
"Anak mama memang pintar." Shinta mencium pipi Alana dengan penuh gemas, tingkah Alana membuat hati Shinta sedikit terhibur.
Shinta kembali ke ruang makan bersama Alana.
"Ayo, kita makan." Shinta pun mengambil makanan untuk Alana terlebih dahulu
"Alan sudah kenyang, Papa. Alan mau ke Kamal kakak dulu, ya?" izin Alan, Revan pun mengiya kan permintaan anak lelaki nya.
"Biar mama antar ya, nak?"
"Tidak mama, Alan bisa cendili. Lagian, Alan tidak manja seperti Alana."
"Mama, lihat lah! Alan mengejek ku." rengek Alana. Alan tak memperdulikan saudara kembar nya. Ia pun menuju kamar Syifa.
Di dalam kamar, terlihat kakak nya sedang menangis. Alan mendekati sang kakak dan duduk di pangkuan Syifa.
"Kakak mengapa menangis? apakah mama mem-memalahi kakak?" Alan pun menghapus air mata kakak nya. Syifa menatap adik nya dan menggeleng.
"Tidak, adik. Mama tidak memarahi kakak."
"Kalau bukan mama, pasti ini kelakuan Alana. Dia memang sangat menyebal kan, kak."
"Bukan juga, Sayang. Alana juga tidak menyebal kan." Syifa mencoba tersenyum kepada adik lelaki nya. Alan lebih dekat dengan Syifa apalagi sifat dan sikap Alan lebih dewasa ketimbang Alana. Seringkali, Alan yang lebih memahami kakak nya daripada yang lain.
"Adik, maaf ya. Kemarin kakak sudah membentak kalian, kakak nggak bermaksud begitu. Maaf ya?" Syifa meletakkan ke dua tangan nya di telinga meminta maaf kepada adik nya.
"Tidak apa-apa kakak. Jangan begitu, Alan sayang kakak."
__ADS_1
"Kakak juga sayang dengan kamu, juga dengan Alana. Kalian adik kakak, adik kesayangan kakak." Syifa menangis sambil memeluk adik nya. Alan melepas kan peluk kan mereka
"Kakak, ja-jangan menan-nangis. Alan nggak suka lihat kakak menan-nangis."
"Iya, kakak nggak menangis."
"Kakak, ayo makan? kakak pasti lapal."
"Tidak, Sayang. Kakak masih kenyang?"
"Baik lah, tapi kakak halus makan jika lapal ya? Alan nggak mau kakak cakit."
"Iya, adik ku." Syifa membelai kepala adik nya dengan lembut. Syifa pun merasa bersalah karena beberapa hari ini sering memarahi Alan dan Alana. Terutama Alana, Ocehan Alana terkadang membuat diri nya semakin pusing dan kehilangan kendali.
"Kak."
"Iya?"
"Karena Alana itu masih sangat kecil, dan ia juga wanita, Sayang. Kakak dahulu juga sangat manja dengan mama dan papa." Syifa mengingat kenangan nya bersama Ibu sambung nya. Dulu, diri nya sering memiliki waktu berdua dengan sang mama. Namun, sekarang tidak. Bahkan ia jarang berbicara kepada mama dan papa nya.
********
Shinta berusaha mengunyah makanan nya dan menutupi rasa sedih nya, Revan memandang wajah isteri nya yang tak biasa. Namun, Revan memilih untuk diam
Aku akan bertanya pada nya nanti setelah di kamar, aku tak ingin papa berkata yang menyakiti hati nya lagi ~ batin Revan.
"Makanan nya sangat pedas." pancing Revan
__ADS_1
"Iy-iya, ini sangat pedas." sambung Shinta gugup.
Bahkan ia tak bisa menyicipi makanan yang ia makan sendiri, makanan ini asam bukan pedas. Mengapa ia tidak konsentrasi begitu? apa yang ada di fikir an nya ~ batin Revan semakin bertanya-tanya.
"Sayang, ini makanan nya asam. Karena mama memasak ikan asam manis. Kenapa kalian bilang ini pedas?" tanya mama Lili yang begitu heran
"Mungkin lidah mereka sudah bermasalah." sambung papa Tommy, mama Lili pun menggeleng kan kepala seakan memberi kan isyarat untuk tidak berkata yang tidak baik lagi.
"Ma-maksud, Tata iya ini sangat asam."
"Sudah lah, mengapa ini di perpanjang? ini bukan masalah yang kecil, jika kami merasa ini pedas apa yang salah?" bela Revan. Shinta yang tak dapat menahan kesedihan nya, berpamitan pergi dari meja makan dan berlari ke dalam kamar.
"Lihat lah, menantu dan isteri kesayangan kalian! seenak nya pergi tanpa menghargai orang tua di hadapan nya ini." ucap Tommy, Revan pun bangkit dari tempat duduk nya dan mengejar sang isteri.
"Pa, wajar saja. Shinta kan sedang hamil, hormon ibu hamil itu sangat sensitif. Sudah lah! jangan membuat keributan dengan masalah kecil. Lebih baik kita menghabisi makanan kita."
"Iya, kau terus saja membela mantu mu yang manja itu."
"Pa! Tolong! kamu kenapa tidak pernah berubah, sewaktu kita di luar negeri, kamu selalu berkata rindu kepada anak, menantu dan cucu kita. Tetapi, kenapa saat kita kembali kamu malah membuat keributan dan selalu menyakiti hati anak-anak. Jika kamu terus begitu, lebih baik kita pergi ke luar negeri dan jauh dari anak-anak. Aku nggak mau mental mereka kacau karena ulah mu. Lebih baik, fokus atas kesehatan dan kesembuhan mu saja." kesal mama Lili, yang membawa Alana pun pergi dari ruang makan. Kini, sarapan pun menjadi tegang. Tommy hanya berdiam diri sendiri di ruang makan.
Mama Lili yang kesal pun masuk ke dalam kamar, sementara Alana memilih masuk ke dalam kamar mama dan papa nya. Lili begitu sangat kesal melihat sikap suami nya tak pernah berubah.
Kenapa sikap mu selalu aja membuat anak-anak menderita. Aku tak mengerti, aku tahu kau orang yang sangat baik dan penyayang, Pa. Tapi, terkadang omongan mu selalu saja mengacau kan suasana. Kapan kau bisa mengerti, kapan? ~ gumam mama Lili
Percuma berbicara dengan suami nya, Tommy hanya diam tak bersuara. Tapi, ia selalu melakukan hal yang sama. Lili tahu, jika suami nya tak pernah membenci Shinta. Ia hanya ingin Shinta menjadi ibu dan isteri yang sempurna untuk keluarga nya. Jika suatu saat Tuhan memanggil diri nya dan sang suami. Setidak nya, Tommy bisa pergi dengan tenang tanpa memikir kan tentang anak dan cucu nya.
Di ruang makan, Tommy termenung.
__ADS_1
Aku tahu, sikap ku sering kali membuat kalian merasa sakit. Tak apa jika aku di benci, tapi percaya lah. Suatu saat, Shinta akan menjadi ibu dan isteri yang sempurna
Anak dan cucu ku tak akan kekurangan apapun, mereka akan bahagia. Di saat itulah aku akan beristirahat dengan tenang tanpa harus khawatir. Suatu saat, aku dan isteri ku pasti akan meninggal kan mereka selama nya. Aku berharap anak, menantu dan cucu ku selalu damai dan bisa menyelesai kan masalah dengan baik. Apalagi, Elsa masih menjadi ancaman bagi keluarga ku. Wanita licik itu bisa saja kapan pun melukai keluarga ku. Shinta harus menjadi wanita, ibu, sekaligus isteri yang tangguh melawan wanita jahat itu. Aku melakukan ini demi kebaikan kalian~ Batin Tommy.