Ibu Sambung

Ibu Sambung
Depresi


__ADS_3

Jennika menangis di kamar nya, suara tangisan nya begitu histeris sehingga membuat Syifa dan anak-anak mendengar.


Karena kamar anak-anak juga tidak jauh dari kamar jennika.


Alan dan Alana berlari menuju suara itu berasal, mengira jika mama mereka yang menangis. Syifa tau jika itu bukan suara mama nya namun ia penasaran siapa yang menangis.


Syifa menghampiri adik-adik nya.


"Kakak siapa yang menangis?" tanya si kembar dengan bersamaan. Keributan di atas membuat Revan dan Shinta berlari menaiki anak tangga.


"Sayang, ada apa? Mengapa kalian berteriak?"


Shinta segera mengambil kunci dari saku nya, membuka pintu kamar Jennika. Terlihat wajah dan rambut Jennika yang sangat acak-acakan. Jennika histeris seperti orang depresi membuat anak-anak ketakutan.


"Sayang, tolong bawa adik-adik kamu ke kamar ya?"


"Mama itu siapa?" tanya Alana yang masih penasaran, namun dengan kepanikan Shinta memarahi anak-anak nya.


"Kalian enggak dengar apa yang mama katakan?" sontak membuat anak-anak kaget, Revan juga tidak menyukai sikap istri nya kepada anak-anak namun ia juga tidak mau mencari keributan.


Revan mengajak ketiga anak-anak nya untuk bermain di kamar, bukan Alana nama nya jika tidak membuat kepala orang pusing dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia buat.


"Papa, siapa Tante itu? Sangat menakutkan."


"Sayang, Tante itu teman nya mama. Kalian jangan takut ya? Itu Tante Jennika."


"Tante Jennika itu rekan kerja mama kan pa? Sebagai dokter gigi juga? Kenapa sekarang keadaan nya sangat memprihatinkan?" tanya Syifa, ia sangat mengenal Jennika sahabat mama nya. Namun, keadaan Jennika yang begitu kacau membuat Syifa tidak tanda kepada sahabat mama nya.


"Tante Jennika sedang membutuhkan dukungan kita nak, jadi. Papa minta kalian jangan menganggu Tante Jennika ya? Dan jangan katakan kepada siapapun jika ada Tante Jennika di sini."


"Kenapa pa?" tanya Alan yang penasaran, Alan memang sangat tenang dan pendiam. Namun, ia juga memperhatikan sekitar nya.


"Karena Tante Jennika sedang sakit, dan harus istirahat. Jadi, tidak boleh di ganggu."


"Makanya mama kunci pintu nya pa?" tanya Alana kembali, Revan pun mengiyakan.


Revan kembali mengingatkan anak-anak nya untuk tidak memberitahu keberadaan Jennika kepada orang lain. Termasuk pelayan dan seluruh pekerja yang ada di rumah, Revan juga memanggil kepala pelayan.


Meminta kepala pelayan, untuk tidak membersihkan atau masuk ke dalam kamar yang Jennika tempati.


Revan hanya ingin sahabat istri nya itu tidak merasa takut jika ada orang asing yang masuk. Itu pasti akan mengganggu ketenangan mental Jennika kembali. Kepala pelayan mengerti, ia pun berpamitan kepada Revan untuk kembali ke pekerjaan nya.


Revan mengalihkan pikiran anak-anak nya agar tidak tertuju lagi kepada jennika.


Shinta masuk ke dalam kamar Jennika, memeluk Jennika untuk menenangkan sahabat nya itu.


"Tenang Jen, tidak ada apa-apa. Semua sudah membaik. Dia juga sudah kembali, jangan khawatir."


Jennika menangis di pelukan Shinta, Shinta mempererat pelukan mereka.


"Sudah ya? Jangan takut, aku ada di sini."


Jennika mengangguk, namun tangan nya masih gemetar. Ia sangat takut jika suami nya menemukan diri nya di sini.


Suara motor suami Jennika hidup, menandakan suami nya sudah pergi dari kediaman rumah Shinta. Jennika bernafas lega, akhirnya suami nya sudah pergi.


"Ta, aku harus pergi."


"Kamu mau kemana Jen? Jangan bicara aneh-aneh."


"Ak-aku enggak bisa di sini terus, Ta. Aku enggak mau merepotkan mu dan keluarga mu."


"Aku tidak merasa di repotkan. Jangan bicara seperti itu, kamu boleh pergi kalau semua sudah membaik. Oke?"


Jennika mengangguk, ia tidak enak hati jika harus merepotkan Shinta selalu. Ia juga tahu jika ia berlama-lama di rumah Shinta akan membahayakan keselamatan keluarga Shinta.


Shinta kembali meyakinkan Jennika jika tidak ada yang bisa menyentuh atau menyakiti keluarga nya dan juga Jennika.


"Jen, apakah kamu masih praktik di klinik?" Jennika menggeleng, sama seperti Shinta semenjak menikah, memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga.

__ADS_1


"Aku mengira jika diri ku akan seberuntung kamu, Ta. Bahagia dengan keluarga kecil yang kita bangun namun ternyata. Aku salah, jauh dengan kehidupan mu yang begitu harmonis. Aku sangat malang, awal nya sangat bahagia namun akhirnya begitu menderita. Sifat nya yang begitu posesif dan selalu mengekang ku."


"Sudah Jen, jangan di ingat lagi! Jangan membuat diri mu takut lagi. Jangan siksa diri mu lagi,"


Shinta tak mau Jennika terus merasa hancur, ia segera ingin menghubungi dokter Clara untuk menangani kasus Jennika saat ini.


*******


Revan mengajak si kembar untuk bermain kuda, Alana tidak mau. Rasanya kesabaran Revan habis di buat oleh anak perempuan nya itu. Alana selalu saja keras kepala, Syifa dan Alan juga menyerah dengan sikap keras kepala Alana.


Syifa tidak bisa melihat adik nya di marahi oleh papa nya namun Alana begitu keras kepala, dan Syifa pun tidak berani melawan papa nya. Ia tau, bagaimana papa nya jika marah.


Alana!


Revan yang tak bisa menahan sabar nya langsung membentak Alana, Alana menangis takut. Syifa memeluk adik nya namun Revan mengatakan dan memperingatkan Syifa untuk tidak terlalu memanjakan Alana.


Kakak dan Abang tidak perlu memanjakan Alana! Karena kalian terlalu membela dan melindungi nya lihat lah dia semakin hari semakin nakal! Papa sudah katakan sama Alana untuk jangan membantah perintah Papa!


Revan kesal karena Alana tidak mendengarkan nya dan terus saja merengek ingin bersama mama nya. Alana menangis ketakutan, Alan menenangkan papa nya. Namun, Revan yang sudah sangat kesal kepada Alana pun tak dapat menahan amarah nya.


"Papa jangan malah-malah. Nanti cepat tua," Alan mencoba mencairkan suasana, namun ia juga kenak omel oleh papa nya.


Revan mengatakan jika Alan juga nakal seperti Alana sekarang. Alan terdiam, karena membela kembaran nya yang begitu keras kepala. Ia justru di marahi oleh papa nya, saat ini yang bisa melindungi Alana dari amarah sang papa hanya lah mama mereka Shinta.


Tapi, Syifa dan Alan tau jika mama mereka tidak mungkin bisa menyelamatkan Alana dari kemarahan papa mereka. Karena sedang menemani sahabat mama nya yang sedang tidak baik-baik aja.


"P-pa," Revan menatap Syifa dengan tatapan tajam, Syifa menunduk takut. Ia pun meminta maaf kepada papa nya.


"Pa, kakak minta maaf. Kakak engg-enngak mau manjain adik-adik tapi papa tau apa yang selalu mama katakan. Amarah tidak bisa menyelesaikan masalah, dan kita tau bagaimana sifat Alana." ujar Syifa dengan ragu-ragu. Jika harus diri nya yang di hukum. Syifa siap, asal adik-adik nya aman dan tak kenak amarah dari papa nya.


Revan mengusap wajah nya dengan kasar, ia pun tersadar dengan sikap nya. Revan meminta maaf kepada anak-anak karena tidak bisa mengontrol emosi nya.


"Maafkan papa, papa enggak bisa sesabar mama kalian."


Revan meninggalkan anak-anak nya dengan wajah bersalah. Alan memarahi Alana karena sifat dan sikap nya yang keras kepala membuat papa mereka menjadi sedih.


Alana tidak bermaksud membuat papa nya sedih, Alana mengejar Revan, menangis dan langsung meminta maaf kepada papa nya sambil memeluk kaki Revan.


"Nak, jangan begini. Papa yang salah, papa selalu saja terbawa emosi dan memakai emosi jika marah kepada kalian."


"Papa enggak salah, Alana yang salah." teriak Alan dengan geram, ia kesal saat papa nya merasa bersalah.


Revan menggendong tubuh Alana, mengecup pipi anak nya yang sangat gembul.


"Jangan menangis princess papa, air mata kamu berharga." Revan mengusap air mata anak nya. Ia memeluk Alana dan meminta maaf sekali lagi kepada anaknya. Seharus nya ia bisa lebih bersabar menghadapi anak-anak seperti yang Shinta lakukan.


Revan menyadari, jika sering membentak anak-anak itu akan merusak mental anak-anak nya. Ia juga menyesal karena dahulu terlalu keras kepada Syifa.


Syifa tersenyum bahagia, bahagia karena sang papa sudah menyadari kesalahan nya. Bahagia karena papa nya bisa mengontrol emosi tidak seperti dahulu.


"Mama pasti senang melihat perubahan papa sekarang." batin Syifa. Dan karena mama nya Shinta, akhirnya kedinginan Revan bisa berubah.


"Papa, Alana sayang papa."


"Papa juga sayang sama Alana."


******


Shinta mengambil ponsel nya, ia melihat teman satu rekan mereka dahulu menghubungi nya. Yang bukan lain adalah mantan kekasih Jennika.


Shinta melihat ke arah Jennika, ia bingung. Apakah harus mengangkat nya atau tidak.


Jennika bertanya kepada Shinta siapa yang menghubungi Shinta. Shinta pun jujur kepada jennika karena itu pun tidak bisa berbohong. Tidak ada alasan Shinta untuk berbohong.


"Rival."


Jennika terkejut, mengapa Rival menghubungi Shinta. Shinta pun enggan untuk mengangkat ponsel nya namun Jennika meminta Shinta untuk mengangkat nya karena siapa tau ada hal penting yang mau Rival bicarakan.


Shinta pun mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


Panggilan Terhubung.


Hallo, ini dengan dokter Shinta? ~Rival


Iya, dokter Rival, ada yang bisa saya bantu? Tumben sekali anda menghubungi saya. ~Shinta


Begini, saya ingin mencari tau di mana keberadaan Jennika. Semenjak menikah, ia memutuskan untuk resain dan tidak ada kabar nya sama sekali ~Rival


Hem, saya juga tidak tahu di mana dia sekarang. Tapi, menurut informasi dari suami nya saat ini Jennika sedang berlibur di luar negeri. Dan pasti diri nya baik-baik saja. Apakah anda memerlukan sesuatu kepada jennika? ~Shinta


Ti-tdiak! terimakasih atas informasi nya


Panggilan Terputus.


Shinta merasa ada yang janggal, mengapa mantan kekasih Jennika menghubungi diri nya. Setelah sekian lama, seakan mengetahui kehilangan Jennika dan ingin mencari tau nya.


Namun, bagaimana rival bisa mengetahui nya? Apakah ada kontroversi di sini? Shinta memendam keraguan nya, tidak mau Jennika semakin kepikiran dan semakin stres.


Jennika bertanya kepada Shinta apa yang terjadi, Shinta hanya menggeleng kan kepala nya. Ia tidak mau menambah pikiran sahabat nya.


Shinta akan mencari tau semua nya sendiri tanpa sepengetahuan Jennika. Agar Jennika pun bisa fokus dalam penyembuhan trauma batin yang Jennika alami.


*******


Di sisi lain Rival membanting ponsel genggam nya, ia kesal karena kehilangan jejak Jennika.


Semenjak pernikahan Jennika dengan suami nya membuat rival merasa kesal dan tidak terima. Ia ingin membalas rasa sakit hati nya dan bersumpah untuk membuat keluarga Jennika tidak tenang.


Rival tidak terima karena Jennika memutuskan nya sepihak dan memilih menikah dengan orang lain yang tak lain adalah sahabat Rival sendiri.


Di sikap kasar dan binatang suami nya Jennika. Ternyata, Rival di balik itu semua.


Ia ingin, Jennika kembali kepada nya. Bahkan ia selalu mempengaruhi suami Jennika agar membenci Jennika.


Bahkan menuduh Jennika telah berselingkuh dengan pria lain sehingga mereka kehilangan anak nya. Terus memprovokasi suami Jennika agar membenci dan menyiksa Jennika..


Sebenarnya, suami Jennika sangat mencintai Jennika. Namun, hasutan dan fitnahan Rival kepada jennika berhasil membuat suami nya tidak mempercayai Jennika dan lebih mempercayai rival.


Bahkan teman yang selalu menodai Jennika adalah Rival sendiri yang selalu menggunakan topeng tanpa Jennika tau siapa orang nya.


Saat Rival mengetahui Jennika telah kabur dari rumah, Rival merasa kesal dan juga cemas.


Ia tidak mau Jennika pergi dari kehidupan nya, dia hanya mau Jennika segera berpisah dengan suami nya. Namun suami nya tidak mau melepaskan Jennika.


"Di mana aku harus mencari mu, aku yakin Jenn. Sangat yakin, jika kau bersembunyi di rumah dokter Shinta. Dan aku pastikan, aku akan segera menemukan mu Jen. Kau tidak bisa pergi dari ku, kau harus membayar setiap rasa sakit ku Jennika!" teriak rival.


Rival mendengar suami motor milik suami Jennika. Ia pun bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Terlihat wajah frustasi dari suami Jennika, Rival menghibur nya dengan memberikan sebotol wine kepada sahabat nya itu.


"Masuk bro, ini nikmati dulu!" Rival menyodorkan sebotol wine putih, yang di sambut hangat oleh suami Jennika tanpa waktu lama, ia langsung meneguk nya hingga habis..


"Dia pergi dari hidup gue, kenapa dia pergi? Apa dia pergi sama selingkuhan nya? Dia enggak bisa lolos dari gue setelah dia dan selingkuhan nya menghabisi anak gue!" ujar suami Jennika dengan wajah yang memerah, dan penuh amarah.


"Tenangi diri Lo bro, apa Lo udah cari bini lo di teman-teman nya? Rekan kerja nya dulu gitu misal nya."


"Udah bro, gue baru aja kerumah sahabat nya.. Sahabat nya bahkan bertanya terlebih dahulu ke gue gimana keadaan wanita ****** itu."


"Lalu?" tanya Rival kembali penasaran, suami Jennika mengatakan jika sahabat istri nya tidak mengetahui keberadaan nya.


"Mereka enggak curiga Lo datang, bro?" tanya Rival kembali dengan begitu penasaran, suami Jennika menggelengkan kepala nya.


Dia pun memberitahu apa yang ia katakan kepada keluarga Shinta..


"Gue frustasi. Enggak tau di mana lagi mencari nya, apa mungkin dia udah pergi jauh sama selingkuhan nya?"


"Jangan berfikir seperti itu, mungkin saja ia sedang bersembunyi di suatu tempat."


"Iya, bersama selingkuhan nya. Sudah lah, gue juga udah muak dengan nya! Biarin dia pergi dan melanjutkan kehidupan nya. Gue udah cukup sakit hati, dia udah bunuh anak gue."

__ADS_1


"Lo enggak boleh menyerah dan melepaskan dia begitu aja. Lo lupa? Dia udah membunuh anak Lo. Apa Lo mau lepasin dia?" Walau Jennika sudah kabur, Rival terus saja memprovokasi sahabat nya agar tetap mencari keberadaan jennika dengan beralasan membalas dendam untuk kematian anak nya Jennika.


__ADS_2