanya melihat sikap Revan yang dulu kembali lagi, padahal beberapa bulan belakangan ini hubungan mereka baik-baik dan harmonis saja


"Apa dia sudah ada wanita lain?"


"Apa dia berubah karena ada yang lebih baik dariku?"

__ADS_1


"mengapa dia berubah" begitu banyak pertanyaan pertanyaan yang ada di kepala Shinta.


__ADS_2