
"Alana kan anak yang baik juga ma!" gerutu Alana yang tak terima jika di katakan anak nakal, padahal kelakuan nya memang begitu nakal.
"Iya, Sayang. Nggak ada yang nakal kok, tapi kan lebih baik membantu bibi dengan mencari pengasuh lagi."
"Alana takut pa."
"Takut kenapa sayang?"
"Takut mendapat kan bibi yang galak, bibi yang ini sangat baik. Alana mau sama bibi ini aja."
"Papa dan mama akan mencari bibi yang sangat baik untuk anak-anak papa. Nggak bakalan ada yang galak, sayang. Kalian jangan khawatir! Papa memakai baby sister untuk kalian bukan untuk melepas tanggungjawab kami sebagai orang tua. Tapi, ini untuk membantu Mama supaya Mama nggak mudah lelah. Kalian juga tahu kan, Mama kemarin masuk rumah sakit karena terlalu lelah, tidak tidur malam menjadi adik kalian. Siang nya menjaga kalian dengan ekstra. Kasihan Mama, anak-anak papa kan anak yang baik yang sayang sama mama nya. Kalian mau lihat Mama sakit lagi?"
"Tidak, Papa!" jawab si kembar secara bersamaan.
"Pinter, yaudah Mama dan papa pergi dulu ya, Nak? Kalian jangan nakal bersama kakak. Ingat, jangan merepotkan kakak."
"Iya, Pa." jawab si kembar kembali, Syifa menanyakan keberadaan baby sister yang saat ini menjaga mereka kepada sang mama.
"Bibi masih istirahat, nak. Mama menyuruh nya untuk istirahat yang cukup sampai benar-benar bangun dengan sendiri nya. Bukan karena memikirkan waktu menjaga kalian, Mama nggak mau bibi kalian sakit. Tadi malam, bibi nggak tidur semalaman karena adik kalian begitu rewel. Kalian jangan ganggu bibi dulu ya? Syifa tolong jaga adik dulu ya nak? Mama dan Papa nggak akan lama."
"Mama bawa baby Al? Ini kan udah mau malam ma?"
"Iya, Sayang. Kasihan nenek jika baby Al di tinggal, Mama juga nggak mau bangunin bibi dulu. Lagipula, Mama dan papa kan naik mobil. Jadi nggak kenak angin malam. Nanti, Mama atau papa akan di mobil menjaga adik."
"Kami ikut ma." pinta Alana.
"Iya, ma. Syifa juga mau ikut, jadi nanti Syifa yang akan menjaga adik Al di mobil. Boleh ya ma, pa?" Shinta pun menoleh ke arah suami nya, bertanya apakah anak-anak bisa ikut. Revan pun mengizinkan anak-anak nya untuk ikut dengan catatan tidak boleh nakal dan merepotkan Mama nya. Alana dan Alan pun mengerti, mereka bersorak dengan gembira.
Di dalam mobil, Alan dan Alana duduk dengan tertib di sebelah Syifa. Shinta duduk di depan menemani suami nya dengan menggendong baby Al.
__ADS_1
"Kita akan pergi ke yayasan." ujar Revan yang melaju kan mobil nya perlahan. Alan dan Alana begitu senangnya, bernyanyi dengan perasaan bahagia.
***********
Sesampai di yayasan, Revan turun dari mobil untuk melihat perawat yang akan menjaga anak nya. Shinta ingin turun, namun ia memilih untuk menjaga anak-anak nya di dalam. Syifa sudah menyuruh sang mama untuk turun bersama papa nya. Tapi, Shinta menolak dan memilih untuk menjaga anak-anak nya di dalam mobil.
"Mama pergi lah bersama papa."
"Tidak, nak. Syifa akan sangat repot jika harus menjaga adik-adik di dalam mobil."
"Mama jangan khawatil! Alana nggak akan nakal apalagi melepotkan kakak. Alana itu adik yang sangat manis dan baik hati, iyakan kak?" Alan melihat jengah saudara kembar nya. Ia tak habis pikir, kenapa memiliki saudara kembar yang begitu lebay seperti Alana.
Tak butuh waktu lama, Revan kembali masuk ke dalam mobil.
"Papa udah kembali? Bagaimana pa?"
"Besok? Apa kau tidak seleksi dulu?" ujar Shinta.
"Sayang, besok akan ada beberapa pengasuh yang akan datang. Jadi, besok kamu akan seleksi mereka sendiri dengan ketat."
"Oh, begitu. Syukur lah." Shinta merasa tenang, ia berfikir jika suami nya memilih asal pengasuh untuk anak-anak nya. Revan segera melajukan mobil untuk kembali pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Shinta menyiapkan dan menyuruh anak-anak nya untuk tidur karena hari semakin larut.
******
Keesokan pagi nya, Shinta terbangun. Ia melihat pengasuh lama nya menangis di depan pintu kamar miliknya.
"Non, maaf kan saya, saya tidak sadar hingga tidur semalaman. Tolong jangan pecat saya non." pengasuh itu memohon menangis di hadapan Shinta, membuat diri nya merasa sangat bingung.
__ADS_1
"Berdiri lah! Apa maksud nya? Siapa yang mau memecat kamu?"
"Di-dibawah ada beberapa pengasuh untuk non seleksi kata tuan menjaga anak-anak. Tolong, jangan pecat saya non."
Shinta akhirnya mengerti dan tersenyum.
"Tidak ada yang memecat kamu! Itu memang pengasuh yang akan saya seleksi tapi bukan berarti memecat kamu. Kami mencari pengasuh tambahan untuk membantu kamu menjaga anak-anak. Tuan nggak tega lihat kamu capek menjaga anak-anak sendiri, jadi tuan memutuskan untuk menambah pengasuh lagi. Sudah, jangan seperti ini. Orang-orang bisa mengira saya memukul kamu."
"Te-terimakasih nona, saya pikir karena keteledoran saya. Nona memecat saya."
"Untuk apa memecat pengasuh sebaik kamu? Kau pengasuh idaman anak-anak, jangan pernah merasa atau takut tersingkir kan ya? Aku juga menganggap mu sebagai keluarga ku, sebab itu aku memarahi mu jika kau memanggil anak-anak dengan sebutan nona atau tuan. Anggap lah mereka sebagai adik-adik mu." Shinta memeluk pengasuh nya tanpa membeda-bedakan status.
Shinta pun turun ke bawah, untuk melihat para pengasuh yang sudah mengantri untuk melakukan interview. Shinta sedikit terkejut melihat para pengasuh nya yang begitu cantik-cantik.
"Apa-apaan ini? Apa dia sengaja mencari pengasuh yang cantik cantik dan muda?" batin Shinta dengan kesal. Terlihat Revan juga sedang berbincang dengan mereka dengan wajah yang ramah. Shinta mendekati suami nya.
"Suruh saja mereka pulang, aku sedang tidak ingin me interview siapapun." bisik Shinta dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Kenapa? Bukan kah tadi malam kita sudah ke sana dan kau juga tahu jika pagi ini kita akan mengadakan seleksi?"
"Tanpa harus interview satu persatu, aku tidak akan memilih mereka!"
"Tapi, kenapa sayang?"
"Kau ini sengaja? mencari yang lebih muda dan cantik? hah?"
"Sungguh, aku tidak tahu. Semalam aku juga tidak melihat para pengasuh nya, tadi pagi aku juga merasa terkejut. Tapi, ini bukan kah sebuah keberuntungan? Sayang, pengasuh kita yang lama juga masih muda. Kau tidak keberatan, kenapa sekarang kau keberatan?"
"Iya, tapi dia itu baik dan tidak ganjen. Tapi, mereka? Kita nggak tahu bagaimana sifat mereka? Bagaimana jika mereka menggoda mu atau kau tergoda? Tidak! Aku tidak mau! Tidak mau!" kesal Shinta
__ADS_1