
Keesokan hari nya, keluarga itu pun merencanakan untuk berlibur bersama di hari weekend.
Shinta memberikan usul untuk mereka berpiknik saja, dengan itu semua akan kan bertambah kompak.
Caca dan yang lain nya pun setuju, apalagi si kembar Alan dan Alana.
"Yey."
"Tapi Alan, dan Alana harus ingat ya nak, di sana nggak boleh nakal. Kasihan kan baby sister yang menjaga kalian, belum lagi menjaga baby Khanza dan baby Al."
Shinta meminta anak nya untuk berjanji tidak akan merepotkan semua orang di sana.
Shinta percaya, jika Alan anak yang sangat mandiri, tapi tidak dengan Alana. Yang selalu membuat tingkah yang akan menyusahkan orang lain.
Alana pun berjanji kepada semua orang akan bersikap dengan baik..
"Kita akan kemana?" tanya Revan.
Syifa dan Raisa pun dengan kompak mengatakan ingin ke puncak.
Semua pun setuju dengan usul anak-anak, karena suasana di puncak akan membuat pikiran orang-orang menjadi relax.
********
Caca, Shinta, ibu Syafa, ayah Gunawan, Revan, Arvan, dan para anak-anak pun segera bersiap. Mereka menyiapkan segala keperluan yang ada, seperti baju hangat, topi, kaos kaki dan beberapa pakaian hangat dan beberapa makanan yang di butuh kan di sana.
Kini semua nya sudah bersiap, namun tiba-tiba ibu Syafa nge-drop dan jatuh pingsan.
Caca dan Shinta pun merasa khawatir dengan keadaan ibu mereka.
"Ibu." teriak ke dua nya. Ayah Gunawan dengan segera menggendong tubuh isteri nya dan membawa nya ke dalam kamar. Shinta, Caca, dan yang lain nya pun menyusul.
Shinta sangat khawatir dengan keadaan sang mama.
Ia meminta kepada ibu nya untuk segera bangun, namun ibu Syafa masih tidak sadar kan diri.
Revan segera menghubungi dokter, meminta dokter untuk secepat nya datang memeriksa keadaan ibu mertua nya.
"Ibu, bangun. Ibu kenapa?" Shinta menangis, ia melihat wajah ibu nya yang begitu pucat.
Shinta dan Caca memeluk ibu Syafa, berharap ibu mereka segera sadar.
Ayah Gunawan berusaha untuk tenang walau pada kenyataan nya, Ayah Gunawan jauh lebih khawatir dengan kondisi sang isteri.
Namun, ia selalu mengingat pesan isteri nya. Jika suatu saat, keadaan nya kembali melemah. Ayah Gunawan harus tetap tenang dan sabar. Jangan panik, sebab ayah akan menjadi penguat untuk anak, menantu dan cucu mereka.
Jika, ayah Gunawan juga lemah siapa yang akan menjadi penyemangat untuk keluarga nya..
"Ayah, ibu kenapa?"
"Oma, bangun."
__ADS_1
"Oma, bangun hiks."
Semua pada khawatir dengan kondisi Syafa yang tiba-tiba melemah. Padahal, sebelum nya ibu Syafa baik-baik saja..
Ayah Gunawan meminta untuk anak, menantu dan cucu nya tenang. Dan biarkan, dokter memeriksa keadaan Ibu Syafa.
"Ayah berharap, kalian tenang lah nak. Biarkan dokter yang memeriksa keadaan ibu kalian, dan kita tahu mengapa ibu kalian bisa tidak sadar kan diri."
"Ayah, ayah lihat kan. Wajah ibu begitu pucat tidak seperti tadi, dan jika orang yang hanya lelah saja. Dia tidak akan sepucat ini. Tata juga seorang dokter yah. Tata sedikit banyak nya mempelajari tentang keadaan dalam tubuh manusia walau tata hanya lah dokter gigi."
Ayah Gunawan pun terdiam, ia mengingat beberapa tahun lalu saat kondisi isteri nya begitu drop. Dan tidak ada yang tahu, karena Shinta sedang mengandung si kembar Alan, Alana.
Mereka sengaja tidak memberitahu anak nya, agar Shinta tidak merasa tertekan dan banyak pikiran.
Gunawan pun tersentak, karena Shinta memanggil diri nya.
"Ayah, tolong katakan sesuatu. Ada apa dengan ibu? Apakah ibu sakit?" tanya Caca dengan suara lembut nya.
Belum sempat ayah Gunawan menjawab, Revan datang membawa dokter itu. Mereka segera menyuruh dokter untuk memeriksa keadaan ibu Syafa.
Setelah memeriksa ibu Syafa, dokter meminta kepada ayah Gunawan dan keluarga untuk membawa ibu Syafa ke rumah sakit. Menjalankan perawatan yang lebih di sana.
"Kenapa? Memang apa apa sakit ibu saya dok?"
Dokter itu melihat ke arah Shinta, ia seperti tidak asing dengan wajah Shinta..
"Anda bukan kah dokter Shinta?"
"Iya, saya Dokter Shinta. Bagian gigi, tolong katakan kepada saya dok. Ibu saya sakit apa?"
"Apakah ibu saya mengalami penyakit yang serius?"
"Setelah kita mengambil darah ibu anda. Kita akan bisa memastikan nya."
Shinta pun merasa lemas, mengapa harus ke rumah sakit dan mengambil darah untuk pemeriksaan lebih lanjut jika itu bukan lah penyakit yang tidak serius.
Ibu Syafa pun sadar, dengan nada yang lemah. Ia mencoba tersenyum, mengatakan kepada anak dan menantu nya jika diri nya baik-baik saja..
"Ibu baik-baik saja. Ibu tidak apa-apa kalian jangan khawatir. Lebih baik, ibu di rumah saja bersama kalian. Ibu tidak ingin di rumah sakit."
Ibu Syafa pun mencoba menolak, namun Shinta lebih keras kepala. Ia ingin mengetahui sakit yang di alami oleh Ibu nya.
"Tidak, Bu! Tolong jangan menolak! Ibu harus pergi ke rumah sakit sekarang. Tidak lagi, tata tidak akan mendengarkan ibu."
"Tapi, ibu baik-baik saja, jika ibu di rumah sakit. Ibu bisa lebih sakit dari sebelum nya."
"Tapi, Bu."
"Sudah lah, ta. Jangan memaksa ibu mu! Ibu tidak apa-apa, ada ayah di sini. Tidak mungkin ayah akan membiarkan ibu menderita kan? Jika ini masalah serius, ayah sendiri yang akan membawa ibu." ujar Gunawan yang mencoba mencegah anak nya..
Shinta ingin menjawab ucapan sang ayah, namun Revan menahan isteri nya..
__ADS_1
"Jangan katakan apa pun lagi, Mama dan Papa tahu apa yang terbaik untuk mereka. Tolong, jangan membuat perdebatan lagi." bisik Revan kepada isteri nya.
Shinta pun terdiam, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain dengan diam.
Dokter itu berpamitan kepada semua orang, Revan mengantar kan dokter tersebut ke luar.
Acara piknik yang mereka rencanakan pun di batalkan. Ibu Syafa meminta anak-anak nya untuk tetap pergi, namun Shinta tidak ingin.
"Jika yang lainnya ingin pergi, mereka bisa pergi. Namun, tata akan di sini menjaga ibu. Kali ini, tata nggak mau ada penolakan lagi. Terserah apa yang ingin kalian lakuin, dan tata akan melakukan apa yang ingin tata lakukan."
"Caca juga tidak ingin, kita bisa merencanakan nya lain kali saja." ujar Caca..Ia juga ingin merawat ibu Syafa dengan baik.
Arvan pun setuju dengan pendapat Shinta dan Caca. Begitu juga dengan anak-anak yang tidak merasa keberatan.
Karena bagi mereka kesehatan Ibu Syafa jauh lebih penting dari apapun, Ibu Syafa pun mengalah. Dan membiarkan anak, menantu dan cucu nya untuk memilih merawat mereka.
Ayah Gunawan terdiam, ia mengira jika penyakit itu tidak akan menyerang tubuh isteri nya lagi. Karena itu sudah bertahun-tahun, bahkan usia si kembar sudah mau beranjak enam tahun.
Shinta yang melihat wajah murung ayah nya pun bertanya apa yang terjadi. Ayah Gunawan menatap Puteri nya lalu tersenyum.
"Tidak! Ayah hanya berfikir betapa beruntungnya ayah memiliki anak, menantu dan cucu yang sangat perhatian seperti kalian semua. Iyakan Bu?"
Ibu Syafa pun mengangguk, ia tahu jika sang suami nya itu sedang berbohong. Siapa yang lebih baik mengenal suami selain isteri?
Ayah Gunawan meminta yang lain nya untuk ke luar kamar dulu membiarkan ibu mereka untuk istirahat.
Shinta, Caca, Arvan, Revan dan anak-anak pun ke luar dari kamar. Membiarkan orang tua mereka untuk tidur.
Setelah memastikan yang lain nya ke luar kamar, ayah Gunawan menutup pintu nya. Ia pun berjalan mendekati sang isteri yang sedang melemah.
"Sudah ayah katakan kepada ibu, jangan terlalu lelah dan banyak pikiran. Ayah nggak mau ibu nge-drop seperti ini. Lihat kan, sekarang ibu berbaring sakit. Bagaimana ayah nanti menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka?"
"Ibu nggak apa-apa ayah. Ayah jangan khawatir seperti itu! Lihat lah, ibu baik-baik saja."
"Ibu tidak baik-baik saja. Ibu ingat apa yang dokter katakan Dulu? Jika ibu sampai tidak sadar kan diri secara tiba-tiba itu sudah begitu serius."
"Ayah, ibu tadi hanya kelelahan saja. Ayah jangan khawatir begitu, jangan membuat anak-anak menjadi curiga. Ayah harus percaya, jika ibu bisa melewati nya selama hampir enam tahun belakangan ini, kenapa sekarang tidak?"
Ibu Syafa pun menenangkan suami nya yang terlihat sangat panik, ayah Gunawan sangat hebat. Walau ia begitu panik, namun dia bisa bersikap biasa saja saat di depan anak, menantu dan cucu nya.
Gunawan meminta kepada isteri nya untuk istirahat yang total dan jangan terlalu banyak pikiran.
"Sayang, jangan banyak pikiran. Ingat, anak-anak kita sudah bahagia bersama keluarga nya. Jadi, jangan terlalu memikirkan mereka. Kamu lihat sendiri kan, bagaimana mereka sangat kompak?"
"Iya, Sayang. Saya melihat anak-anak kita sudah bahagia dengan keluarga mereka. Jadi, ibu tidak harus merasa takut lagi."
Gunawan pun tersenyum, Berbaring di samping sang isteri dan memeluk nya. Sampai Ibu Syafa tertidur dengan sendiri nya.
"Ayah berharap, jika hari di mana ibu telah tiada. Ayah juga ikut bersama ibu, karena ayah tidak sanggup jika harus berpisah dengan ibu. Anak-anak kita juga sudah bahagia sekarang. Tugas kita telah selesai, ayah tidak bisa jauh dari kamu, sayang." batin Gunawan yang memandangi wajah isteri nya yang mulai berkeriput.
Di luar ruangan, Shinta terlihat masih cemas dengan kondisi ibu nya. Ingin sekali, ia mengambil darah ibu nya diam-diam untuk mengecek keadaan sang ibu. Namun, Shinta tidak tahu bagaimana cara nya.
__ADS_1
Jika ia mengatakan sejujurnya kepada ke dua orang tua nya, pasti ke dua orang tua nya tidak akan setuju.
"Bagaimana ini? Aku harus mendapatkan Darah ibu untuk mengetahui penyakit apa yang sedang ibu alami." batin nya.