Ibu Sambung

Ibu Sambung
Perubahan Sikap


__ADS_3

"Sungguh kak, aku tidak pernah berfikiran sejahat itu. Bahkan, aku ingin jika kalian main bersama, kita main bareng-bareng." Raisa semakin terisak, hati nya begitu sedih melihat teman sedari kecil nya marah dan menuduh nya yang tidak-tidak.


"Sudah, jangan menangis. Jika memang kau tidak seperti itu, buat apa menangis? Jangan buang-buang air mata mu, air mata mu begitu berharga, aku sudah kata kan padamu, dia bukan lah teman yang baik. Jika dia teman yang baik, dia tidak akan pernah memiliki sifat yang iri pada mu, apalagi kalian teman dari kecil." Syifa mengajak Raisa untuk duduk di kursi taman sekolah, Raisa masih saja sedih dengan ucapan Lala.


"Udah dong, jangan menangis terus. Kasihan kan wajah mu yang cantik ini menjadi sangat jelek karena kebanyakan menangis. Aku yakin, nanti dia juga akan mengerti dan meminta maaf. Sudah ya?" Raisa mengangguk, ia berencana jika berada di asrama akan mengobrol dan meminta maaf kembali kepada Lala.


Bel berbunyi, menandakan guru akan masuk ke dalam kelas memulai pelajaran, Syifa mengajak Raisa untuk masuk. Mata Syifa tertuju kepada Daddy nya yang masuk ke ruangan kepala sekolah.


Daddy? Ada apa Daddy ke ruangan kepala sekolah tidak seperti biasa nya ~ Syifa.


"Kak, itu bukan kah Daddy mu?"


"Iya, itu Daddy. Tumben sekali Daddy ke sini, jika terjadi sesuatu pada ku pasti papa dan mama Shinta yang ke sekolah. Kenapa Daddy ke sana ya?" Syifa ingin menghampiri Arvan, namun Raisa mencegah. Ia menyuruh Syifa melihat ke arah guru yang sedang berjalan ke kelas. Segera mereka berlari menuju kelas. Syifa juga bertanya pada Daddy nya setelah pulang sekolah saja.


Di dalam kelas, Tama tersenyum kepada Syifa. Namun, Syifa tak menggubris dan bersikap dingin. Senyuman manis di wajah Tama pun memudar.


*Mungkin dia masih marah dengan ku, sebaik nya aku tidak mengganggu nya, tapi. Jika, aku tidak mengganggu nya, bagaimana bisa dia memaaf kan ku ~Tama

__ADS_1


Kenapa kau sekarang begitu baik padaku setelah Amira pindah sekolah, apakah kau ingin membalas dendam padaku untuk Amira? Apa tidak cukup puas kau dan Amira menyakiti ku ~Syifa


Beri aku kesempatan sekali saja, aku berjanji pada mu Syifa. Aku akan selalu membuat mu bahagia ~Tama


Pergi lah, menjauh dari ku. Kau sudah bahagia dengan Amira, jangan ganggu aku dan buat hati ku semakin sakit ~Syifa


Aku tidak akan menyerah, aku akan terus mendekati mu sampai kau memaaf kan aku ~ Tama*


Ke dua insan itu pun berlaga di dalam hati satu sama lain, Tama masih memandang Syifa yang sudah duduk di kursi nya. Guru pun datang, seluruh murid kembali fokus dengan pelajaran yang ada hingga bel pulang sekolah.


Syifa mengajak Raisa untuk bermain ke rumah nya, namun Raisa takut jika guru asrama akan marah, peraturan di asrama harus di taati apapun alasan nya, Syifa pun mengerti. Ia meminta kepada Raisa, ketika liburan tiba, Raisa bersedia untuk menginap di rumah nya. Raisa pun mengangguk, ke dua nya tersenyum dan berpelukan sebelum ke dua nya kembali ke rumah. Supir pribadi Syifa sudah menjemput, Syifa berpamitan kepada Raisa, setelah Syifa pergi menjauh dari sekolah. Raisa kembali ke asrama


"Kak, boleh aku duduk?"


"HM." jawab Lala dengan singkat, Raisa duduk di samping Lala, ia meminta maaf kepada Lala dan menjelaskan jika diri nya tidak bermaksud membuat Lala marah.


"Kak, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud menyakiti hati kamu, aku berani bersumpah kak. Kak Syifa memang kurang atau lebih tepat nya tidak suka ke kantin dan keluar kelas. Tadi, kak Syifa merasa kepanasan, itu sebab nya kak Syifa mengajak ku duduk di taman. Aku melihat mu, makanya aku memanggil dan mengejar mu. Jika aku tidak ingin kalian dekat, untuk apa aku berlari, mengejar mu kak? Pasti, aku berpura-pura tidak nampak aja, tapi nyata nya kan tidak."

__ADS_1


Raisa memegang tangan Lala, Lala tetap diam memalingkan wajah nya dari Raisa. Raisa tetap sabar menghadapi sifat Lala.


"Kak, aku juga tadi ngenali kakak sama kak Syifa, tapi. Aku juga nggak tahu, kenapa kak Syifa bersikap dingin kepada kakak. Sifat dingin kak Syifa memang itu lah dia. Sama aku juga begitu, suka dingin. Dia nggak sombong, tapi memang anak nya pendiam. Aku mohon kak, jangan marah lagi. Aku nggak sanggup lihat kakak marah begini," Raisa memeluk Lala, tanpa Raisa sadari ada senyuman jahat di wajah Lala.


"Sebaiknya kamu makan lah sana, Ibu asrama juga mencari mu. Tinggal diri mu yang belum makan"


"Iya kak, aku pergi jumpai ibu asrama dulu ya?" Lala mengangguk, mengusir Raisa agar cepat keluar dari kamar.


Susah bener sih ngusir kamu. Apa kamu fikir aku ini bodoh? Aku tidak akan ketipu dengan wajah polos mu itu. Aku yakin, di belakang kau menertawakan ku kan, Raisa? Lihat aja, aku akan memberikan mu pelajaran yang membuat mu tidak akan melakukan hal itu lagi. Kau harus tau, siapa Lala. Jangan panggil nama ku Lala jika aku tidak bisa dapatkan apa yang aku ingin kan ~Lala.


Walau masih anak-anak dan berada di kelas satu SMP. Sifat Lala begitu sangat licik, Raisa yang begitu polos turun ke bawah menemui ibu asrama


"Permisi Bu, Maaf Bu jika Raisa lama." Raisa menunduk takut, karena ibu asrama adalah guru yang paling kejam dan tegas di asrama itu. Guru itu mendekati Raisa, Raisa memejamkan mata nya, tangan nya bergemetar. Raisa begitu kaget ketika ibu asrama memegang kepala nya dengan lembut


"Tidak apa, Sayang. Kamu makan yang banyak ya nak, ibu sudah melainkan makanan mu tadi. Makanan nya ada di meja." Ibu asrama itu menuntun Raisa untuk ke meja, betapa terkejut nya Raisa melihat makanan yang ada di atas meja. Biasanya, siapa saja yang telat makan akan mendapatkan makanan sisa. Terkadang juga tidak mendapatkan jatah makan jika tidak ada makanan yang tersisa. Namun, makanan di hadapannya begitu enak dan lezat. Raisa juga bingung dengan sifat ibu asrama yang tiba-tiba menjadi begitu lembut dan ramah.


"Sekarang, kamu makan dulu ya. Makan yang banyak, Ibu akan membuat kan susu untuk mu. Ayo habis nya." Ibu asrama itu pergi, meninggal kan Raisa. Raisa seakan sedang bermimpi, ia tak percaya dengan hal yang barusan terjadi. Tidak biasa nya, Ibu panti bersikap semanis itu pada nya, apalagi ini Raisa berbuat kesalahan. Bukan mendapat hukuman, Raisa malah di perlakukan layak nya ratu.

__ADS_1


********


__ADS_2