Ibu Sambung

Ibu Sambung
Mencari Arvan 2


__ADS_3

Arvan terhenti di sebuah makam, ia berjalan dengan perasaan kesal dan penuh amarah


"Mengapa bayangan mu selalu saja menghantui anak-anak ku? Mengapa saat kau sudah tiada pun selalu saja menghantui kehidupan anak-anak ku? Apa kesalahan cucu mu, mengapa semua ini terjadi? Kutukan apa yang sudah kau berikan kepada keluarga ku?"


Arvan berteriak di depan makam mertuanya, rasanya ia ingin marah dengan keadaan mengapa semuanya begitu, mengapa kehidupan mereka tidak bisa tenang?


"Bahkan, aku sudah melupakan segalanya. Aku juga sudah memperbaiki diri ku, namun mengapa anak-anak ku harus mendapatkan sifat buruk kita di masa lalu? Kenapa?"


Mungkin benar yang dikatakan, jika darah lebih kental dari air.


Arvan sangat gusar, dan marah. Bahkan sesekali ia meneteskan air matanya "Aku enggak siap melihat anak-anak ku di bayang-bayangi oleh bayangan hitam masa lalu,"


*****************


Shinta dan Revan sudah sampai di rumah, rumah begitu senyap "Sayang, aku memutuskan untuk menjual rumah ini dan membeli rumah yang lain."


Shinta kaget dengan ucapan suaminya "Di jual? Kenapa?"


"Mungkin itu yang terbaik, terlalu banyak duka di rumah ini. Dan jika kita terus tinggal di sini kita akan mengingat semuanya. Kamu juga tahu, Jennika menghabisi dirinya dengan cara bunuh diri di rumah ini. Kita juga kehilangan Al dirumah ini, aku ingin kita melanjutkan hidup tanpa mengingat kenangan pahit itu,"


Shinta menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju. Bagaimana pun, rumah ini memiliki banyak kenangan untuknya dan Revan. Untuk ya dan anak-anak, dan rumah ini lah kenangan ia dengan anaknya Al. Jika mereka pindah maka Shinta akan kehilangan momen kenangannya dengan sang anak


"Jangan di jual, aku enggak ingin pindah dari sini. Begitu banyak kenangan kita di rumah ini, anak-anak juga tumbuh di rumah ini dan hanya rumah ini kenangan kita dengan Al. Tolong mengerti lah!"


Revan pun sebenarnya berat meninggalkan rumah yang selama ini menjadi pelindung bagi mereka. Namun ia takut jika bayangan-bayangan sulit masa lalu tidak bisa di lupakan jika mereka tetap tinggal di sini


"Aku yakin, kita bisa melewatinya. Tapi kita harus tetap di sini, aku ingin di sini hingga aku mati nanti," ujar Shinta dengan penuh harap kepada suaminya


"Tapi apa kamu yakin bisa melupakan segala rasa sakit dan melanjutkan hidup kita dengan anak-anak di sini?"


"Aku yakin, bahkan aku tidak yakin jika kita pergi dari rumah ini,"


Revan pun mengalah, baginya kebahagiaan anak dan istrinya adalah hal yang paling utama dan paling penting


Revan mengajak istrinya untuk istirahat, sejak kemarin Shinta bahkan tidak ada tidur "Lebih baik kamu tidur, sejak kita pulang berlibur. Kamu tidak ada istirahat, aku enggak mau kamu sakit!"


Revan menggenggam tangan istrinya, membawa Shinta masuk ke dalam kamar


"Aku tapi enggak bisa tidur, aku memikirkan Alana di sana,"


"Jangan khawatir, ada mama dan papa di sana. Kamu enggak perlu cemas, mama dan papa bisa menjaga Alana dan Alan dengan baik,"

__ADS_1


"Iya aku tahu mama dan papa bisa menjaga anak-anak. Tapi aku masih takut dan bingung,"


"Sudah lah!"


Revan membaringkan tubuh istrinya, ia pun tidur di samping Shinta. Memeluk istrinya dengan penuh manja dan cinta


Sudah lama sekali mereka tidak menghabiskan waktu bersama, selalu saja ada pertengkaran di antara keduanya


Bahkan keduanya melupakan kasih sayang antara satu sama lain "Udah jangan memikirkan anak-anak, kamu juga harus istirahat! Nanti saat jadwal kita menjaga Alana. Baru kamu akan menjaganya, sekarang kamu harus tidur agar nanti badan kamu fit menjaga anak kita,"


Shinta menurut dengan Revan, tak membutuhkan itu yang lama untuk dirinya terlelap, Revan memandangi wajah istri cantik itu ia pun tidak menginginkan semua ini terjadi namun bagaimana lagi, Revan merasa ia menjadi suami yang gagal untuk istrinya juga gagal menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya.


Revan berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan memperbaiki segala hal dan membuat keluarganya utuh seperti semula, tidak ada maksud lain Revan hanya keluarganya bahagia


**********


Alan pun mengurus adik kembarnya dengan baik walau sering kali ia mencari masalah dengan adiknya itu


Alana mengadu kepada kakek dan neneknya " nenek kakek lihat lah Alan! Dia mengganggu ku,"


"Alan sayang, kamu jangan mengganggu adik kamu sayang,"


Lily menegur cucunya lembut, Alan pun terkekeh karena ia memang suka mengganggu saudara kembarnya itu


"Bukannya Alana yang mengajari Alan untuk menjadi pengacau?"


Tommy Dan Lily hanya terkekeh melihat kedua cucu mereka, Tommy bahkan berterima kasih kepada Tuhan karena masih memberikannya kesempatan menyaksikan cucu-cucunya yang hidup bahagia bersama.


Begitu juga dengan Lily, walau seringkali mereka harus meninggalkan cucunya di sini.


Alana cemberut, namun Alan tidak memperdulikannya


Perawat pun datang untuk memberikan makanan siang kepada Alana, perawat juga meminta Alana untuk meminum obatnya agar bisa cepat pulang. Alana menurut, Alan langsung mengambil piring berisi makanan itu "Kau mau memakan makanan aku?"


Alan mengangguk, ia menyicipinya sedikit lalu menyuapi Alana makan "Kau jangan berisik! Ayo makan, biar kau cepat kembali pulih!"


Alana tidak menolak, ia menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh saudara kembarnya itu


Hal itu yang membuat Lily dan Tommy bahagia, walau kedua cucunya sering bertengkar namun keduanya selalu menjaga satu sama lain. Mereka tidak pernah menyakiti, dan saling melindungi


"Sudah Alan, Alana sudah kenyang!"

__ADS_1


"Hust! Diam! Kau jangan manja Alana, kau harus makan yang banyak agar cepat sembuh, kau lupa jika kita akan ada ujian Minggu depan? Mau enggak lulus sekolah karena kau manja?" Alana dengan cepat menggeleng, ia murid yang berprestasi di sekolah, tidak mungkin ia manja dan tidak mengikuti ujian.


"Tidak Alan! Alana akan sehat dan mengikuti ujian dan Alan akan kalau nilainya dengan Alana,"


"Terserah, kau bisa mengalahkan nilai ku jika kau sembuh, dan kembali sekolah!"


Alana yang kenyang pun menghabiskan makanannya tanpa sisa. Baginya sekolah dan belajar adalah hobby yang paling ia cintai


Tiba-tiba saja Alana merindukan adiknya Khanza, "Alana rindu sama Khanza,"


Mendengar nama Khanza membuat Tommy kesal "Sayang, kamu harus memikirkan kesehatan kamu. Jangan memikirkan apapun ya? Kakek enggak mau karena orang lain kamu jadi sakit lagi!"


"Kakek, Khanza itu adiknya Alana juga bukan orang lain. Apa salah Alana rindu dengannya?"


"Sayang, tidak ada yang salah. Tapi maksud kakek, Alana harus memikirkan kesehatan Alana dulu. Nanti saat Alana sudah sehat, Alana kan bisa bertemu dengan Khanza, iyakan kek,?"


Tommy tidak mengerti maksud istirnya namun Lily memberikan kode kepada suaminya agar mengalah saja. Jangan membuat keributan yang akan membuat kesehatan Alana menjadi terganggu. Tommy pun mengalah ia tidak mau lagi memperpanjang masalah lagi


"Iya, Alana harus fokus dengan kesehatan Alana, setelah Alana sehat. Kita akan bertemu dengan Khanza,"


Alan bingung dengan saudara kembarnya yang begitu labil, saat Khanza ada bersama mereka Alana selalu kesal dan tidak terima. Namun saat Khanza tidak lagi bersama mereka, ia justru merindukan Alana. Sebenarnya Alana menginginkan apa? Hal itu selalu membuat Alan merasa bingung.


********


Khanza yang sedang di dalam mobil pun merasa sedih Daddy-nya pergi entah kemana. "kakak Daddy kemana?"


Syifa memeluk adiknya dan menenangkan Khanza "Kamu jangan khawatir, kita pasti akan menemukan Daddy ya sayang? Mungkin Daddy ingin berjalan-jalan saja sebentar!"


"Untuk apa kamu khawatir dengan Daddy? Semenjak kau datang, kau itu pengacau Khanza!"


"Cukup Raisa! Kalau kamu enggak berhenti bicara mami sendiri yang akan menurunkan kamu di jalan! Kenapa kamu selalu mencari keributan dengan kakak dan adik mu?" Caca kesal dengan Raisa yang tidak bisa di kasih tau.


"Mami yang Raisa katakan itu benar!"


"Diam Raisa! Kamu engga dengar dengan ucapan mami? Mami meminta kamu diam, dan kamu jangan bersuara lagi, mami udah pusing mencari keberadaan Daddy dan kamu di sini membuat masalah saja!"


Raisa mengerucutkan mulutnya ke depan, ia terlihat sangat kesal mengapa mami dan Daddy-nya selalu membela Khanza dan Syifa..bukannya dirinya?


"Daddy kemana?"


Syifa melihat mobil Daddy-nya "Mami, itu mobil Daddy! Tapi untuk apa Daddy ke makam?"

__ADS_1


Caca langsung menghentikan mobilnya, "Ini makam nenek kalian, untuk apa Daddy ke sini?"


__ADS_2