Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kamar yang berantakan


__ADS_3

Film pun telah usai, Lampu kembali menyala.


Caca, Arvan dan ke dua Puteri mereka Raisa dan Syifa pun ke luar dari ruangan.


Caca menoleh ke arah anak-anak nya, ia mengerutkan dahi merasa heran mengapa mata anak-anak nya sembab.


"Kalian tidur?" tanya Caca dengan lembut, Raisa dan Syifa pun saling pandang, ke dua nya terlihat gugup.


Celaka!


"Ti-tidak ma!"


"Syifa, jangan berbohong nak! Mama tahu, kalian tidur?"


Arvan hanya diam, tidak mencampuri urusan ibu dan anak.


"Hmm, iya ma." Syifa dan Raisa pun tertunduk, mereka menyadari kesalahan yang telah mereka buat.


"Jika kalian mengantuk, mengapa nonton? Toh, kalian tidak melihat film nya."


Caca menggeleng melihat tingkah ke dua anak nya, ia meninggal kan baby Khanza demi mengikuti kemauan dari ke dua Puteri nya. Namun, bukan nya menonton mereka justru tertidur di dalam bioskop.


Syifa dan Raisa memegang ke dua telinga nya, meminta maaf kepada sang ibu.


"Maafin kita, ma."


"Iya, mami. Maafin kita, bukan nya maksud membuat mami marah." Raisa pun menangis, sungguh ke dua anak nya begitu sangat lucu dan menggemaskan.


Walau sudah besar, mereka tetap mengakui kesalahan nya. Caca mengelus ke dua rambut Puteri nya dengan lembut.


"Tidak apa-apa. Sudah jangan menangis."


"Terimakasih, Ma."


"Terimakasih, Mi."


Caca meminta kepada Syifa untuk memanggil nya dengan sebutan mami juga. Karena Raisa, Khanza, dan si kembar memanggil nya mami. Hanya syifa yang berbeda.


"Lagian, jika kita semua mengumpul. Syifa akan bingung memanggil mama atau mama Shinta."


Syifa pun menuruti ucapan Caca, mulai sekarang ia memanggil Caca dengan sebutan mami. Sama seperti yang lain nya.


Arvan mengajak anak dan isteri nya makan dahulu.


"Lebih baik kita makan, anak-anak Daddy pasti sudah lapar."


"Iya, Daddy."


"Anak-anakku yang manis." ujar Arvan yang tersenyum, mengelus ke dua rambut Puteri nya secara bersamaan.


"Daddy, tapi Syifa nggak mau makan di sini."


"Kenapa, sayang?"


"Syifa ingin makan di pinggir jalan saja. Makanan di sana jauh lebih enak rasanya daripada di dalam mall. Hanya menang tempat saja."


"Iya, Daddy. Raisa juga tidak suka makan di tempat seperti ini, makanan di pinggir jalan begitu lezat. Pasti Daddy tidak pernah mencoba nya."


"Hem baik lah, kita akan makan di mana pun anak-anak Daddy inginkan."


"Yey!"


Raisa dan Syifa begitu sangat senang.

__ADS_1


"Kak, rasanya aku sungguh bahagia. Selain kita sekelas, sebangku, kita juga bersaudara. Andai saja kakak tinggal di rumah mami pasti lebih menyenangkan." ujar Raisa.


Syifa pun terdiam sebentar, walau dia menyayangi Raisa. Namun, Syifa sudah nyaman tinggal bersama mama Shinta dan adik-adik nya.


Syifa menginap di rumah ibu kandung nya hanya memiliki satu tujuan saja, untuk membuat hubungan Mami dan Daddy nya akur.


"Maaf kan kakak ya? Tapi, kakak sudah memiliki keluarga kecil yang lain. Kakak sangat menyayangi mu, mami dan Daddy. Namun, kakak juga memiliki keluarga seperti papa, mama, dan si kembar. Kakak tidak bisa meninggalkan mereka, dan mama tata pasti akan sedih jika kakak lama-lama menginap di rumah mami."


"Ya, padahal bersama kakak sangat menyenangkan."


"Nggak ada kakak juga menyenangkan kok, kamu bisa lebih dekat dengan mami dan Daddy. Menghabiskan waktu kalian bersama dengan baby Khanza juga. Dan, kakak juga akan sering bermain ke rumah mami."


"Raisa sangat berharap kakak mau tinggal bersama kami."


"Maafin kakak ya? Masalah itu kakak nggak bisa, kakak nggak bisa meninggalkan mama tata. Kakak begitu menyayangi nya."


"Apa kakak tidak sayang mami?"


Syifa menatap Raisa dan tersenyum kepada Raisa.


"Dasar payah! Kakak yang begitu sayang dengan mami.. Walau bagaimana pun, mami adalah ibu yang sudah melahirkan kakak. Namun, sedari kecil aku sudah biasa tinggal bersama papa Revan juga mama Shinta. Takdir sudah membawa jalan ku seperti ini, memiliki dua keluarga."


Raisa pun terdiam, diri nya tahu jika sang kakak lebih menyayangi ibu sambung nya ketimbang ibu kandung nya sendiri. Walau hati Raisa merasa kecewa.


"Berati kakak lebih menyayangi ibu sambung kakak ketimbang mama yang sudah melahirkan kita?"


Terlihat dari wajah Syifa jika dia tidak menyukai pertanyaan dari sang adik..Syifa begitu sensitif jika menyinggung tentang ibu sambung nya.


Caca dan Arvan mendengarkan percakapan ke dua anak mereka, Caca akan menjelaskan kepada Raisa nanti ketika Syifa tidak ada.


Agar Raisa tidak membenci dan mengira jika Shinta sudah merebut Syifa dari ibu kandung nya.


"Sayang, ayo."


Percakapan tadi membuat Raisa hanya terdiam, ia kehilangan selera untuk makan.


Begitu juga dengan Syifa, suasana menjadi sangat canggung.


"Mi, sebaik nya kita langsung pulang saja." ujar Syifa dan Raisa secara bersamaan.


Arvan dan Caca tidak mau membuat suasana di hati anak-anak mereka menjadi buruk. Arvan pun melajukan mobil nya menuju rumah.


Sesampai di rumah, belum sempat Arvan mematikan mesin mobil. Syifa sudah turun deluan tanpa mengucapkan satu kata pun.


Hati nya terluka dengan ucapan Raisa.


Bagaimana bisa Raisa mengatakan hal seperti itu? Bahkan, Syifa lebih menyayangi dan mencintai mama Shinta daripada diri nya sendiri.


Jika tidak ada Shinta, mungkin ia tidak akan tumbuh seperti sekarang. Syifa yang masuk ke dalam kamar pun hanya meneteskan air mata nya.


"Mi, apakah pertanyaan Raisa sudah menyakiti hati kakak?"


Raisa menatap mami nya yang masih di dalam mobil dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak bermaksud melukai perasaan kakak nya.


"Sayang, kamu nggak salah kok..Begitu juga dengan kakak Syifa. Bagaimana mama menjelaskan nya ya?"


Caca bingung harus bagaimana menjelaskan nya kepada Raisa tanpa harus menyakiti hati anak nya.


"Nak, sama seperti Raisa. Kak Syifa juga tumbuh tanpa campur tangan nya mami, bahkan ia juga tidak tahu siapa ibu nya dari bayi. Kakak Syifa hanya mengenal kasih sayang dari papa dan kakek nenek nya. Lalu, saat ia berumur lima tahun. Dia mengenal mama Shinta, mama Shinta memberikan kasih sayang dan perlindungan yang nggak bisa mama berikan. Bahkan, saat kakak Syifa sudah jatuh cinta kepada ibu sambung nya, dia Belum tahu siapa mama. Mama hadir saat kakak Syifa sudah begitu dalam jatuh cinta dan merasakan cinta dari ibu sambung nya yaitu mama shinta." ujar Arvan.


"Benar nak, jadi. Ada dan tidak ada nya mami, itu tidak berpengaruh bagi kakak Syifa saat itu. Karena dia sudah memiliki mama yang begitu dalam mencintai nya. Memberikan nya kasih sayang, perhatian, dan perlindungan yang luar biasa. Dan akhirnya, mami datang sebagai orang asing tentu nya. Mama Shinta memberikan penjelasan kepada kakak Syifa siapa mama, akhir nya kakak Syifa bisa menerima mama. Tapi, sayang. Hubungan kakak Syifa dan ibu sambung nya jauh lebih dalam daripada kepada papa kandung nya sendiri. Sebab itu, kakak Syifa sangat sensitif jika berhubungan dengan mama Shinta."


Raisa kini mengerti dengan penjelasan Mami dan Daddy nya. Raisa turun dari mobil, berencana untuk meminta Maaf kepada sang kakak.

__ADS_1


Caca ingin mengejar. Namun, Arvan memegang tangan nya. Sontak membuat Caca terkejut. Ia mengira jika diri nya sudah melakukan kesalahan.


"Maaf kan aku." Caca menoleh ke arah Arvan, Arvan pun menatap isteri nya.


"Sayang, maaf kan aku. Aku menyadari, kesalahan ku. Kau memang melakukan kesalahan, tapi aku lah penyebab kau melakukan kesalahan. Jadi, itu semua bukan lah kesalahan mu, tapi aku. Tidak seharus nya aku bersikap begitu hingga terlalu menyakiti mu. Maaf kan aku sayang."


Caca pun menangis, Arvan segera memeluk Caca. Caca pun membalas pelukan suami nya.


"Kita mulai semua nya dari awal nya? Kita perbaiki segala kesalahan di masalalu. Dan menjadi orang tua yang baik untuk Syifa, Raisa dan juga Khanza."


Caca mengangguk, mendongakkan wajah nya untuk menatap mata suami nya Arvan. Arvan mengecup kening Caca dengan lembut.


"Terimakasih, Sayang. Sudah melahirkan Syifa, Raisa, Khanza. Anak-anak yang luar biasa. Kamu memang ibu terhebat untuk ke tiga anak kita."


Caca menangis terharu, mendengar ucapan suami nya. Arvan pun tak kuasa menahan tangis nya, ia menyesal dengan perbuatan nya beberapa hari ini..Dengan sengaja ia menyakiti hati, fisik dan juga mental isteri nya.


******


Raisa masuk ke dalam kamar Syifa dengan langkah perlahan. Ia melihat kakak nya yang termenung sendirian.


"Kakak." panggil nya dengan nada yang pelan. Raisa takut, jika kakak nya marah bahkan mengusir nya.


Tapi, Syifa bukan lah orang yang memiliki sifat begitu, walau dalam kemarahan pun ia bisa bersikap tenang.


"Iya?"


"Maaf." Raisa menangis memegang ke dua telinga nya, sungguh ia merasa menyesal telah menyakiti hati sang kakak.


"Maaf, karena ucapan Raisa kakak menjadi kesal."


Syifa bangkit, memegang tangan adik nya. Untuk tidak memegang telinga lagi.


"Sudah, tidak apa! Kakak nggak marah kok, kakak paham. Kamu nggak ngerti apa yang kakak rasain."


"Sekali lagi, maafin Raisa ya kak?" Raisa memeluk Syifa dengan erat, menangis terisak di dalam pelukan kakak nya.


Syifa membelai rambut Raisa, dan menenangkan adik nya tersebut.


"Sudah jangan menangis, nanti jadi jelek loh!" bisik Syifa dengan penuh canda di telinga adik nya.


Raisa pun tersenyum, memukul kakak nya dengan manja.


"Aaaa kakakkkk...." manja nya. Syifa pun tertawa, merasa sangat gemas dengan perilaku manja sang adik.


Syifa melepaskan pelukan mereka. Dan kembali meledek sang adik


"Lihat itu, hidung mu memerah seperti om badut."


Syifa pun berlari setelah meledek adik nya, dan Raisa mengejar Syifa dengan membawa bantal petak.


Mereka naik ke atas tempat tidur, bertempur menggunakan bantal. Namun, tidak dengan kekerasan.


Ke dua nya tertawa senang. Saling memukul menggunakan bantal, guling. Hingga kapuk di dalam nya ke luar. Membuat kamar mereka menjadi berantakan.


Caca dan Arvan yang memasuki kamar ke dua anak nya pun saling pandang satu sama lain, lalu mereka tersenyum bahagia melihat Raisa dan Syifa sudah akur.


"Mereka bisa menyelesaikan masalah nya tanpa ada kita, aku senang melihat nya."


"Iya, Sayang. Aku juga merasa senang melihat anak-anak kita menjadi kompak begini. Walau tadi mereka sempat beradu argumen. Tapi, mereka bisa melewati masalah itu tanpa campur tangan dari kita."


"Syifa memang memiliki sifat yang begitu dewasa seperti mu, bahkan dia yang menyemangati ku untuk mengatakan yang sebenar nya kepada Raisa. Dia memberikan aku kekuatan."


Arvan sangat menyayangi Syifa, sifat kedewasaan yang di miliki oleh Syifa pasti menurun pada Caca.

__ADS_1


__ADS_2