Ibu Sambung

Ibu Sambung
Ungkapan Hati Shinta


__ADS_3

Tetapi Syifa bukan lah anak yang bodoh, ia tau jika papa nya sedang berbohong.


Apakah mama marah kepada ku, Pa?


Pertanyaan Syifa berhasil membuat semua bungkam, Lily dan Tommy belum mengetahui penyebab menantu mereka menjadi dingin.


Caca yang tak tega pun langsung segera membawa anak nya pergi dari rumah Revan.


Revan meminta kepada Arvan untuk menjaga Syifa.


"Tolong jaga dia, aku akan berusaha memberikan pengertian kepada Shinta."


"Syifa juga putri ku, aku akan menjaga nya. Dan jangan kasar kepada tata. Dia hanya membutuhkan dukungan dari kita." ujar Arvan.


Revan mengangguk, Caca dan Arvan segera membawa Syifa pergi.


Mereka pun berpamitan kepada Lily dan juga Tommy.


Di kamar Shinta mengajak anak-anak nya bermain.


Shinta tersenyum bahagia melihat kebahagiaan di wajah Alan dan Alana.


"Ta, kamu belum menjelaskan semua nya kepada ku."


Shinta menatap jennika dengan tatapan sendu.


"Jen, kau tau perjalanan aku. Perjalanan hidup ku, bagaimana rasa sakit ku. Bahkan perjalanan ku saat menikah dengan Revan."


Jennika mengangguk, memang pernikahan awal Shinta dan Revan bukan di dasari oleh cinta.


"Jen kau tau bagaimana dulu dokter memvonis ku kan? Aku di katakan tidak bisa memiliki anak."


Shinta tak kuasa menahan air mata nya, jika mengingat itu hati nya sangat sakit.


Ia pernah gagal menikah dengan pria yang ia cinta dan dokter memvonis nya tidak bisa memiliki anak.


Jennika menenangkan Shinta, ia memeluk Shinta.


"Lalu aku bertemu dengan malaikat kecil ku, peri kecil ku. Aku mencintai nya dari pandangan pertama. Pertemuan pertama kami, Jen. Dan karena nya, aku menjadi seorang ibu. Kau tau itu."


Shinta semakin terisak, ia mengingat awal pertemuan nya dengan Syifa.


Syifa kehilangan kasih sayang dari ke dua orang tua nya, bahkan Revan juga selalu sibuk dengan pekerjaan nya. Jarang sekali memperdulikan Syifa.


"Jen, aku tidak tahu bagaimana kehidupan Revan dan juga Syifa sebelumnya. Namun yang aku tau, aku menyayangi dan mencintai Syifa seperti anak ku sendiri. Bahkan, di saat aku sudah memiliki anak rasa cinta dan sayang ku tidak pernah berubah untuk nya. Hingga Caca datang, ibu kandung nya Syifa. Aku bahkan tidak pernah membiarkan Syifa membenci masa lalu nya walau ibu nya pergi meninggalkan nya saat ia masih bayi."


"Ada apa, Ta? Katakan yang sebenar nya."


"Jen, apakah aku pernah merebut Syifa dari ibu kandung nya?"


Jennika menggelengkan kepala nya.


"Namun mengapa, orang menganggap ku jahat dan menganggap ku merebut Syifa dari ibu kandung nya?"


Jennika memeluk Shinta dengan erat, jennika pun mengatakan jika Shinta bukan wanita yang seperti itu.


"Sudah, Ta. Jangan di teruskan jika kamu merasa enggak kuat."

__ADS_1


"Kau tau Jen, siapa pembunuh Al?"


Jennika menggelengkan kepala nya, ia melihat wajah wanita itu. Namun, ia tidak tau siapa wanita itu dan apa motif nya melakukan itu.


"Itu adalah kakak nya Caca, kembaran dari mendiang kakak nya yang sudah tiada. Ia menganggap ku merebut Syifa dari adik nya Caca, ia menganggap ku sebagai wanita yang sudah merusak kehidupan adik nya. Dulu, saat ibu nya masih hidup, ibu nya juga melakukan hal yang begitu jahat. Namun, aku masih bisa memaafkan nya. Namun sekarang, kakak nya Caca begitu keterlaluan. Jika ia membenci ku mengapa harus membunuh anak ku hiks."


Rapuh sekali hati nya Shinta, kebencian itu harus di tanggung oleh bayi nya yang tidak berdosa.


"Apa kesalahan aku Jen? Apakah aku salah menyayangi dan mencintai Syifa? Apakah aku salah menjadi ibu sambung yang baik?"


Berulang kali Shinta mengambil nafas yang panjang, dada nya terasa sangat sesak. Suara nya bergetar, mengutarakan kerapuhan nya.


Shinta mengutarakan semua rasa sakit dan kepedihan nya.


Revan yang mendengar percakapan istri nya dari luar pintu pun menangis, ia tak tega melihat istri nya yang begitu terluka.


"Jen, dalam sekali rasa sakit ku. Bahkan aku tidak sanggup menatap wajah anakku, Syifa. Aku tau dia tidak bersalah, dia hanya korban. Namun, apa kesalahan baby Al? Dia masih sangat suci dan tidak berdosa. Mengapa dia mengambil nyawa anak ku? Wanita itu tidak berhak kan Jen mengambil nyawa anakku? Dia bukan Tuhan, Jen. Namun, mengapa Tuhan pun mendukung kejahatan nya."


"Hust! Kamu enggak boleh bicara seperti itu. Jangan menyalahkan Tuhan, ini semua udah takdir yang tertulis Ta."


Shinta tau, namun rasanya begitu sulit menerima semua kenyataan ini.


"Ta, tapi jangan salahkan Syifa dengan semua ini. Dia juga menyayangi mu, dia menderita saat Caca meninggalkan nya. Dan kau tau jika Revan juga tidak memberikan perhatian dan kasih sayang yang utuh untuk nya. Syifa tumbuh di asuh oleh kakek dan nenek nya. Namun, kehadiran mu membuat nya merasakan cinta yang utuh. Jangan lukai hati nya, dia pasti sangat terluka dengan sikap dingin mu kepada nya."


Shinta mengatakan ia membutuhkan waktu untuk menerima Ini semua. Saat ini dia hanya ingin bersama ke dua anak nya Alan dan Alana. Hanya mereka yang Shinta miliki saat ini.


Shinta juga marah kepada Revan, Caca, Arvan, dan pada keadaan. Dia membenci keadaan juga kenyataan.


Dia marah kepada takdir yang begitu Tidak adik kepada nya, Jennika berharap berharap jika hati Shinta kembali seperti dulu.


Jennika tidak ingin sahabat nya di penuhi oleh sifat Amarah dan juga dendam.


Shinta masih tidak menerima kematian anak nya apalagi kematian itu di sengaja.


Anak nya sengaja di racun hingga kehilangan nyawa.


****


Lily memegang bahu Putera nya, ia juga mendengar ucapan menantu nya.


Revan memeluk sang mama, Tommy pun merasa sedih dengan semua yang terjadi.


Saat ini, mereka memahami posisi Shinta.


Lily mengajak anak nya untuk menjauh dari kamar Shinta.


Ia tidak mau jika menantu nya melihat keberadaan Revan akan membuat Shinta semakin marah.


Revan mengikuti ke dua orang tua nya, Lily membawa Revan ke kamar nya dan juga suami.


"Nak, kamu istirahat dan tenangkan diri mu. Saat ini kalian membutuhkan waktu sendiri untuk berfikir jernih. Jangan salah kan isteri mu, semua yang di katakan nya itu benar."


"Sebab itu papa tidak menyukai kedekatan kalian dengan Caca. Bukan nya papa membenci Caca namun Caca itu hanya masa lalu mu. Dan lihat lah nak, karena masa lalu mu kalian kehilangan anak kalian. Papa tau, bukan Caca pelaku nya, ia pun tidak tau menau tentang semua ini. Namun, dialah alasan dari setiap masalah yang terjadi di rumah kita."


"Pa, Ma. Apa yang harus Revan lakukan?"


Bukan hanya seorang ibu atau istri saja yang bisa hancur dan terluka. Namun, seroang ayah dan suami juga bisa merasa hancur.

__ADS_1


Revan hancur karena kehilangan anak nya juga karena sikap dari sang istri yang juga menyalahkan nya.


Lily menenangkan anak nya.


"Percaya sama mama jika semua akan membaik, ini hanya soal waktu. Bersabar lah sedikit."


****


Di dalam mobil, Syifa melihat ke arah luar jendela. Air mata nya menetes.


Terlihat kesedihan di wajah nya Caca melihat anak nya dari kaca spion depan mobil.


Caca tidak tega melihat anak nya yang murung. Ia pasti begitu sedih karena sikap dingin Shinta.


Arvan berdecak kesal. Mengapa Shinta melakukan hal ini kepada anak yang tidak berdosa.


Ingin sekali rasanya Arvan menegur Shinta, bukan karena ia membela istri nya namun karena Arvan juga sudah menyayangi Shinta seperti adik nya sendiri.


Bukan kah seorang kakak tugas nya menegur sang adik jika adik nya melakukan kesalahan?


Ia memahami kesedihan, kekecewaan dan kemarahan Shinta. Namun mengapa harus Syifa yang juga menjadi sasaran..


Shinta bisa marah kepada nya sepuas yang Shinta mau namun jangan kepada Caca dan juga Syifa.


Di perjalanan semua nya hening tanpa ada keceriaan seperti biasa nya.


*****


"Mama, Alana lapel." manja Alana kepada Shinta, Shinta pun ingin mengambilkan makanan untuk anak nya. Namun, jennika menawarkan diri nya..


Shinta pun mengangguk, jennika keluar dari kamar. Ia mengambil makanan untuk Alana.


Setelah itu, ia kembali ke kamar. Jennika ingin menyuapi Alana namun di cegah oleh Shinta.


"Tunggu Jen."


Shinta mengambil piring di tangan jennika, ia terlebih dahulu menyicip makanan tersebut. Apakah itu aman untuk di makan anak nya atau tidak.


"Tolong jangan tersinggung Jen, aku percaya kau tidak mungkin melakukan hal aneh kepada anak-anak ku. Tapi, aku juga enggak bisa lalai untuk keamanan anak ku. Mungkin bukan kau, tapi pelayan atau orang asing yang masuk memberikan racun untuk anak-anakku."


ujar Shinta, setelah memastikan makanan itu aman. Shinta baru menyuapi anak nya.


Jennika pun mengerti dengan trauma yang di miliki oleh Shinta.


Alana makan dengan begitu lahap, saat Alana ingin minum Shinta pun melakukan hal yang sama, setelah Shinta memastikan minuman itu aman tanpa racun baru ia memberikan nya kepada Alana.


Shinta lebih waspada dan berhati-hati dalam menjaga anak nya, ia tidak mau teledor dan lalai lagi.


Shinta tidak siap jika harus terulang kembali kehilangan anak hanya karena keteledoran nya.


Setelah selesai memberikan makan kepada Alana, Shinta ingin meletakkan piring nya ke dapur.


"Biar aku saja, ta." ujar jennika kembali, Shinta pun memberikan piring tersebut kepada jennika.


"Maaf merepotkan mu, Jen."


Jennika tersenyum, ia tidak pernah merasa di repot kan sama sekali.

__ADS_1


Jennika memang begitu menyayangi Shinta, bahkan setelah kejadian kemarin yang membuat nya mendekam di penjara dengan hal yang tidak ia lakukan. Jennika tidak tersinggung dan marah kepada Shinta.


__ADS_2