Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 67


__ADS_3

"Aku mencintai mu ta"


"Mengapa kau sangat mencintaiku?"


"Mengapa kau sangat mencintaiku Ray"


"Mengapa kau sangat mencintaiku Ray hiks" Rayhan menciumi pucuk kepala shinta, kini kepalanya terasa sakit tak tertahankan, darah pun keluar dari hidung Rayhan


"aw" teriak Rayhan yang sudah tidak tahan lagi menahan sakitnya, Shinta yang mendengar teriakan Rayhan spontan langsung bangkit dan memanggil dokter, ia begitu takut melihat keadaan Rayhan sekarang, Shinta hanya menangis senggugukkan, tangganya begitu gemetar


"Tuhan, kumohon selamatkan dia"


"Berikan dia kehidupan sekali lagi" Shinta tiada henti hentinya memanjatkan doa untuk kesembuhan Rayhan.


"Nyonya, sebaiknya nyonya tunggu diluar" Perintah salah satu perawat


"Tapi"


"Saya mohon, anda keluar lah dulu agar kami bisa menindak lanjuti pasien" Shinta pun mengalah dan keluar dari ruangan ICU. Diluar sudah ada Revan, kini Revan memeluk isterinya dan coba untuk menenangkan Shinta.


"Dia pasti akan baik-baik ajakan Van"


"Dia akan baik baik saja, tenanglah!" Revan mencoba menenangkan Shinta yang begitu kalut dan khawatir dengan kondisi Rayhan yang sekarat. Tidak lama kemudian Chyntia datang dengan langkah yang terburu buru


"Tata gimana keadaan Ray" Tanya Chyntia yang sudah menangis di sepanjang jalan tadi menuju rumah sakit


"Dokter sedang memeriksa keadaan Ray ma" Ya Shinta sudah begitu dengan Chyntia sampai ia sudah memanggil Chyntia Dengan sebutan mama. Shinta pun langsung memeluk Chyntia, Revan yang melihat kedekatan Shinta dengan ibunya Rayhan pun kembali merasakan sesak di dadanya namun ia tak ingin terbawa egonya, ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu. Revan pun pamit kepada Shinta untuk pergi ke kantin.


"ma, mengapa mama ga cerita ke tata" Kini mata Shinta sudah sembab akibat terlalu banyak menangis. Shinta begitu menyayangi Rayhan, apalagi alasan Rayhan meninggalkannya bukan karena kekurangan yang ia miliki namun karena rayhan sedang sakit keras.


"Ray hanya gak mau kamu sedih sayang, Ray dan mama ingin melihat kebahagiaan kamu. Kami gak mau ini menjadi alasan kamu untuk bersedih, biarlah kamu membenci mama dan Ray asal kamu bahagia"

__ADS_1


"Tata gak benci sama Ray apalagi sama mama" Shinta langsung memeluk wanita paruh baya yang menjadi ibu dari seseorang yang pernah hadir di hidupnya.


"Mengapa takdir begitu kejam ma" tanya Shinta kepada Chyntia.


"Apapun yang terjadi semua ada hikmahnya nak" Chyntia mencium kening dan pipi Shinta. Ia mencoba menenangkan wanita yang sudah ia anggap seperti Puterinya sendiri, dari dulu Chyntia sangat berharap jika Shinta akan menjadi menantunya, namun takdir berkata lain. Ia tak ingin menghancurkan kehidupan Shinta jika nantinya Shinta menikah dengan Rayhan dan Ray pun pergi selamanya. Chyntia sangat mengetahui bagaimana sifat Shinta yang begitu setia pada 1 pasangannya. Sebab itu Chyntia memutuskan untuk membatalkan pernikahan Shinta dengan Puterinya. Lebih baik Shinta merasakan sakit terlebih dahulu namun bahagia bersama pasangannya kelak ketimbang harus menikah dan bahagia bersama Puterinya kelak namun menderita seumur hidup karena kepergian Puteranya. Dokter pun keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaan Rayhan dok"


"Saat ini Tuan Rayhan sudah mulai stabil kondisinya, saya sudah memberikan obat untuk penghilang rasa sakit, mohon biarkan dia istirahat sampai besok pagi, karena obat yang saya berikan itu dosis tinggi" Chyntia pun mengangguk. Dokter beserta perawat pun pergi meninggalkan Shinta dan Chyntia.


"Sayang, kamu pulang saja. Suami mu sudah menunggu disana" Chyntia membelai pipi Shinta.


"Tapi ma"


"Nak, sekarang kau sudah punya kehidupan yang baru. Suamimu pasti merindukanmu apalagi anak dari suaminya bukan, pulang lah"


"Baiklah ma, tapi bisa terjadi sesuatu kabarin tata ya ma" Chyntia pun menganggu, Shinta berpamitan untuk pulang


"Iya sayang"


"Kalau begitu, tata pamit ya ma" Shinta mencium pucuk tangan Chintya. Shinta pun pulang bersama Revan disepanjang perjalanan Shinta hanya diam saja, ia masih memikirkan keadaan Ray saat ini. Hatinya begitu kacau dan tak tenang.


"Ray" Gumamnya, airmatanya terus saja membasahi pipinya.


"Sudahlah jangan menangis, matamu sudah begitu sembab" pinta Revan namun Shinta hanya diam dan melihat kearah luar jendela. Revan pun memaklumi keadaan isterinya sekarang, sampai dirumah Shinta langsung masuk kedalam kamarnya. Ia menangis dibalik selimut, Shinta begitu takut kehilangan Rayhan. Sakit yang Rayhan Alamin bukanlah hal yang sepele.


"Kau makanlah dulu" Revan membawakan makanan untuk Shinta


"Aku tidak lapar Van"


"Kau harus makan, aku akan menyuapimu"

__ADS_1


"Aku bilang aku gak lapar!" bentak Shinta kepada Revan, Revan meletakkan mangkuk makanan itu dengan kesal lalu berlalu keluar meninggalkan kamar. Revan membanting pintu sekuatnya, ia memaklumi kesedihan yang Shinta Alamin tapi bukan berarti Shinta tidak memikirkan kesehatannya.


"Apa begitu dalam cinta mereka" gumam Revan


"Kau kenapa nak" Tanya lili yang tiba tiba memegang bahu Revan.


"Tidak ma"


"Jangan bohong, aku ini ibumu" Akhirnya Revan pun mengalah dan menceritakan semua nya kepada sang mama.


"Ma, apa aku biarkan saja ia kembali pada mantan kekasihnya ya ma? Revan tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan untuk mereka ma"


"Jangan, tolong mengertilah keadaan dia sekarang nak. Tugas mu sekarang sebagai suami adalah suport isterimu, terus lah berada di sampingnya"


"Tapi ma, Revan melihat dia masih begitu menyayangi mantan kekasihnya"


"Nak, mereka menjalin hubungan bukanlah waktu yang sebentar apalagi Shinta mengetahui alasan sebenarnya mengapa mantan kekasihnya itu membatalkan pernikahannya, mungkin Shinta masih kaget dan butuh waktu nak"


"Coba lah pahami isterimu kali ini ya, jangan lepaskan malaikat sebaik Shinta. Dia begitu tulus menyayangi Puterinmu bahkan ia rela mengorbankan seluruh hidupnya demi Syifa putrrimu" Revan pun mengangguk.


"Apa kau mencintainya?" Tanya lili kepada Revan, Revan pun tidak bisa menjawab.


"Mengapa mama menanyakan hal seperti itu?"


"Jawab saja, apa kau mencintainya?" Revan pun mengangguk, lili tersenyum mendengar kejujuran puteranya.


"Kalau begitu, temani masa sulitnya seperti itu. Dukung dia teruslah disisinya dan jangan pernah berpikir untuk melepaskan nya" lili memegang bahu Revan.


"Tapi apa dia akan kembali ke mantan kekasihnya ma?" Akhirnya hal yang ia takutnya selama beberapa hari ini dia tanyakan.


"Percaya sama mama, bahwa Shinta bukan seperti Caca mantan isterimu. Dia takkan mempermainkan sebuah hubungan hanya karena kesenangan sesaat, apalagi Shinta begitu menyayangi Syifa. Saat ini Shinta begitu hanya karena belum siap menghadapi kenyataan. Selama ini dia salah menilai mantan kekasihnya ia menganggap mantan kekasihnya begitu jahat padanya, padahal mantan kekasihnya memiliki alasan untuk itu semua." Lili mencoba untuk memberikan penjelasan kepada anaknya. Karena lili tau kegundahan yang sedang anaknya rasakan. lili pun mengelus pipi Revan dengan lembut, Revan pun langsung memeluk ibunya

__ADS_1


"Terimakasih ma, selalu ada di samping Revan dalam keadaan apapun"


__ADS_2