
Syafa dan Lily selalu berada di samping Caca saat diri nya merasa sedih atau juga gelisah.
Caca sedih karena suami nya tak kunjung sadar dari koma nya, berbagai cara sudah di lakukan oleh dokter.
Ia tidak sanggup jika harus kehilangan suami nya.
"Aku enggak sanggup tanpa kamu. Sadar lah tolong," hanya itu yang bisa Caca minta, ia tidak mau jika Arvan meninggalkan diri nya.
"Aku merasa sedih dan hancur melihat kamu seperti ini tolong sadar lah."
Lily dan Syafa memeluk Caca.
Terdengar suara langkah kaki, mendekati mereka
Caca dan yang lain nya menoleh, itu adalah Shinta. Yang ingin menjenguk kondisi Caca
Sudah beberapa hari Caca, dan juga Arvan masih di rumah sakit.
Sedangkan Raisa sudah kembali, dan sementara tinggal di rumah Shinta bersama suami dan anak nya yang lain.
Caca mendekati Shinta, memeluk nya dengan erat. Shinta membelai bahu Caca memberikan kekuatan
"Kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Aku juga nggak mau melihat kamu sedih," ujar Shinta kepada Caca
Syafa menatap anak nya dengan sedih, Shinta tak menoleh ke arah ibu nya. Ia hanya fokus kepada Caca memberikan semangat.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, sudah. Percaya sama aku kalau Arvan akan baik-baik aja."
Caca mengangguk, Syafa memutuskan untuk tidak mendekati anak nya Shinta.
Ia ingin anak nya benar-benar tenang. Syafa memberikan sedikit ruang untuk anak nya.
Shinta memberikan rantang yang berisi makanan yang sudah ia masak.
"Ini kamu makan dulu." pinta Shinta kepada Caca
Sebenarnya Caca sudah di perbolehkan dokter untuk pulang ke rumah namun Caca menolak. Ia masih tetap ingin menunggu suami nya hingga sadar kan diri
"Ta, gimana anak-anak?" tanya Caca ia takut jika anak-anak nya merepotkan Shinta dan juga keluarga nya yang lain
"Jangan memikirkan mereka, mereka baik-baik saja bersama ku. Yang terpenting saat ini adalah kesehatan mu."
"Makasih ya kalian udah baik dan perduli kepada ku."
Shinta mengangguk, ia membuka rantang masakan nya dan menyuapi Caca makan.
"Kamu harus tetap makan, jangan memikirkan yang lain lagi ya? Yang terpenting saat ini kamu sehat dan jangan terlalu stres."
Caca mengangguk, Syafa masih memandangi anak nya. Ingin sekali ia memeluk anak nya dan menyampaikan rindu nya kepada sang anak.
Setelah memberikan makan Caca, Shinta pun membereskan rantang itu ia langsung berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
Shinta bangkit mendekati ke dua orang tua nya yang duduk di pinggir
"Ma, Bu. Tata pulang dulu ya?"
Walau Shinta masih kecewa dengan ibu nya ia masih tetap berpamitan.
Syafa dan Lily mengangguk
"Hati-hati ya nak." ujar Lily, Syafa hanya terdiam, ia tidak mengatakan apapun. Hal itu tentu saja membuat Shinta kembali sedih.
Ia merasa jika ibu nya sudah tidak memperdulikan nya lagi
Shinta tersenyum, dan mengatakan jika diri nya akan menjaga diri dengan baik.
"Iya ma, Tata akan menjaga diri dengan baik. Tata pulang dulu."
Shinta langsung pergi setelah berpamitan, ia tidak mau lagi berdebat.
Sebelum pulang ke rumah, Shinta meminta kepada supir untuk mengantar nya ke pemakaman anak nya Al.
Ia sangat merindukan anak bungsu nya, di dalam mobil Shinta menghapus air mata nya yang jatuh.
Ia harus menguatkan diri, dan menerima segala nya dengan lapang dada.
Mungkin ini semua tidak mudah bagi nya, namun ia harus bisa melewati rasa sakit dan kepedihan itu
__ADS_1
"Jangan lemah Tata. Kamu bisa!" ujar nya menguatkan diri