Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kemarahan Shinta


__ADS_3

"Kak, apakah kamu memiliki masalah? Maaf jika aku menyinggung kakak, tapi tidak seperti biasa nya kakak seperti ini. Kakak selalu bilang, jika bekal itu adalah tanda cinta mama kakak kepada mu. Tapi, kenapa."


"Aku tidak apa-apa, hanya saja tadi aku terlalu terburu-buru sehingga melupakan bekal makan yang ada di meja makan. Sudah lah, sekali tidak membawa bekal kan tidak masalah." ujar Syifa yang menoleh kepada Raisa. Raisa pun menggangguk dan tersenyum bahagia.


**********


Tolong beritahu Caca, aku akan mengirimkan surat cerai kepada nya. Pasti dia berada di rumah mu kan? ~ Arvan


Shinta kaget membaca pesan masuk dari Arvan, ia pun memberitahu Revan. Menunjukan pesan yang telah Arvan kirim padanya beberapa menit yang lalu. Shinta berpamitan kepada mertua dan juga Caca untuk keluar kamar sebentar bersama Revan. Revan mengikuti langkah kaki isteri nya.


"Ini nggak bisa di biarin, kita harus bicara sama Arvan."


"Apa yang harus kita bicarakan? Ini masalah pribadi mereka, dan kau tahu. Aku adalah mantan suami Caca, apa yang akan Arvan pikirkan tentang ku?" ujar Revan kepada Shinta, ia tahu jika isteri nya sangat mengkhawatirkan tentang kehidupan Caca. Namun, ia juga tidak ingin terlalu ikut campur dalam masalah pribadi Caca.


"Baik, jika kau tidak ingin mengantarku. Aku akan pergi sendiri,"


Shinta berlalu meninggalkan suami nya, mengambil kunci mobil yang ada di atas meja. Dengan membuang nafas yang kasar, Revan mengikuti langkah Shinta ke luar dari rumah.


"Sayang, tunggu. Jangan terlalu tergesa-gesa. Baik lah, aku akan ikut bersama mu." langkah kaki Shinta terhenti, ia membalikan badan nya, tersenyum mendekati lalu memeluk Revan.


"Terimakasih,"

__ADS_1


Shinta dan Revan segera naik ke dalam mobil, Revan melajukan mobil nya ke kantor Arvan. Ia tahu, jika jam segini Arvan pasti ada di kantor.


Sesampai di kantor milik Arvan, Shinta segera turun dari mobil. Ia berlari ke ruangan Arvan, bawahan Arvan mencoba menghalangi Shinta untuk masuk karena ada tamu di dalam. Namun, Shinta tak menghiraukan nya, ia membuat keributan dengan terus memanggil nama Arvan.


Arvan ke luar dari ruangan nya, melihat Shinta yang datang. Dia pun mempersilahkan Shinta untuk masuk, dan menyuruh tamu yang tadi segera keluar. Karena tamu itu adalah orang suruhan Arvan sendiri.


"Apa maksud dengan semua ini, Arvan?" ujar Shinta yang menatap Arvan dengan penuh kemarahan, Revan pun menyusul masuk ke dalam ruangan Arvan. Arvan melihat ke arah Revan, kemarahan nya memuncak memandang wajah Revan.


"Aku maklumi jika kau yang datang tata, tapi aku tidak mengizinkan orang lain selain kau yang datang." mendengar ucapan Arvan, Revan pun ingin ke luar dari ruangan Arvan namun Shinta menggenggam tangan suami nya.


"Dia suamiku, jadi dia akan ada di mana pun aku berada. Jika aku di sini, dia juga harus di sini. Suka atau tidak itu terserah diri mu! yang pasti, suami ku akan selalu ada bersama ku." tatapan mata Shinta masih tidak bersahabat.


"Katakan, apa yang ingin kau katakan." ujar Arvan yang memalingkan wajah nya dari Shinta dan juga Revan.


"Maksud apa?"


"Aku bertanya dan kau jangan bertanya balik!" Shinta membentak Arvan dengan nada yang begitu tinggi, Arvan tidak marah sedikit pun karena ia sudah menganggap dan menyayangi Shinta seperti adik nya sendiri. Shinta meneteskan air mata.


"Kenapa kau lakukan ini?"


"Lalu, apa yang harus aku lakukan, tata? Apa?"

__ADS_1


"Diam! Jangan memanggil ku tata! Kau tidak pantas memanggil ku dengan sebutan itu, aku mengira kau adalah kakakku. Kau pria yang begitu baik dan dewasa, tapi kenapa kau bertingkah seperti ini?" Arvan terdiam, ia tak menoleh ke arah Shinta sedikit pun, Shinta mendekati Arvan. Menarik bahu Arvan agar menatap diri nya.


"Aku tahu, kau sudah tau segala nya. Tapi, kenapa kau menyalahkan ku?" ujar Arvan yang tak kuasa lagi menahan kesedihan nya. Matanya berkaca-kaca.


"Iya, aku akuin. Caca memang bersalah, tapi apakah kau benar? Apa kau benar, Arvan? Jawab aku! Perlakuan kasar mu pada nya, kau berkata padaku jika kau mencintai nya tapi nyata nya apa? Kau memperlakukan diri nya tidak jauh beda seperti memperlakukan hewan hiks."


"Aku? Aku yang melakukan nya?"


"Iya! Kau yang melakukan nya!"


"Dia sudah membuang anak nya sendiri, apakah itu di sebut dengan manusia?" Arvan menatap mata Shinta dengan tatapan penuh kekecewaan.


Shinta terdiam sejenak, ia hanya bisa menangis. Dirinya pun tahu, jika perbuatan Caca memang lah tidak bisa di benar kan.


"Iya, aku tahu. Perbuatan Caca tidak bisa di bilang benar, tapi apa kau tidak introspeksi pada diri mu sendiri? Bagaimana dulu kau begitu egois dan memperlakukan nya dengan buruk? Kau dan mama kandung nya sendiri selalu ingin melakukan hal yang kalian ingin kan tanpa tahu atau mengerti apa yang Caca rasakan. Dia sudah cukup menderita selama ini, kau dulu selalu main tangan pada nya. Kau sudah berjanji pada nya bukan untuk selalu membuat nya bahagia. tapi nyata nya apa? Kau melakukan kesalahan yang sama. Tidak mudah bagi seorang wanita harus berpisah dari suami dan anak yang ia cinta, lalu di paksa menikah oleh ibu nya dengan pria yang begitu arogan dan kejam. Tiada hari tanpa siksaan, bahkan di saat suami dan isteri melakukan kewajiban mereka. Kau juga melakukan nya dengan begitu kasar, apakah perbuatan mu dulu benar?" tanya Shinta kepada Arvan dengan nada yang melemah, Arvan terdiam memalingkan wajah nya ke sembarang arah namun Shinta memaksa Arvan untuk menatap mata nya.


"Kau menganggap ku adik bukan? Aku menyayangi ku seperti kau menyayangi adik mu sendiri bukan? Jika begitu, mengapa kau tega berbuat hal sekejam itu kepada kakak ipar ku? Hanya karena satu kesalahan, kau kembali memperlakukan nya dengan tidak pantas. Bahkan, kau ingin menggugat cerai diri nya? Lalu bagaimana dengan kesalahan mu yang begitu banyak pada nya di masalalu? Apakah dia mengingat atau mengungkit nya? Tidak! Dia tidak pernah membicarakan hal buruk tentang mu di masa lalu, karena dia tahu. Kau tidak bersalah dalam hal ini, dia menganggap itu adalah kesalahan nya karena tidak pernah memahami mu sebagai seorang isteri. Namun, apakah kau memahami nya sebagai seorang suami? Tidak! Bahkan, kau tidak mengerti tentang rasa sakit dan penderitaan yang ia alami karena ulah dari ibu kandung nya."


Arvan masih diam, apa yang di ucapkan oleh Shinta itu memang lah sebuah kebenaran.


"Wanita malang itu, selalu melakukan apa yang tidak pernah ia sukai sekali pun. Hanya untuk apa? Untuk kebahagiaan mama dan suami baru nya. Bahkan, ia harus merelakan berpisah dari anak-anak nya. Tanpa meminta penjelasan dari nya, kau seenak nya berbuat sekejam itu pada nya. Kenapa?" teriak Shinta lagi sambil menangis, Arvan ingin memeluk Shinta dan menenangkan Shinta. Namun, Shinta menghindar.

__ADS_1


"Tidak! Jangan! Bagaimana kau bisa melakukan tanggungjawab mu pada adik mu ini jika kepada isteri mu saja kau tidak becus! Apakah kau pernah menjadi suami yang baik untuk isteri mu? Tidak!"


"Kau ingin berpisah bukan dari Caca? Baik lah! Silahkan, tapi jangan berharap jika kau atau pun Caca bisa memiliki Raisa. Karena kau tahu, peraturan dalam panti asuhan untuk mengadopsi anak adalah keluarga yang utuh, bagaimana kalian bisa mendapatkan Raisa jika kalian berpisah. Dan baby Khanza, pengadilan akan memberikan baby Khanza kepada ibu nya. Karena bayi sekecil itu, masih sangat membutuhkan ibu nya. Dan kau, kau akan menyesal di kemudian hari sudah kehilangan isteri dan anak-anak mu. Tidak akan lagi kau temui isteri sebaik dan sesabar Caca. Dan di saat kau menyadari nya, hanya ada penyesalan yang datang. Hanya ada penyesalan Arvan! Kau dengar aku!" setelah puas mengeluarkan apa yang ada di hati Shinta, Shinta mengajak Revan suami nya untuk pulang meninggalkan Arvan seorang diri di ruangan.


__ADS_2