Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kepulangan Alana


__ADS_3

Setelah selesai menggantikan baju, Ke dua orang tua dan anak-anak Revan masuk ke dalam melihat kondisi Shinta. Syifa menangis melihat keadaan mama nya.


"Mama kenapa bisa begini, Pa?"


"Tadi papa menemukan mama di kerumunan banyak orang nak. Setelah papa melihat, ternyata mama mu tidak sadar kan diri. Mungkin, mama lelah mencari Alana di dalam deras nya hujan."


Syifa menangis, memeluk sang mama.


"Bagaimana Alana? Apa Alana sudah di temukan?" tanya mama Lily dengan khawatir. Revan menoleh ke arah mama nya, lalu melirik melihat sang papa. Revan masih saja kesal dengan papa nya.


"Alana sudah di temukan oleh Caca. Revan minta setelah kembali nya Alana. Tidak ada yang memarahi Alana lagi!" ujar Revan memberikan peringatan. Mama Lily dan kedua anaknya mengangguk.


"Iya, Nak. Setelah kepulangan Alana, kita tidak usah membicarakan hal ini lagi. Mama takut, Alana akan berbuat hal yang seperti ini lagi."


"Iya, Ma."


Caca, Arvan dan Alana pun sudah kembali. Mereka masuk ke dalam kamar Shinta, terlihat Alana yang ketakutan bersembunyi di belakang Caca.


"Sayang, kemari nak." panggil Revan kepada Alana, Alana dengan langkah ketakutan mendekati papa nya. Revan memangku Alana. Tidak ada satupun yang bertanya mengapa Alana melakukan hal seperti ini.


Revan membawa Alana turun ke ruang makan, ia pun menyuapi anak nya dengan penuh kasih sayang. Alana tidak mau makan, diri nya masih takut menatap Revan.


"Sayang, tidak apa. Sudah, ayo makan kesayangan papa." bujuk Revan. Alana menangis memeluk Revan


"Maafin Alana, papa."

__ADS_1


"Sudah, sayang. Jangan menangis, peri kecil papa jangan menangis." Revan membelai rambut anak nya.


*******


Shinta yang terbangun, melihat seluruh ruangan. Ia menyadari jika diri nya berada di kamar nya. Terlihat mertua, Syifa, Alan, Caca, dan Arvan.


"Di-di mana Alana? Kenapa aku di sini." Shinta yang histeris mencoba bangkit. Namun, mama Lily melarang.


"Nak, tenang kan diri mu. Sayang. Lihat lah, diri mu begitu pucat dan lemah."


"Ma, Tata harus mencari anak tata. Tata nggak tahu bagaimana keadaan Alana sekarang, di-di luar begitu dingin dan hujan lebat. Alana pasti kedinginan, ketakutan, juga kelaparan. Tata harus mencari anak tata ma." Shinta berontak, melepaskan tubuh dari pelukan sang ibu mertua. Saat ini, yang dia ingin kan hanyalah anak nya. Shinta seperti orang yang kehilangan akal dan kendali.


"Mama." Alan dan Syifa menangis melihat mama nya yang begitu sangat kacau dengan wajah pucat dan tatapan yang begitu kosong.


Terlihat Alana yang sedang makan di suapi oleh Revan, Shinta mendekati Alana, memeluk anaknya dengan erat.


"Sayang, kamu udah kembali. Nak?" Shinta melepaskan pelukan mereka, memegang pipi Alana, mengecek seluruh bagian tubuh Alana apakah ada yang terluka atau tidak. Terlihat Alana yang baik-baik Saja. Alana hanya bisa menangis, ketakutan. Alana yang manis takut di marahi atau di hukum oleh keluarga nya akibat kenakalan yang dia buat.


"Jangan menangis, Sayang." Shinta menghapus air mata anak nya. Shinta kembali memeluk Alana dengan erat. Shinta menangis di pelukan Alana, mengecupi seluruh wajah Alana.


"Mama maafin Alana, tadi Alana hanya ingin makan ice cleam hiks."


"Sudah, nak. Jangan menangis, Sayang. Mama yang harus nya meminta maaf karena tidak membawa Alana untuk makan ice cream. Besok kita akan makan ice cream ya nak, sepuas Alana. Mama berjanji." Alana melihat ke arah nenek dan kakeknya. Mama lily pun tersenyum ramah kepada Alana, sedangkan Tommy memalingkan wajah dan berlalu pergi. Alana menangis melihat sikap sang kakek.


"Alana, sekarang kita tidur yuk? Besok Alana kan mau makan ice cream." Shinta mengajak anaknya untuk tidur, sebelum pergi meninggal kan semua orang. Shinta mengucapkan banyak terimakasih kepada Caca dan Arvan karena sudah menemukan Alana.

__ADS_1


"Jangan mengucapkan terimakasih, Alana juga anakku. Sudah tugas ku mencari nya, kau istirahat saja. Jangan banyak pikiran, nanti kau kembali sakit." pinta Caca kepada sahabat nya.


Shinta mengangguk dan tersenyum kepada Caca, lalu pergi meninggalkan mereka. Bahkan, Shinta tak menghiraukan keberadaan Syifa dan Alan. Alan pun berlari menuju kamar Syifa, ia merasa sedih dengan sikap sang mama. Syifa mendekati dan mencoba menghibur adik nya.


"Dek, jangan sedih. Mama sedang merasa khawatir kepada Alana. Jika, kita yang di posisi Alana. Mama juga melakukan hal yang sama, udah ya jangan sedih? Mama mungkin pusing, karena setengah hari ini bingung dengan kehilangan Alana." Syifa mencoba menjelaskan segala nya pada sang adik. Alan pun mencoba memahami ucapan sang kakak. Syifa tersenyum kepada Alan dan memeluk sang adik. Menyuruh Alan untuk segera tidur beristirahat.


**********


Shinta menggendong Alana, meletakkan anak nya naik ke atas kasur. Shinta berbaring di samping Alana, mengelus rambut Alana dengan lembut, menyanyikan lagu tidur untuk sang buah hati. Alana masih menangis, meminta maaf atas perbuatannya. Shinta kembali menenangkan Alana hingga Alana tertidur pulas.


Di dalam tidur nya, Alana membayangkan kejadian tadi yang menimpa Alana. Ia berada sendirian di antara banyak nya kendaraan yang lewat. Banyak kendaraan yang ingin menabrak diri nya. Di malam hari, hujan turun dengan begitu lebat nya. Alana kembali ketakutan, Shinta membangun kan Alana yang mengigau ketakutan.


"Sayang, bangun nak. Ada apa? Sayang." Shinta menggoyangkan tubuh sang Puteri dengan lembut. Alana masih saja tak bangun dan mengigau ketakutan.


"Mama, Tolong Alana. Alana mau pulang hiks." Alana menggeliat, menggeleng ke arah kanan dan kiri. Shinta mencoba menggoyang kan tubuh Alana dengan lembut.


"Sayang, nak. Ini mama, jangan takut. Mama di sini nak, bangun, Sayang." ujar Shinta membangun kan Alana kembali. Alana pun menjerit terbangun, Shinta memeluk anaknya dengan erat.


"Sudah, Nak. Jangan menangis, Alana sudah bersama mama di sini. Tidak akan ada yang menyakiti Alana. Sudah ya nak?" Shinta mengecup kening Alana. Ia juga bingung harus bagaimana, Alana masin trauma dengan kejadian yang dia alami.


"Alana yang manis, tersenyum lah. Tenang, besok kita akan makan ice cream yang banyak sepuasnya. Oke?" Shinta tersenyum kepada Alana, Alana pun mengangguk, melebarkan senyuman nya.


"Anak mama memang pintar. Selain cantik, menggemaskan, Alana juga pintar ya nak ya?"


Alana mengangguk, kini Alana melupakan kesedihannya dan kembali mencoba tidur di dalam pelukan sang ibu. Shinta membelai rambut Alana sampai anak nya tertidur dengan pulas

__ADS_1


__ADS_2